Elementalist

Elementalist
Chapter 162 - The Figment Squadron


__ADS_3

Keempat pria tersebut duduk bersebrangan dengan para gadis pendatang, mereka melirik pemimpinn grub yang juga terlihat berusaha memahami situasi ini. Arya menatap satu per satu wajah perempuan – perempuan muda itu.


“Eee....bisa kusimpulkan alasan kalian kemari tuk bergabung?”


Kelimanya mengangguk, walau masing – masing menunjukan besar niat berbeda. Bella dan Hanna bersikap agak acuh namun masih bertahan pada posisinya, setelah menghela napas. Arya bertanya sekali lagi demi memastikan keputusan sudah bulat atau belum.


“A..ak..aku berencana membalas kebaikanmu waktu itu, meski tak tau apa nanti dapat berguna” kata Fibetha tersipu malu.


“Terima kasih Fi” Arya tersenyum tulus.


“Dalam turnamen sebesar ini, kau tentu memerlukan seorang Shaman lagi bukan? Aku tidak mau si kecil Ikey kerepotan hihihi....”


“Senior....” gumam Ikey mengangkat bahu lelah.


“Dan juga....Arya pasti bertambah semangat jika aku selalu disampingnya....iyakan? Darling?” Laura menatap genit ke arah si pemuda berambut putih.



PFFT!? UGH!


“DARLING!?”


Gadis - gadis lain tersentak kemudian melempar pandangan bolak balik antara keduanya, Arya tersedak ludahnya sendiri karena panggilan tidak terduga Laura. Dia bisa merasakan tatapan mata Ryan yang seakan berkata ‘apa kubilang, kau memang parah sih’.


“Kami hanya pergi minum teh” ia berusaha membela diri.


“Kalian apa?!”


“Sudahlah lupakan, bagaimana denganmu Sierra? Tidakkah Edruvior melarangmu kemari?”


“Memangnya dia siapa? Aku yang memilih jalanku sendiri” balas Sierra membuang muka.


“Secara harfiah orang itu adalah kakakmu, kau yakin?”


“Aku telah berbicara kepada ayah dan ibuku, lagi pula mereka tak pernah memaksaku harus membela siapa. Kau tidak suka aku di sini?”


“B...b..bukan begitu, aku cuma tidak mau kalian mendapat masalah begitu bergabung ke dalam kelompokku” Arya cepat – cepat meluruskan.


“Huum, tenang saja. Aku juga selalu ingin berterimakasih atas bantuanmu beberapa waktu lalu, mari kita kalahkan para bocah sombong tersebut bersama – sama”


Arya memberi anggukan mengiyakan, kemudian mengalihkan perhatian kepada sisa dua gadis lain yang tidak berani menatap matanya. Bella Creighton dan Hanna Vonsekal masing – masing mengalihkan pandangan ke arah berbeda.


Ia berdeham pelan sehingga mengakibat keduanya tersentak, keringat dingin terlihat mengguyur wajah mereka. Suara ketukan jari Arya seperti hitungan mundur hukuman bagi Bella serta Hanna.


“Sejujurnya aku tak begitu terkejut ketika melihat Fi, Laura, maupun Sierra. Namun kalian berdua....”


“Tuan White....tidak, maksudku Arya....”


“Ohh...” Arya mengangkat sebelah alis.


“Mungkin kita memang tidak akur, tapi percayalah. Aku merupakan orang yang paling mengerti dirimu di tempat ini” ujar Bella tenang.


“Eh? Kenapa?”

__ADS_1


“K..ka...kau lupa? Jahat sekali, tidakkah kau merasa bersalah begitu mengetahui three size seorang gad—“


“KYAA!!!”


Arya menjerit histeris lalu buru – buru menutup mulut Bella, berusaha menyelamatkan nama baiknya. Sadar tatapan merendahkan mulai terkunci, dia mulai menjelaskan sambil sesekali meminta bantuan pada anak perempuan sialan disebelahnya yang tengah bertindak seolah korban.


“Sabar!? Jangan mengambil kesimpulan seenaknya! Beraninya kau membuat kejadian itu terdengar ambigu! Memangnya siapa wanita aneh tak berotak bisa berpikir menggunakan daftar ukuran tubuhnya sebagai penanda buku selain dirimu?!” seru Arya meggertakan gigi kesal.


“Hiks....aku sudah ternoda....”


“WAA....TIDAK...!!!”


Anehnya keributan itu malah mencairkan suasana, mereka mulai tertawa menyaksikan tingkah duo kutu buku kocak tersebut. Capai meladeni Bella, Arya memutuskan bicara dengan Hanna Vonsekal. Namun malah harus menerima kenyataan terkena amukan putri bangsawan itu.


“Apa!? Tidak boleh!? Tak perlu berbangga diri begitu! Aku kemari bukan karena suka rela ingin menolongmu! Cuma menuruti perintah keluagaku saja”


“Tapi....kau adalah orang pertama yang sampai bukan?” celetuk Laura.


EKH!?


“Enak saj—“


“Aku melihatmu berjalan mondar – mondir di atas tadi hampir setengah jam”


Mencapai jalan buntu berdasar kesaksian dan pernyataan si gadis Shaman, Hanna diam. Menggesek – gesekan sepatu di bawah meja tak mampu mengangkat pandangan ke arah Arya.


“Terima kasih....atas bantuanmu sehingga aku tidak jadi dikeluarkan....” bisiknya.


“Huum, sama – sama. Senang kau di sini, begitulah. Bagaimana teman – teman?”


“Setuju!” seru Ikey dan Shaqihr bersamaan.


Mata Hanna melebar, jauh dalam lubuk hatinya ia sangat bersyukur Arya bersedia menerimannya masuk ke dalam tim. Tetapi semua rasa puas itu sirna ketika dirinya merasakan tepukan lembut pada puncak kepalanya.


“Yosh yosh, Hanna sudah berjuang”


“Ugh....!!! Bella....!? Lepaskan!” bentaknya menepik tangan teman sekelasnya tersebut.


Berikutnya setelah semua resmi bergabung, Arya mulai menjelaskan banyak hal. Termasuk mengenai apa saja kemungkinan – kemungkinan seleksi Divina Academy untuk memilih empat wakilnya.


Serta kekuatan para calon pesaing mereka dan berapa persen kira – kira tingkat keberhasilan grub ini secara kasat mata. Informasi – informasi yang dituturkan Arya membuat semua kagum bukan main, sebab begitu mendetail juga mudah dimengerti.


Layaknya si bocah laki – laki adalah mesin riset berjalan, hanya Ryan yang bersikap biasa menanggapi hal itu karena memang tau tabiat kawannya memang begini sejak lama.


“Ngomong – ngomong ketua? Kita masih kekurangan satu orang bukan?” Ikey mengangkat tangan.


“Hmm? Ahh iya.....seharusnya dia datang seka—“


“Ooohhh....kau ternyata masih mengingat teman sekamarmu ini?”


Kata – kata dingin tadi mengakibatkan mereka kaget seketika, waktu pintu terbuka seorang perempuan masuk. Kyra berjalan anggun sembari memasang raut wajah tidak senang, mulut para anggota kelompok membuka lebar kecuali Ryan dan Sierra.


“S..Si..Silver Magician!?”

__ADS_1


------><------


“Halo semuanya, namaku Kyraztacia Silvester. Senang bertemu kalian”


“Kyra? Kenapa—aw!?”


Sang gadis perak duduk disebelahnya kemudian mencubit keras samping tubuh Arya, menyebabkan dia mendesis kesakitan sambil bertanya – tanya untuk apa gerangan serangan tiba – tiba barusan. Sementara para anggota lain masih terpana melihat Kyra.


“Kau tidak pernah cerita memiliki hubungan dengan banyak perempuan, jumlah kita bahkan enam banding empat”



“Hah? Lalu masalahnya? Kok marah begitu sih?”


“Huh!” Kyra membuang muka.


“Baiklah, ayo kita lan—“


“Kalian teman sekamar?”


Arya gagal menyelesaikan kalimatnya selesai merasakan tatapan kurang bersahabat wanita – wanita dalam kelompoknya, Ryan yang menyaksikan hal tersebut hanya menggeleng – gelengkan kepala. Bicara dalam hati mengapa nasip temannya itu sungguh sial.


Walau sebenarnya dulu dia sempat merasa iri atas kemampuan spesial Arya menarik perhatian lawan jenis, namun setelah dipikir – pikir lagi ternyata memang mengerikan. Acara berlanjut pada pendataan keahlian.


Arya sengaja mengajukan kegitan ini supaya bisa memberi masukan serta tau bagaimana kemampuan individu – individu dalam tim tersebut. Setelah merekap semuanya, hasil menunjukan Kyra berada di posisi teratas mencakup berbagai aspek.


Saat akhirnya selesai, Arya memberitahu kapan saja hari mereka berkumpul tuk berlatih juga meminta masing – masing memberitahukan bagaimana cara agar bisa saling menghubungi satu sama lain.


“Nama?” ujar Arya memiringkan kepala.


“Benar, kita harus punya bukan?” Shaqihr bicara antusias.


“Mmm...bagimana kalau Orde of Phoe—“


“Kau mau karya ini dikatai plagiat lagi?” potong Ryan malas.


“Ugh....eee.....kita ganti jadi Laskar Iruphi—“


“Sama saja, apa bedanya? Kau tetap mengambil refrensi dari bocah dengan sambaran kilat dikepala”


“Kalian sedang membicarakan apa sih?” Laura mengusap kening bingung.


“Ahh!? Aku tau sesuatu yang bagus! The Figment Squadron”


Author Note :


Hadeh....untuk yg minta update mulu kerjaanya emg kalian gk pernah baca author note? Gw ni Mahasiswa, ini awal semester.....kewajiban gw kuliah. Bukan nulis, gw dibiayai orang tua ke Jogja tu buat sekolah. Bukan ngurung diri di kamar depan laptop terus ngetik cerita, kalau emg gk sabaran nunggu tinggalin. Gw gk pernah maksa kalian baca, promosiin cerita aja gk pernah gw kyk org - org rusuh tanpa permisi yg biasa spam komen di sini.


(Malah update di WP dulu jauh lebih parah, yg udh ngikutin Elementalist dr sono pasti tau penantian seminggu sekali)


Dimohon kedewasaannya lah, dan untuk yang bilang gw sombong terima kasih. Akhirnya ada yg ingetin, kalau lu menganggap org kesel karena netizen yg kerjaannya nyinyir gk pakai otak itu sombong silahkan. Tapi gw bukan org yg sesabar itu dibacotin seenak jidat trus cuma diem kalem gtu gk , minimal gw doa'in lah. Selamat dunia akhirat atau bannya bocor kek pas lg butuh.


Kalau dibandingin sama Kak Ron sih makasi bgt lho, berarti ada org yg menilai saya setinggi itu. Beda levelnya teman - teman, kapasitas kami terlalu jauh. Dan saya emg gk pernah berusaha terlihat seperti beliau, saya hanya penggemarnya saja (Peace Kak, keep your good work)

__ADS_1




__ADS_2