Elementalist

Elementalist
Chapter 61 – Ahli


__ADS_3

Sepulang dari Gedung Pusat Pemerintahan, Allucia memarahi


Arya habis – habisan. Dia tidak mengerti isi kepala anak itu sampai melakukan


hal konyol tersebut.


“Kau ini masih muda, apa untungnya bagimu merusak tangan


sendiri? Kau pikir lengan bisa tumbuh dengan sendirinya hah?!”


Arya minta maaf masih tanpa ekspresi sedikitpun diwajahnya,


hal ini malah menambah kesal sang dokter karena merasa pasiennya tidak


menyesali perbuatan yang telah dilakukan. Para Pengawas lain segera mengamankan


perempuan itu sebelum malah menambah luka Arya.


Beberapa hari berlalu, suasana hati Arya tidak bertambah


baik. Ini tentu mengkhawatirkan bagi para Elementalist yang lain, mereka ingin


membantu. Tapi tidak tau harus berbuat apa untuk membuat Kapten mereka kembali


ceria.


Bianchi kemudian menyarankan agar memberikan Arya waktu


sendiri dulu untuk saat ini, dengan harap – harap cemas akhirnya merekapun


setuju. Arya mengurung diri dalam kamar untuk waktu yang lama.


Namun semua orang tidak tau kalau sebenarnya ia setiap malam


selalu bolak – balik Perpustakaan dan Ruang Latihan dari tengah malah hingga


subuh. Kepalanya dipenuhi oleh kata belajar serta berlatih.


Akibat kejadian kemarin, dia bertekad menjadi lebih kuat


lagi. Cukup kuat agar tidak ada yang berani melakukan hal semena – mena kepada


Elementalist, ia tidak ingin kejadian serupa terulang kembali dimasa anak dan


cucunya kelak.


“Dikasi hati minta


jantung. Keserakahan akan menghacurkan diri mereka sendiri” Arya menggeleng


– geleng gusar.


Puas adalah sebuah kata yang tabu bagi Manusia, terkadang


mereka lupa akan daratan. Tidak seperti Witch yang penuh dengan rasa ingin tau,


Manusia lebih condong pada keuntungan diri sendiri.


Jika bukan karena pertumbuhan jumlah yang pesat, Arya yakin


mereka sudah punah sejak lama. Tapi tidak semua Manusia seperti itu, banyak


juga yang baik dan penuh kasih sayang. Tidak bisa dipungkiri mereka memanglah


makhluk berakal.


Mandalika dan Efbi mendengar keluh kesah Arya dengan


seksama, dan hal itu membuat keduanya bingung harus merespon seperti apa.


“Tapi Tuan, anda juga


Manusia”


“Benar, tapi kami


adalah Manusia pegemban tugas besar. Percaya atau tidak perasaan seperti itu


tidak pernah ada dalam diri kami, merebut sesuatu yang bukan haknya serta


diluar batas sulit dilakukan. Mungkin karena Elementalist diciptakan memang


seperti ini”


Arya menutup buku dihadapanya kemudian bangkit berdiri,


menatap pantulan diri sendiri pada cermin sambil bertanya – tanya dalam hati.


Apa jalan yang dipilihnya sudah benar?.


------<<>>------

__ADS_1


WUSH....CTAK!, WUSH....CTAK!, WUSH....CTAKK!


Secara berirama suara itu memenuhi ruang latihan, Arya


menghabiskan malam dengan berlatih melempar pisau. Menurutnya teknik ini bisa berguna


dimasa depan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mempelajarinya.


Dan kalau saja dia sudah menguasai seni melempar pisau sejak


lama. Astral dan Liquite mungkin tidak akan bisa menjaga si keparat Sioul waktu


itu, dengan sedikit kesal ia mengambil tiga pisau dan melemparnya secepat


mungkin.


Ketiganya menancap pada sasaran boneka kayu tepat dibagian


kepala, dada, dan selangkangan. Sebenarnya ada sesuatu yang menarik perhatian


Arya belakangan ini, ruang latihan nampak mengalami peningkatan.


Dia menebak salah satu Pengawas pasti telah melakukan


sesuatu, ruang latihan sekarang mempunyai banyak menu pilihan. Tempat itu akan


berubah sesuai latihan yang diinginkan, dan juga yang lebih mengasyikan


ternyata ada tingkatan dalam pelaksanaanya.


Arya sudah mencoba, pada tingkat paling rendah yaitu mudah.


Dia diminta melempar pisau mengenai sasaran berjarak sepuluh meter, selanjutnya


ditingkat sedang. Jarak ditambah menjadi lima belas meter serta memiliki sebuah


penghalang.


Sehingga ia tidak bisa langsung melemparkan pisaunya,


melainkan harus memperhitungkan jarak dan ketepatan waktu agar bisa melewati


penghalang kemudian tetap mengenai target. Tidak terlalu sulit sebenarnya, dia


hanya perlu mengubah arah laju pisau itu dengan melemparainya pisau lain.


Namun tingkat kesulitan paling tinggi sangat tidak masuk


celah – celah kecil yang hanya bisa dilewati satu buah pisau, tapi masalahnya


walaupun dia mampu melempar pisau keluar dari penghalang.


Bisa dipastikan mereka tidak akan mengenai target, mengubah


arah juga tidak semudah tingkat sedang akibat celah – celah sempit penghalang.


Terlebih lagi ada dua puluh target berjarak dua puluh meter yang harus dikenai


dalam satu kali percobaan.


Dia belum berhasil melewati tingkat ini dan itu membuatnya


frustrasi.


“Eh? Ternyata Tuan Arya, saya pikir suara berisik tadi


karena apa”


Gustav memasuki ruang latihan sambil membawa keranjang penuh


berisi bahan makanan. Dia bertanya dengan penasaran apa yang sedang Arya


lakukan, Arya menjelaskan kalau dirinya mengalami hambatan dalam melakukan


latihan tingkat sulit teknik melempar pisau.


Gustav mengangguk – angguk sebelum meletakan keranjangnya


dan melangkah ke tengah penghalang. Ia mengankut dua puluh pisa dengan kedua


tangannya tanpa terlihat kerepotan sedikit pun.


“Tuan Arya, rahasia dari seni melempar pisau itu hanya satu.


Percaya diri”



Si Kepala juru masak lalu megibaskan tangannya dengan


santai.

__ADS_1


WUSH....PRANK! CTAKK!!!


Kedua puluh pisau tersebut terbang melewati celah, lalu


saling bertabrakan diudara kemudian berakhir dengan menancap pada semua target


secara bersamaan. Mulut Arya terbuka lebar sampai hampir mengenai lantai saking


terkejutnya.


“Baiklah Tuan, saya akan kembali ke dapur untuk menyiapkan


makanan. Jangan lupa mampir sarapan, saya punya sup jamur yang dapat


mempercepat pemulihan anda. Sampai jumpa”


Setelah Gustav pamit, Arya kembali ke tengah penghalang. Dia


mengangkat salah satu pisau lalu menatapnya dalam – dalam.


“Kuncinya adalah....percaya diri”


WUSH....PRANK!


“Sudah kuduga tidak semudah itu” Arya menghela napas panjang


melihat pisaunya membentur penghalang.


Ia terus mencoba sampai waktu sarapan tiba, saat keluar dari


ruang latihan dia berpapasan dengan Varuq dan menceritakan apa yang terjadi


beberapa jam yang lalu.


“Eh...., apa Ray bilang begitu? Kalau iya berarti aku hanya


bisa bilang kau sudah berada dijalur yang tepat. Karena sepengetahuanku, tidak


ada yang lebih ahlu dalam menggunakan pisau dari dirinya”


Setelah memberikan pendapatnya Varuq segera kembali ke


kamar, sementara Arya menuju kantin untuk sarapan. Sup yang dijanjikan Gustav


ternyata tidak buruk, Arya menikmatinya dan dengan perlahan para Elementalist


lainpun bermunculan.


Mereka menanyakan kondisi Arya sebagai pertanda khawatir,


Arya menjawab seadanya namun dengan senyum karena suasana hatinya sudah membaik.


“Bagaimana keadaanmu?”


“Hmm...?”


“Kenapa hanya ketika aku yang tanya responmu seperti itu?!”


bentak Asuna kesal.


“Tidak, tidak ada alasan khusus. Hanya saja aku sedang


berusaha meyakinkan diri kalau ini bukan mimpi, Asuna menanyakan kondisiku? Nanti


malam pasti akan ada badai” celetuk Arya dengan raut wajah serius.


“Ugh....kau ingin badai?! Baik akan kuberikan! Akan


kuhanguskan dirimu menggunakan badai api sekarang juga dasar laki – laki


menyebalkan”


Suasana meja semakin ramai akibat perserteruan mereka


berdua, ditengah – tengah gelak tawa. Seorang anak kecil datang menghampiri


untuk menyampaikan pesan.


“Tuan dan Nona, Pengawas Astral meminta kalian berkumpul di


ruangannya”


“Untuk apa?” tanya Timothy.


“Membahas Ujian Elementalist Keempat”


Author Note :


Mulai dari awal Arc ke 4 ini sampai seterusnya, cerita Elementalist akan dilanjutkan di Mangatoon. Jangan lupa berikan dukungan kalian dengan cara like semua chapternya ya! Beri kami bintang 5 juga biar dilirik sama pihak Mangatoon. Bantu Author untuk mengais rezeki demi sesuap nasi :'3


__ADS_1


__ADS_2