Elementalist

Elementalist
Chapter 45 - Axel & Ayra


__ADS_3

Underground Paradise adalah sebuah kota sekaligus wilayah perlindungan terakhir bagi ras Dwarf, kota ini dibangun atas arahan Raja Dwarf yang agung. Mereka ingin mencari tempat untuk bisa hidup dengan damai tanpa gangguan dari ras lainnya.


Seperti yang diketahui banyak orang, Dwarf dikenal akan kemampuan serta kemahiran mereka dalam membuat senjata. Itulah sebabnya hampir semua ras besar saat ini memiliki beberapa ahli pandai besi Dwarf.


Untuk menghindari perbudakan itu, mereka akhirnya memutuskan untuk kabur ke bawah tanah. Walaupun pada dasarnya para Dwarf bisa dibilang mampu untuk melawan, tapi apa yang mereka bisa lakukan jika diburu oleh semua ras? Itulah alasan kenapa kota ini dibangun.


Setelah beberapa waktu bersembunyi dibalik dinding kota mereka seperti seekor kura-kura tua, keberadaan Dwarf mulai dilupakan. Beberapa tahun kemudian, secara tidak sengaja muncul beberapa orang penyihir di luar dinding kota mereka.


Dikarenakan trauma masa lalu, para Dwarf memiliki kewaspadaan yang sangat tinggi terhadap orang asing. Tapi secara mengejutkan, para penyihir itu datang dengan damai. Mereka meminta belas kasihan dari sang Raja untuk membiarkan mereka menetap di tempat itu.


Dan sebagai imbalannya, para penyihir itu mengajukan sebuah kerja sama. Diskusipun dilakukan oleh kedua belah pemimpin, dari diskusi itu Raja Dwarf akhirnya mengetahui identitas para penyihir yang ternyata adalah orang-orang terbuang. Atau yang lebih dikenal dengan nama Trash.


Trash adalah istilah yang diberikan kepada orang-orang yang dikucilkan atau diasingkan oleh rasnya sendiri, hal ini bisa disebabkan oleh berbagai alasan. Sebuah pelanggaran yang tidak bisa dimaafkan, dosa leluhur mereka, penyakit mematikan yang menular, dan sebagainya.


Trash diperlakukan seperti aib yang harus dibersihkan dari tubuh seseorang, kebanyakan dari mereka tidak akan bisa bertahan lama melalui seleksi alam yang ketat. Sehingga pembuangan orang menjadi seorang Trash dianggap sama saja dengan hukuman mati.


Merasa iba karena memiliki nasip yang hampir serupa, akhirnya Raja Dwarf menyetujui kerja sama dengan para penyihir. Sejak itulah Underground Paradise mengalami pertumbuhan yang sangat pesat, gabungan antara tangan Dwarf yang terambil serta otak dan sihir diluar nalar para penyihir menunjukan hasilnya.


Alat-alat sihir berkualitas tinggi muncul di tempat ini, dan membuat Underground Paradise menjadi tempat yang tidak berlebihan bila disebut sebagai kota dengan pertahanan tak tertembus. Mungkin hanya satu tingkat dibawah Elemental City milik ras Manusia.


Dengan semua kelebihan yang mereka miliki, akhirnya Underground Paradise mulai menerima para Trash dari berbagai ras dengan syarat-syarat tertentu. Dalam sekejap kabar tentang tempat ini meluas dan menggemparkan ras-ras lainnya.


Tapi kebanyakan dari mereka masih meragukan keberadaan kota tersebut, karena sampai sekarang tidak ada yang tau dengan pasti bagaimana cara menemukan pintu masuk ke tempat itu. Seiring berjalannya waktu, Underground Paradise akhirnya dihuni oleh hampir semua ras yang ada di dunia.


Hanya di tempat ini kalian bisa menemukan semua ras bekerja sama tanpa memperdulikan perbedaan, dan itulah mengapa tempat ini dijuluki dengan surga bagi orang-orang terbuang.


-----------------------------<<>>-----------------------------


"Jadi....apa yang bisa Ruck ini bantu untuk kalian?" tanya Goblin itu setelah mengakhiri penjelasannya.


Walaupun tubuh Arya masih ada di ruangan itu, pikiranya sudah melayang kemana-mana. Trash, dia mengingat dengan jelas istilah itu dikepalanya. Karena bahkan Manusia sekalipun membuang Trash dari Elemental City.


Dia ingat beberapa tahun yang lalu pernah membaca kasus tentang Trash, seorang pembunuh berantai yang telah membunuh serta memperkosa lebih dari 30 orang wanita dalam kurun waktu kurang dari satu bulan. Dihakimi dan dijatuhkan hukuman sebagai Trash.


Ekspresi kengerian orang itu saat mendengar hukumannya tidak bisa menghilang dari benak Arya selama beberapa waktu. Lexa memperhatikan Arya yang terdiam, dia akhirnya memutuskan mencubit lengan Arya agar dia tersadar dari lamunannya.


Arya mendesis pelan merasakan nyeri ditangannya, ia menggeleng-gelengkan kepala lalu menghembuskan napas panjang.


"Bagaimana caranya agar kami bisa masuk?" Arya balik bertanya dengan serius.


"Ahh....begitu" seru Goblin bernama Ruck itu antusias sambil mengeluarkan beberapa perkamen.


"Ngomong-ngomong....kalian datang dari mana?"


"Dari atas tentu saja" jawab Lexa polos.


"Bukan itu, maksudku adalah kalian datang dari pintu masuk yang mana?" balas Ruck sambil menunjuk ke atas.


Arya menunjuk ke arah bekas lokasi lubang keluar mereka berada, kalau tidak salah. Karena lubang-lubang di tempat itu akan langsung menutup begitu saja.


"Venom Desert? Kalian masuk melalui jalan yang ada di Venom Desert?" ujar Ruck heran.


Hati Arya mencelos setelah mendengar hal itu, dia tidak menyangka Gurun tempat mereka sebelumnya adalah sarang-sarang makhluk paling berbisa di dunia. Itulah alasan kenapa tempat itu menjadi salah satu lokasi yang tidak diklaim sebagai wilayah ras manapun.


Dalam hati Arya mengumpat dan berjanji tidak akan pernah membiarkan Lexa menjadi pemandu jalan mereka lagi, sementara itu. Perempuan yang menyebabkan segalanya sedang terlihat berpikir keras tentang dimana ia pernah mendengar nama Venom Desert sebelumnya.


"Kalian pasti orang-orang yang tidak biasa, eh? Sampai muncul dari tempat itu" komentar Ruck dengan alis terangkat.


"Ha....,ha...,ha...., begitulah" jawab Arya dengan keringat dingin membasahi tubuhnya.


"Kalau aku boleh tau, apa yang kalian lakukan di tempat itu?"


"K...ka...kami me....kami sedang me....me...." Arya berusaha mencari kata yang tepat.


"Kami sedang mencari makan siang!" sambung Lexa dengan senyum cerah.


JDUKK!


Kepala Arya menghantam meja dengan cukup keras setelah mendengar jawaban Lexa, dia hanya bisa berdoa kalau Ruck akan tetap mengizinkan mereka untuk masuk.


"Untuk apa kau mencari makan siang di tempat seperti itu....!!!" batin Arya.


"Sudahlah lupakan, kalau kalian ingin masuk. Kalian harus membayar 10 koin emas per hari untuk setiap orangnya" Ruck menyodorkan sebuah dokumen.


Arya segera membaca isi dokumen itu dengan cepat, ia terdiam sebentar sambil terus memutar otaknya setelah membaca isi formulir tersebut.


"Aru....aku tidak bisa membaca tulisannya" bisik Lexa kesal.


"Bagaimana....bagaimana....jika kami tidak mempunyai uang untuk membayar?" tanya Arya pelan.

__ADS_1


Ruck langsung menarik kembali perkamen itu sambil menjawab dengan santai.


"Tidak ada uang, tidak boleh masuk. Kuharap kalian akan menikmati perjalanan kalian menggunakan Thrower, Penja—"


"YES!" desis Lexa senang


"Tunggu sebentar!" tahan Arya cepat sambil menjitak kepala Lexa.


"Apa benar-benar tidak ada cara lain untuk masuk?" tanya Lexa sambil mengusap bagian kepalanya yang nyeri akibat jitakan Arya.


"Hmm....cara lain ya...." ulang Ruck pelan.


Dia mulai memperhatikan Lexa dari atas kebawah, ia menjilat bibirnya sendiri sambil memasang senyum licik diwajahnya.


"Tentu saja, tapi dengan syarat—"


JDAKK!


Arya menghantamkan tangan kananya ke meja, ia mendekati Ruck sehingga wajah mereka hanya berjarak satu jengkal.


"Jangan....berani-berani mengutarakan apa yang ada dipikiranmu...." desis Arya dingin.


Suhu udara di ruangan itu segera menurun drastis, Lexa dan Ruck sampai bisa melihat napas mereka sendiri. Mandalika bergetar hebat akibat perubahan sikap Arya yang tiba-tiba. Mungkin orang biasa nyalinya akan langsung ciut jika menghadapi intimidasi yang Arya lakukan.


Tapi hal itu tidak untuk Ruck, senyum liciknya semakin lebar. Dengan santai dia melambaikan tangan.


"Kalau begitu, silahkan keluar"


Arya menarik kembali tangan kanan miliknya, suhu udara kembali normal seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi tatapan Arya masih sedingin sebelumnya.


"Kau bilang tempat ini dibangun oleh Dwarf bukan?" tanya Arya lirih.


"Iya ya ya, kalian sudah mendengarnya. Sekarang pergi" jawab Ruck acuh tak acuh.


Arya merogoh tas pinggang miliknya, ia mengeluarkan sebuah benda berbentuk bulat yang terbuat dari perunggu.


"Kalau begitu, kau tentu tau benda apa ini?"


Ruck menghela napas, ia melirik benda yang ada di tangan Arya dengan malas. Warna diwajah goblin itu segera menghilang, wajahnya langsung pucat pasi dan senyumpun menghilang dari bibirnya yang menjijikkan.


"B...ba...bagaimana mungkin....i...it...itukan....Elders Medal?!"


-----------------------------<<>>-----------------------------


"Tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin....bagaimana cara kau men—ah!"


Arya merebut kembali mendali itu dengan mudah, sekarang kondisi berbalik arah. Sebuah senyum licik menghiasi wajah Arya.


"Sekarang, kau akan mengizinkan kami masuk. Atau tidak"


"I..it..tu...."


Inilah adalah sebuah kondisi yang tidak terduga bagi Ruck, dia tidak pernah menyangka salah satu peninggalan berharga milik keluarga bangsawan Dwarf ada pada bocah yang ada dihapannya.


"Kalau tidak kami akan segera pergi dari sini, tapi kau tentu tau. Konsekuensi seperti apa yang bisa kau dapatkan jika tidak mengizinkan kami masuk bukan?" bisik Arya pelan yang seperti tusukan ribuan jarum di telinga Ruck.


Dengan gigi menggertak akhirnya Ruck menyodorkan kembali perkamen yang dia tarik sebelumnya. Dengan santai Arya mengisi beberapa data yang ada di perkamen tersebut dengan cepat. Untuk melengkapi data itu, Ruck meminta mereka untuk meneteskan darah pada perkamen tersebut.


Setelah darah Arya dan Lexa menyentuh kertas berwarna kekuningan itu, perkamen itu mengeluarkan cahaya dan dengan seketika mengisi beberapa data tertentu yang tertulis disana.


Ruck memeriksa perkamen itu sekilas, sebelah alisnya segera terangkat setelah membaca apa yang ada disana.


"Jadi....kalian adalah Tuan Axel dan Nona Ayra?"


"Benar, aku Axel dan ini Ayra. Dia ini eee...."


"Aku adalah istrinya!" potong Lexa cepat sambil merangkul lengan Arya.


Arya menatapnya dengan tatapan tidak percaya, "Hah?!—"


"Sstt, dia memang sedikit malu untuk mengakui hubungan kami" tambah Lexa sambil menempelkan jarinya ke bibir Arya.


"Ah....jadi kalian adalah pasangan suami istri, bisa aku tambahkan disini tujuan kalian kemari untuk berbulan madu?"


"B....be....begitulah" jawab Arya lemah.


Ruck akhirnya meresmikan formulir tersebut dengan memberikan cap berwarna kemerahan, ia lalu menekan sebuah tombol yang ada dibawah meja. Dan secara mengejutkan dinding yang berada dibelakangnya segera membuka dengan sangat ajaib.


Cahaya gemerlapan dari dalam kota menyinari ruangan tersebut, Lexa dengan wajah sumeringah segera melesat keluar ruangan. Arya berjalan dengan perlahan lalu melirik Ruck sekilas.

__ADS_1


"Kau tau bukan? Kami berdua tidak memiliki uang sepeserpun. Dan aku tidak ingin mengecewakan istriku. Bisakah kau....membantuku?" tanya Arya sambil tersenyum manis.


Wajah Ruck segera mengkerut kesal saat Arya akhirnya melucuti dua kantung kecil penuh koin emas yang sudah dia kumpulkan dengan susah payah hari itu, Arya bersiul santai sambil memeriksa isi kedua kantung tersebut.


"Sepertinya bagus, kau tidak akan mungkin memberi kami uang palsu bukan? Lain kali jika kau ingin memeras seseorang, sebaiknya kau perhatikan siapa yang sedang kau hadapi. Hehehe, oke?" bisik Arya di telinga Ruck sampai membuat tubuh goblin itu bergetar saking kesalnya.


Arya lalu segera pergi meninggalkan ruangan tersebut sambil melambaikan tangan pada Ruck, dia sangat bersyukur masih menyimpam benda pemberian Stämmig itu dengan baik. Saat dinding ruangan itu sudah tertutup lagi dengan kesal Ruck melemparkan barang-barangnya ke segala arah.


Dia tidak menyangka bocah laki-laki itu berani mempermainkannya, dia berjanji akan selalu mengingat wajah dan nama bocah itu selama sisa hidupnya. Ia kemudian mengambil dokumen milik keduanya sekali lagi.


"Tapi....ini menarik, mungkin sudah sekitar satu dekade yang lalu aku terakhir kali mengurus perizinan masuk seseorang dari ras Manusia"


-----------------------------<<>>-----------------------------


Pemandangan yang menyambut Arya dan Lexa sangat tidak biasa, kota itu dipenuhi oleh berbagai macam ras yang saling berinteraksi satu sama lain. Arya terpana dengan semua itu, dan tanpa ia sadari sebuah senyum merekah di wajahnya.


"Ada apa suamiku....? Kenapa kau tersenyum seperti itu?" tanya Lexa manis.


"Tidak ada, aku hanya berpikir. Mungkin suasana seperti inilah yang terjadi di seluruh dunia jika semua ras benar-benar berdamai, dan bisakah kau menjelaskan identitas suami-istri yang kau ciptakan ini?" tanya Arya sambil menghela napas.


"Apa? Kau sendiri tidak menanyakan pendapatku saat membuat nama" sahut Lexa dengan pipi mengembunng.


"Tapi aku kan hanya menukar dan membalik urutan nama kita berdua saja"


"Kalau begitu aku hanya membuat peran yang terlihat meyakinkan saja, kita tidak mungkin mengaku sebagai saudara karena kita tidak terlihat mirip sama sekali. Kita juga tidak bisa mengaku hanya sebagai teman, teman seperti apa yang pergi berduaan ke tempat seperti ini?"


"Ugh...."


Arya sejujurnya ingin membatah pernyataan Lexa, tapi sayangnya pernyataan yang dia katakan itu benar adanya. Akan muncul pertanyaan-pertanyaan lainnya jika waktu itu mereka tidak mengaku sebagai suami-istri.


"Aru....aku tidak bisa membaca apapun di tempat ini" keluh Lexa beberapa saat kemudian.


"Hmm....aku juga tidak menyangka semua yang ada disini menggunakan rune, untung aku pernah mempelajarinya. Kemari!"


Arya menarik Lexa ke salah satu toko terdekat, disana mereka membeli dua buah topeng berbentuk setengah wajah hewan yang terbuat dari giok. Arya memilih yang warna hitam, sedangkan Lexa memilih yang berwarna putih.



Dwarf pemilik toko itu memuji pilihan Arya, sehingga memberikan potongan harga hanya 1 koin emas untuk kedua topeng tersebut. Setelah mengenakan topeng, mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka untuk melihat kemegahan Underground Paradise.


Jalanan sangat dipadati oleh orang-orang yang berlalu-lalang, kota itu penuh dengan alat-alat sihir yang sangat luar biasa. Ada banyak pilihan transportasi di tempat itu, ada sebuah kendaraan yang terlihat seperti mobil namun entah dengan bahan bakar apa.


Ada juga sebuah kereta yang ditarik oleh sesosok makhluk berbentuk kadal kecokelatan yang Arya kenali sebagai seekor Terra-Lizard dan masih banyak lagi, tapi yang paling mencuri perhatian Arya adalah pengiriman barang yang dilakukan di tempat itu.



Mereka mengirim barang melalui sebuah lintasan perosotoan yang membentang ke seluruh wilayah Underground Paradise, orang-orang disana hanya perlu meletakan barang mereka disebuah wadah berbentuk kubus yang nantinya akan mereka luncurkan di lintasan tersebut.


"Tempat ini luar biasa, aku yakin orang yang membangun kota ini adalah orang yang hebat" bisik Arya kagum.


"Benar, memang luar biasa—hei?!" seru Lexa kesal saat seseorang menabraknya.


"Eh?! Maafkan aku kakak-kakak yang ada disana, aku sedang terburu-buru" kata seorang anak laki-laki bertelinga anjing dengan raut wajah bersalah.


"Memangnya sedang ada apa?" tanya Arya memperhatikan orang-orang disekitarnya juga berlarian terburu-buru seperti bocah tersebut.


"Ohh....pasti kalian berdua orang baru disini, sedang ada sebuah Karnaval di jalan utama. Aku mohon pamit ya kak, aku ingin melihat Raja Verwaand" jelas anak itu sambil memberi hormat dan segera menghilang.


Arya dan Lexa saling bertukar pandang sesaat, keduanya lalu segera mengikuti arus orang-orang yang ingin melihat Karnaval. Sejujurnya dia penasaran bagaimana wujud dari Raja Dwarf yang membangun tempat ini.


Mereka tiba di tempat tujuan tidak lama kemudian, saat iring-iringan itu akhirnya terlihat. Gambaran Arya tentang Raja Dwarf yang agung dan bijaksana hancur seketika, ditengah-tengah iringan. Terlihat pria kecil gemuk dengan wajah penuh berewok.



Dia dikelilingi oleh sembilan orang wanita cantik dari berbagai ras, sekilas Arya mendengar informasi bahwa ternyata kesembilan wanita itu adalah istri dari Raja Verwaand. Sambutan yang diberikan orang-orang sangat meriah, pria buncit itu dengan antusias melambai pada rakyatnya.


Arya yang merasa muak karena bisa mengetahui kepribadian seseorang hanya dengan melihatnya sekilas segera membuang muka.


"Lexa ayo kita pergi, aku tarik lagi ucapanku tentang tempat ini dibangun oleh orang yang hebat. Dia hanya seorang pria tua bejat, sebaiknya kita tidak berurusan dengannya—ada apa?"


Lexa menahan Arya dengan memegang pergelangan tanganya, matanya melebar sambil memperhatikan iring-iringan Raja Verwaand tersebut.


"Aru....aku melihatnya, hamster itu"


"Apa?! Dimana?!" sambar Arya cepat.


Lexa menunjuk tepat ke arah Raja Verwaand beserta kesembilan istrinya berada.


"Tepat bertengger di pundak orang itu"

__ADS_1


"Oh...sial, kau pasti bercanda" ujar Arya tidak percaya.


__ADS_2