Elementalist

Elementalist
Chapter 123 - Red Smoke


__ADS_3

Napas Kizuna memburu, dia sendiri terkejut dengan perubahan tubuhnya. Masih dalam posisi siaga Kizuna sesekali memperhatikan armor indah tersebut. Garyu sekali lagi berusaha melayangkan pukulan, namun pelindung keemasan Kizuna membuatnya terpental seketika.


“Tch!? Ingat kaulah yang memaksaku Kizuna”


“Cukup! Tak bisakah kita selesaikan semua ini secara baik – baik?”


“Setelah semua perbuatan bocah itu? Jangan mimpi!”


TRANG!


Arya maju menghadang Garyu, adu kekuatan itu membuat keduanya terpukul mundur. Kizuna segera buru – buru membantu Arya yang sudah kelelahan. Sementara Nezumi masih diam tak mengatakan apa – apa.


“Jika dirimu memang seorang Werebeast, bunuhlah Elementalist Es dihadapanmu!” bentak Garyu gusar.


“Aku menolak!”


“Kizuna...kau benar – benar ingin mengkhianati kami karenanya?! Keluargamu sendiri”


“Keluargaku tidak akan membunuh sembarang orang! Aku benci cara kerja kalian!”


Ketika mendengar kejadian desa tersembunyi dari cekcok Kizuna dan Garyu, raut wajah Arya berubah. Matanya melotot penuh kebencian ke arah sang Shio Naga. Tanpa mengatakan sepatah katapun ia merubah kuda – kudanya.


“Semua penduduk baik Kakkureta Mura.....beraninya kau.....!!!” aura merembes deras keluar tubuh Arya.


“Kau?! Masih memiliki tenaga sebesar ini?”


“Garyu jangan gegabah” peringat Nezumi waspada.


Tapi pemuda tersebut malah tertawa kecil sembari mempersiapkan jurus baru “Tenanglah Tetua, aku pasti bisa menembus Beast Armor muda milik Kizuna dan membunuh pengacau itu”


“Arya....”


Mendengar suara lemah Arya, Kizuna tanpa disuruh menyatukan kedua tangan. Aliran Agnet miliknya langsung terarah ke tubuh Arya, warna emas terang menyelimuti mereka. Udara mulai ikut bergetar dibuatnya.


“Heh....mau beradu denganku?”


“Akan kubuat kau membayar semua perbuatanmu kepada penduduk desa!”


“Twin Head Temple Special Techniques; Hinomaru!”


“Kin Kamaitachi!”


JDUAR!


Tabrakan dua serangan dasyat tersebut membuat hampir seluruh bangunan dalam radius sepuluh kilometer rubuh. Termasuk lokasi Kizuna dikurung, asap tebal menutupi wilayah itu. Tak ada yang berani mendekat.


“Uhuk uhuk!”


“Kau tidak apa – apa?”


Kizuna memegangi Arya, takut dia bisa tumbang kapan saja. Entah bagaimana mereka mampu bertahan dari dampak bentrokan kekuatan melawan Garyu, Arya menenangkan Kizuna sebelum mengatakan kalau dirinya tidak punya banyak waktu lagi.


“Aku harus segera kembali, teman – temanku membutuhkan bantuan”


“Baiklah kalau begitu ay—“


“Tunggu sebentar, apa kau sudah benar – benar memantapkan pilihanmu?”

__ADS_1


“Soal itu....”


Arya tertawa kecil melihat tampang ragu Kizuna “Hehehe wajahmu tidak bisa berbohong ya? Akan kuberi waktu, jika kau sudah yakin. Temui aku di gerbang keluar dalam lima menit” ujar Arya sambil mengelus lembut kepala gadis tersebut dan kemudian menghilang.


Kizuna terdiam, dia mengadah ke arah langit kebiruan di atas. Berusaha sekuat tenaga berpikir serta memutuskan apa yang harus dilakukan juga kemana dirinya lebih baik memihak. Perlahan sembilan ekornya kembali seperti semula.


“Ibu....kau benar, laki – laki manusia itu....memang menyebalkan”


------><------


Arya sudah hampir berbalik untuk pergi, ketika Kizuna berlari memanggil namanya dari kejauhan. Ia telah mengenakan pakaian yang sama seperti waktu pertama kali mereka bertemu, tak lupa bersama busur peninggalan orang tuanya.


“Kupikir taruhanku gagal kali ini....hehehe” Arya tersenyum senang.


“Sudah kuputuskan, aku akan ikut denganmu” kata Kizuna terengah – engah.


“Bagus sekali, kalau begitu ayo”


“Eh tapi....ngomong – ngomong memangnya kita mau ke mana?”


“Kemana lagi? Tentu saja kembali ke Elemental City”


“Elemental City?!”


Kizuna membiarkan Arya berjalan lebih dahulu, gadis tersebut menoleh melihat rumah dan tempat dirinya tumbuh hingga saat ini untuk yang terakhir kali. Seorang pria sepuh balik menatapnya dari atas gerbang masuk Kuil.


Memberikan sebuah anggukan kecil, membuat air mata Kizuna tidak dapat terbendung lagi. Dia memberi hormat sedalam mungkin pada Nezumi. Berterima kasih sekaligus minta maaf atas semua perbuatannya selama ini.


“Kizuna? Kau ikut?” panggil Arya yang sudah semakin jauh.


Kizuna mengusap air mata dan hidungnya sebelum berbalik sambil tersenyum bahagia “Humm, tentu”


“Cepat! Aku masih bisa merasakan kehadiran mereka!”


“Kupikir sebaiknya kau istiharat dahulu demi memulihkan luka – lukamu” saran Nezumi mendarat lembut di tanah.


“Tenang saja Tetua, ini hanya luka ringan. Sekarang yang lebih penting adalah menyusul—“


SRAK!


Tanpa aba – aba, Nezumi mencabut pedangnya. Tebasan memanjang terukir di tanah mengitari seluruh kuil. Aura putih pekat nan mengintimidasi memancar dari tubuh sang Shio Tikus.


“Seorang pun tak boleh meninggalkan lokasi ini sampai aku mengizinkannya”


Ekspresi murka segera nampak pada wajah Garyu “Setelah putri angkatmu....kau juga berkhianat?! Rodentia benar – benar mau dihapuskan dari Zoonatia?!”


“Bukan begitu, hanya saja aku tidak ingin senyum bahagia itu menghilang dari wajahnya. Karena dia begitu mirip dengan Mae. Kau tidak akan pernah tau betapa sakitnya melihat orang yang kau cintai selalu memasang wajah murung”


------><------


“Berkumpul! Rapatkan barisan!”


Asuna memberi komando, bersama sisa garis depan anggota Pax. Para Elementalist sekuat tenaga bertahan melindungi pintu masuk labirin, untunglah semua pengungsi sudah berhasil melewati portal.


“Dari kanan!” Midori berteriak.


Musuh yang berusaha melakukan serangan kejutan langsung menerima tendangan telak Lexa sehingga kehilangan nyawa. Sekitar lima ratus Werebeast mengepung Sentoki no Meikyuu, mengitari lawan berjumlah sekitar empat puluh orang saja.

__ADS_1


Salah seorang tiba – tiba terpental kemudian berguling – guling di tanah “Cuih!? Jauhi singa itu! Tingkatannya berbeda” perintah Zayn setelah meludahkan darah dari mulutnya.


“Kalian benar – benar tidak beruntung harus berhadapan denganku Manusia, walau aku cukup terkesan beberapa mampu membunuh Arkouda dan Kokkili”


Werebeast berwujud singa berambut hitam kelam berbicara parau, ia mengangkat sebuah kapak gagah besar di tangan. Memainkannya santai seolah benda tersebut seringan bulu.



“Tomb Lion, Jenderal Petarung Shizi!” Macow menggertakan gigi karena mengenali sosok tersebut.


“Habisi gadis kucing pengganggu itu lebih dulu” Shizi beribisik kepada pasukan pemanah.


Dalam beberapa detik, ada dua ratus lima puluh anak panah dilepaskan ke arah mereka. Serempak Timothy, Ali, dan Lexa membuat dinding menggunakan kekuatan elemen masing – masing. Tidak menyia-nyiakan kesempatan emas, Shizi menerjang ke arah pasukan Pax. Shirone bergerak cepat mendorong Midori.


“Akh!? Celaka!”


“Kakak!”


TRANG!


“Hachiru! Kyuran!”


Dua Nyanko bungsu bersaudara menghalau serangan Shizi namun langsung terpental, saat semua orang tak punya harapan menyelamatkan mereka. Arya muncul menahan kapak si singa hitam bersama seorang gadis tidak dikenal.


“Kap—“


“The Nine – Tailed Fox Goddess Kizuna?!”


Teriakan para Elementalist ditutupi suara keheranan anggota Werebeast lain, mata mereka melebar seolah sedang meyakinkan diri kalau ini bukanlah mimpi.


“H..ha..halo?” sapa Kizuna malu.


“Aku tidak percaya Tuan Arya benar – benar berhasil membuat dia berpihak pada kita” Mephi menganga lebar.


“KENAPA JUMLAHNYA TERUS BERTAMBAH SIH!!?” jerit Elizabeth gregetan yang disetujui oleh gadis – gadis lainnya.


“Sekarang bukan waktunya ngobrol! Cepat bentuk formasi mundur!” Arya maju ke lautan musuh.


Satu per satu mereka berhasil sampai depan portal, dua orang terakhir di medan pertempuran adalah Arya dan Asuna. Kombinasi keduanya benar – benar menyulitkan musuh, berkat itu kawan – kawan mereka sukses mundur.


“Kenapa lama sekali?” tanya Asuna.


“Hehehe ada banyak hal terjadi, cepatlah mundur. Pasukan musuh akan kutahan, tolong sampaikan permintaan maaf atas keinginan egoisku kepada semuanya”


“Katakan sendiri, dasar bodoh”


Asuna berbalik pergi, tepat sebelum terlalu jauh. Ia mendengar samar – samar bisikan Arya “Sisanya....kuserahkan padamu....”


Dalam beberapa menit, dia berkumpul kembali bersama yang lain. Semuanya sudah siap menyebrangi portal.


“Hmm? Mana Kapten?” Kevin mengangkat sebelah alis.


“Dia sedang menahan musuh sebelum segera menyusul kema—“


DUAR!


Kata – kata Asuna terhenti, ia menoleh pelan – pelan. Wajah semua Elementalist seketika berubah bak tersambar petir. Walau berada di dalam gua, terdapat celah yang dapat membuat mereka bisa melihat ke langit. Di sana terdapat bekas ledakan sesuatu, sebuah sinyal asap berwarna merah.

__ADS_1



__ADS_2