Elementalist

Elementalist
Chapter 44 - U.P


__ADS_3

"Hah....hah....hah...Lexa....?! Bisakah kau berjalan lebih pelan?" celetuk Arya lemah.


Napasnya sudah mulai terputus-putus, hal ini adalah sesuatu yang tidak biasa bagi Arya. Efek ini bukan dikarenakan kurangnya stamina yang dia miliki, hanya saja lokasi tempat kemunculan mereka berada di sebuah Gurun yang memiliki suhu yang sangat tinggi.


Tentu saja ini berdampak besar bagi Arya, suhu udara yang tinggi dapat mengakibatkan tenaganya cepat terkuras. Jika saat di Kutub Utara dan Selatan dia bisa dibilang kebal akan hawa dingin, tentu kalian sudah bisa menebak dampak untuk tubuhnya jika berada di tempat berhawa panas seperti ini.


"Eh....?! Tidak bisa Aru, kalau lebih lambat dari ini aku bisa kehilangan jejaknya" balas Lexa dengan semangat sambil melemparkan pandangan sekilas pada Arya.


Jarak mereka saat ini sudah terpisah hampir 10 meter, dan Arya punya firasat jika Lexa terus bergerak dengan kecepatannya saat ini. Jarak mereka akan semakin melebar.


"Bisakah kau setidaknya memberitahuku kita sedang mengejar apa?!" seru Arya dengan sisa tenaganya.


"Sudah kubilang bukan? Hamster! Aku duluan ya! Berusahalah agar tidak tertinggal!" kata Lexa melambai dan seketika tidak terlihat lagi.


"Hei! Tu—argh....dasar!" Arya segera mempercepat langkahnya.


Arya tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Lexa, dia tidak melihat seekorpun hamster di tempat itu. Sejujurnya saat ini dia sedikit merasa cemas, hal itu karena ia tidak mengetahui dengan pasti dimana tempatnya lokasi ini berada.


Kalau bisa, dia tidak ingin bertemu dan dikejutkan oleh kenyataan bahwa ternyata lokasi mereka saat ini berada di wilayah 4 ras besar lainnya. Jika itu sampai terjadi, pasti akan benar-benar merepotkan.


Hanya dengan memikirkannya saja kepala Arya sudah terasa pening, beberapa jam kemudian. Akhirnya Arya berhasil mengejar Lexa, dia sedang duduk sambil terlihat berpikir dengan serius.


"Huh....akhirnya, bagaimana?" tanya Arya sambil menyusul duduk.


"Aru....hamsternya....menghilang" jawabnya pelan dengan senyuman canggung diwajahnya.


"HAH?! Aku sudah menghabiskan tenagaku untuk mengejarmu dan ternyata makhluk itu menghilang?! Oh....sial!" ujar Arya tidak percaya.


"Dia menghilang begitu saja" Lexa bersikeras.


"Kau yakin tidak sedang berhalusinasi?"


"Tentu saja! Aru, kau meragukanku?" tanya Lexa cemberut.


"Hah....ya mau bagaimana lagi? Kita sudah terlanjur sampai di tempat ini dan tidak bisa kembali, dan akupun tidak bisa melihat hamster yang kau maksud itu. Sudahlah kita bahas hal ini besok saja, hari sudah mulai gelap" timpal Arya sambil berdiri untuk mencari tempat berlindung.


Lexa segera mengikutinya tanpa berkomentar apa-apa lagi.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Arya menguap pelan kemudian mnegusap-usap matanya, dia sedang duduk di dekat api unggun yang mereka sudah siapkan malam itu. Ia bersenandung pelan sambil memperhatikan langit malam yang selalu terlihat sama dimanapun dia berada.


Entah itu di Elemental City, Fairy Forest, Kutub Utara maupun Kutub Selatan. Langit akan selalu terlihat seperti itu, Arya kemudian melemparkan pandangan kepada Lexa yang sedang tertidur pulas di dekatnya beralaskan sehelai kain tipis.


"Wanita yang merepotkan" batinnya.


Untungnya suhu di Gurun pada malam hari bisa dibilang cukup rendah, sehingga Arya bisa memulihkan tenaganya yang terkuras akibat berusaha mengikuti Lexa sebelumnya. Jika beristirahat di tempat terbuka seperti ini, dia jadi teringat saat menjalankan Ujian Pertama bersama Asuna.


Sekilas ia juga teringat kembali dengan sebuah pesan yang disampaikan Timothy padanya sebelum keberangkatan mereka.


"Kapten, berhati-hatilah saat berpergian dengan Lexa" bisik Timothy setelah menyeret Arya menjauh dari yang lainnya.


"Mmm? Memangnya kenapa?" tanya Arya bingung.


"Eee....bagaimana cara menjelaskannya ya, aku adalah rekan pertama yang melakukan ujian bersamanya. Walaupun dia selalu bertingkah polos dan lugu, tapi aku tidak pernah bisa membaca isi kepalanya" jelas Timothy serius.


"Bukankah itu hanya karena kau terlalu bodoh" jawab Arya datar.


"Ugh....Kapten aku sedang serius disini! Kau pasti menyadarinya bukan? Tentang panggilan-panggilan konyol yang dia buat untuk kita"


"Mungkin dia memiliki sebuah alasan dibalik hal itu" timpal Arya sambil melirik Lexa yang berada dibalik punggung Timothy.


"Mungkin, tapi tidak ada salahnya untuk berhati-hati bukan?" peringat Timothy menepuk-nepuk pundak Arya.


"Hachii!!!"


Arya mengusap hidungnya dengan kesal, dia memang memiliki hidung yang senstif terhadap debu. Dan sialnya, tempat itu penuh dengan debu yang bertebaran di udara.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Arya membuka matanya saat fajar mulai menyingsing di cakrawala, dia segera mengemas barang-barang mereka yang bertebaran di tempat itu agar bisa segera berangkat lagi. Lexa masih tertidur pulas dengan wajah tidak berdosa.


Membuat Arya merasa sedikit kesal dibuatnya, akhirnya diapun membangunkan Lexa. Ia menyenggol-nyenggol tubuh Lexa dengan kakinya.


"Hei Putri Tidur, mau sampai kapan kau terlelap seperti itu?"


"Mmm....sebentar lagi Pangeran" sahut Lexa membalikan tubuhnya.


Tanpa menunggu, Arya langsung menarik kain yang digunakan Lexa sebagai alas. Tubuhnya berputar dan terjerembab ke tanah.


"Aru?! Kemana Pangeran tadi?" tanya Lexa linglung dengan rambut berantakan dan mata sayu.


"Dia baru saja pergi untuk mencari seekor hamster" jawab Arya asal.


"Apa?! Dia juga men—"


Arya melontarkan tendangan yang cukup keras ke arah Lexa, dia menahan tendangan itu dengan kedua tangannya namun tetap terpental. Telat beberapa detik saja Arya melakukan hal itu, tubuh Lexa pasti sudah berlubang akibat ekor raksasa yang muncul secara tiba-tiba dari tanah.


Secara perlahan tapi pasti, sesosok kalajengking raksasa muncul dari tanah dan mendesis ganas ke arah mereka. Arya segera menggapai gagang Mandalika dengan waspada.

__ADS_1



"Lexa? Kau tidak apa-apa?"


"Kau menanyakan hal itu kepada seorang gadis yang baru saja kau tendang?!" tanya Lexa balik tidak percaya dengan mulut penuh pasir.


"Kenapa kau tidak bilang jika kau lebih memilih untuk tertusuk ekor kalajengking raksasa?"


Walaupun cemberut karena apa yang terjadi barusan, Lexa sudah mengenakan Gnome ditanganya dengan sikap siap menyerang.


"Aku akan mengurus ekornya, bisa kau selesaikan?" tanya Arya yang perlahan menarik Mandalika dari sarungnya.


"Mau taruhan?" balas Lexa dengan senyum jahil diwajahnya.


"Mmm....tentu, bagaimana kalau yang kalah membuatkan sarapan. Waktunya?"


"Setuju! 5 det—"


Arya mengarahkan telapak tangannya ke arah ekor kalajengking tersebut, makhluk raksasa itu segera meronta-ronta karena sengatannya yang terasa kaku dan tidak bisa digerakan. Dengan sekali ayunan, ekor kalajengking itu sudah melayang diudara terpisah dari tubuhnya.


Aroma tempat itu segera dipenuhi oleh bau amis cairan kehijauan yang muncul dari bekas tebasan Mandalika.


"Selesai, waktunya 5 detik bukan? 1....2....3—"


"EH?! Aru kau curang! Mana boleh seperti itu!" seru Lexa terkejut.


Ia segera melompat ke udara dan menghantam bagian atas kalajengking raksasa itu hingga hancur berkeping-keping.


-----------------------------<<>>-----------------------------


"Mau sampai kapan kau memasang wajah seperti itu? Kita membuat sarapannya bersama-sama bukan?" tanya Arya sambil membersihkan bekas sarapan mereka.


"HUH! Aru menyebalkan! Sekarang aku mengerti kenapa Una terkadang marah tanpa alasan terhadapmu" jawab Lexa membuang muka.


"Hah....kalau Asuna mah.....memang seperti itu" gumam Arya lelah.


Tiba-tiba Lexa segera berdiri dan terlihat menerawang dikejauhan, wajahnya segera berbinar-binar seperti biasannya.


"Aru! Aru! Aku melihatnya! Dia disana!" tunjuk Lexa semangat.


"Hah? Apa? Siapa? Dimana?" toleh Arya.


"Hamster itu! Apa kau tidak melihatnya?"


Arya menatap ke arah yang ditunjuk Lexa, dimatanya ia hanya melihat tanah kecokelatan gersang sepanjang mata memandang.


"Lihat?! Ayo!" seru Lexa dan untuk kedua kalinya menghilang meninggalkan Arya.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Setelah berkutat dengan dua barang bawaan yang harus ia tenteng kemana saja, Arya akhirnya berhasil lagi mengejar Lexa. Dan yang membuatnya lebih kesal adalah, kejadian itu sangat persis dengan apa yang terjadi kemarin. Dia seperti merasakan deja vu.


"Sekarang apa lagi?" tagih Arya pada Lexa yang sedang menatap tanah disekitarnya.


"Aru....hamsternya....masuk ke tanah" sahut Lexa serius.


Arya menghela nafas mendengar hal itu, dia tidak tau apa dirinya yang sudah gila karena membiarkan Lexa untuk memandu atau sebaliknya.


"Mana mungkin bisa seperti itu, aku bahkan tidak melihat satupun lubang atau retakan pada tanah" komentar Arya lemah.


"Begitupula denganku, aku tidak merasakan apapun dibawah sini" tambah Lexa.


"Lalu bagaimana bisa—"


Tanah yang mereka pijak tiba-tiba bergeser begitu saja, sehingga membentuk sebuah lubang raksasa yang menganga ke dalam tanah. Arya dan Lexa saling memandang satu sama lain, lalu secara perlahan menatap ke dalam lubang itu sebelum sama-sama berteriak kencang.


"AAA......!!!"


-----------------------------<<>>-----------------------------


"LUBANG ANEH APA INI?!" teriak Arya sambil berusaha melihat lubang tempat mereka terjatuh diatas.


"Aku juga tidak tau! Lubang ini seperti muncul begitu saja" timpal Lexa.


Saat ini posisi mereka masih terus terjatuh ke dalam lubang yang sepertinya tidak berujung, lubang masuk mereka semakin terlihat menjauh diatas. Arya dengan susah payah berusaha mengatur posisinya.


"Lexa! Buat pijakan dari dinding-dinding lubang ini" perintah Arya.


Tanpa menunggu Lexa segera menyatukan tangannya, dua bongkahan tanah berbentuk persegi panjang muncul dari dua sisi lubang. Keduanya menyatu dan membentuk sebuah jembatan kecil.


Arya dan Lexa mendarat dengan lembut diatas jembatan itu.


"Huh....tadi itu hampir sa—"


Lubang itu entah bagaimana bertambah luas dan mengakibatkan jembatan mereka terputus ditengah-tengah. Arya menatap Lexa sambil bertanya lemah.


"Kau tadi mau bilang apa?"


"Sepertinya aku terlalu cepat bica—Aaa....!"

__ADS_1


-----------------------------<<>>-----------------------------


Setelah menghabiskan waktu entah berapa lama, Arya akhirnya menerima nasipnya dan lebih memilih untuk diam. Dia tidak menyangka perjalanannya akan sesial ini. Sementara itu, Lexa yang bosan dengan gembira melakukan gerakan-gerakan akrobatik di udara.


Sepertinya dia sudah tidak terlalu memikirkannya, lubang diatas mereka sudah tidak terlihat lagi. Dasar lubang ini juga belum terlihat, Arya sudah tidak tau apa yang harus dilakukan. Setengah jam kemudian Lexa menyeletuk.


"Aru....itu....cahaya bukan?"


Arya membuka matanya dan melihat ke bawah, ia bisa melihat sebuah lubang keluar yang semakin membesar saat mereka mendekat. Arya menarik Lexa ke dekatnya sambil berbisik.


"Jangan sampai terpisah, kita tidak tau dimana akan mun—"


Kata-kata Arya menghilang begitu saja setelah melewati lubang keluar. Mereka berdua terjatuh dari ketinggian 50 meter dengan permukaan yang ada dibawah, dan yang membuat Arya takjub adalah ternyata dibawah lubang itu ada sebuah tempat yang sangat luas.


Di kejauhan mereka bisa melihat cahaya kerlap-kerlip kota dan bangunan-bangunan yang menjulang tinggi. Karena bingung, akhirnya Arya mendongak. Lubang tempat mereka keluar sudah tidak ada, digantikan oleh langit-langit berwarna kecokelatan.



Dengan begitu Arya semakin yakin, mereka berdua memang sedang berada di bawah tanah. Dan tanpa mereka sadari ada beberapa sosok juga yang terjatuh dari lubang yang berbeda menuju tempat itu.


Saat Arya masih tertegun karena kondisi yang mereka alami, Lexa bertanya dengan nada suara sedikit cemas.


"Aru.....? Aku tidak tau bagaimana denganmu....tapi....bukannya kalau kita terjatuh dari ketinggian ini bisa-bisa—"


Arya akhirnya menyadari tanah dibawah mereka semakin mendekat, dengan terburu-buru ia berusaha menyiapkan dirinya, namun terlambat. Jarak mereka sudah terlalu dekat, saat dia sudah bersiap menerima rasa nyeri yang akan datang. Laju mereka berhenti.


Sebuah alat yang terlihat seperti kipas angin raksasa muncul dari dalam tanah dan menahan laju mereka, keduanya akhirnya terhempas jatuh ke tanah disekitar alat itu. Orang-orang yang lewat melihat mereka dengan tatapan aneh.


"Ugh....benda apa itu?" tanya Lexa sambil mengusap kepalanya.


Arya langsung memasangkan tudung jubah milik Lexa untuk menutupi kepalanya. Dia juga melakukan hal yang sama.


"Mmm....ada apa Aru?"


"Lexa....sebaiknya kita menutupi wajah kita, sepertinya....ini bukan tempat untuk Manusia"


-----------------------------<<>>-----------------------------


Orang-orang yang datang bersama mereka segera berjalan menuju kota, Arya dan Lexa tak punya pilihan lain selain mengikuti mereka. Satu hal yang Arya tau pasti, hanya mereka berdualah Manusia di tempat itu.


Orang-orang itu akhirnya membentuk sebuah barisan memanjang di depan dinding raksasa kota tersebut, Arya tidak tau benda itu terbuat dari apa. Tapi yang pasti terlihat sangat kokoh, Arya dan Lexa ikut berbaris seperti yang lain.


Perasaan Arya tidak enak, dia bisa melihat ekor, sisik, tanduk, dan masih banyak hal lainnya dari orang-orang disekitar mereka. Ia juga merasakan, walaupun sekilas. Ada aura Elf di tempat itu.


Yang jelas adalah orang-orang disekitarnya bukanlah Manusia, dan mereka berdua tidak tau apa yang akan dilakukan orang-orang ini saat mengetahui keberadaan dua orang anak Manusia yang ternyata adalah Elementalist muncul ditengah-tengah mereka.


Arya dan Lexa semakin dekat dengan tembok raksasa, orang-orang yang berbaris sepertinya akan masuk ke sebuah ruangan yang menjadi Pos Penjaga. Tapi ada dua hal yang Arya dan Lexa bisa simpulkan.


Ada orang yang memasuki tempat itu dan tidak terlihat lagi, dan juga ada orang yang digiring keluar oleh sosok-sosok berbaju zirah. Termasuk orang yang berbaris di depan mereka. Saat jubahnya tersingkap, terlihatlah sesosok makhluk berperawakan besar dengan hidung babi.



"TIDAK....!!! TOLONG IZINKAN AKU MASUK! AKU SUDAH TIDAK TAU HARUS PERGI KEMANA! JANGAN KIRIM AKU KEATAS DENGAN THROWER LAGI!!!" teriaknya dengan suara yang terdengar seperti hewan sedang disembelih.


"Thrower?" ulang Lexa bingung.


"Orc...." ujarnya Arya dengan mata menyipit.


Para penjaga membawa Orc tersebut ke salah satu alat berbentuk kipas angin raksasa yang mereka lihat sebelumnya, dan melemparkan tubuh Orc itu kesana. Dalam sekejap tubuhnya segera menghilang entah kemana.


Arya dan Lexa akhirnya tau apa yang mereka sebut sebagai Thrower, mata Lexa melebar setelah melihat kejadian itu. Dia mulai melangkah keluar barisan, tapi segera dihentikan oleh Arya dengan cara memegang bagian kerah jubahnya.


"Terlihat mengasyikkan, Aru ayolah...." ajaknya.


"Jangan macam-macam! Kau lihat respon makhluk malang itu tadi karena dikirim menggunakan alat itu?!"


"Tapi aku ingin merasakan sensasinya" seru Lexa bersemangat.


"Hah....apa kau lupa tujuan kita kesini? Bagaimana kalau hamster yang kau kejar itu ada didalam sana" jelas Arya.


Setelah mendengar itu Lexa berhenti memberontak, akhirnya tiba giliran mereka berdua memasuki Pos Penjaga. Didalam, mereka disambut oleh sebuah ruangan tunggal yang didalamnya terdapat satu set meja dan kursi.


Arya dan Lexa segera duduk pada kursi yang sudah disediakan, diseberang meja duduklah sesosok makhluk kecil dengan kulit berwarna kehijauan. Setelah menyadari kehadiran Arya dan Lexa, makhluk itu menatap mereka sambil tersenyum memamerkan gigi-gigi kuning miliknya.



"Goblin" gumam Arya sinis namun pelan, sehingga hanya Lexa yang bisa mendengarnya.


"Ada yang bisa aku bantu?" tanya makhluk itu.


Arya menarik napas panjang, dia berusaha menenangkan dirinya. Ia tidak boleh lepas kendali di tempat seperti ini.


"B...bi...bisakah kau menjelaskan kepada kami tempat apa ini?" tanya Arya dengan suara tercekat.


"Ahh....kalian pasti orang baru, selamat datang di UP" seru goblin itu antusias.


Arya dan Lexa saling pandang untuk sementara waktu, lalu berbicara bersama-sama sambil menunjuk keatas dengan heran.


"UP? Kita tidak sedang berada di UP(atas)"

__ADS_1


"Ah....maaf, maksudku adalah selamat datang di Underground Paradise. Surga bagi orang-orang terbuang, atau yang biasa kita sebut dengan. Trash"


__ADS_2