Elementalist

Elementalist
Chapter 148 - Ujian Masuk


__ADS_3

“Berhenti! Berhenti! Berhenti!”


Gilberth berusaha menghadang Arya yang masih terus mengayunkan tongkat sihir dan menciptakan letusan kembang api berbagai warna. Sadar telah membuat keributan, ia langsung menaruh kembali semua kayu berbentuk panjang tersebut.


“Maaf sepertinya aku agak berlebihan” ujarnya tertawa menyesal.


“Anak muda, kau hampir mencoba seluruh isi tokoku”


“Tetapi aku belum menemukan kecocokan tertentu dengan mereka”


“Hmm....? Bagaimana kalau begini saja....”Gilberth mengusulkan ide setelah berpikir sebentar.


Si pria tua mengembalikan semua tongkat ke posisi semula, lalu meminta Arya menggunakan sihir pemanggil. Semisal seluruh alat sihir itu terbang menghampirinya, yang paling cepat sampailah tongkat pas bagi Arya.


Setuju, Arya berdiri agak dekat pintu masuk. Dia memejamkan mata berusaha tuk berkosentrasi, tangannya perlahan terangkat sebelum mengucapkan mantra.


“Ir’amec!”


BRRR!!! SYUU! SYUU!


Layaknya ombak pasang, lautan tongkat sihir menerjang tubuh Arya. Mengakibatkan seisi toko berantakan bukan main. Gilberth yang sudah memasang pelindung cuma bisa menggeleng – gelengkan kepala takjub.


Begitu kondisi aman, dia keluar tanpa cedera sedikitpun. Gilberth berusaha menggeser benda – benda tadi menuju lokasi pengunjungnya itu. Arya keluar dari timbunan tongkat sihir sambil bernapas putus – putus.


“PHWAH! Hah....hah....kupikir aku akan mati”


“Kau tidak apa – apa?”


“Menurutmu?”


“Sepertinya cara ini gagal ya? Alumes!”


Jika diterjang bersamaan, walaupun ada satu berhasil menggapai tangannya terlebih dahulu. Pasti menghilang sebab gelombang susulan. Arya menggerutu sembari memperhatikan seksama ketika barang – barang merapikan diri sendiri.


Dalam sekejap, Gilberth Graveyard bertrasnformasi ke wujud awal saat dia pertama kali masuk. Sang pemilik toko meliriknya dengan jari mengetuk berirama pada meja kasir.



“Keputusanmu Tuan?”


“Heeh....mau bagaimana la—tunggu dulu”


Arya cepat – cepat bangun dari posisi duduk, dia mengintip ke bawah celah salah satu rak. Terdapat satu tongkat sihir usang berhiaskan jaring laba – laba juga debu tergeletak di sana, Arya menjadi sedikit tertarik. Bukankah itu berarti benda ini tak memenuhi panggilan miliknya?.


“Tuan Gilberth bolehkah?”

__ADS_1


“Hmm? Silahkan saja, tapi kuingatkan. Tongkat tersebut tidak datang kepadamu bukan karena ia istimewa atau apa, hanya produk sampah dan palsu. Aku ditipu oleh seorang gelandangan yang mengatakan kalau barang rongsok itu adalah pusaka setingkat Miracle Iris Catra”


Gilberth mulai mengomel, sungguh dirinnya begitu merasa bodoh nan lugu mudah sekali percaya kepada sosok aneh tak jelas begitu di masa lalu. Megingat seluruh tabungan yang hangus akibat si tongkat konyol membuat Gilberth serasa ingin meledak.


Kalau bukan karena barang terkutuk ini, mungkin tokonya tak sesepi pemakaman layaknya sekarang. Dia bisa berinvestasi serta bersaing melawan perkembangan zaman. Sebab tangannya tak sampai, dan celah terlalu sempit. Arya mengeluarkan beberapa benang demi mengeluarkan tongkat tadi.


Begitu berhasil mengeluarkannya, Arya meniup juga mengelap batang kayu tipis tersebut agar bersih dari kotoran. Setelah puas, ia tersenyum tipis kemudian menggenggam erat pangkal tongkat itu. Arya tersentak kaget, seluruh lengan kanannya bergetar kuat seperti orang kesemutan.


Pelan – pelan retakan kecil mulai bermunculan pada tongkat tersebut dan akhirnya pecah. Ledakan hebat terpancar menyelimuti Gilberth Graveyard. Magihavoc ikut bergetar dibuatnya, tanpa orang – orang sadari. Kejadian ini mengakibatkan melemahnya lapisan sihir pelindung walau hanya sesaat.


BUMM!!! BRRR!!! SRT! SRT! SRT!


Rambut Arya berdiri seperti dialiri oleh listrik, kilatan – kilatan putih mengitari tubuhnya. Dia kagum melihat perubahan bentuk benda ditangannya. Nampaknya tongkat usang sebelumnya adalah lapisan luar, sekarang yang bertengger pada tangan Arya berupa kayu tipis sepanjang lima belas senti meter indah dengan ujung putih bersih.


“Aku akan membelinya!” kata Arya puas.


Si pemuda menaruh tongkat sihir aneh itu diatas meja kasir, Gilberth terdiam seribu bahasa. Waktu ia berusaha menyentuhnya. Tangan sang pemilik toko seolah ditahan oleh energi kuat misterius, membuatnya terpaksa menggunakan sarung tangan miliknya.


‘Jangan – jangan setan tua dulu bukan penipu?’ batin Gilberth mengamati dalam – dalam sutra keputihan tipis yang terlihat seperti urat saraf menyelimuti barang tersebut.


“Berapa harga—WAAA! CELAKA!!!”


Arya baru teringat kalau semua uang miliknya dipegang Ryan, setelah mencari – mencarit tanpa hasil. Dia melihat Gilberth lemah sambil memasang wajah murung.


“Aku sungguh menyesal Tuan Gilberth, sepertinya aku lupa membawa uang. Maaf, aku tidak bermaksud merepotkanmu”


“Eh? Tetapi—“


“Tidak ada tapi – tapian, sudah kubilangkan kalau benda ini merupakan barang sampah dan palsu. Ia tak bernilai bagiku. Lagi pula percaya atau tidak, cuma dirimu yang bisa menggunakannya”


“B...ba...bagaimana caraku membalas—“


“Lupakan, anggap saja sebagai hadiah. Apa kau berencana masuk Akademi?” Gilberth bertanya ramah.


“Begitulah”


“Bagus, berusahalah ikut serta dalam Turnamen Sihir nanti. Aku akan mendukungmu”


“Terima kasih! Aku persimi Tuan!” seru Arya gembira sembari berpamitan dengan menundukan kepala.


“Aku punya firasat bocah itu akan mengguncang Magihavoc, hihihi....”



------><------

__ADS_1


Ujian masuk Divina Academy dilaksanakan tujuh hari berselang kedatangan mereka di Magihavoc. Selama itu Arya berlatih dibawah bimbingan Ryan, Turin, dan Qibo tuk mempersiapkan diri sebaik mungkin menghadapinya.


Ada tiga tahap seleksi, pertama tes tulis. Dengan materi – materi umum serta dasar sebagai Witch, Arya mampu melaluinya sangat baik karena memang memiliki kemampuan diatas rata – rata sewaktu mempelajari hal – hal bersifat materi.


Selanjutnya adalah praktik, ini merupakan tahap paling rawan menurut Arya. sebab dia takut disuruh melakukan sihir yang dirinya sama sekali tidak ketahui, untungnya bimbingan Turin juga Qibo sukses. Mereka berdua berhasil memperkecil cakupan mantra untuk Arya kuasai.


Walau ia sempat sekali tertukar antara Sihir Peledak dan Sihir Penyambung. Namun sang penguji terlihat diak terlalu mempermasalahkannya, tes terakhir dilaksanakan pada hari berikutnya setelah calon – calon murid mengambil nomer undian.


Ryan menertawakan Arya begitu tau kalau sahabatnya itu mendapat urutan paling belakang, ujian kali ini berupa pengukuran energi sihir. Semua peserta akan mengalirkan kekuatan pada alat berbentuk termometer raksasa.


Semakin besar angka yang diraih, maka bertambah kesempatan mereka untuk lulus. Turin dan Qibo bilang sebenarnya tahap inilah penentuan sukses atau tidaknnya murid masuk ke Divina Academy, dua ujian sebelumnya dapat dikesampingkan.


Saat acara dimulai Arya merasakan beberapa tatapan tajam menusuk ke arahnya dari penonton. Cukup banyak orang menyaksikan upacara tersebut, ada kabar beredar kalau Kepala Sekolah sendiri ikut menghadiri.


Benar saja, seorang pria dengan rambut dan jenggot putih panjang duduk pada kursi tertinggi lokasi ujian. Ia tersenyum hangat melihat mereka semua, lalu memberikan sedikit kata sambutan sebelum satu per satu peserta maju.


Banyak sekali calon murid mendapat tepuk tangan juga siulan kagum penonton, sebab nominal – nominal sihir miliknya sangat tinggi. Bahkan beberapa mulai percaya kalau ini merupakan generasi keemasan Divina Academy.


Arya mengenali salah satu orang, yaitu gadis yang pernah mendorong dan mengatainya sampah di Misspelled Road.


“Hanna Vonsekal menghadap” serunya sambil mengalirkan sihir.


“6500!”


“Dia....putri keluarga Vonsekal?”


“Gila....kemampuannya tak perlu dipertanyakan lagi kalau begitu”


Perempuan bernama Hanna meninggalkan tempat begitu menerima tanda kelulusan, waktu hendak keluar. Dia berpapasan dengan Arya, tanpa alasan jelas. Hanna tersenyum kemudian menabrakan keras pundaknya .


“Enyahlah....ini bukan tempatmu....sampah, hehehe”


Arya tidak membalas, ia hanya mengelus bekas tubrukan Hanna. Si Elementalist Es punya keyakinan kalau gadis tersebut akan mengalami pegal hebat malam nanti, Ryan mengejutkan hampir seluruh orang ketika kekuatan sihirnya menembus angka 7000.


Menjadikannya salah satu kuda hitam, tetapi semuanya sirna ketika ada peserta wanita berambut hitam menyentuh angka 10.000. Yaitu batas daya sihir yang mampu diukur alat itu, para penonton membisu sekekita.


Peserta – peserta berikutnya biasa saja, sampai orang – orang mulai meninggalkan lokasi. Bahkan saat giliran Arya, tempat ujian sudah hampir kosong. Ia naik ke hadapan wakil Divina Academy sembari menunjukan hormat. Kepalanya dipenuhi pesan Ryan.


‘Arya? Jujur saja kau memiliki energi sihir diatas milikku, jadi tolong tahan dirimu jangan sampai terlalu berlebihan sehingga menimbulkan kecurigaan oke? 5000 sudah cukup. Ingat baik – baik!’


“Baiklah....pelan – pelan....aku past bisa” bisiknya lalu menempelkan tangan ke alat pengukur.


PRANK!!!


Benda itu hancur berkeping – keping, semua penonton membelalakan mata tak percaya. Ryan berdiri dari tempat duduknya dengan wajah pucat.

__ADS_1


‘Aku bilang tahan!? Bukan ditimbun!?’


__ADS_2