
Pada pagi – pagi buta di Pusat Penelitian, seorang remaja laki – laki terlihat menyelinap berusaha keluar dari sana. Dia sesekali akan berhenti kemudian mengedarkan pandangan seolah mencari tau keadaan sudah aman atau belum.
“Kiri? Kanan? Kosong.....” Ia tersenyum sembari mengencangkan tudung jaket miliknya.
Waktu pemuda tersebut sampai dibelokan terakhir menuju lift, ternyata dua sosok gadis berambut pirang dan putih telah menunggunya. Saking terkejut atas pemandangan tiba – tiba barusan dia memekik keras.
“HIYY!?”
“Kau mau kemana? Tuan?”
“Kami belum selesai memberimu pelajaran.....”
“Ohh...ayolah Alalea? Kizuna?”
“TI-DAK!” eja mereka bersamaan.
“Ugh....jangan pikir kalian bisa menghalangi—eh?”
Langkah Arya terhenti sebab dibelakangnya beberapa orang lain sigap menutup jalur evakuasinya, Arya tertawa sebentar terus mengucapkan kata ‘hai’ sebelum mencoba kabur, suara berisik membangunkan banyak penghuni Pusat Penelitian hari itu.
BUKH! BAK! BUAKH!!!
“Waaa.....teman – teman haruskah kita melakukan ini seminggu penuh!? Asuna...!? kumohon lepaskan aku....!? Kyaaa....tolong...!!? Mmm....!?”
Mulut Arya ditutup Callista dengan menggunakan selotip, si anak perempuan Vampire tersenyum kepadanya sambil menunjukan gigi taringnya sementara sisanya mengikatkan tali supaya sang Ketua Elementalist tak mampu bergerak. Arya diseret pergi sembari terus meronta.
“Hah....aku ingin menolongnya tapi....bagaimana?” Kevin menyeletuk usai menonton kejadian tadi dari kejauhan.
“Tentu ada caranya....”
“Apa?
“Kau harus masuk ke sarang harimau – harimau betina itu” jawab Timothy tanpa tampang berdosa.
PLAK!
Zayn, Kevin, Ali, juga Eridan memukul kepalanya bersamaan sampai menyebabkan Timothy meringis kesakitan kemudian protes. Mereka berlima saling bertukar pandang penuh penyesalan, lima hari terlewat sejak misi Atlantos berakhir dan Arya masih disekap.
‘Sebaiknya jangan sampai kata – katamu barusan didengar mereka’ Ali memperingatkan.
“Iya – iya aku mengerti....”
“Hadeh....maafkan kami....Kapten....”
------><------
Arya pergi sambil meringis menuju Plant Region untuk melihat sebuah danau buatan besar yang dibuatkan untuk Diondra, setelah tiba di Pusat Penelitian si putri Atlantos memang sengaja ditempatkan disana bersama Kizuna, Nyanko Kyōdai, dan para Werebeast lainnya.
Mereka menyambut hangat Diondra beserta genangan air raksasa itu terutama Hachiru dan Kyuran, keduanya sangat senang bermain disana menemani Diondra. Karena sudah lama jarang berinteraksi dengan orang Diondra sendiri gembira menerima dua gadis tersebut.
Sejujurnya hampir seluruh anggota menerima Diondra menggunakan tangan terbuka, hanya saja Arya masih heran mengapa perempuan – perempuan seperti Asuna, Alalea, Callista, juga teman – temannya terus menceramahinya selama satu minggu penuh.
Sesampainya ke tujuan, Arya menyadari sesuatu kemudian mendekati salah satu pohon sebelum menendangnya cukup kuat. Terdengar suara gerasak gerusuk daun – daun diatas, detik berikutnya Kinichi mendarat pada tanah memakai kepalanya terlebih dahulu.
“Aw!? Siapa—Eh? Tuan Arya? Hehehe....“
__ADS_1
“Kinichi....berhentilah mencoba mengintip atau....”
“Baiklah! Aku mengerti! Permisi!!!”
WUSSHH...!!!
Dalam beberapa kedipan mata sosok Kinichi menghilang seoalah tertiup angin, Arya menghela napas heran kenapa kucing itu selalu dipenuhi gairah. Ia memunggut salah satu kerikil kecil dan melemparkannya menuju danau.
“Diondra!?”
Tak lama berselang muncul riak menghiasi permukaan air, Diondra mengubah bagian bawah badannya menjadi kaki manusia lalu berjalan keluar. Arya terdiam sebentar memandangi pakaian anak perempuan dihadapannya.
“Kenapa tidak bilang jika mau berkunjung?” sapanya ramah.
“Tuan Putri? Penampilan anda....”
“Hmm? Ini? Hehehe....Lexa yang memberikannya kepadaku supaya dapat lebih mengenal pola hidup Manusia? Apa tidak cocok?” Diondra bertanya sembari duduk di tepi danau.
Arya bingung harus bicara bagaimana, pokoknya sepulang dari sana dia bakal menanyakan alasan si ceroboh Lexa menghadiahkan seragam anak sekolah menengah pertama tuk seorang putri kerajaan. Walaupun Arya akui Diondra pantas mengenakannya.
“Anda sungguh menawan kok, tenang saja....” jawab Arya mengambil posisi disampingnya.
“T..te..terima kasih....” Diondra merapikan rambutnya tersipu malu.
“Jadi bagaimana hari – harimu?”
Keduanya berbincang – bincang cukup lama, Arya mau tau pendapat Diondra mengenai tempat tinggal barunya. Ia bercerita penuh semangat tentang permainan – permainan dirinya bersama Nyanko Kyōdai dan betapa serunya menemui banyak individu baru baik hati, Arya tersenyum bersyukur Diondra tak menyesali keputusannya datang ke sini. Saat Arya hendak pamit, Diondra menangkap pengelangan tangannya.
“Mmm? Ada apa?”
“Sia—“
TESS....!!!
Belum selesai Arya bicara, Diondra mengeluarkan payung birunya terus menempalkan ujungnya ke dahi pemuda tersebut. Waktu sadar Arya memperhatikan ruang hampa putih disekelilingnya sebelum menggaruk kepala, perasaan familiar ini selalu timbul tiap ia berurusan dengan Seven Arcenciel Witch.
“Ano....?”
Ketika menoleh, Arya menemukan seorang gadis berpakaian serba biru balik menatapnya ragu – ragu. Sepertinya respon Arya yang terlalu biasa sehingga membuatnya berpikiran negatif, merasa serba salah Arya pun menjelaskan.
“Maaf....tolong jangan salah paham, aku hanya sudah sering mengalami hal ini jadinya sedikit....kurang terkejut.....”
“Ahh....begitu...”
“Apa kamu salah satu dari mereka berempat?”
“Iyaa....apa kau membenci kami....?”
“Benci bukan kata yang tepat.....penasaran mungkin” Arya menyahut sambil mengangkat kedua bahunya.
“Aku ingin sekali memberitahumu—“
__ADS_1
“Tapi belum bisa? Aku tau, siapa namamu?”
Sang perempuan mematung cukup lama sebab Arya memotong kata – katanya, dia menelan ludah berat terus berbisik lirih, “Vitisa....”.
Arya mendekat lalu mengusap kepalanya lembut, Vitisa memandangnya sendu. Perlahan air mata mulai menetes ke pipinya. Arya menghapuskannya kebingungan, apa dia melakukan suatu hal salah hingga mengakibatkan Vitisa menangis.
“Hey? Kau baik – baik saja? Halo Vitisa....senang bisa mengenalmu....”
“Aku Vitisa, Putri Kelima menyerahkan seluruh kekuatanku untukmu....” balasnya tersenyum tulus.
Kedipan selanjutnya yang Arya tau ia sudah berdiri di samping danau sekali lagi ditemani Diondra, kepalanya terasa pening sampai hampir terjatuh. Diondra cepat – cepat membantunya mengembalikan keseimbangan.
“Kau sakit?” Diondra bertanya panik.
“Tidak, tenanglah. Ternyata kau punya teman hebat ya hihihi....”
“Begitukah menurutmu?”
“Yap, oh benar Diondra? Nanti malam kau senggang?”
“Tentu....”
“Kami berencana pergi menghadiri fetival perayaan hari dibangunnya Elemental City, bagaimana? Kau ikut?” ujar Arya menjulurkan tangan.
“Huum...!!! Pasti...!!!”
------><------
Malam harinya Arya dan kawan – kawan membawa Diondra berkeliling kota menyaksikan banyak hal baru. Acaranya sangat meriah, jalan – jalan dipadati penduduk Elemental City. Tenda – tenda pedagang menambah serunya kegiatan rekreasi tersebut.
Mereka berebut menjelaskan tentang kehidupan Manusia kepada Diondra, semua berjalan lancar sampai terjadi sebuah insiden. Pada satu kesempatan saat Diondra hendak menyebrang jalan, sebuah truk berwarna kuning berbelok tajam hampir menabraknya. Untung berkat respon diluar nalar Arya si putri dapat diselamatkan.
SYUU!!! CKITTT....!!!
“Arya?!” para gadis segera menghampir keduanya.
“Aku baik – baik saja, cuma goresan kecil....”
“Maafkan aku hiks....seharusnya aku tak berjalan sembarangan....” kata Diondra menyesal.
“Tenang....jangan menangis, bukan kau yang salah....”
JDUK!
“HEY!? KAU BUTA YA!? LAMPU LALU LINTAS BUKAN HANYA PAJANGAN!?” Timothy dan Kevin menendang truk hingga pengemudinya terpaksa keluar meminta maaf.
“Aku sedikit mengantuk Tuan, Nona, mohon pengertiannya....”
Orang itu menggunakan topi, masker, serta kacamata sehingga membuat wajahnya sulit dikenali. Arya hanya tau kalau dirinya seorang perempuan dari suara juga postur tubuhnya, dia memiliki rambut cokelat panjang khas.
Rombongan akhirnya memutuskan menyelesaikan masalah secara baik – baik karena lebih mengutamakan menenangkan Diondra, Arya terus memandangi truk barusan penuh tanda tanya. Agak aneh menurutnya ada orang melakukan pekerjaan di malam liburan begini, Arya merasa ada suatu hal janggal pada kendaraan tersebut namun entah apa.
“Tadi nyaris saja....” celetuk seseorang dalam kontainer menghela napas lega.
“Iya....siapa sangka kita bertemu dengan mereka....para Elementalist....” si wanita misterius mengendalikan roda kemudi sembari tersenyum lebar.
__ADS_1
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karya karsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.