Elementalist

Elementalist
Chapter 153 - Rahasia Gigi


__ADS_3

Perseteruan Arya dan Merlin menjadi topik pembicaraan hangat semua orang Divina Academy atau mungkin bahkan Magihavoc sekalipun. Akhir – akhir ini cuma hal itu yang mengisi keseharian ke mana saja kau pergi.


Awalnya tak banyak Witch percaya mengenai isu tersebut karena mengingat ceritanya seolah dilebih – lebihkan. Murid baru bintang satu menantang penyihir tingkat tinggi terkenal, merupakan pemilik gelar Arcenciel Witch. Marylin Merlin sang Orange Witch.


Tetapi kebenaran terbukti ketika ada beberapa rekaman sihir pertarungan Arya melawan Hanna Vonsekal tersebar, kejadian sesungguhnya dapat dilihat menggunakan mata kepala sendiri di sana. Dan tentu mengakibatkan masalah ini meledak.


Banyak individu – indivu mulai meragukan kemampuan Merlin, tetapi para kenalannya tentu tau kalau gadis jingga itu benar – benar sangat hebat. Keluarga Vonsekal pun mendapat beberapa pukulan telak, perbuatan putri semata wayangnya mencoreng nama baik keluarga mereka.


Timbul berbagai macam gerakan boikot Vonsekal di segala penjuru Magihavoc, membuat kondisi bangsawan tingkat tinggi ini semakin terperosok. Tanpa menunggu lebih lama, Earl Vonsekal. Alias ayah dari Hanna dan kepala keluarga mengharuskan pengiriman permintaan maaf beserta konpensasi untuk Arya secara langsung secepat mungkin.


Sementara bocah ajaib tersebut mendapat berbagai pujian akibat keputusannya, bukan hanya menolong gadis yang hendak menyerangnya ketika berbalik badan. Ia memaksa seorang Marylin Merlin harus membatalkan niat tuk mengeluarkan putri keluarga Vonsekal dari Divina Academy.


Beberapa orang yakin dalam waktu dekat. Arya White akan melewati jajaran penyihir hebat Magihavoc, bahkan menjelma sebagai Ilzaxar Iruphior selanjutnya. Ini bukan cuma omong kosong belaka, melihat kemampuan dirinya ketika masih berada pada tingkat Witch bintang satu sebaik sekarang, sulit membayangkan kalau dia sudah naik peringkat bakal seperti apa nantinya.


Dan benar saja, White dikenal sebagai pemegang rekor perkembangan tercepat dalam sejarah akademi sihir. Kurang dari enam bulan, ia berhasil menembus bintang delapan. Lalu ketika Heavenly Stars Tournament dilaksanakan, keahlianya dipercaya telah menyentuh Witch bintang sepuluh.


------><------


“Aaa....tetete.....badanku kaku semua....” erang Arya lemas di atas tempat tidur.


“Kau menuai apa yang kau tanam....” Ryan berkomentar sebelum meletakan nampan makanan dekat lokasi sahabatnya itu terbaring.


Setelah mendapat perawatan serta pengobatan dari Divina Academy, Ryan, Turin, dan Qibo membawa Arya kembali ke rumah. Walau luka – lukanya sudah tak terlihat lagi, tetap bagian dalam tubuhnya masih membutuhkan adaptasi.


Dia disuruh oleh Ryan untuk beristirahat selama tiga hari, berhubung izin akademi juga sudah didapat. Tidak ada gunanya memaksakan diri masuk, lebih baik mengutamakan pemulihan kondisi seperti semula dahulu.


Tanpa belas kasihan, si Wibu sialan menceramahinya. Heran kenapa Arya harus menantang maut demi gadis brengsek yang hendak menyerangnya dari belakang, jika ia berada pada posisi itu. Mungkin Ryan malah akan mendukung keputusan Merlin.


“Seperti katamu tadi, ketika berbuat baik. Suatu hari pasti mendapat balasannya” sanggah Arya cuek.


“Kau tau satu hal sobat? Inilah mengapa perempuan – perempuan selalu menempel padamu”


“Hmm? Apa hubungannya?”

__ADS_1


“Lihat saja nanti, kalau sampai terbentuk harem baru di tempat ini. Aku tidak ikut – ikutan ya” Ryan berdiri kemudian meninggalkan Arya sendirian menghabiskan makanannya.


“Harem baru? Memangnya aku pernah punya?”


Arya menuruti instruksi Ryan, sehingga pada malam ketiga atau terakhir. Tubuhnya telah mampu bergerak luwes lagi, dia mengambil posisi duduk bersila sembari menarik napas secara teratur nan perlahan.


Ketiga atributnya bereaksi, sebenarnya Arya tetap membawa Mandalika, Efbi, juga Safira ke Magihavoc. Namun karena harus melakukan aktivitas secara intens dalam pengawasan ketat, ia meminta mereka menekan hawa keberadaan sampai titik terendah.


Takut kalau – kalau ada alat pendeteksi yang berbunyi tanpa sengaja ketika dirinya berjalan melewatinya. Agar lebih aman, Arya menyarankan ketiganya berhibernasi saja seperti waktu dia selesai memasuki tahap Master saat misi Zoonatia beberapa bulan lalu.


“Hekh....tenggorokanku kering sekali....”


Selesai keluar sebentar untuk minum, langkahnya terhenti ketika sadar kemunculan cahaya keunguan dari arah kamarnya. Hati – hati dia berusaha mengintip, ternyata sumber kejadian aneh tersebut adalah tas miliknya.


Menggaruk kepala bingung, Arya mengeluarkan semua isi benda itu. Ketika barang – barang telah dibongkar, ia mengangkat sesuatu menggunakan telapak tangan. Ingatan kembali memenuhi kepalanya. Kalau tidak salah ini merupakan gigi hitam aneh Dozmary Crocho yang menyerang mereka ketika menunggu jemputan Turin dan Qibo.



SYUU!!!


Matanya melebar, terkesiap sebab keluar penampakan seperti hologram memenuhi kamar itu. Berisi tulisan kecil – kecil serta membingungkan. Arya berkeliling berusaha membaca kata – kata di sana, namun sayang tak membuahkan hasil.



“Sebenarnya....apa ini....???”


Keesokan harinya, ketika jam makan siang. Arya datang ke ruangan Arietta Brevil, ingin melaporkan kalau kondisinya sudah membaik. Sang Profesor menyambutnya dengan hangat, nampaknya dia juga mendapatkan banyak hal positif akibat pertarungan Arya melawan Merlin.


Di tengah pembelajaran privat, Arya bertanya mengenai apakah ada saat seorang Witch tidak mampu membaca sesuatu isi benda magis. Wanita itu mengiyakan, bisa saja karena beragam alasan. Tetapi paling umum biasanya disebabkan ketidakmampuan seseorang untuk menggali informasinya.


Dengan kata lain, keahlian miliknya belum memenuhi kriteria atau syarat mempelajari barang – barang tersebut.


“Contohnya?” tanya Arya mengangkat sebelah alis.

__ADS_1


“Mmm...apa ya? Artefak Sihir kuno?”


KRAK!


Pinggir meja yang Arya pegang remuk mendengar kata – kata Brevil, kenapa pikiranya tidak sampai ke sana. Jangan – jangan gigi buaya itu benar – benar berharga.


“Profesor? Bagaimana caranya aku bisa pergi ke ruang Kepala Sekolah?”


“Eh? Eee....tdak bisa sembarangan, hanya orang – orang yang diundang saja dapat pergi kesitu. Kenapa?” balas Arietta penasaran.


“Aku harus bertemu dengannya, permisi sebentar Profesor!”


Arya berlari keluar ruangan begitu selesai berpamitan, meninggalkan Arietta Brevil seorang diiri masih bertanya – tanya apa gerangan isi pikiran muridnya itu. Ketika berbelok, Arya hampir menabrak.


Buru – buru minta maaf, dia langsung melesat kembali. Sang gadis korban berusaha memanggilnya namun sosok Arya sudah tidak terlihat.


“Hei tu—uhh....beraninya bocah putih ini mengabaikanku, kalau bukan karena disuruh ayah. Aku juga tidak mau bicara denganmu tau! Huh!”


Arya tiba di pintu masuk Divina Academy, ia mengadahkan kepala memperhatikan baik – baik bentuk bangunan sekolah tersebut. Menerka – nerka di mana ruangan milik Ilzaxar Iruphior, saat sedang asyik berpikir. Keluar sebuah robekan kertas kecil dari kobaran api obor dekat tempat Arya berdiri.


‘Gunakan semaumu, kau tak perlu izinku untuk memanfaatkannya. Karena benda itu sudah jadi milikmu, lagi pula aku menghapal semua isinya. Tertanda II’


“Terima kasih Profesor!!!” Arya berteriak tulus kemudian langsung kembali ke rumah.


Dia mengeluarkan Essence of Memory dan meremukan benda itu dengan genggaman tangan, cahaya putih melayang sebentar disekelilingnya sebelum masuk ke kepala. Seluruh pengetahuan sang Quiet Genius seakan didesak untuk terserap oleh otaknya.


Arya membutuhkan waktu sekitar dua jam menyesuaikan diri, selanjutnya ia cepat – cepat mengambil gigi hitam Dozmary Chroco lalu mengaktifkan benda tersebut. Sebuah senyuman menghiasi wajah Arya sebab kali ini semua tulisan dapat dirinya baca sangat jelas.


“Sihir Kuno....ya.....hehehe.....”


Author Note :


Agak bingung gw, pas gk update rangking sempat bisa mepet 20 besar. Sedangkan ketika gw berusaha update tiap hari, boro - boro 20. Masuk nomer 30 aja udh syukur. Heran gw, apa balik aja kayak dlu ya updatenya sekali seminggu. Yang nagih sama sok - sok nyuruh up cepetan berenti baca cerita ini deh, gk butuh gw reader kyk lu. Author punya kehidupan, nulis novel tu gk kyk boker guys (langsung keluar gtu aja). Ngasi makan gw aja kagak enak aja nuntut - nuntut. Pret!

__ADS_1


__ADS_2