
Sepulang dari Gedung Pusat Pemerintahan, Allucia memarahi
Arya habis – habisan. Dia tidak mengerti isi kepala anak itu sampai melakukan
hal konyol tersebut.
“Kau ini masih muda, apa untungnya bagimu merusak tangan
sendiri? Kau pikir lengan bisa tumbuh dengan sendirinya hah?!”
Arya minta maaf masih tanpa ekspresi sedikitpun diwajahnya,
hal ini malah menambah kesal sang dokter karena merasa pasiennya tidak
menyesali perbuatan yang telah dilakukan. Para Pengawas lain segera mengamankan
perempuan itu sebelum malah menambah luka Arya.
Beberapa hari berlalu, suasana hati Arya tidak bertambah
baik. Ini tentu mengkhawatirkan bagi para Elementalist yang lain, mereka ingin
membantu. Tapi tidak tau harus berbuat apa untuk membuat Kapten mereka kembali
ceria.
Bianchi kemudian menyarankan agar memberikan Arya waktu
sendiri dulu untuk saat ini, dengan harap – harap cemas akhirnya merekapun
setuju. Arya mengurung diri dalam kamar untuk waktu yang lama.
Namun semua orang tidak tau kalau sebenarnya ia setiap malam
selalu bolak – balik Perpustakaan dan Ruang Latihan dari tengah malah hingga
subuh. Kepalanya dipenuhi oleh kata belajar serta berlatih.
Akibat kejadian kemarin, dia bertekad menjadi lebih kuat
lagi. Cukup kuat agar tidak ada yang berani melakukan hal semena – mena kepada
Elementalist, ia tidak ingin kejadian serupa terulang kembali dimasa anak dan
cucunya kelak.
“Dikasi hati minta
jantung. Keserakahan akan menghacurkan diri mereka sendiri” Arya menggeleng
– geleng gusar.
Puas adalah sebuah kata yang tabu bagi Manusia, terkadang
mereka lupa akan daratan. Tidak seperti Witch yang penuh dengan rasa ingin tau,
Manusia lebih condong pada keuntungan diri sendiri.
Jika bukan karena pertumbuhan jumlah yang pesat, Arya yakin
mereka sudah punah sejak lama. Tapi tidak semua Manusia seperti itu, banyak
juga yang baik dan penuh kasih sayang. Tidak bisa dipungkiri mereka memanglah
makhluk berakal.
Mandalika dan Efbi mendengar keluh kesah Arya dengan
seksama, dan hal itu membuat keduanya bingung harus merespon seperti apa.
“Tapi Tuan, anda juga
Manusia”
“Benar, tapi kami
adalah Manusia pegemban tugas besar. Percaya atau tidak perasaan seperti itu
tidak pernah ada dalam diri kami, merebut sesuatu yang bukan haknya serta
diluar batas sulit dilakukan. Mungkin karena Elementalist diciptakan memang
seperti ini”
Arya menutup buku dihadapanya kemudian bangkit berdiri,
menatap pantulan diri sendiri pada cermin sambil bertanya – tanya dalam hati.
Apa jalan yang dipilihnya sudah benar?.
------<<>>------
__ADS_1
WUSH....CTAK!, WUSH....CTAK!, WUSH....CTAKK!
Secara berirama suara itu memenuhi ruang latihan, Arya
menghabiskan malam dengan berlatih melempar pisau. Menurutnya teknik ini bisa berguna
dimasa depan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mempelajarinya.
Dan kalau saja dia sudah menguasai seni melempar pisau sejak
lama. Astral dan Liquite mungkin tidak akan bisa menjaga si keparat Sioul waktu
itu, dengan sedikit kesal ia mengambil tiga pisau dan melemparnya secepat
mungkin.
Ketiganya menancap pada sasaran boneka kayu tepat dibagian
kepala, dada, dan selangkangan. Sebenarnya ada sesuatu yang menarik perhatian
Arya belakangan ini, ruang latihan nampak mengalami peningkatan.
Dia menebak salah satu Pengawas pasti telah melakukan
sesuatu, ruang latihan sekarang mempunyai banyak menu pilihan. Tempat itu akan
berubah sesuai latihan yang diinginkan, dan juga yang lebih mengasyikan
ternyata ada tingkatan dalam pelaksanaanya.
Arya sudah mencoba, pada tingkat paling rendah yaitu mudah.
Dia diminta melempar pisau mengenai sasaran berjarak sepuluh meter, selanjutnya
ditingkat sedang. Jarak ditambah menjadi lima belas meter serta memiliki sebuah
penghalang.
Sehingga ia tidak bisa langsung melemparkan pisaunya,
melainkan harus memperhitungkan jarak dan ketepatan waktu agar bisa melewati
penghalang kemudian tetap mengenai target. Tidak terlalu sulit sebenarnya, dia
hanya perlu mengubah arah laju pisau itu dengan melemparainya pisau lain.
Namun tingkat kesulitan paling tinggi sangat tidak masuk
celah – celah kecil yang hanya bisa dilewati satu buah pisau, tapi masalahnya
walaupun dia mampu melempar pisau keluar dari penghalang.
Bisa dipastikan mereka tidak akan mengenai target, mengubah
arah juga tidak semudah tingkat sedang akibat celah – celah sempit penghalang.
Terlebih lagi ada dua puluh target berjarak dua puluh meter yang harus dikenai
dalam satu kali percobaan.
Dia belum berhasil melewati tingkat ini dan itu membuatnya
frustrasi.
“Eh? Ternyata Tuan Arya, saya pikir suara berisik tadi
karena apa”
Gustav memasuki ruang latihan sambil membawa keranjang penuh
berisi bahan makanan. Dia bertanya dengan penasaran apa yang sedang Arya
lakukan, Arya menjelaskan kalau dirinya mengalami hambatan dalam melakukan
latihan tingkat sulit teknik melempar pisau.
Gustav mengangguk – angguk sebelum meletakan keranjangnya
dan melangkah ke tengah penghalang. Ia mengankut dua puluh pisa dengan kedua
tangannya tanpa terlihat kerepotan sedikit pun.
“Tuan Arya, rahasia dari seni melempar pisau itu hanya satu.
Percaya diri”
Si Kepala juru masak lalu megibaskan tangannya dengan
santai.
__ADS_1
WUSH....PRANK! CTAKK!!!
Kedua puluh pisau tersebut terbang melewati celah, lalu
saling bertabrakan diudara kemudian berakhir dengan menancap pada semua target
secara bersamaan. Mulut Arya terbuka lebar sampai hampir mengenai lantai saking
terkejutnya.
“Baiklah Tuan, saya akan kembali ke dapur untuk menyiapkan
makanan. Jangan lupa mampir sarapan, saya punya sup jamur yang dapat
mempercepat pemulihan anda. Sampai jumpa”
Setelah Gustav pamit, Arya kembali ke tengah penghalang. Dia
mengangkat salah satu pisau lalu menatapnya dalam – dalam.
“Kuncinya adalah....percaya diri”
WUSH....PRANK!
“Sudah kuduga tidak semudah itu” Arya menghela napas panjang
melihat pisaunya membentur penghalang.
Ia terus mencoba sampai waktu sarapan tiba, saat keluar dari
ruang latihan dia berpapasan dengan Varuq dan menceritakan apa yang terjadi
beberapa jam yang lalu.
“Eh...., apa Ray bilang begitu? Kalau iya berarti aku hanya
bisa bilang kau sudah berada dijalur yang tepat. Karena sepengetahuanku, tidak
ada yang lebih ahlu dalam menggunakan pisau dari dirinya”
Setelah memberikan pendapatnya Varuq segera kembali ke
kamar, sementara Arya menuju kantin untuk sarapan. Sup yang dijanjikan Gustav
ternyata tidak buruk, Arya menikmatinya dan dengan perlahan para Elementalist
lainpun bermunculan.
Mereka menanyakan kondisi Arya sebagai pertanda khawatir,
Arya menjawab seadanya namun dengan senyum karena suasana hatinya sudah membaik.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Hmm...?”
“Kenapa hanya ketika aku yang tanya responmu seperti itu?!”
bentak Asuna kesal.
“Tidak, tidak ada alasan khusus. Hanya saja aku sedang
berusaha meyakinkan diri kalau ini bukan mimpi, Asuna menanyakan kondisiku? Nanti
malam pasti akan ada badai” celetuk Arya dengan raut wajah serius.
“Ugh....kau ingin badai?! Baik akan kuberikan! Akan
kuhanguskan dirimu menggunakan badai api sekarang juga dasar laki – laki
menyebalkan”
Suasana meja semakin ramai akibat perserteruan mereka
berdua, ditengah – tengah gelak tawa. Seorang anak kecil datang menghampiri
untuk menyampaikan pesan.
“Tuan dan Nona, Pengawas Astral meminta kalian berkumpul di
ruangannya”
“Untuk apa?” tanya Timothy.
“Membahas Ujian Elementalist Keempat”
Author Note :
Mulai dari awal Arc ke 4 ini sampai seterusnya, cerita Elementalist akan dilanjutkan di Mangatoon. Jangan lupa berikan dukungan kalian dengan cara like semua chapternya ya! Beri kami bintang 5 juga biar dilirik sama pihak Mangatoon. Bantu Author untuk mengais rezeki demi sesuap nasi :'3
__ADS_1