Elementalist

Elementalist
Chapter 233 - Pengecut Bernama Manusia


__ADS_3

“Hah....hah...tolong....Ibu....Ayah....dimana kalian....hiks.....”


Seorang anak kecil berumur sekitar tujuh tahun berlari luntang – lantung diantara pepohonan dipenuhi perasaan cemas dan takut, beberapa sosok bayangan makhluk mengerikan membawa senjata terlihat mengikutinya. Suara tawa mereka layaknya para predator yang menikmati perburuan tersebut.


Meski kakinya lelah, si bocah tidak mau berhenti melangkah. Sebab dia tau sekali dirinya tersusul maka selesai sudah, namun tiba – tiba begitu sampai pada persimpangan jalan kelompok Goblin lain menyergap sehingga akhirnya ia dikepung oleh lusinan Demon bewujud iblis hijau menjijikan itu.



“Gyahahaha....makanan, daging manusia muda memang yang terbaik....”


“Hihihi....jangan lupa untuk membaginya secara merata sialan....”


“Ugh....kumohon....siapapun selamatkan aku....” rintihnya pelan.


“Waktunya mak—“


SYUU...!!! JLEB! BUKKK...!!!


“Eh?” gerombolan Goblin barusan mematung sesaat menyaksikan salah satu rekan mereka terbaring dengan sesuatu menancap sekitar ubun – ubunnya.


“Siapa!?—“


JLEB! JLEB JLEB!


Semua segera menoleh mencari si pelaku, tetapi tak berselang lama anak panah lainnya berhasil merengut nyawa lima anggota yang lengah. Masing – masing mendarat pada titik vital yaitu kepala, belum pulih atas serangan kejutan ini. Muncul orang bertubuh ramping berpakaian tudung misterius diantara celah para goblin dan anak sebelumnya.


“Maukah kau menutup matamu sejenak? Ini tidak akan lama....” bisiknya sambil tersenyum.


Sang bocah laki – laki tak pernah melupakan mata biru ataupun rambut pirang gadis penyelamatnya sampai hari dia menghembuskan napas terakhirnya, terutama dua telinga panjang yang menghiasi sisi kepala perempuan tersebut.


“Azuldria Sword Manner; Tobulas Ratas”



SRAAATT....!!!


Alalea mengayunkan pedangnya secara melingkar, cukup hanya memanfaatkan gerakan tadi sang Elf memenggal sisa – sisa goblin yang mengelilingi keduanya. Cipratan darah kental kemerahan disertai bau amis memenuhi udara, tanpa membuang waktu Alalea menggendong korban kemudian membawanya menjauh dari sana dengan melompati dahan – dahan pohon rindang.


Anak barusan perlahan membuka matanya usai diperintahkan oleh Alalea, Alalea cukup lega memperhatikan responnya biasa saja. Tidak takut maupun berteriak ngeri seperti beberapa orang dewasa yang dirinya evakuasi sebelum mencari di tengah hutan.


Kebanyakan Manusia langsung histeris waktu menyadari ia merupakan ras Elf, Alalea tak menyalahkan mereka. Bagaimanapun itu adalah reaksi wajar apalagi setelah tempat tinggal atau desamu diserbu makhluk – makhluk macam Goblin, Ghoul, serta Undeath.

__ADS_1


Pasti penduduk Distrik Perunggu menyimpulkan rasnya termasuk penyelundup, makanya Alalea meminta Pengawas Astral mengirim anggota Pusat Penlitian untuk meluruskan situasinya. Si bocah masih menatap wajahnya penuh rasa kagum sebelum menyeletuk pelan, “Kakak....cantik sekali....”.


“Hah?”


“Sungguh, ini kali aku pertama aku melihat perempuan secantik kakak. Maukah kakak menjadi pengantinku saat dewasa nanti?”


SRUKK...!!!


Alalea hampir terpeleset jatuh menghantam tanah bersama anak tersebut jika dia tak sigap menyeimbangkan tubuhnya terus lanjut berpijak pada batang tanaman berikutnya. Sang Putri Elf tidak menyangka kata – kata tadi akan muncul entah dari mana asalnya tapi sejujurnya ia lumayan senang mendengarnya.


“Ahahaha....terima kasih, namun maaf harus kutolak. Soalnya aku sudah mempunyai orang lain....” jawab Alalea ramah.


“Ehh....sayang sekali, pasti dia orang yang sangat beruntung....”


“Terlalu beruntung malah....” Alalea tertawa lemah.


------><------


Alalea mendarat mulus pada salah satu pohon tuk berhenti sebentar karena mendengar suara berisik tak jauh dari sana. Benar saja tidak berselang lama sebuah kendaraan berentuk truk pengangkut besar melintas, seorang gadis bertelinga kucing melambai penuh semangat kepadanya dari balik roda kemudi.


“Oiii....?! Putri Alalea....?”


“Nashumi? Bisakah aku menitipkan anak ini untuk dievakuasi bersama kelompokmu?”


“Kau bicara seolah tengah membawa barang dasar maniak mesin....”


Pintu kontainer akhirnya dibuka, beberapa pasang mata langsung menoleh waspada. Alalea bisa melihat jelas trauma dari cara pandang mereka, ia menurunkan anak itu dan menjelaskan kalau dirinya bakal diantar dengan aman juga nyaman sampai Distrik Perak jika ikut disini.


“RIKI!?”


“Hmm?”


“IBU!?”


Seorang wanita paruh baya keluar kerumunan kemudian cepat – cepat memeluk bocah yang dibawa oleh Alalea, warga – warga lain satu desa ikut menghampirinya. Kedua anggota keluarga tersebut menangis harus dapat bertemu lagi, selesai melepas rindu Riki menceritakan kisah bagaimana Alalea menyelamatkannya.


Semua ingin berterima kasih kepadanya, tapi sialnya waktu masing – masing hendak bicara. Tiupan angin kencang berhembus sehingga melepaskan tudung jubah Alalea terus mengakibatkan telinga panjangnya terekspos.


PLAK!!!


“Elf!?” gerakan bersalaman Ibu Riki berubah menjadi tamparan terhadap punggung tangan Alalea, dia segera menjauh sambil memeluk erat – erat anaknya. Kumpulan warga langsung melindungi mereka.

__ADS_1


“Eh? Ibu kenapa—“


“Sssshh....diam! Kamu tidak boleh dekat – dekat dengannya, para Elf itu—”


“Itu apa!? Kalian pikir pemimpin karavan kendaraan penyelamat ini juga Manusia hah!? Dasar tidak tau terima kasih....” Nashumi menggeram murka melihat kejadian tadi.


“Hiii...!!! Demi-Human!?”


“Nashumi?” tegur Alalea.


“Sudah – sudah ibu bapak sekalian, silahkan masuk kembali....” petugas Pusat Penelitian buru – buru mengambil alih.


Tepat sebelum pintu ditutup Alalea sempat melihat anak laki – laki bernama Riki tadi melambaikan tangan sambil tersenyum ke arahnya. Alalea membalasnya tanpa perasaan dendam, si petugas langsung meminta maaf bertubi – tubi penuh penyesalan.


“Mengapa respon para Manusia sangat berbanding terbalik sepertimu ketika pertama kali bertemu ya....?” gumam Alalea memandangi bekas tamparan sebelumnya, ingatan kejadian cukup lama melintas dalam benaknya.


‘Kau tau Alalea?’


‘Mmm....apa?’


‘Ras Manusia itu hanyalah kumpulan pengecut....’


“Bukan pengecut, kau saja yang aneh....dasar.....” akhirnya dia terkikik geli.


“Tuan Putri....”


Alalea menoleh kemudian menemukan pasukan pengawal keluarga Azuldria berlutut untuk melapor, mereka menjelaskan tugas yang baru diselesaikan. Alalea mengangguk lalu meminta seluruh anggota melanjutkan pekerjaan luar biasa tersebut namun usahakan untuk menyembunyikan baik identitas masing – masing.


Tidak sampai satu menit setelahnya, kelompok Werebeast berukuran kecil muncul mendatangi lokasi berkumpul itu. Pimpinan pasukan merupakan seekor tikus berbulu cokelat yang membawa busur panah.


“Tuan Putri Alalea? Nona Nashumi?” sapanya membungkuk sopan.


“Rattus? Ada apa? Bagaimana keadaan wilayah sekitar?”


Rattus bersama kelompoknya memang diberi arahan sebagai regu pengintai, ukuran mereka mempunyai kelebihan dalam bergerak di medan perang dan menyebarkan informasi kepada rekan – rekan lainnya. Kemampuan bertarung tikus – tikus ini pun tak boleh dianggap remeh.


“Nona Kizuna baru membersihkan bagian Utara, Nona Callista sedang mengejar musuh terakhir dekat sisi Timur, sedangkan Putri Diondra memimpin pasukan Witch sebelah Barat. Karena hampir selesai kita semua diminta mundur kembali menuju Distrik Perak....”


“Ahhh begitu, nampaknya kalian membutuhkan tumpangan. Naiklah, mari pergi bersama – sama....” Nashumi memberi perintah.


Mereka bergelantungan kepada sisi truk, berpegangan kuat – kuat sebab mempunyai pengalaman buruk jika ikut bersama kendaraan Nashumi. Benar saja si gadis kucing langsung tancap gas dan menyebabkan suara teriakan dimana – mana, Alalea menikmati angin yang menerpa wajahnya. Saat itu dia, Nashumi, Rattus, atau siapa saja tidak tau kalau semua ini adalah permulaan mimpi buruk bagi mereka.

__ADS_1


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2