
“Jadi....karena insiden kemarin....kau sekarang memungut kucing sembarangan?” tanya Arya mengangkat sebelah alis.
“Miaw?”
Seekor kucing berwarna abu balik menatap Arya dari pelukan Amira, gadis itu cuma bisa tertawa karena tebakan Arya tepat sasaran. Dia menemukan binatang imut tersebut ditaruh pada kotak lalu diletakan di sebuah tanah lapang dekat rumahnya.
“Pemilik sebelumnya meninggalkan surat yang berisi tak mampu mengurusnya....”
“Terus....kenapa kau tidak merawatnya? Malah membawanya kepadaku?”
“A...ak...aku tidak tau cara memelihara kucing.....hehehe” Amira tersenyum polos.
“Hah....kau ini ya...., mau bagaimana lagi....”
Arya kemudian menempelkan dua jarinya dibibir, suara siulan lembut memenuhi udara. Kurang dari lima menit puluhan ekor kucing liar datang menghampiri mereka, mata Amira melebar tak percaya akan apa yang dia lihat.
“Kok....? Kok....? Kok....?”
“Sadarlah nona dan berhenti berkokok, kebetulan di sini banyak sekali berkeliaran. Sehingga akupun beberapa kali memberi makanan. Tanpa kusadari telah terkumpul sebanyak ini” begitu Arya duduk, kucing – kucing itu berebut naik kepangkuannya.
Amira tertawa geli ketika makhluk – makhluk berbulu halus tadi mengerumuni dirinya. “Hahaha....hei geli! Kenapa kau tak pernah bilang?”.
“Buat apa aku memberitahumu? Tinggalkan saja dia, mereka akan menjaganya untukmu”
Lokasi bukit tempat Arya dan Amira memang berada di tengah kota, namun banyak sekali pohon – pohon tinggi mengelilingi tempat tersebut sehingga membentuk hutan lindung versi kecil. Itulah yang dimanfaatkan oleh para kucing untuk bersembunyi dari petugas hewan liar.
Di masa depan, semuanya sudah berubah. Tak ada lagi batang – batang kayu tinggi menjulang, kucing – kucing malang tersebut entah pergi mengungsi ke mana. Akibat dari pembangunan besar – besaran Elemental City Park.
Pohon naungan Arya membaca juga tidak lepas dari tajamnya gergaji besi, tetapi tumbuhlah tanaman baru menggantikannya. Dan itu adalah Red Heart Kasturi tempat para Elementalist, Alalea, dan Eridan melihat kembang api sepuluh tahun dari sekarang.
------><------
Waktupun berlalu, tak terasa hubungan pertemanan Arya dan Amira sudah hampir satu tahun. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama di bukit kecil sampai mulai dihapal oleh penduduk sekitar.
“Memberi makan kucing lagi? Anak – anak baik”
“Hehehe iya, permisi kakek”
Tetapi perlakuan berbeda harus dirasakan pada saat sekolah, anak – anak masih takut serta bergidik seketika berpapasan dengan Arya. Nama Iblis Putih benar – benar telah melekat kuat, sejujurnya ia tak perduli sedikitpun.
Malah senang karena gangguan hidup berkurang, yang jadi masalah adalah Amira. Sebab selalu bermain bersama, teman – temannya agak bertambah ragu mendekati gadis itu. Aryapun menyarankan untuk membatasi pertemuan mereka, namun langsung ditolak mentah – mentah oleh Amira.
“Tidak mau! Kau mau mencampakkanku dan mencari teman baru ya?”
“Hah? Kau mendengarkan penjelasanku tidak sih?!”
Setelah berdebat sengit, Arya harus mengakui kekalahan. Amira terlalu keras kepala, sambil merayakan kemenangan dia menjulurkan lidah mengejek ke arah Arya.
“Aku bodo amat orang lain ingin bermain bersamaku atau tidak, yang penting Arya selalu bersamaku sudah cukup”
__ADS_1
“Hehh....aku yakin kau akan menyesali kata – kata itu suatu hari nanti” jawabnya memutar kedua bola mata malas.
“Lagi pula semua karena penampilan surammu! Sini biar kuperlihatkan kemampuanku dalam meremak”
“Hei!? Tunggu du—Jangan! Amira! Aku—Kya!!!”
------><------
Amira melongo ketika Arya memainkan seruling daun miliknya, mata si gadis berbinar – binar menandakan ketertarikan luar biasa. Arya menghentikan tiupannya sembari menatap agak ngeri.
“Ada apa?”
“Bisakkah kau mengajariku? Kumohon! Kumohon! Kumohon!”
“Tidak ah! Tidak! Pokoknya tidak mau! Kaukan—“
“Ayolah Arya! Jangan pelit begitu dong! Grrr!!! Hap!”
“Waaa berhenti menggigit tanganku gadis gila!”
Mau tidak mau akhirnya Arya mengabulkan permintaannya, baru dua hari mental Amira sudah ciut. Sementara Arya terus mengurut telinganya yang sudah terasa ingin mengucurkan darah. Alasan sederhana dia menolak mengajari gadis tersebut ya ini!, Amira buta nada.
“Sekarang puas? Maaf mengatakannya tapi kau tidak memiliki bakat dalam bermain alat musik”
“Humphh....!!!”
Selesai mendengar ucapan Arya, ia pergi dengan air mata menghiasi wajah. Arya hanya bisa menghela napas, cepat atau lambat Amira harus segera tau. Selama seminggu Amira menghilang seakan berusaha menghindarinya.
Suatu hari keduanya saling bersandar pada punggung masing – masing, membaca buku cerita koleksi Arya. Mungkin karena mengantuk, tanpa disadari ia pun tertidur.
“Hei Arya? Apa maksudnya—“
“Grook....hm....hm”
“Eh? Kau tertidur?!” Amira melirik bocah berambut putih tersebut, kemudian tersenyum dan mengelus kepalanya. “Asal dirimu tau, karena kemarin kau bilang aku tak memiliki bakat bermain musik. Aku putuskan belajar bernyanyi. Dalam seminggu, kutulis sebuah lagu. Maukah kau mendengarnya?”
Setelah berdeham beberapa kali, Amira menarik napas sebelum mulai bersenandung lembut. “Nanana....hmm....hmm....Hei?....di dunia berwarna – warni ini...., kebahagiaan itu masihlah ada......sambil...., jika bersama.....”
Suara indah Amira memenuhi udara, tiap melodi seakan memiliki makna tersembunyi yang begitu dalam. Napasnya memburu selesai menyanyikan lagu tadi, sebab belum terbiasa menggunakan teknik vokal dan juga masih berusia terlalu muda.
“Bagaimana menurutmu? Kau boleh menghapus air matamu kok, hihihi”
“Aku tidak menangis” sahut Arya pelan.
“Memang aku pernah bilang kau menangis?”
“Amira kau?!—dasar menyebalkan!”
“Begitulah perasaanku berbicara denganmu selama ini!”
__ADS_1
Ia sebenarnya sudah bangun sejak Amira mengaku kalau dirinya belajar bernyanyi satu minggu, niat Arya melindungi telinga nyatanya gagal, tak pernah dia sangka kalau gadis dibelakangnya memiliki kemampuan terpendam seperti itu.
“Hebat bukan? Lagu buatanku?”
“Biasa saja” Arya berusaha menyembunyikan gerakan tangannya.
“Dasar laki – laki yang tidak bisa jujur, nanti tak ada perempuan ingin menikahimu lho. Padahalkan aku sengaja membuatkan lagu untukmu”
“Berisik!”
------><------
“Hei Arya?”
“Hmm?”
Keduanya berbaring di rumput sembari memejamkan mata, merasakan hembusan sepoi – sepoi angin menerpa wajah mereka. Benar – benar kenikmatan dunia.
“Bagaimana pendapatmu tentang orang menyatakan cinta?” tanya Amira serius.
“Pendapatku? Kita masih kelas dua Sekolah Dasar, kau berharap aku menjawab apa?”
“Kalau aku bilang ada yang menyatakan cinta padaku?”
“Sungguh? Kuharap dia orang tabah, siapa?” Arya membuka sebelah mata.
“Kak Yusuf dari kelas 4-1”
“Ahh....dia? Orang baik, walau aku heran anak SD zaman sekarang memangnya bermain apa sampai menyatakan cinta bahkan sebelum berumur sepuluh tahun. Lalu? Jawabanmu?”
Arya mengenal Yusuf, dia adalah salah satu kakak kelas baik. Bahkan kepada anak berjuluk iblis putih seperti dirinya. Anak laki – laki itu memang memiliki wajah tampan, cerdas, juga atletik, wajar saja banyak yang menyukainya.
“Aku menolak”
“Kau pasti sudah gi—“
“Tentu aku waras!”
“Terus kenapa? Kesempatan tidak akan datang dua kali lho”
“Karena aku sudah menunggu....orang lain.....”
DEG! DEG!
“Eh? Siapa?”
Amira mulai bergerak, wajahnya makin dekat, makin dekat, dan terus mendekat. Sampai akhirnya hanya ada jarak beberapa senti memisahkan mereka.
“RA-HA-SIA” bisiknya lembut sebelum bangkit dan tertawa sendiri.
“Kan? Apa kubilang? Memang gila!” Arya memalingkan wajah sembari sekuat mungkin mengendalikan degup jantungnya.
__ADS_1
“Hahaha.....Arya bodoh! Hihihi liburan selanjutnya, mari kita pergi bersama ke Distrik Perunggu. Iya?”