Elementalist

Elementalist
Chapter 172 - Life Drain


__ADS_3

Wasit pertandingan mengeluarkan jam pasir kecil dari balik lengan jubahnya untuk terakhir kali sebelum menoleh lagi kepada anggota tim The Figment Squadron A. Mereka saling pandang tak tau harus mengatakan apa.


“Hah.....ini sudah—“


“Kumohon! Berikan kami waktu lima menit saja, aku yakin dia pasti segera datang” Kyra menempelkan kedua tangan penuh harap.


Meski terlihat agak berat, pria tersebut mengangguk diikuti teriakan kecewa penonton. Ryan bersama yang lain tengah berada di podium hanya bisa mengepalkan tangan kesal, bocah ini tidak habis pikir mengapa sahabatnya dapat terlambat mengingat kalau kepalanya sendiri adalah taruhan.


Pada tempat duduk Penyihir Agung, terjadi diskusi hangat tentang keterlambatan itu. Namun ada dua orang yang nampak menonjol, pertama Rhilore Lefay terlihat gusar sendiri dikarenakan pertandingan sekarang merupakan suatu hal penting.


Bukan tanpa alasan, Holy Fist tinggal memiliki sisa satu perwakilan. Yaitu lawan dari The Figment Squadron sebentar lagi, tetapi ini juga ingin ia jadikan sebagai ajang balas dendam kepada White atas perlakuan kurang ajarnya beberapa waktu lalu.


Sehingga menyebabkan dilema dalam hatinya, jika Rhilore melayangkan protes mungkin timnya melenggang mudah ke babak berikutnya. Tapi dia harus merelakan bocah keparat tersebut lolos begitu saja.


Di sisi lain, Iruphior hanya tersenyum santai. Tidak sedikitpun si pria tua menunjukan raut kecemasan, tiba – tiba dalam sesaat dirinya mengadah ke langit. Mengakibatkan keempat Kepala Sekolah lain mengikutinya.


Ketika itu juga bertepatan dengan habisnya sisa permakluman keterlambatan Figment Squadron, sang wasit mengangkat tangan sembari menghitung mundur.


“Baiklah....tiga....dua....sa—“


WUSH!!! SYUU!!! JDUAR!!!


Sebuah bayangan hitam mendarat keras di arena, menyebabkan tiupan angin kencang serta debu bertebaran ke segala penjuru. Orang – orang mulai berdiri untuk berusaha melihat lebih baik, bahkan hampir semua yang meyaksikan secara tidak langsung mendekatkan wajah pada monitor sihir.



“Maaf – maaf membuat kalian menunggu” ia berseru ketika siluetnya mulai terlihat dibalik kepulan pasir.


Arya sudah berdiri tegak sembari memasukan kedua tangan di saku celana, walau cepat – cepat menarik kembali jubah pelindung dari sekujur tubuhnya. Para Witch tingkat tinggi masih bisa merasakan aura hitam samar – samar mengendap pada udara sekitar tempat anak tersebut berpijak.


WOAAA!!!


“YOOSSHAA!!!” teriak Ikey dan Shaqihr senang.


“Dasar sial, kau selalu mencuri banyak perhatian saat melakukan apapun Shiro-san” Ryan menghela napas lega.


“TUAN ARYA!!! LIHAT KEMARI!!!” panggilan Iserish berasal entah dari mana memecah suasana.


Sorak sorai penonton semakin menggila, mengakibatkan Arya menatap sekelilingnya sedikit takut. Merasa sungguh kecil ketika mendapati ratusan ribu mata tertuju ke arahmu. Agak ragu diapun bertanya kepada pengadil.


“Eee....Profesor? Apa kami didiskualifikasi? Mereka sepertinya senang sekali ahahaha....”


“Hehehe....kau berhasil tiba nol koma lima detik lebih cepat”


“Waahhh....syukur—“


TOK!


“Aaww!? Sa...kit!!!”

__ADS_1


Arya gagal menyelesaikan kata – katanya karena empat jitakan keras mendarat di kepalanya, dengan mata berair ia menoleh lalu menemukkan Kyra, Sierra, Laura, dan Bella balik menatapnya sinis seolah berkata ‘apa kau ingin mengatakan sesuatu? Tuan...?’.


“Ha.ha.ha. Maaf” jawabnya lemah.


“Bukan maaf! Jelaskan alasan kenapa kau terlambat” Kyra menjewer telinganya kesal.


“Hei! Hei! Hei! Sakit! Kyra! Telinga! Telinga!!!”


Setelah menjelaskan rentetan kejadian menghabiskan waktu tiga jam di toilet sampai menolong seorang nenek membawa tumpukan belanjaan barulah amarah keempat gadis tadi mereda.


“Eee....ternyata Arya menyukai wanita yang jauh lebih tua ya....cih! Hiks!” gumam Laura membuang muka.


“Oi? Jangan membuat orang salah paham begitu dong!”


“Hmm....kalau tidak salah ingat, kemarin aku memintamu mencoba sup pedas buatanku bukan?” Bella bicara sambil menopang dagu.


“Hah? Kapan? Kau memberiku segelas teh merah”


“Ahh....benar, itu dia”


“HAH!? Kau bilang minuman tersebut warisan turun – temurun keluargamu! Jadi kau penyebabnya!?” teriak Arya tidak percaya menunjuk wajah gadis pengguna tutup mata dihadapannya.


“Ehehehe, salahku. Maaf, tehe....”


“Tehe matamu!!!”


PLOK! PLOK! PLOK!


“Kemunculan yang sangat luar biasa, pahlawan memang suka datang belakangan ya”


“Kau....”


------><------


‘Anak itu....membuat orang cemas saja’


Merlin menatap Arya lekat – lekat, kemudian memiringkan kepala sebentar. Bingung mengapa dia harus khawatir kepadanya. Bukankah harusnya senang jika bocah tersebut tidak datang maka dirinya lebih mudah melakukan eksekusinya.


Helaan napas orang disampingnya membuat Merlin melirik sambil mengangkat sebelah alis heran, Friska tersenyum puas kemudian kembali bersandar dengan tenang seakan beban – bebannya terangkat dari pundak.


“Oi?”


“Hmm?”


“Selama aku pergi....ceritakan ada hubungan apa antara dirimu dan White”


“Tak ada kok” Friska membuang muka.


“Hei....kita telah berteman lama....kau belum pernah memasang wajah seperti barusan sebelumnya” tagih Merlin.

__ADS_1


“Berisik! Kau pikir sudah berapa tahun kita tidak bertemu hah?”


SRRTTT!!!


Merlin terkesiap kaget akibat sensasi setruman khas menjalar sekitar tubuhnya, dia bangkit berdiri lalu melemparkan pandangan ke seluruh penjuru tempat diadakan turnamen. Sembari berdecak kesal gadis itu menghubungi Olivia.


“Kau kenapa?” Friska baru menyadari tingkah aneh temannya.


“Cih!? Aku yakin sekali yang barusan adalah....tapi di mana....?”


Pada salah satu kursi penonton, seseorang merapatkan tudung jubahnya sembari tersenyum lebar. Bersyukur mampu mengawasi Merlin tetapi tidak terdeteksi oleh si penyihir jingga.


“Waduh....tadi hampir saja hihihi....dia cukup peka rupanya, untunglah kemampuan menyamarku berfungsi baik terutama di kerumunan begini”


Beberapa menit kemudian Olivia datang tergesa – gesa, pembicaraan dua dari Penyihir Pelangi mencuri perhatian banyak mata. Karena merupakan pemandangan yang sangat – sangat jarang terlihat.


“Orange dan....Yellow? Hmm....aku jadi semakin penasaran bagaimana rencana anak itu keluar dari Magihavoc hidup – hidup” orang misterus tersebut menyorot kepada bocah laki – laki berambut putih di tengah arena.


------><------


“Panco?”


Arya mengerjapkan mata berkali – kali begitu mendengar usulan pria bernama Daniel Redhood perwakilan Holy Fist dihadapanya tersebut, dia berkata dari pada membuang tenaga bertarung lima lawan lima.


Bagaimana kalu memutuskan pemenang dengan cara adu kekuatan tangan antara dirinya melawan Arya saja. Mengingat kalau ia memiliki pertaruhan melawan Merlin, menyimpan tenaga adalah keputusan bijak bukan?.


Usulan Daniel terbilang masuk akal, tapi Arya merasa ada sesuatu yang janggal. Lagi pula sewaktu melirik sebentar ke arah podium Penyihir Agung, seringai percaya diri menghiasi wajah Rhilofe Lefay. Keempat anggota timnya juga kurang setuju.


“Jebakan jelas begitu tidak usah diterima” bisik Laura sebal.


“Arya kupikir Laura benar, tolak saja” Kyra mebambahkan.


“Salah, menurutku ini adalah kesempatan emas. Baiklah akan kuterima”


“HEY!?”


“Bagus sekali, tolong siapkan meja batu” pinta Daniel kepada panitia.


“Kau gila ya!?” Bella menghardik keras.


“Aku tak ingin mendengar kata – kata barusan darimu, tenanglah lagi pula ini tidak melanggar peraturan turnamen”


“Tapi lawanmu—Arya biarkan aku sebagai Warlock menggantikanmu” kata Sierra mengajukan diri.


“Sudah – sudah, kalian doakan aku saja ya. Dah....”


Mereka saling pandang cemas sebelum kembali memfokuskan mata ke punggung ketua The Figment Squadron, sebuah batu berukuran sedang dengan permukaan pipih telah disiapkan. Arya bersama Daniel meletakan siku masing – masing diatas situ.


__ADS_1


Tepat setelah wasit meneriakan perintah mulai, Arya merasakan sensasi mengerikan seluruh energinya terhisap melalui telapak tangan. Senyuman musuhnya kian melebar puas, suara dingin sayup – sayup menusuk gendang telinga Arya.


“Kena kau....Life Drain”


__ADS_2