
Pertarungan final Duo Battle Festival itu sangat berkesan bagi seluruh masyarakat Underground Paradise. Mereka terus menceritakan kisah pertarungan final itu dari generasi ke generasi, dan pada akhirnya, merekapun membuat monumen untuk mengenang pertarungan final tersebut.
Final itu diberi julukan sebagai pertarungan paling hebat sepanjang sejarah Duo Battle Festival, buktinya adalah keberadaan dua patung perunggu megah yang menghiasi pintu masuk Arena. Dua patung tersebut menggambarkan kedua tim yang bertarung di final kala itu.
Kisahnya terus mengiang dan mengalir diseluruh Undeground Paradise sampai kelak beberapa puluh tahun kemudian, putri dari Arya datang ke tempat itu untuk menggeser prestasi sang ayah.
-----------------------------<<>>-----------------------------
Arya dan Lexa sedang berangkat menuju kediaman Raja Vermaand untuk mengambil hadiah kemenangan mereka, sesampainya di kantor pemerintahan pusat. Pengurus yang dulu pernah mengusir mereka memerintahkan para penjaga untuk mengantarkan keduanya.
Akhirnya mereka berangkat dengan dikawal oleh beberapa prajurit dengan peralatan lengkap, mereka digiring menuju sebuah istana batu raksasa yang berada disudut Underground Paradise. Arya dan Lexa bisa melihat ada beberapa burung yang terbang disekitar sana.
Sepertinya diatas kastil tersebut ada lubang yang langsung mengarah ke permukaan, Arya dan Lexa menunggu dengan sabar selagi kedatangan mereka disampaikan pada Raja. Beberapa saat kemudian salah seorang penasehat Raja menjemput mereka.
Keduanya diantar ke sebuah ruangan dengan pintu masuk yang sangat besar, merekapun dipersilahkan untuk memasuki ruangan tersebut.
"Lexa? Kuharap kau tidak kehilangan hamster milikmu itu" desis Arya pelan.
"Mmm aku juga berharap begitu" sahut Lexa santai.
"Kalau sampai ternyata kau hanya salah lihat aku akan—"
Kata-kata Arya segera menghilang saat pintu itu akhirnya terbuka, didalam ruangan tersebut ternyata tidak seperti yang Arya pikirkan. Dia sempat berpikir akan melihat singgasana seperti yang dimiliki Diana.
Nyatanya tempat itu lebih terlihat mirip seperti ruang kerja Pak Hartoso yang selalu dia lihat di rumah utama. Sebuah meja lengkap dengan kursi berada ditengah-tengah dan tidak lupa berbagai perabotan lainnya yang juga bertebaran diseluruh ruangan.
Vermaand duduk dengan santai dikelilingi kesembilan istrinya, ia tersenyum ramah sambil melambai pada mereka.
"Selamat datang wahai pemenang, ayo silahkan masuk. Tidak perlu sungkan"
Tepat sesaat dia memasuki ruangan, seketika itu juga Arya mengernyitkan dahinya. Ia merasakan kepadatan sihir yang sangat luar biasa di ruangan tersebut, setelah diperhatikan lagi ternyata memang ruangan itu dipenuhi oleh alat-alat sihir.
"Pantas saja" gerutunya dalam hati lalu mendengus pelan sambil melanjutkan langkahnya.
"Sekali lagi aku ucapkan selamat atas kemenangan kalian" mulai Vermaand.
Arya dan Lexa saling menatap satu sama lain, kemudian hanya bisa berterimakasih atas ucapan selamat dari sang Raja.
"Baiklah, sesuai dengan perjanjiannya. Kalian boleh meminta apapun dariku, kalian hanya tinggal menunjuknya saja. Maka aku akan memberikannya pada kalian gyahahaha" lanjut Vermaand sambil tertawa senang.
Mendengar itu urat dipelipis Arya berkedut kesal, dia menarik napas dalam-dalam berusaha untuk menenangkan diri. Sementara Lexa terlihat dengan antusias melihat benda-benda yang ada disana.
"Dasar musang tua licik....jadi begitu caramu bermain? Baiklah, akan aku ladeni permainanmu" pikir Arya yang sudah naik pitam.
"Yang Mulia....sebelum itu bolehkah kami melihat-lihat terlebih dahulu?" tanya Arya.
"Tentu-tentu silahkan, pilihlah dengan bijak gyahaha"
Sebelum melangkah untuk berkeliling Arya membisikan sesuatu pada Lexa, mendengar hal itu Lexa menatapnya balik dengan bingung. Tapi akhirnya melakukan yang Arya suruh tanpa bertanya lebih jauh lagi.
Lexa menempelkan tangan pada lantai sambil memejamkan matanya, beberapa saat kemudian ia segera menunjuk rak buku di sudut ruangan. Dengan sekali langkah Arya segera muncul tepat didepan rak tersebut.
Setelah sampai, dia melirik Raja melalui sudut matanya. Ekspresi Raja segera berubah setelah menyadari tempat Arya berdiri.
"Sedikit saran dariku, buku-buku disana hanyalah buku tua. Aku jamin tidak ada yang menarik perhatianmu" peringat Vermaand cepat.
Sebuah seringai jahat menghiasi wajah Arya, "Kena kau" bisiknya senang dalam hati.
"Sungguh? Tapi kebetulan aku ini adalah orang yang suka membaca jadi...." timpal Arya santai sambil mengedarkan pandangan ke seluruh judul buku yang ada di rak tersebut, tatapan matanya tiba-tiba terhenti pada satu buku bersampul biru.
Dia menggapai buku itu dan secara bersamaan terdengar suara seperti kunci pintu terbuka, rak itu bergeser dan memperlihatkan sebuah ruangan yang dipenuhi oleh cahaya keemasan. Bergunung-gunung koin emas terlihat memenuhi ruangan itu.
"Aku boleh menunjuk apapun yang aku mau bukan?" tambah Arya dengan seringai licik.
Tatapan Vermaand segera berubah gelap, namun dengan tenang dia membalas.
"Dasar bocah keparat, kau pikir siapa dirimu?"
-----------------------------<<>>-----------------------------
"Aku? Aku bukanlah siapa-siapa" jawab Arya enteng sambil melangkah kembali ke samping Lexa.
"Aku hanya orang yang tidak suka dengan pernyataan konyol anda tadi Yang Mulia, menunjuk apapun yang aku mau? Yang benar saja, bukankah anda sudah memasukan semua barang berharga ke dalam ruangan rahasia itu"
Mendengar hal itu beberapa istri Vermaand segera berdiri dari posisinya, namun langsung dihentikan oleh sang Raja.
"Aku mengakui kemampuanmu karena telah menemukan ruangan rahasia itu, oleh karena itu aku akan membiarkan kalian mengambil salah satu barang berharga milikku"
__ADS_1
"Bukankah memang seharusnya seperti itu" timpal Arya cuek.
"KAU! BERANINYA DIRIMU! DIMANA SOPAN SANTUNMU PADA RAJA" bentak salah seorang istri Vermaand yang terlihat berwujud seperti lembu betina.
"Sopan santun? Apa aku harus bersikap sopan pada orang yang baru saja ingin menipuku?"
"BOCAH SEBAIKNYA KAU JAGA BICARAMU! DAN SAMPAI KAPAN KAU AKAN MENGENAKAN TOPENG BUSUK ITU! PERLIHATKAN WAJAHMU KALAU BERANI! PERLIHATKAN! ATAU AKAN KUBUAT KAU MENYESALINYA!" ancam perempuan itu sambil mengangkat busur miliknya.
Mendengar hal itu senyumpun menghilang dari wajah Arya.
"Eee....ini....sebenarnya.....BAIKLAH-BAIKLAH AKAN KUBUKA" tambah Arya cepat karena perempuan bertanduk itu mulai menarik anak panah miliknya.
Sebenarnya Arya sudah jera untuk membuka topengnya akibat kejadian di bar penginapan, dia hanya akan membuka topengnya jika berdua saja dengan Lexa. Sementara itu Lexa dengan tidak peduli langsung membuka topengnya tanpa beban.
Arya menggerutu pelan sambil membuka topeng beserta tudung jubah milikya, seketika sepuluh pasang mata orang yang ada dihadapannya melotot tajam. Dia menggaruk-garuk kepalanya dengan ragu kemudian berkata.
"Apa....sebaiknya aku....pakai kembali saja topengnya?"
-----------------------------<<>>-----------------------------
"K....ka....kalian?! Apa yang kalian lakukan disini?! Jika kalian ingin memintaku untuk bergabung lagi sebaiknya lupakan! Kalian sudah tau jawabanku" teriak Vermaand sambil berdiri dari tempat duduknya.
Tentu respon Vermaand ini menimbulkan tanda tanya dari yang lainnya, Arya mengangkat sebelah alisnya sambil berpikir dengan cepat.
"Hei hei hei tunggu dulu, kami kemari bukan untuk mengurus hal merepotkan seperti itu. Kami hanya ingin mencari sesuatu, jika kau ingin mengetahui lebih banyak lagi. Bisakah kau menyuruh mereka keluar?" sahut Arya dengan telunjuk mengarah ke pintu.
Vermaand lalu meminta kesembilan istrinya untuk keluar sehingga hanya tersisa dirinya bersama Arya dan Lexa. Arya lalu menoleh pada Lexa.
"Lexa? Bisakah kau berbalik sambil menutup telingamu sebentar?"
"Mmm? Memangnya ada apa?" Lexa balik bertanya bingung.
"Bukan hal yang penting, kumohon....sepuluh menit saja"
Setelah mendengar hal itu Lexa langsung melaksanakan yang diminta tanpa protes sedikitpun. Perhatian Arya kembali pada Vermaand.
"Kami kemari bukan mewakili Pax, walaupun aku juga tidak tau kalau Pax pernah mengajakmu untuk kerja sama"
"Omong kosong! Lalu apa yang kalian lakukan disini?! Tikus-tikus milik kalian selalu mengusikku" ucap Vermaand geram.
"Kedok apalagi ini? Ingin menghasutku dengan dua bocah Elementalist yang berpura-pura polos? Sudah kuputuskan bahwa Underground Paradise mengambil sikap netral pada perseteruan ini"
"Bisa aku tau alasannya?"
"Siapapun yang berhasil menang diantara kedua organisasi ini tidak akan mempengaruhi kehidupan kaumku, kalian tetap akan memperlakukan kami sebagai budak" jawab Vermaand ketus.
"Anda seharusnya tidak mengambil kesimpulan secepat itu, dengan pernyataan anda barusan apakah aku bisa percaya kalau Underground Paradise kelak tidak akan pernah berada diposisi yang bersebrangan dengan kami?" komentar Arya pedas.
Vermaand tidak menjawab, Arya menghela napas lelah. Dia sudah tau kalau tipe dari pak tua ini hanya akan mengambil keputusan yang menguntungkan dirinya, secara perlahan Arya mengeluarkan medali perunggu pemberian Stämmig.
Mata Vermaand melebar melihat benda itu, dengann terbata-terbata ia berkata "D..da..dari mana kau—"
"Bukankah sudah jelas? Tentu saja dari kakak anda. Yang Mulia"
-----------------------------<<>>-----------------------------
"Kakak anda masih hidup dan menjalani kehidupannya dengan baik serta bebas diluar sana. Aku sendiri yang menjamin hal itu" tambah Arya.
Vermaand menatap medali itu dengan mata sendu, Arya membiarkannya beberapa saat sebelum melanjutkan.
"Dia memberiku medali itu agar saat bertemu dengan Dwarf lainnya tidak merepotkan, sudah kuduga beliau jauh lebih pantas menjadi raja dari pada dirimu"
"Aku sudah mendengar hal itu ribuan kali, bahkan dari kedua orang tua kami sekalipun. Tapi kakak bodoh itu malah lebih memilih untuk—ugh....lihatlah siapa yang duduk di tahta sekarang, Aku! Bukan dia!"
"Stämmig memiliki hati yang jauh lebih besar darimu Yang Mulia, dimataku kau hanyalah seorang pria tua pengecut"
"Berbicaralah sesuka hatimu, kau pikir hal itu akan mempengaruhiku? Tapi....mungkin ada satu hal yang bisa membuatku berubah pikiran untuk berpihak pada kalian?" sahut Vermaand sambil melirik Lexa.
"Kau tau aku masih memiliki ruang untuk satu istri lagi, dan aku belum memiliki istri dari ras Ma—"
Belum selesai Vermaand berbicara, Arya sudah berdiri diatas mejanya sambil menondongkan Mandalika tepat ke arah leher si Raja Dwarf.
"Hoi pak tua, sebaiknya kau pikirkan baik-baik dulu sebelum berbicara. Aku bisa menebas lehermu disini kapan saja yang aku mau, aku tidak peduli bahkan jika seluruh dunia menjadi musuhku. Tapi yang jelas aku tidak akan pernah menjual temanku, camkan itu!" desis Arya dengan tatapan dingin.
"Dasar bocah naif, ternyata kau sama saja dengan mereka" celetuk Vermaand santai.
__ADS_1
"Aru?" panggil Lexa masih dengan telinga tertutup.
Dalam sekejap Arya segera kembali kesamping Lexa, Vermaand mulai memanggil masuk kesembilan istrinya. Karena merasa tidak nyaman dengan tatapan mereka, Arya berniat untuk menggunakan topengnya lagi.
Belum sempat dia menggerakan tangan, tiba-tiba sebuah anak panah melesat cepat dan menghancurkan topeng itu.
"WAA....!!! TIDAK....! TOPENGKU!" teriak Arya histeris.
"Sebaiknya kau tidak melakukan hal yang sia-sia Boy" salah seorang istri Vermaand berbicara sambil menjilati bibirnya.
Arya hanya bisa menggerutu pelan, dia padahal mulai menyukai topeng itu. Vermaand juga mulai terlihat tidak senang.
"Untuk apa kau berlama-lama disini! Cepat ambil barang yang kau inginkan dan pergi!"
"Lexa pergilah ke ruangan itu dan lihat apakah kau bisa menemukan hamster milikmu"
Lexa segera melakukannya dengan patuh, beberapa saat kemudian terdengar teriakan senang darinya. Dia keluar dari ruangan itu dengan membawa sesuatu yang terlihat seperti peti harta karun.
"Aru! Aru! Aku menemukannya! Mahkluk itu tadi masuk ke dalam kotak ini"
"Tu...tunggu dulu!" seru Vermaand terkejut.
Salah seorang istrinya segera merebut peti itu dari Lexa. Vermaand terlihat ragu sesaat.
"Aku....aku tidak bisa memberikan isi peti ini pada kalian"
"EH?! KENA—Mmh....mUHn....?!"
Arya segera menyumpal mulut Lexa dengan roti, "Memangnya apa isi kotak itu?"
"Di dalam sini ada sebuah peta yang dibuat oleh seorang penambang terbaik seantero Underground Paradise. Dia menemukan sebuah situs berharga yang mungkin saja memiliki banyak harta, jadi aku tidak bisa memberikannya pada kalian"
"Itu dia! Kami membutuhkan peta itu" sambar Arya cepat.
"Sudah kubilang aku tidak akan memberikannya padamu!"
"Ck! Dasar pria tua keras kepala" batin Arya.
Sebuah ide tiba-tiba muncul dibenaknya, ia lalu menghela napas panjang dan memulai rencanannya.
"Eh....? Tidak kusangka kalau ternyata Raja Vermaand itu adalah seorang pembohong, bukankah kau sudah berjanji akan memberikan apapun yang kami minta? Apa kau tidak malu dengan istri-istrimu yang manis itu?" celetuk Arya dengan wajah polos.
"Ugh...kau?! Kau pikir cara murahan seperti itu akan—"
"Sudahlah sayang berikan saja benda itu padanya"
"Benar! Kau bisa mendapatkan benda seperti itu beribu-ribu kali lipat"
"Ayolah sayang!"
Karena tidak kuat mendengar celoteh-celotehan istrinya, akhirnya Vermaand mengeluarkan peta itu dari dalam peti dan melemparkannya. Arya menangkap dan melihat isi peta itu sekilas, sebuah senyum kemenangan lalu menghiasi wajahnya.
Kemudian ia segera memberi hormat sambil berterimakasih, tidak lupa ia menunjukan senyum terbaik yang bisa dia lakukan ditambah dengan sebuah kedipan mata yang bisa membuat hampir semua wanita lemas dibuatnya. Melihat hal itu napas istri-istri Vermaand langsung tercekat.
"UGH...?! Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan bukan?! Cepat pergi dari sini dan berhentilah menggoda istri orang lain dengan tampangmu yang tidak berdosa itu!" bentak Vermaand kesal.
"Baiklah.....baik, sekali lagi terimakasih atas bantuannya" ucap Arya sebelum berbalik pergi.
"Terimakasih!" tambah Lexa sambil memberi hormat lalu segera menyusul Arya.
"Kalian?! Berhentilan menatapnya seperti itu! Dulu juga aku saat seumuran dengannya wajahku seperti itu!" seru Vermaand tidak senang.
Mendengar hal itu Arya hanya bisa memutar kedua bola matanya. Saat mereka berdua sudah pergi, suasana ruangan menjadi hening. Beberapa menit kemudian kesunyian itu dipecahkan oleh suara tawa Vermaand yang menggelegar.
"Ada apa sayang?" tanya salah seorang istrinya.
"Gyahahaha....tidak ada, hanya saja aku merasa sedikit iba dengan bocah itu" jawab Vermaand dengan mata berkilat.
"Memangnya takdir seperti apa yang kau lihat dengan mata Graiai?"
"Diumurnya yang begitu muda, ia memiliki garis takdir rumit seperti ribuan benang yang saling memelintir satu sama lain"
"Menurutku itu bukan sesuatu yang bisa membuatmu tertawa" komentar istri yang lain.
"Gyahahaha memang bukan hal itu yang membuatku tertawa, ada satu garis yang memisahkan diri dari yang lainnya. Benang itu berwarna merah muda dan mengelilingi kepalanya" gelak Vermaand sambil terkikik geli.
"Itu....berarti—"
"Begitulah, garis yang persis sama seperti milikku. Garis yang menandakan kelak dimasa depan ia akan mengalami kesulitan ataupun dipusingkan oleh para gadis yang berkumpul disekitarnya, semoga saja dia bukan orang yang terlalu baik. Karena hal itu bisa menimbulkan banyak kesalahpahaman nantinya"
__ADS_1