Elementalist

Elementalist
Chapter 101 - Oldest Demon


__ADS_3

Pertarungan kembali terjadi, tetapi orang – orang sudah tau bagaimana akhir semuanya. Tidak butuh waktu lama, sang Dracula Queen berhasil diringkus. Sekuat apa pun dia, bertarung melawan empat Tujuh Dosa Besar tetap terlalu berlebihan.


“Hei ayolah, lepaskan para anak buahku. Untuk apa kalian menangkap mereka?”


“Jangan bodoh! Kami akan segera melakukan eksekusi masal, begitu mereka puas melihat terpenggalnya kepalamu wanita tua!” bentak Moona tidak bisa menahan amarah mengetahui berapa jumlah anggotanya yang gugur tanpa hasil di pertarungan sia – sia itu.


“Heh....lakukan saja sesukamu” ejek Kruel sebelum meludah.


Kris mengambil peran sebagai algojo, dia mengeluarkan pedang merah miliknya dengan elegan untuk bersiap memenggal.


“Dengan ini tidak ada lagi yang namanya Kruel Tep—“


TRANG!


Ayunan Kris ditahan oleh seseorang yang muncul entah dari mana, pria itu bergerak begitu cepat bagai bayangan. Dia melompati kepala demi kepala pasukan di sekitarnya seolah tubuhnya seringan bulu.


“KAU—!“


“Nenekirimaru” bisik orang tersebut lembut.


Sebuah tebasan besar muncul melingkar mengelilingi dirinya dan juga Kruel, semua orang segera menjauh. Beberapa yang tidak beruntung langsung mati di tempat, mata semua anggota Tujuh Dosa Besar melebar melihat si pendatang misterius. Sementara Kruel menaikan sebelah alisnya dengan heran.


“Apa yang membuat salah satu Kaisar Iblis Timur datang menolongku?”


“Hei ayolah jangan begitu, kita berdua teman bukan? Di mana anak itu?”


“Sudah pergi”


“Ck! Sepertinya aku terlambat, yah....tapi nanti juga pada akhirnya pasti bertemu” orang tersebut menghela napas pelan.


“K...ka...kau....Oldest Demon....Nurahriyon!?” Kris terbata – bata.


“Yo, akhir – akhir ini aku butuh teman untuk minum sake. Jadi bisakah kalian memaafkanya dan pergi saja?” kata Nurahriyon ringan tapi entah kenapa terasa layaknya ancaman.



“Jangan bercanda! Wanita itu harus mati!” Moona menggeram.


“Hah....kalau kau bilang begitu mau bagaiamana lagi, Hyakki-Yakko”


Bertepatan setelah mengucapkan nama tekniknya, aura hitam memancar keluar dari tubuh Nurahriyon. Kemudian perlahan menjelma menjadi sederetan makhluk – makluk berkekuatan tinggi dengan berbagai penampilan.


Mereka mengelilingi Nurahriyon dan Kruel seolah siap bertarung melawan pasukan milik Kris, Moona, Avarum, beserta Greenhook.


“Ukh....Parade Malam Seratus Iblis....?” Avarum mengerutkan kening.


“Hati – hati, mereka semua adalah seratus bawahan terkuat Oldest Demon” gumam Greenhook menambahkan.


“Yukki Onna, Karasu Tengu, Ibaraki Douji, Kappa? Bisakah kalian menangani keempat orang ini?” panggil Nurahriyon sambil menguap.



Empat sosok berjalan menjauhi barisan, hanya melihat wujud mereka saja sudah cukup untuk mengetahui kalau ada kemampuan luar biasa yang dimiliki oleh masing – masing individu.


“Laksanakan, Sōdaishō!”

__ADS_1


Pertempuran baru sepertinya akan segera di mulai. Pasukan Nurahriyon bersiap maju menghabisi lawan mereka. Tidak jauh dari sana, Lorem mengamati semuanya cermat – cermat. Ia mengangguk puas sebelum berbisik.


“Syukurlah semuanya sudah selesai, mereka berhasil kabur dan Nyonya Kruel terselamatkan. Aku tak perlu ikut turun tangan”


------><------


BUG!


Terdengar suara lembut ketika tubuh seorang gadis dibaringkan secara paksa pada permukaan tempat tidur. Sesosok pria berambut putih mengambil posisi diatas sambil menahan kedua tangan perempuan yang terus meronta berusaha melepaskan diri.


“A..A..Arya?! Tunggu sebentar! Apa maksudnya in—kya...!”


Dia gagal menyelesaikan kalimatnya karena si laki – laki mulai menciumi lehernya perlahan sehingga membuat napas gadis itu semakin memburu. Matanya berubah sayu bersamaan dengan wajah yang merah padam.


“Huhuhu Arya? Kenapa? Hiks” isaknya.


“Hehehe....aku tidak akan membiarkan tidur malan ini, Milady” balas pria tersebut lembut tepat di telinga sang gadis. Membuat tubuhnya menjadi semakin panas.


“Arya aku perintahkan kau untuk—tunggu! Akh....! Aku belum siap untuk in—!....”


JDUK


“Aw!”


Callista refleks langsung bangun dari posisi berbaring sambil mengusap belakang kepalanya yang berdenyut menyakitkan. Ia memandangi sekeliling dengan mata berair, umpatan pelan keluar dari mulutnya saat menemukan tempat tidur nyaman tepat disampingnya.


“Callista!”


“Ekh....!!! A..A..Arya!?”


“Oh...akhirnya terima kasih. Kau bangun juga, mau sampai kapan kau terlelap nona!?”


Arya mulai mengomel tentang berapa kali dirinya bolak – balik ke depan kamar Callista untuk membangunkan gadis itu. Namun hanya mendapati suara tertawa geli Callista, Callista yang mendengar hal tersebut dari balik pintu menghantamkan kepalanya ke dinding.


‘Bodoh....! Apa yang aku pikirkan sih!? Dan mimpi aneh apa pula tadi itu!??....’


“Callista? Kau masih disitu kan?”


“I..i..iya! Tentu saja”


“Hah....sudahlah, kita akan pergi sepuluh menit lagi. Jadi cepatlah bersiap”


Begitu suara langkah kaki Arya sudah tak terdengar lagi, Callista melompat kegirangan. Ia mulai berputar layaknya sedang berdansa di tengah – tengah kamar seorang diri, berhenti tepat dihadapan cermin dengan wajah sumeringah.


‘Hari ini....waktunya untuk berkencan!’


------><------


Arya yang telah berpakaian rapi menunggu kedatangan Nonanya sambil melihat jam penuh rasa tidak sabar. Beberapa menit kemudian Callista tiba mengenakan setelan merah disertai tas hitam dipunggungnya.


“Terima kasih atas keterlambatannya” sindir Arya halus.


“Maaf....aku tidak bermaksud begitu”


“Iya – iya, mari berangkat ke permukaan. Kau tidak akan terbakar sinar matahari bukan?”

__ADS_1


Keduanya kemudian menaiki lift untuk meninggalkan Pusat Penelitian, cuaca cerah menyambut mereka tepat setelah keluar dari gedung. Arya membimbing jalan menuju stasiun kereta, Callista terus menerus memperhatikan lingkungan sekitar penuh rasa penasaran.


“Ngomong – ngomong kenapa kau menjaga jarak denganku?” Arya menatap heran gadis dibelakangnya.


Tanpa alasan yang jelas Callista terus menjaga jarak sekitar lima meter antara dirinya dengan Arya ketika berjalan disekitar Distrik Perak.


“A...ak...aku tidak melakukannya!?” seru Callista menggeleng – geleng cepat mencurigakan.


“Hah....aku tidak keberatan sih, asal jangan sampai tersesat. Lagi pula memangnya kau tau kita mau kemana?”


“Ahh...betul juga, kau belum memberitahuku tujuan kita”


“Pertama – tama....”


Arya membawa Callista ke salah satu salon langganan adik angkatnya Reika, dia meminta pekerja di sana membantu memotong dan merapikan ramput Callista, walau tak merasa butuh. Memang benar sampai saat ini Callista tidak pernah memotong rambutnya sejak dikurung di penjara bawah tanah.


Ketika salah satu karyawan bertanya rambutnya ingin dipotong seperti apa, Callista kebingungan karena belum pernah sama sekali melakukan ini sebelumnya. Melihat hal tersebut, wanita paruh baya yang bertindak sebagai penata rambut berusaha membantu.


“Nona? Apa pria tadi pasanganmu?”


“Uhuk....uhuk...! K...k...kenapa tiba – tiba anda bertanya seperti itu?” Callista hampir tersedak ludahnya sendiri.


“Maaf, apa aku salah?”


“Mmm....hubungan kami sedikit rumit”


“Ohoho....begitu ya? Bagaimana kalau begini saja Nona? Kita akan menata rambutmu sesuai selera dia” mata si karyawan berkilat senang.


“Eh? Apa anda bisa melakukannya?”


“Hehehe, serahkan saja padaku”


Sekitar setengah jam kemudian, Callista akhirnya selesai. Arya yang mendengar suara pintu terbuka mengangkat pandangan dari surat kabar di tangannya, Callista berdiri menunggu sambil menatapnya penuh harap.


Dia sudah memotong rambut hitamnya, sekarang panjangnya hanya sebahu. Penataan yang sedemikian rupa juga membuat beberapa laki – laki lain menatapnya terbelalak.


“Kau terlihat cantik, pilihan bagus” puji Arya.


Callista menarik napas panjang sebelum akhirnya berbalik dan mengacungkan jempol ke arah karyawan salon tadi sebagai tanda terima kasih. Wanita tersebut membalas sambil mengedipkan sebelah matanya.


Sosok keduanya ketika keluar dari salon diikuti oleh beberapa sorot mata, jarak para pengintai ini cukup jauh dengan harapan Arya tidak menyadari keberadaan mereka.


“Aku tidak percaya akan berada diposisi ini tidak lama setelah memergoki kalian melakukan hal yang sama” Alalea berdeham pelan.


“Kalau kau tidak suka silahkan kembali” balas Lexa sambil menatap remeh ke arah sang putri Elf.


“Tuan Putri tolong jangan memulai perkelahian di tempat ini” Eridan cepat – cepat melerai.


“Kalian ini berisik sekali! Kita bisa kehilangan jejak mereka, ayo!” kata Elizabeth mendengus kesal.


Author Note :


Untuk yg gk tau Nurahriyon, bisa ditonton anime Nurahriyon no Mago. Salah satu anime (lumayan lawas) bertema Onmyouji favorit gw, kata teman - teman dulu pernah tayang di tv indo tapi gk pernah lihat. Sayang aja season 3 blm jelas, kalau suka cerita anime kekinian kayak Kimetsu no Yaiba dijamin pasti suka. Sekian. Ciao!


__ADS_1


__ADS_2