Elementalist

Elementalist
Chapter 210 - Hanguk


__ADS_3

Perjalanan Arya dan Zayn tidak semulus yang mereka kira, meski Efbi telah berusaha berhati – hati dalam melangkah. Masih saja banyak ranjau aktif ketika kelompok ini lewat, ledakan mengiringi laju sang Elemental Beast.


Untungnya masing – masing tetap selamat, belum lagi serbuan Mutant tiada habisnya. Senjata Zayn terus bergerak mengelilingi tubuh Efbi memotong setiap makhluk hasil eksperimen gagal itu menjadi serpihan kecil, tanpa disadari keduanya tiba ke lokasi reruntuhan kota karena mengikuti jejak kendaraan penculik Reika.


Bentuk bangunan sekitar sana terasa tak asing, namun jelas terlihat sudah ditinggalkan begitu lama dari kondisinya. Banyak tanaman merambat mulai tumbuh pada dinding maupun atap, untuk beberapa saat Arya maupun Zayn terdiam akibat terpana menyaksikan pemandangan aneh tersebut.



“Kapten? Sepertinya....”


“Ya....bekas peradaban Manusia di luar Elemental City....” sahut Arya pelan.


Arya mengetahui kalau sebenarnya banyak sekali tempat demikian contohnya kota ini, namun baru kali pertama melihat menggunakan mata kepalanya sendiri. Ketika tengah melintas, tiba – tiba Zayn menepuk pundak Arya sebelum melompat.


Dia pergi menuju batu berbentuk janggal sembari meminta Arya mendekat, keduanya mengelilingi benda itu penasaran. Akhirnya Zayn mulai membersihkan tanah bagian bawahnya lalu menemukan semacam tulisan, sebab tidak paham artinya ia pun menunjukkan kepada Arya.


“Se...jong?”


“Eh? Kau bisa membacanya? Memangnya bahasa apa?” Zayn terkejut.


“Entahlah, aku pernah melihatnya tetapi lupa dima—tunggu sebentar....”


SRANG!


Arya memberikan sayatan tipis, betapa terkejutnya mereka melihat cahaya menyilaukan memancar melalui celah ciptaanya. Segeralah Arya tersadar jika benda dihadapannya merupakan patung berwarna keemasan. Kepalanya menoleh cepat dan menemukan satu lagi bukit kecil dengan puncak unik.


“Kapten!? Mau kemana?!”


“Kupikir tau sedang berada dimana, kemari....”


Keduanya tiba dihadapan papan nama usang yang hampir tidak dapat lagi dibaca, namun masih cukup jelas bagi Arya. Zayn menunggu ingin tau apa makna tulisan tersebut, Arya menelan ludah sebentar sebelum berbisik.


“Gwanghwamun Square, Seoul....”


BUMM...!!!


Bunyi keras disusul bangunan miring hendak jatuh menimpa keduanya memecahkan lamunan masing – masing, Arya bersama Zayn sigap saling menendang agar terdorong sehingga tak terkena reruntuhan.


SRRTTT....!!!


Suara alas sepatu Arya terseret pada tanah diiringi getaran batu – batu besar menimpa bumi, dalam sepersekian detik Arya mencabut Mandalika kemudian menyiapkannya dekat tengkuk. Benar saja beberapa waktu berselang percikan api nampak.


TRANGG!!!


Ternyata seorang pria berkulit hitam botak dengan tubuh serta pedang besar siap menebasnya, raut wajahnya cukup terkejut karena Arya mampu bereaksi bahkan sebelum dirinya mengayunkan senjata.


Namun belum selesai disana, dari sudut jalan muncul sosok lain. Ukuran badannya lebih bongsor dari pria sebelumnya, dia mengenakan hiasan kepala aneh bersisik hijau ditambah cula menonjol. Ia mengais – ngaiskan kaki lalu menerjang layaknya banteng.


Tidak habis akal Arya memiringkan sedikit Mandalika supaya bilah pedang laki – laki pertama lolos menghantam tanah, si Elementalist Es menjadikan barang barusan sebagai pijakan kemudian melompat menghindari serudukan. Telapak tangan Arya sempat mendorong puncak tengkorak lawan kedua, sambil berputar diudara Arya melepaskan tebasan cepat nan tangkas.

__ADS_1


“Ice Cutter!”


ZINGG!!! JGERR!!!


Debu membumbung tinggi dikarenakan serangan tadi, perlahan dua siluet jumbo kembali terlihat. Arya cukup terkejut keduanya tidak tergores jurusnya padahal hanya seorang Manusia, dia segera mengambil kesimpulan sederhana.


“Kalian....hasil Cloning dan Mutant sempurna....”


“Aihihihi....cuma begini kemampuan Ketua Elementalist? Mengecewakan....”


“Tuk pertama kalinya aku setuju denganmu...” sang pria berkulit gelap membersihkan debu dari pundaknya.


“Katakan padaku siapa pemimpinmu....” desis Arya menodongkan pedang.


“Kami tidak punya kewajiban menjawab pertanyaan—“


SRRTTTT....!!!


“ARGGG...!!!”


Mereka berteriak kesakitan karena kepala masing – masing tertarik ke bawah oleh jeratan benang, keduanya terlambat menyadari sosok Zayn sukses sudah berdiri diantara badan musuh. Matanya mendelik marah.


“Kalian yang memulai menyerang secara sembunyi – sembunyi, biar kuperlihatkan cara melakukannya secara baik dan benar....Darkness Sledge Hammer....”



Aura kehitaman memancar keluar melalui tubuh Zayn membentuk palu besar terus menghempaskan lawan menuju arah berlawanan hingga tidak terlihat, Zayn memberikan pandangan penuh arti kepada Arya.


“Iyaa...tenanglah nanti aku segera menyusul”


“Tapi—“


“Kapten? Adikmu....ingat?”


Meski enggan akhirnya Arya memanggil Efbi berwujud serigala besar keluar lagi dan menaiki punggungnya, bersiap melanjutkan pengejaran. Ia menoleh lalu melihat Zayn memperlihatkan tanda aman memakai tangannya.


“Hati – hati, mereka masih menyembunyikan kemampuan”


“Aku mengerti....cepatlah, aku bakal melindungimu. Jangan melihat kebelakang”


“Pastikan untuk menyusul, aku akan meninggalkan jejak....”


“Oke....”


Begitu Arya menepuk lembut lehernya, Efbi langsung melesat. Belum satu meter mereka melangkah, kedua musuh sebelumnya muncul menyerang penuh rasa haus darah. Namun Arya menuruti perkataan Zayn agar terus tetap melaju.


“KAU PIKIR KAMI BIARKAN DIRIMU LOLOS DENGAN MUDAH HAH!?”


“Bukan kalian. Tapi aku yang berkata demikian....Devil Snare....”

__ADS_1


“Ugh....!?”


BUMM....!!!


Zayn mengarahkan telapak tangannya sigap, tali – tali kehitaman keluar dari dalam tanah menjerat kuat keduanya kemudian menarik mereka menabrak tanah. Arya melenggang pergi tanpa gangguan, cukup beberapa tarikan napas sosoknya sudah tak terlihat


“Baiklah sekarang....biar aku temani kalian bermain....” kata Zayn sembari membunyikan buku – buku jarinya.


------><------


Sewaktu Zayn masih bicara, ternyata musuh yang mengenakan hiasan kepala mampu melepaskan ikatan teknik miiliknya menggunakan satu hentakan kuat. Ia segera bergerak agresif mengarahkan bagian dalam lengan kanannya menuju leher sang Elementalist Kegelapan.


“Horn Lariat!”


BUAKH!!!


Zayn terlambat menyadari serangan kejutan tersebut jadi mau tidak mau harus terkena namun berusaha sekuat tenaga melindungi organ vitalnya supaya efeknya bekurang, Zayn merasa tulang tangannya sedikit bergeser akibat hantaman tadi.


Dia terdorong mundur lima meter jauhnya, baru saja berniat memulihkan diri. Pria berkulit hitam muncul dihadapannya secepat kilat lalu mengayunkan pedang besarnya, Zayn sukses menahan menggunakan Raven tepat waktu sayang tetap terpental menabrak bangunan dekat situ sampai roboh.


“Dasar ceroboh....”


“Berani menganggap remeh kami....eh?”


BRR....!!! WUSH!!!


Sebelum seluruh puing gedung menyentuh tanah, siluet makhluk bersayap melesat ke udara mengejutkan mereka. Zayn berdiri diatas Crowsha sambil menghapus darah sekitar bibirnya, kali ini pandangannya berubah waspada.


KIAAKK!!! SYUU!!!


“Sebelum pertarungan semakin sengit, sebaiknya kalian memberitahuku jati diri masing – masing.....” Zayn bicara pelan ketika gagak besar itu terbang rendah dekat permukaan.


“Heh!? Ada benarnya juga, aku tak ingin kau mati tanpa mengetahui identitas pembunuhmu....”


“False Vanguard Number Nine, Flamma.....” balas laki – laki botak menopangkan pedangnya dipundak.


“False Vanguard Number Ten, Paul....” rekannya menimpali.


“Apa itu False Vanguard?”


Walau terluka Zayn mencoba mengorek informasi sebanyak mungkin, untungnya si bongsor bernama Paul cukup banyak bicara. Eskpresi Zayn menegang ketika ia membahas soal menggantikan posisi Elementalist, tetapi terpaksa berhenti waktu Flamma mencengkram pundaknya.


“Kau membocorkan rencana kita atau apa? Dasar bodoh!”


“Panggil aku sekali lagi menggunakan kata barusan dan aku akan me—“


Zayn memanfaatkan kesempatan debat keduanya dan melemparkan senjata, shuriken miliknya berputar cepat melaui arah kiri juga kanan. Perlahan aura kehitaman melapisinya, dengan bantuan benang Zayn siap mengincar leher lawan – lawannya.


“Grim Reaper Scissor!”

__ADS_1


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2