
BRAK! SRRR...! BRUK! SRRR....! BRUAK!
Bunyi demikian terus terdengar memenuhi udara ketika Hebihime menghempaskan Arya ke sana kemari, tubuhnya diarahkan menuju tiap bangunan dekat tempat mereka bertarung sampai hancur berkeping – keping. Meski telah berusaha melepaskan diri Arya masih tak mampu menggerakan sedikitpun selendang milik Hebihime dari lehernya.
Dengan satu tarikan tangkas Hebihime berhasil memposisikan lawannya tepat ke hadapannya sebelum melepaskan pukulan yang menyebabkan Arya terpental kembali, namun saat tangannya sedang mengulur kain istimewa itu tiba – tiba suatu cahaya berkilau menubruknya.
“Dawn Crawler!”
Gangguan Elizabeth memaksa Hebihime melepaskan jeratannya, dia mendarat pada tanah disusul suara keras. Sembari berdecak kesal karena kehilangan Arya, matanya menyorot gadis pirang pembawa Morning Star tersebut. Si Elementalist berjalan mendekat sambil menyeret senjatanya garang.
“Sepertinya sekarang kau sudah bisa berdiri tegak rupanya....” ejek Hebihime memasang kuda – kuda siap tempur.
“Berani sekali kau melukainya....”
“Hah?”
“Akan kupastikan kau menyesal.....!!!” Elizabeth menggertakan gigi lalu memutar – mutar Theia dengan kecepatan tinggi.
Rambutnya perlahan terangkat tinggi akibat tiupan angin, Agnet luar biasa mulai mengelilingi tubuh Elizabeth dan membentuk semacam aura raksasa berwujud makhluk hidup yang kelihatan samar – samar. Hebihime terpana sebentar kemudian tersenyum lebar, tanpa basa – basi ia langsung mengaktifkan Mythical Werebeast Armor miliknya.
“Tingkat Kekuatan Tahap Pertama....Master!”
“Mythical Werebeast Armor; Tsuchinoko!”
------><------
“Kekuatan ini?”
SYUU...!!! CTAK! TAK! BUMM....!!!
Baru saja mengalihkan pandangannya sejenak, Selena harus sigap menepis dua buah bola baseball yang diarahkan kepadanya. Keduanya meledak seketika sehingga menyebabkan kulit punggung Selena merasakan hawa panas menyengat, mau tidak mau dia memfokuskan dirinya sekali lagi terhadap sang lawan.
“Kupikir bukan saatnya kau mengkhawatirkan orang lain....hihihi” celetuk Gehrig menenteng pemukulnya di pundak.
“Ckk....para Mutant memang benar – benar merepotkan....”
Selena menguatkan genggaman pada Leviathan lalu melakukan gerakan menyapu tanah, sekejap saja gelombang tinggi air menerjang salah satu anggota Vanguard tersebut. Sementara itu beberapa meter dari sana tengah terjadi pertarungan sengit lainnya, seekor rusa dan domba berukuran abnormal saling mengadu kepala.
Tiap pergesekan fisik mereka menghasilkan dentuman keras, pemilik masing – masing hewan barusan juga ikut berduel. Permainan tongkat keduanya sangat cepat sampai sulit diikuti mata biasa, ketika ledakan energi mulai terasa barulah dua gadis ini mengambil kesempatan untuk menarik napas sejenak.
“Elizabeth?”
“Apa temanmu baik – baik saja? Sayang sekali kita bermusuhan, mungkin kalau pertemuan kita bukan di medan perang akan beda ceritanya....kau Manusia yang baik....” Sheepya berdiri di samping peliharaannya.
“Hah....hah....hah aku tak punya banyak waktu....”
__ADS_1
“Sama, asal kau tau atasanku galak lho....”
“Wildwood Fury!” bisik Rena serius kemudian memukulkan senjatanya ke tanah.
BANG!!!
Ratusan dahan pohon secara menggila keluar dari sekitar lokasi pertempuran seperti monster, semuanya mengincar tempat Sheepya berdiri namun sang Lamb Shio masih mampu bersikap tenang terus mengaktifkan Mythical Werebeast Armor miliknya. Dengan satu tiupan napas kayu – kayu ciptaan Rena hancur berkeping – keping, perlahan tapi pasti semua kekuatan Pax maupun Fatum berkumpul menuju titik akhir.
------><------
“Ugh....!?”
“Kenapa? Apa kemampuanmu ikut menghilang wahai Elementalist Kegelapan? Yahaha....” Greenhook menyeringai lebar.
Benar saja secara bertahap si raja Goblin berhasil melepaskan dirinya dari kekangan bayangan milik Zayn, meski kekuatan menyeluruh Fatum menurun akibat hancurnya Limbo. Hal senada menimpa Zayn serta Arya, kemampuan mereka tidak semaksimal sebelumnya bahkan para makhluk panggilan mulai mendapat perlawanan sengit.
“Kalian dapat kewalahan juga ternyata....” ujar Hayha memberikan rangkaian tendangan bertubi – tubi ke Zulqar, meski bisa menepisnya tanpa kesulitan situasi ini menyebabkan Mira sukses menyelinap kabur.
Kemudian seiring berjalannya waktu tiap abdi Arya cuma mampu mengurus seorang pihak musuh, Zayn merasakan datangnya bahaya sayangnya terjebak dalam situasi sulit. Mengharapkan bantuan juga sedikit mustahil mengingat semuanya mempunyai musuh di hadapan masing – masing, namun tiba – tiba suara hantaman keras mencuri perhatian.
BUMMM...! SRRR....!!!
Arya entah bagaimana terlempar kembali ke situ akibat bantingan selendang Hebihime, tak butuh waktu lama bagi Mira mengincar lehernya. Pemuda tersebut langsung mencabut pedangnya dan memicu percikan api dampak pertemuan senjata keduanya, mata mereka saling bertemu satu sama lain.
Tepat satu detik sebelum jurus Moona mengenainya Mira menghilang seperti tidak pernah ada di sana, Arya berdecak kesal terus mengangkat Mandalikan tinggi – tinggi kemudian menebas serangan tadi menjadi dua bagian sembari terhuyung mundur. Melihat gelagat janggalnya Friska akhirnya menyadari sesuatu.
“Serang lagi jika kalian ingin menyingkirkan para pengganggu inii! Dia sudah hampir mencapai batas karena bertarung sekaligus menjaga sihir kunonya!”
Seolah menyalakan tombol pemicu, ucapan Friska segera diikuti anggota Fatum lain. Walaupun sedang menghadapi lawan sendiri – sendiri mereka melayangkan serangan mematikan kepada Ketua Elementalist itu, awalnya keadaan tersebut masih terkendali namun ketika giliran Moona hampir mencabik wajahnya kaki Arya tak bisa digerakan.
“Mampus kau!”
“Celaka—!?“
SYUU....!!! CTAK! BUMM....!!!
Sebelum tinju Moona mendarat, cambukkan cepat mengenainya hingga terpental menabrak reruntuhan bangunan. Wrath Sins muncul dengan ekspresi gusar menatap biang kerok kejadian barusan, seorang perempuan berambut kemerahan berdiri memunggungi Arya.
------><------
“REMMM....!!!” Moona meraung penuh emosi.
“Ugh....haruskah kau meneriakan namaku sekeras itu?!”
“Berikan aku penjelasan dan sebaiknya harus memuaskan atau bersiaplah menerima akibatnya!”
__ADS_1
“Lorem....Devilla....” bisik Arya tidak percaya.
Lust Sins balik menatapnya dalam – dalam, Lorem mengalami dilema hebat. Pertemuan ini semakin memperburuk keadaanya, dia bahkan menghempaskan Moona untuk menolong musuh sekaligus target utama mereka. Sungguh konyol namun mengapa rasa penyesalannya kecil sekali?.
“Jangan bergerak....” Lorem berbisik dengan mata mengeluarkan cahaya menghipnotis berwarna merah muda.
“Ekh!?”
“Aku sangat berterima kasih atas pertolonganmu terhadap adikku dulu, tindakkan tadi hanya bentuk balas budi. Sepertinya aku bakal sangat dibenci oleh Liliem karena melakukan ini tetapi....perintah harus dilaksanakan....”
Arya dapat melihat pergerakan anggun Lorem mengangkat cambuknya pelan – pelan, sewaktu tangannya menghentak langsung saja Arya mengerahkan segenap tenaganya untuk menangkis sabetan itu menggunakan pedangnya sampai terhempas jauh.
BAMMM....!!!
“Eh?”
“Lorem....dasar pengkhianat!!!”
“T...tu...tunggu sebentar Moona?! Tadi cuma kesalahpahaman aku—mengapa kemampuan Perfect Seduce tidak berfungsi padanya? Bukankah aku pernah memberikan parfum—“
“Simpan alasanmu bodohmu tuk lain kesempatan!!!” geram Moona menggenggam erat pundak si Succubus.
------><------
Sebelum terlempar terlalu jauh Arya menciptakan dorongan menggunakan energi sihir hitam berbentuk sayapnya sehingga dapat kembali, ia mencoba bangkit berdiri namun langsung kehilangan keseimbangan. Mode Archaic Magic miliknya perlahan luntur, di sanalah pengamatan Mira membuahkan hasil dan akhirnya memperoleh kesimpulan.
‘Dia bukan secara kebetulan selalu terus menerus kemari, melainkan....’
Mira menggunakan kemampuan maksimal indra – indranya untuk menganalisis sekeliling kemudian menemukan jawaban, ada segerombolan tentara hitam yang merupakan makhluk panggilan berbaris rapi tidak jauh dari sana.
‘Melindungi sesuatu....’
SYUU....!!!
Tanpa membuang waktu gadis tersebut bergerak cepat menerkam, saat Arya masih terseok – seok di tanah kemunculan Mira membuatnya terkejut. Dalam sekejap Mira menyambar lehernya terus menyeretnya sampai menembus barisan para Undead, sesampainya ke dalam sana Mira tak melonggarkan sedikitpun cengkaramannya bahkan menodongkan tongkat bercahaya miliknya pada leher Arya.
“Bukankah ini....hanya sebuah....pemakaman?” Mira memiringkan kepala keheranan.
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.
__ADS_1