Elementalist

Elementalist
Chapter 116 - Desa Tersembunyi


__ADS_3

“Tetete....kepalaku....heh? Di mana....?” ringis Arya sembari menggosok bagian tengkuknya.


Begitu mata birunya terbuka, ia disambut oleh jalanan sebuah desa kecil yang dipenuhi bangunan – bangunan pondok sederhana. Bingung, Arya cepat – cepat berdiri. Memperhatikan sekeliling sekali lagi sebelum memanggil Kizuna.


“Hmm? Di mana dia? Oi....rubah penakut....?”


“Olalala jarang sekali, kapan ya terakhir kali ada tamu datang kemari” suara berat membuat Arya menoleh.


‘Panda?’


“H..ha..halo, permisi Tuan. Aku dan temanku....”


Arya mulai menjelaskan keadaanya pada si Werebeast berwujud panda tersebut, makhluk itu mendengarkan sambil sesekali menghentakkan pancing miliknya ketika cerita sampai pada bagian menarik.



“Begitu rupanya, kalian pasti punya peruntungan yang bagus. Tapi....berhasil masuk ke dalam Kakkureta Mura bukanlah suatu hal lumrah, iyakan Hazu?” si panda melirik ke dahan pohon di sebelahnya.


Secara megejutkan perlahan muncul sesosok pria sepuh lain berkulit hijau, matanya kuning juga besar dan menonjol. Sedikit membikin Arya tidak nyaman melihatnya, ekspresi tertarik menghiasi wajah sang Werebeast bunglon.


“Aku pun kurang mengerti....tapi dia diberi izin masuk oleh kulit leluhur, lebih baik kau membawanya menemui Kimba saja Xiong”


“Eee....mau bagaimana lagi? Ikuti aku pria kecil” Werebeast panda bernama Xiong mengajak Arya pergi.


“T..ta..tapi temanku—”


“Serahkan padaku, akan kuawasi gadis itu” Hazu menenangkan.


“Terima kasih!”


Xiong kemudian membawa Arya ke salah satu pondok, nampak asap mengepul dari cerobongnya. Menandakan kalau si penghuni sedang memasak sesuatu. Tanpa basi basi Xiong menyingkap tirai dan memanggil dengan suara keras.


“KIMBA.......?! KAU ADA???”


“Xiong? Berapa kali harus kubilang untuk mengucapkan permisi jika masuk rumah orang”


“Ahahaha maaf – maaf kebiasaan lama kukuku”


Mata Arya takjub melihat pemandangan dihadapannya, seorang Werebeast singa putih sedang duduk menyilangkan kaki namun tubuhnya tak menyentuh lantai. Dia melayang bertopang pada ekornya saja.



Menyadari keberadaan Arya, pria tua bernama Kimba menanyakan lebih jauh persoalan kepada Xiong. Setelah selesai, panda bulat tersebut berpamitan ingin segera melanjutkan kegiatan memancingnya yang tertunda akibat bertemu Arya.


Arya meminta maaf sekali lagi karena telah merepotkan, Kimba menyodorkan semangkuk makanan untuk Arya, melihat keraguan anak itu. Sang singa tua mengatakan kalau sup ini dibuat dari ikan serta sayuran – sayuran di sekitar desa.


“Bagaimana? Kau suka?”


“Huum....enak!” Arya berharap bisa membagikan sebagian untuk Kizuna.


Begitu jamuan sederhana mereka berakhir, Kimba menjelaskan banyal hal kepadanya. Ternyata tempat ini adalah sebuah desa tersembunyi bernama Kakkureta Mura. Hanya terdapat dua puluh orang saja yang tinggal di sana.


Itupun sepuh – sepuh layaknya Kimba, Xiong, dan Hazu. Seperti Arya, mereka dulu pernah jatuh dari Great Whale Belly Ravine lalu tanpa sengaja menemukan lokasi ajaib ini. Karena terlanjur nyaman, kebanyakan memilih tinggal di Kakkureta Mura.


Perlahan tapi pasti jumlah penduduknya makin bertambah, Kimba menambahkan kalau tak semua orang bisa masuk ke dalam sana. Kabarnya hanya pemilik hati jujurlah yang mampu menerobos lapisan luar.

__ADS_1


Sebenarnya Kakkureta Mura berada di dalam tubuh hewan gaib bunglon raksasa, kulit transparan miliknya menyelimuti keseluruhan desa. Makhluk itu sudah mati entah berapa lama, tetapi hebatnya kekuatan magis miliknya tidak pudar dimakan waktu.


“Jadi alasan kakek bunglon tadi bilang leluhur karena....”


“Iya, Hazu percaya si hewan gaib adalah salah satu leluhurnya”


“Wahaha menarik sekali”


“Nak....tidak, Tuan Arya? Bisakkah Kimba tua ini meminta sesuatu?” tanya sang singa putih pelan


“Kenapa tiba – tiba....tentu, jika aku sanggup pasti akan kulakukan”


“Anda...seorang Manusia bukan?”


“Eh? Sejak kapan kau menyadarinya?” Arya sedikit terkejut.


Dari awal Kimba sudah tau kenyataan kalau Arya bukanlah Werebeast, juga bukan Manusia biasa. Ia memohon kepada anak itu sungguh – sungguh, bahkan terisak sedih. Untuk menjadi tempat pengakuan para penduduk Kakkureta Mura.


Arya diminta keluar pondok sebentar, betapa kagetnya dia melihat sekitar dua puluh Werebeast termasuk Xiong dan Hazu sudah bersujud ke arahnya. Kimba segera mengikuti yang lain, tangisan sedih memenuhi udara.


“S...se...semuanya kumohon angkat kepala kalian”


“Kami minta maaf atas segalanya”


“Tidak sanggup lagi hidup menanggung semua dosa ini”


“Ampun....ampuni....”


“Tolong berhenti, kita semua sederajat. Kalian tidak boleh bersujud kepadaku” kata Arya sambil cepat – cepat membantu para sepuh – sepuh berdiri.


“Aku tidak tau kalian meminta maaf atas apa tapi, jika kalian sudah menyesal dan berkomitmen tak akan melakukannya lagi itu sudah cukup. Berusahalah tebus dosa kalian dengan berbuat kebaikan”


“TERIMA KASIH TUAN”


“Ohh....tidak, jangan bersujud lagi!”


------><------


Kizuna melemparkan batu ke permukaan air sebelum duduk memeluk kedua lututnya, entah mengapa ia merasa kesepian juga ditinggalkan. Kesal, frustrasi, lelah bercampur menjadi satu.


“Hei Kizuna?”


“Ohh....ayolah! Sekarang aku bahkan mendengar suaranya di kepalaku”


“Oi?”


“Berisik! Kau ini mengganggu seka—WAA!!?”


Kizuna terjungkal kaget mendapati Arya sudah duduk di sampingnya, laki – laki berambut putih nan berantakan tersebut balik menatapnya heran seolah berkata ‘kau ini kenapa?’.


“S...se...sejak ka—b..ba..bagaimana kau—“


“Hihihi....kau mau?” Arya tertawa kemudian mengeluarkan makanan dari balik pakaiannya.


Bersamaan dengan Kizuna menyantap makanan yang dibawanya, Arya menceritakan semua kejadian hari itu. Awalnya tentu saja si gadis rubah tidak percaya, namun pembuktian Arya beberapa saat kemudian membuatnya terdiam.

__ADS_1


Sosok bocah menyebalkan tersebut menghilang lalu muncul secara terus menerus, ketika Kizuna berusaha menggeledah lokasi tempat Arya menghilang. Dia tak menemukan apapun selain udara kosong.


“Aku tidak mengerti cara kerjanya!”


“Orang – orang dari sana bilang kalau ingin masuk kau harus memiliki hati yang jujur dan bersih”


“Jujur?! Memangnya aku kurang jujur apa dari dirimu? Hmph!” Kizuna membuang muka sambil cemberut, berusaha sebaik mungkin menyembunyikan gerakan tangannya.


“Kau....benar – benar menangis sebab aku tinggal seharian ini?” tanya Arya jahil.


“Hah?! Enak saja! Kenapa aku harus melakukan itu hanya karena orang sepertimu! Mataku cuma kemasukan debu”


“Pembohong, mana ada debu di sekitar sini”


“Tidak”


“Bohong”


“Kubilang tid—“


“Semakin kau berbohong makin sukar pula dirimu untuk bisa masuk lho”


“H..HIK..HIKS...HUAA....IYA....! KAU PUAS?! TEGA SEKALI KAU MENINGGALKAN AKU TANPA BILANG APA – APA! DASAR JAHAT! BAGAIMANA KALAU MAKHLUK – MAKHLUK MENGERIKAN ITU KELUAR MENGEJARKU SAAT KAU TIDAK ADA! MENYEBALKAN! BODOH! UBANAN!!!”


“K...Ki...Kizuna? Iya – iya aku salah, tolong hapus air matamu”


Arya sebenarnya sudah tau kalau Kizuna sesedih itu ditinggalkan sendirian dari laporan Hazu, namun dia tidak pernah menyangka kalau gadis tersebut sungguh – sungguh akan menangis ketika digoda. Akhirnya dia terpaksa menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit menenangkan Kizuna.


“Jadi....apa kau punya sebuah keresahan terpendam? Siapa tau dengan mengeluarkan semuanya kau bisa masuk”


“Kau mau kembali ke sana?”


“Tentu, orang – orangnya baik. Mereka juga punya makanan dan tempat berteduh, tapi....kalau sampai kau tidak bisa ikut maka aku akan tetap di sini. Aku janji tak akan meninggalkanmu lagi” Arya menjulurkan jari kelingkingnya.


“Janji?”


“Huum”


“Janji jari kelingking, jika kau tidak menepatinya kau harus menelan seribu jarum”


“IYA-IYA”


“Pfft?!”


Melihat Kizuna bisa tersenyum lagi membuat Arya merasa lebih baik, perempuan itu memperbaiki cara duduknya sebelum menarik napas dalam – dalam. Keseriusan terlihat jelas pada wajahnya.


“Aku ingin mengatakan sesuatu, kau pernah menebak kalau busurku sangat berharga bukan? Memang benar, karena benda tersebut dibuat oleh ayahku dari batang pohon Golden Sakura berumur seribu tahun. Dia jugalah yang mengukir namaku di sana”


“Golden Sakura seribu tahun?! Ayahmu menjadikan tanaman berharga sebagai bahan dasar membuat busur?!”


“Iya, pohon itu milik ibuku. Ayahku hanyalah seorang Werebeast rubah gunung biasa, sedangkan ibuku merupakan Siluman Rubah Berekor Sembilan atau lebih dikenal dengan Hagoromo Gitsune”


“Apa?!”


“Karenanya, aku menjadi Mythical Werebeast alami pertama di dunia”

__ADS_1


__ADS_2