
“Ada yang bisa jelaskan mengapa kita mendaki sedangkan tujuannya adalah ke laut?” terdengar suara Selena bertanya sedikit terengah – engah.
Saat ini kelima Elementalist tengah menaiki sebuah gunung dengan kecepatan tinggi, mereka melompati pepohonan dalam waktu singkat. Sudah sekitar dua jam terlewat namun puncaknya masih terlihat jauh.
“Jarak kita sekarang menuju Central Ocean terlampau jauh, jadi kupikir akan lebih cepat melalui jalan pintas. Lagi pula takutnya jemputan kita malah menunggu lama” Arya mendarat ringan pada salah satu dahan di susul yang lain.
“Jalan pintas?” ulang Rena penasaran.
“Benar, lihatlah”
Elizabeth menangkap peta pemberian Arya lalu membentangkan lembaran kertas menguning tersebut, barulah sekarang para anggota paham maksud dari ketua mereka. Nampak sebuah garis biru panjang berliku berawal dari puncak gunung tempat tim berada menuju arah samudera.
“Air?” Kevin menyeletuk kagum.
“Yap, itu merupakan aliran sungai yang membelah gunung ini menjadi dua bagian timur dan barat. Kita akan memanfaatkan arusnya untuk menghemat waktu serta tenaga, jika kalian pasang telinga baik – baik. Maka bunyi gemercik air pasti terdengar”
“Iya, kedengaran tapi....jauh sekali” kata Rena lemah.
“Karenanya lebih baik meluncur dari puncak bukan?”
“Asyikk!!! Bukankah kita seperti mau bermain arun jeram” Elizabeth berseru riang.
“Bisa dibilang begitu, apa sebaiknya kita istirahat dahulu. Kau terdengar kepayahan Selena”
“Hah...tenang saja aku tidak—setelah kupikir – pikir! Pergelangan kakiku memang sedikit terkilir” ralat Selena cepat – cepat begitu Arya memijat kakinya.
“Sungguh!? Kasian sekali dirimu! Mari biar kami bantu!” Rena dan Elizabeth mencengkeram kuat.
“KYAA!”
“Mulai lagi” gumam Kevin menghela napas.
“Menunduk!!!”
SRAT!
Arya melindungi ketiga gadis dihapannya sebelum melakukan tebasan, suara sesuatu terpotong menyebabkan dengungan makhluk barusan hilang. Cairan kemerahan segar membasahi bilah Mandalika.
“Kalian baik – baik saja?”
“Hewan apa itu tadi?”
“Capung Penghisap Darah”
“Hah?!”
Bloodsucking Dragonflies adalah serangga mematikan yang menkonsumsi darah layaknya nyamuk pada umumnya. Namun sayang, mereka tidak akan berhenti menghisap hingga tinggal menyisakan tulang, Imaginary Animals tersebut pantas disebut sebagai sanak para Vampire. Pergerakan dalam kelompok berjumlah besar sungguh menjadikan hewan – hewan bersayap ini teror bagi makhluk hidup lainnya.
“Ugh....aku benci serangga” Rena memeluk tubuhnya sendiri sambil bergidik pelan.
“Sepertinya kita masuk ke kawasan perburuan mereka, bersiap di posisi masing – masing. Gelombang berikutnya baru saja tiba” peringat Arya memberi komando.
“IYA!!!”
------><------
__ADS_1
“Aw...aw...aw”
“Masih terasa sakit?” tanya Arya.
“Huum, sedikit nyeri”
“Itulah mengapa kita diminta untuk tidak mengacaukan formasi” Kevin menyindir halus.
“Berisik!”
Kaki kanan Elizabeth terkena sengatan beracun ekor Bloodsucking Dragonflies ketika berusaha menyerang secara membabi buta, untung saja Rena memiliki beberapa bibit tanaman obat tepat. Sehingga Arya dapat membuatkan penangkal baginya.
“Rasanya mungkin masih seperti terbakar sampai setengah jam kedepan, bertahanlah”
“Iya....hihihi”
“Hentikan sikap manja menyebalkanmu itu!” kata Selena menarik rambut si gadis pirang kesal.
“Hei!?”
Elizabeth tidak menyesali perbuatan sebelumnya karena mendapat tumpangan gratis, Arya menggendongnya dipunggung selama sisa perjalanan walau Kevin sempat menawarkan diri bergantian. Ketika menginjakan kaki tuk pertama kalinya ke puncak, ekspresi kagum jelas terlihat pada wajah masing – masing.
“Indah sekali” Rena melebarkan mata takjub.
“Ayo ikuti aku, arah suara airnya dari sana” seru Arya memimpin kelompok.
Bentuk dataran titik tertinggi gunung tersebut cukup terjal tetapi masih bisa ditapaki, tampang sumeringah kelima remaja barusan menguap seketika melihat aliran sungai yang dimaksud. Kemiringan lereng tempat arus itu menempel mendekati sembilan puluh derajat.
“Bukankah ini sama saja dengan terjun bebas namanya? Kau yakin aman?” Selena bertanya serius
“Mungkin”
“APA!?”
“Oi!? Melihatnya saja kau pasti tau kalau saat melakukan luncuran pertama langsung terjatuh!!!”
“Rena? Kevin? Bisa kalian bantu aku sebentar?” panggil Arya buru – buru menghindar.
“Jangan abaikan aku! Arya!?”
Berkat bantuan pengendalian alam Rena dan potongan terampil Arya, terbentuklah sebuah sampan berukuran sedang. Setidaknya cukup nyaman diisi oleh lima orang, Arya meminta Rena menambahkan beberapa tambahan seperti kemudi juga papan penyeimbang pada kedua sisi perahu tersebut.
Satu persatu dari mereka mulai naik, Arya duduk paling depan karena bertugas mengendalikan alat transportasi air itu. Sementara empat orang lain duduk berjajar ke belakang di kiri kanan sampan kayu.
“Semua siap?”
GLEK!
Tak ada satupun menjawab, Arya memberikan isyarat kepada Kevin untuk melepas ikatan. Perlahan kapal kecil tadi mendekati pinggir lereng, saat bagian kepala sudah tanpa pijakan. Arya melakukan jungkir balik sebelum mendorong sekuat tenaga.
“Apa yang kau—“
WOOAAAA!!!! SYUU!!!
Perahu tersebut turun melesat seperti melompat dari air terjun, deru angin serta percikan air menyelimuti tubuh mereka.
“Hahaha....Rena sekarang”
__ADS_1
“KYAA!!!”
Walapun berteriak sambil memejamkan mata, sang Elementalist Alam berhasil membuat sabuk pengaman alami berbahan dasar sulur supaya seluruh penumpang tak terlempar ke luar saking cepat laju benda itu.
“Woohooo!!!” Elizabeth tertawa, cuma dirinya dan Arya yang terlihat menikmati sensasi mengerikan ini.
“Pegangan! Ada putaran di depan!”
“APA!?”
Terdapat tumpukan batu bersusun rapi membentuk terowongan sehingga permukaan sungai nampak seolah memutari langit – langit. Akibat derasnya aliran, air pada lokasi itu tidak jatuh ke tanah.
“Roller Coaster Alami! Hyahahaha!!!”
“BOHONG!?—TIDAK!!!”
SYU!!! WUSH!!!
“WAAAA!!!” teriakan kencang Kevin, Selena, dan Rena teredam bunyi angin.
------><------
“Kalian menikmatinya?” Arya melirik rombongannya.
“Huum” sahut Elizabeth.
“SAMA SEKALI TIDAK!!!”
Mereka telah sampai pada tempat yang lebih datar dan tentu menyebabkan laju tak seekstrem sebelumnya. Walau berkesan cukup tenang, kecepatan sampan kayu tersebut masih terbilang cepat.
“Isi perutku serasa ingin keluar semua” Selena berbisik lemah.
“Ugh....aku benci ketinggian hiks....Arya....” isak Rena.
“Maaf – maaf, aku harusnya mengingatnya—Kevin? Kita kedatangan tamu, tolong sapa”
Beberapa binatang bergigi tajam mirip buaya menghampiri sampan, Kevin yang suasana hatinya buruk akibat perjalanan mengerikan dari puncak gunung segera memasukan tangan kedalam air lalu mengibaskannya kuat – kuat.
SRRTTT!!!
Listrik kekuningan nampak menghiasi permukaan air, hewan – hewan barusan harus rela tubuhnya kejang - kejang tersertrum karena salah memilih mangsa. Arya melepaskan kemudi terus menghadap ke arah belakang.
“Baiklah, aku memilih kalian berempat ikut dalam misi ini bukan tanpa alasan. Kevin, seperti kejadian barusan. Kekuatanmu akan sangat dibutuhkan ketika tiba di Atlantos. Selena, kau adalah Elementalist Air. Bisa dibilang tujuan kita merupakan daerah kekuasaanmu.
Rena, walaupun terdengar sedikit boros membawa dua orang berkemampuan pengobatan. Kuharap kau tidak kalah dengan Selena, karena air menjadi konsumsi utama para tumbuhan. Dan terakhir Elizabeth, aku bisa saja memilih membawa Zayn. Tapi setelah kupikir – pikir kita lebih membutuhkan cahaya dari pada kegelapan di dasar sana, bukankah aku selalu memperhatikan kalian?”
“Arya....”
“Ehem!” Kevin berdeham agar ketiga gadis tadi tersadar kemudian menyembunyikan wajah tersipu mereka.
“Oh!? Lihat! Kita sampai” Arya berdiri sembari menunjuk batuan besar bak pintu masuk.
^^^
__ADS_1
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.