
“Aku harus pergi dulu....maaf” ujar seorang pria memasang tudung jubahnya tanpa menoleh.
“Huum, tidak apa – apa. Hati – hati ya....”
Wanita berambut pirang tersebut mengantar kepergian sosok barusan hingga luar pagar kediaman mereka sembari menggandeng anak laki – laki berambut putih, ia menatap wajah sendu ibunya beberapa lama sepeninggal orang tadi.
“Mama?”
“Iya?”
“Apa Ayah membenci kita?”
Pertanyaan acak ini mengejutkan sang bunda, kemudian beliau berjongkok sebelum mengusap lembut pipi putranya demi menenangkan. Mata biru milik keduanya bertemu, perempuan berparas cantik itu terdiam cukup lama dan akhirnya berucap.
“Mana mungkin begitu, dia hanya punya banyak tanggung jawab di pundaknya Louis.....”
“Tetapi....ia bahkan tak pernah mau menghabiskan waktu denganku. Apa karena aku gagal memenuhi ekspektasinya sebagai—“
“Ssssttt....kau adalah kau....bagaimanapun keadaanmu.....kami selalu menjadi Ayah dan Ibumu”
Pelukan hangat nan tulus ibunya selalu dirinya ingat sampai sekarang, sebuah kejadian dimana dia merasa benar – benar disayangi juga dibutuhkan sampai air matanya tak mau berhenti menetes. Namun seperti kebanyakan momen membahagiakan yang cuma berlangsung sesaat, hari itu tiba.
“Oek...!? Oek....!?
Suara tangisan bayi terdengar menembus derasnya bunyi hujan pada waktu mendung, lima orang bidan nampak mengizinkan pria berjubah masuk ke dalam ruangan berpenerangan lilin. Istrinya terlihat tersenyum lemah sembari memeluk erat anak kedua mereka.
“Tuan....selamat atas kelahiran putrimu tapi Nyonya sepertinya—“
“Aku tau” potongnya terus berjalan mendekati tempat tidur.
“Maaf....”
“Kenapa kau meminta maaf?”
“Sebab....aku tidak bisa menemanimu membesarkannya....”
TAP! TAP! TAP! BRUAKH!
“MAMA!?”
Anak laki – laki berumur tujuh tahun tiba – tiba datang basah kuyup serta berlumuran lumpur, menandakan betapa keras dia berlari menembus cuaca buruk untuk sampai kesitu. Seragamnya robek dan bernoda darah akibat terjatuh, napasnya memburu seolah sudah menempuh puluhan kilometer.
“Selamat datang, kau pulang cepat hari ini....” sambut ibunya lembut.
“Ugh....akh....aku—“
“Kemarilah, lihat betapa cantiknya adik kecilmu....”
Pandangan sedihnya perlahan berpindah dari perempuan dihadapannya menuju buntalan kecil pada dekapan pria yang sangat tidak dia inginkan berada disana. Bayi perempuan kecil berambuti putih tersebut menggeliat menunjukkan kalau ia memang hidup.
“Bersediakah kau memberitahuku namanya sebelum aku uhuk!? Uhuk!?”
“Mama!?”
“Lyan....”
“Indah sekali....Louis kamu harus menjaganya menggantikanku ya?”
“TIDAAAKKK....!!?”
Bocah itu berteriak kencang setelah ibunya memejamkan mata lalu berhenti bernapas, dia mencoba mengguncangkan tubuh tak bernyawa tersebut demi megharap sebuah keajaiban. Para bidan yang melihat hal ini berusaha menghentikannya namun hampir terkena sebuah pukulan, untung Ayahnya menangkap kepalannya tangannya terus menghempaskan badannya ke ujung ruangan.
__ADS_1
“Keluarlah kalian, biar aku urus sisanya....”
“DASAR SIALAN!? KENAPA KAU TIDAK BERUSAHA MENYELAMATKANNYA JIKA DIRIMU MEMANG ORANG HEBAT!?”
“Dia sudah tidak bisa terselamatkan lagi, ibumu tau akan hal itu....”
“KAU MEMANG MEMBENCI KAMI!!! MAKANYA KAU MEMBERIKAN RUMAH DI TEMPAT TERPENCIL INI!? APA SEBEGITU MALUNYA KAU MEMILIKI KETURUNAN BUKAN ELEMENTALIST SEPERTI AKU!?” geramnya murka.
“Yaa....semua ucapanmu benar....”
“BRENG—AKH!?“
Hantaman keras pada tengkuk membuatnya pengelihatannya buram, ketika akhirnya ia terbangun pemakaman ibunya telah selesai. Dia mendatanginya sembari tersedu – sedu, rasa bencinya kian menumpuk tahun demi tahun seiring dengan pertumbuhan adik perempuannya.
Gadis tersebut memang tak punya salah apapun terhadapnya, namun karena dia menjadi sesuatu yang Ayahnya harapkan membuat Louis menganggapnya sama buruknya. Bahkan ia sangat menjauhi Lyan tanpa pernah menjelaskan alasan tindakannya.
“Kakak!? Selamat datang!? Aku baru selesai memasak kemari—“
“Enyahlah, pembunuh keji.....”
“Eh?” Lyan membeku mendengarnya.
“Jika kau tak pernah ada, ibu akan tetap bersamaku di sini. Jadi berhentilah bersikap kau adalah dia....”
“Tungg—“
“Lyan? Biarkan saja....” saran Ayahnya.
Entah bagaimana dia mampu bertahan hidup dalam kesengsaraan hingga berumur dua puluh lima tahun, sebuah titik balik di mana dirinya menemukan kebebasan. Louis remaja terduduk pada tengah ruangan sidang, hakim perempuan berambut merah bak api menatapnya dalam – dalam.
“Louis Frost....kau dituduh melakukan pembantaian masal terhadap puluhan warga sipil....apa kau punya pembelaan?”
“Tidak Yang Mulia, aku hanya bosan saja....”
“Keberatan!? Kakak hanya berusaha menyelamatkan desa kecil dekat sana, para korban adalah sekelompok perampok yang mengusik kedamaian lingkungan sekitar—“
“Diamlah dasar gadis berisik.....” Louis menoleh dengan tampang muak.
“Kenapa kakak malah rela disalahkan!?”
“Karena buktinya tidak ada dasar bodoh, aku tidak menyisakan apapun dan seingatku aku tak pernah meminta pertolongan darimu. Terlebih lagi....apakah kita saling mengenal?”
“Sena?” panggil salah satu peserta sidang.
“Hmm?”
“Aku mengajukan hukuman pengasingan keluar kota selama – lamanya....”
“AYAH!?”
“HUAHAHAHA....AKHIRNYA KAU MEMPERLIHATKAN WUJUD ASLIMU SETAN TUA!?”
“Kau yakin? Dia masih putramu lho?” sang hakim bertanya sekali lagi.
“Anakku atau bukan, orang bersalah tetap harus menanggung konsekuensinya.....”
Selesai mengucapkan kalimat barusan ia pergi meninggalkan lokasi disusul oleh Lyan yang masih melayangkan protes, hari itu menjadi sebuah sejarah sebab pertama kalinya ada seseorang dibuang keluar kota lalu menjadi asal mula munculnya Trash dari ras Manusia.
------><------
“Oi oi oi....kau bercanda bukan?”
__ADS_1
Louis keluar dari balik bayangan mendatangi sesosok perempuan yang tengah bersandar pada sebuah pohon dengan luka menganga besar menghiasi sisi perutnya, mulutnya dipenuhi oleh darah dan cukup melihatnya saja siapapun tau kalau dia sedang sekarat.
“Kak....Louis?”
“Setelah aku mempunyai kekuatan untuk membunuhnya, pak tua itu telah tiada. Kemudian sekarang ketika aku hendak menghabisimu kaupun hampir tewas? Jangan main – main sialan....”
“Aku senang kakak selamat, Ayah—“
“Cukup!? Aku tidak sudi menjadi pendengar kata – kata terakhirmu....”
CTAK...!?
“Tunggu sebentar kak, aku ingin meminta tolong.....” tahan Lyan.
“Dan mengapa kau berpikir aku berkenan mendengarnya?”
“Aku mempunyai seorang putra, kumohon lindungi dia....”
Mata Louis melebar sesaat mengetahui kabar mengejutkan tersebut, sebuah harapan yang hampir hilang sama sekali dari depan matanya seolah kembali mendekat. Dia memasang seringai sinis sebelum bicara lirih, “Sungguh? Baiklah kalau demikian akan kubunuh dirinya”.
“Hehehe....lakukanlah jika kakak memang mampu....”
“Dasar gadis kepa—“
Kata – kata Louis menghilang digantikan kesunyian lama karena sadar raga dihadapannya sudah tidak bernyawa, akhirnya ia mengubur tubuh perempuan itu sebelum memulai operasi penyelundupan ke tempat yang dulu ia sebut sebagai rumah.
Dia menatap melalui salah satu gedung tinggi lokasi pemakaman Lyan Frost, tiga orang muridnya terisak sembari bertekuk lutut pada sebuah batu nisan tanpa jasad dibawahnya. Louis perlahan mengadah ke langit terus menghela napas panjang.
“Mama maaf....mungkin ini pertama kalinya aku gagal memenuhi permintaanmu, tetapi aku berjanji akan menghapuskan sumber penderitaan kalian berdua. Yaitu sebuah sistem terkutuk bernama....Elementalist.....”
------><------
“Ketua?”
“Hmm? Ada perlu apa Mira?”
“Anda baik – baik saja? Wajahmu sedikit pucat....” jawab gadis tadi hati – hati.
“Ahhh....tenanglah, aku cuma teringat kenangan yang sangat ingin kulupakan....”
“Para pemimpin ras lain memanggil untuk rapat sebab Elemental City telah mendarat sesuai dengan perkiraan titik koordinat sebelumnya....”
“Bagus....” Louis bangkit berdiri sambil mengibarkan jubahnya, ia berjalan keluar tenda diikuti sembilan True Vanguard lain.
Tatapan sosok – sosok di luar menusuk ke arah mereka, nampak jelas raut wajah kebencian dari masing – masing namun tak ada yang cukup bodoh menyerang akibat aura kuat kesepuluhnya. Louis menghampiri sebuah aula khusus di mana Orion, Kris, Garyu, dan Merlin menantinya.
“James? Bagaimana soal peretasannya?”
“Sudah kuselesaikan satu jam lalu boss....” kata James memberi hormat.
“Sambungkan aku kalau begitu....”
“Aye – aye.....”
Louis menerima pecahan alat transmisi kemudian memasangkan dekat telinga juga bibirnya, dia berdeham beberapa kali kemudian mulai mengumumkan. “Aku ingin memberitahukan kepada segenap penduduk Elemental City, jika dalam dua puluh empat jam kalian tidak menyerahkan kesepuluh Elementalist....bersiaplah untuk mati....”.
^^^
__ADS_1
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.