
“Ketemu!”
Seorang gadis berambut merah berlari menghampiri Arya, dia menatap heran sekitar karena ruangan singgasana Kruel sudah menghilang. Digantikan tempat yang hanya ada warna putih sejauh mata memandang.
“Hey!? Lihat aku kalau sedang bicara” protes gadis tadi mengembungkan pipi kesal.
“Ah? Maaf, aku cuma bingung kenapa bisa berada di tempat ini. Kau siapa?” Arya menggaruk kepalanya merasa sedikit bersalah.
“Kau tidak mengingatku?! Jahat sekali”
“A...ak...aku....”
“Ahahaha wajahmu sangat menggemaskan ketika cemas, tentu saja kau tidak ingat. Namaku Fragaria”
“Fragaria?”
“Iyap, dan aku akan menjadi yang pertama bagi—“
Tiba – tiba gerakan Fragaria berhenti sejenak waktu memegang kedua pipi Arya, kedua alisnya mengerut menandakan ia tidak senang.
“Ada apa?” tanya Arya ragu.
“Aura....beraninya dia mendahuluiku....” cahaya kemerahan memancar dari tubuh Fragaria ketika membisikkan kalimat tersebut.
Perubahan cepat ini mengakibatkan kepala Arya berdengung hebat, menyadari hal itu Fragaria segera menarik kembali kekuatannya.
“Maaf membuatmu kesulitan, aku hanya sedikit kesal. Tapi percayalah, aku sungguh senang bisa bertemu denganmu”
Selepas bilang begitu, si gadis berambut merah tanpa aba – aba langsung menempelkan dahinya pada Arya. Berikutnya yang Arya tau kepalanya sudah terbaring di pangkuan Callista, Kruel memandangi mereka tidak jauh dari sana.
“Bagaimana? Puas? Hah? Maksudmu apa Fraga? Dia sudah bertemu orang lain terlebih dahulu? Hei!?” Kruel berbicara pada diri sendiri sebelum memanggil Arya.
“Aku punya nama kau tau, bisakah digunakan dengan baik?” komentar Arya sambil bangkit berdiri dibantu Callista.
“Itu bukan hal penting sekarang, apa kau pernah bertemu gadis lain yang memiliki payung sepertiku?”
Arya berusaha mengingat – ingat sebentar perasaan deja vu sebelumnya, hatinya mencelos setelah kejadian Winter Hollow muncul kembali di benaknya.
“M?”
“Warnanya?”
“Jingga”
“Ck! Bocah merepotkan itu ternyata, kenapa kau bisa sampai lebih dulu bertemu dengannya sih?” Kruel menggertakan gigi.
Dia menghabiskan waktu mereka sambil terus mengomel untuk beberapa saat, setelah puas. Ia menghela napas sebelum duduk dan mengangkat sebelah kakinya.
“Apa kau sudah menceritakan semuanya Callista?”
“B..b..belum....” sahut Callista pelan.
Arya mendengar percakapan keduanya penuh perhatian, entah kenapa rasanya suasana tiba – tiba berubah mencekam. Senyuman lebar menghiasi wajah Kruel, Arya kemudian diberitahu mengenai syarat yang diajukan Kruel untuk membantunya pulih.
Callista terus bicara tanpa berani memandang mata pria di sebelahnya, Arya pun diam tak memberi tanggapan. Ekspresinya sulit dibaca.
“Jadi....b..be..begitulah ceritanya”
“Kau dengar? Dia menjualmu padaku” Kruel tertawa terbahak – bahak.
“Kenapa kau melakukan ini Callista? Pasti ada alasannya bukan?”
“Apa maksudmu? Tidak ada alasan apa—“
“Lalu kenapa tangamu tidak bisa berhenti gemetar?” tanya Arya datar.
Callista tersentak lalu cepat – cepat menggenggam kuat kedua lengannya, keheningan menyelimuti mereka cukup lama. Sampai akhirnya Arya menggaruk – garuk kepala sambil menarik keluar Mandalika.
“Mau bagaimana lagi?”
__ADS_1
“Apa yang hendak kau lakukan?” Callista menyipitkan mata waspada.
“Akan kurobek perutku disini sekarang juga” jawab Arya enteng.
“Apa!?”
Bukan hanya Callista yang terkejut mendengar perkataan itu, bahkan Kruel memberikan sedikit respon atas keputusan Arya. Ujung Mandalika sudah siap terarah tepat menuju badannya.
“Kau sudah gila ya!? Pikirkan dulu baik – baik sebelum bertindak!”
“Apa perdulimu? Bukankah kau sudah memberikan hak milikku padanya?”
“I...it...itu....” Callista kehabisan kata – kata.
“Dalam hitungan ketiga, satu....”
“Arya jangan berani – berani—“
“Dua....”
“Hei dengarkan—“
“Ti—“
“Hentikaannn!!!....kumohon....!!!”
Mata Arya dan Callista mengluarkan cahaya merah bersamaan, gerakan tangan Arya berhenti di tengah jalan seakan ada penghalang tak terlihat muncul begitu saja. Callista bergerak cepat menepik pedang pria itu.
“Bukankah sudah kuperingatkan? Kau tidak pandai berbohong, Nona” bisik Arya lembut.
“Bodoh....hiks.....kau.....hiks....benar – benar bodoh!” Callista memukul – mukul tubuh Arya dengan air mata berlinang.
Suara tepuk tangan pun mulai terdengar, Kruel bangkit dari singgasananya mendekati kedua anak muda tersebut.
“Kalian lulus, ikatan milik kalian terlalu kuat. Hak milikmu akan sulit dipindahkan oleh siapa saja, boleh aku tau kenapa kau mengambil keputusan seperti tadi?” Kruel melirik ke arah Arya.
“Karena....aku percaya padanya” jawab Arya tanpa keraguan.
“Terkadang waktu tidak menjadi patokan untuk mengetahui karakteristik seperti apa yang dimiliki oleh seseorang. Mungkin bisa dibilang kalau aku ini cukup berbakat dalam menilai orang lain”
“Heh....tapi itu belum cukup, tidakah kau memikirkan alasanku menolongmu walau tidak mendapat hak milik?”
“Sepertinya aku tau kenapa”
“Hmm? Beritahukan padaku”
“Rahasia hehehe”
‘Anak ini....!? Benar – benar mirip seperti orang itu....’
“Dasar bocah tengik” Kruel meggerutu kesal.
Akhirnya Arya memutuskan kembali ke kamar untuk memulihkan kondisi tubuhnya, hanya meninggalkan Kruel dan Callista di ruangan tadi.
“Kau pasti tidak menyangka dia akan memberikan jawaban yang sama persis seperti milikmu, eh?” celetuk Kruel melirik gadis remaja di sebelahnya.
Callista cuma diam, berusaha menerka – nerka kenapa Arya bisa sangat mudah mengatakan percaya kepadanya. Orang asing yang membuatnya harus mengorbankan nyawa dengan datang ke Dark Side, sebuah kata – kata dari ibunya ketika sebelum meninggal terngiang di benak Callista.
‘Ibu aku akhirnya menemukannya....orang yang berharga bagiku....’
------><------
Beberapa hari berlalu, Callista sepertinya mendapat latihan khusus dari Kruel. Sementara itu Arya sedang berusaha menghubungi Elemental City untuk memberitahukan kalau misinya telah selesai.
Pesan balasan mengatakan butuh persiapan beberapa waktu lagi sebelum bisa membawa pulang Arya ke Elemental City. Orang – orang sedang berusaha keras mengidentifikasi koordinat miliknya, hal ini menyebabkan ia tidak punya pilihan selain berlatih.
Arya merasakan sendiri tubuhnya mengalami ketidakstabilan setelah menjadi Blood Servant Callista, seperti ada sesuatu yang bergejolak di dalam tubuhnya. Memaksanya sesering mungkin melakukan meditasi.
‘Ayah....jika seperti ini terus....’ Efbi menggertakan gigi.
‘Kau harus menstabilkan kondisi tubuhmu seperti semula Arya’ tambah Safira.
__ADS_1
‘Tuan? Anda tidak apa – apa?’ Mandlika bertanya khawatir.
“Tenang saja....tolong, kuatkan kekangan kalian....argh.....!!!”
Mata Arya mengeluarkan cahaya terang sebelum akhirnya terbaring lemas di lantai. Tanpa disadari, sejak tadi Kruel memperhatikannya dari mulut pintu kamar. Perempuan tersebut menggerakan jari telunjuknya sebagai tanda Arya harus ikut.
“Eee....ngomong – ngomong Kruel? Kita mau kemana?”
“Dimana sopan santunmu? Panggil aku Nona” tegur Kruel tegas.
“B..b..baik Nona Kruel!”
“Tidak enak didengar, panggil aku menggunakan nama saja”
“Apa?!”
Kruel tertawa setelah menjahili Arya, dahi Arya berdenyut – denyut kesal karena merasa dipermainkan. Akhirnya sebuah ide muncul di kepalanya.
“Bolehkah aku menanyakan sesuatu?”
“Hmm? Apa? Katakan saja”
“Kudengar kau sepantaran dengan Kris, bukankah itu berarti umurmu—Ekh!?“
“Lanjutkan kalimatmu tadi dan kupastikan kau akan menyesal” ancam Kruel mengarahkan ujung payung merah miliknya ke leher Arya.
Mereka tiba pada sebuah balkon yang mengarah ke hutan. Kruel mempersilahkannya duduk di salah satu kursi tempat itu.
“Aku memanggilmu kesini demi memperingatkanmu untuk sebisa mungkin menjauhi Arcenciel Witch lainnya”
“Kenapa?”
“Apa kau tidak mendapat kesan seperti apa perempuan – perempuan tersebut setelah bertemu denganku?” Kruel mengangkat sebelah alisnya tak percaya.
“Eee....tidak biasa mungkin....” ujar Arya ragu.
“Begitulah, masih untung aku berbaik hati menolongmu dan Callista. Jujur saja kalau mau, aku bahkan bisa membunuh kalian hanya dengan mengangkat satu jariku” Kruel menguap.
“Selemah itukah aku di matamu?!”
“Benar, tapi aku tidak bisa memprediksi perkembanganmu kedepannya. Pokoknya jauhi mereka, lagi pula hubungan kami para Seven Arcenciel Witch tidak pernah baik dari dulu”
“Bisakkah kau memberitahuku kemungkinan lokasi mereka? Sehingga aku bisa menghindar semampuku” pinta Arya.
“Hah....kau harus tau, tujuh pemilik Miracle Iris Catra memilki satu kesamaan. Kami tidak suka diatur, jadi biasanya tak pernah berdiam di satu tempat. Tapi seingatku, warna hijau berkeliaran di wilayah Elf, biru berada pada kedalaman laut Timur, dan jingga sudah kembali ke ras Witch. Sisanya aku tidak tau di mana”
“Apa maksudmu Green Witch adalah seorang Elf?”
“Hah....jangan bahas, aku tidak menyukainya. Oh iya! Aku lupa ada satu hal lagi, bukankah warna ungu ada pada Manusia?” gumam Kruel menatap mata Arya.
“Sungguh? Aku tidak pernah mendengarnya”
“Hah? Tapi seingatku pemilik payung ungu itu Julia”
“Julia?” ulang Arya sambil memirngkan kepala.
“Heem, Julia Black”
TING!
Arya bangkit berdiri setelah mendengar perkataan Kruel, dia akhirnya tau. Itulah alasan mengapa Venna berkelana keliling dunia mencari sesuatu, ia mencari payung ungu milik gurunya. Dan mungkin berniat memberikan benda tersebut pada Zayn.
Author Note :
Hebatnya lagi, Fragaria berada di urutan pertama (kakak tertua) dari warna - warna lainnya. Hal ini yang menyebabkan dia kesal karena didahului oleh Aurantiaco. Alasan utama mengapa Kruel begitu disegani oleh banyak orang. Tapi....sebenarnya apa tujuan kedua Miracle Iris Catra menampakan diri di depan Arya?
Oh iya btw film Joker keren bgt, recommend pokoknya buat yg blm nonton. Tapi tolong sesuaikan umur ya...! (I hope my death will make more cent than my life) -Joker-
NB : Syarat jumlah like masih berlaku!
__ADS_1