Elementalist

Elementalist
Chapter 250 - Munafik


__ADS_3

“Baiklah sudah diputuskan, kami akan menyebrang ke sana. Hmm? Lihat siapa yang datang?”


Stickman bersama para pengikutnya menoleh menuju pintu masuk Distrik Emas dimana Arya dan teman – temannya baru saja tiba. Ia nampak pucak serta kesulitan berjalan hingga dibopong oleh Zayn juga dibantu oleh Timothy.


Tatapan sinis mengikuti langkah mereka, ketika Arya tengah berusaha membaca situasinya ternyata semua itu tidak perlu karena Stickman langsung secara terang – terangan memberitahukan kalau penduduk – penduduk Elemental Ciity cerdas akan bergabung dengan musuh lalu berlindung pada bayangan Louis sampai perang selesai.


Atau dapat dibilang kematian Sepuluh Elementalist, mendengar pernyataann tersebut tentu menyebabkan kemarahan dalam kelompok pendukung Arya kemudian hampir menimbulkan kericuhan sekali lagi tetapi dia segera memutuskan angkat bicara.


“Silahkan lakukan semau kalian....”


“Eh? Kau tak berusaha menghentikan kami?” celetuk Stickman kebingungan.


“Buat apa? Bukankah mempunyai mata saja sudah cukup untuk menjadi alasan kalian memilih pihak seberang? Jika berpatokan kepada akal sehat....”


“Hehehehe....lihat?! Bahkan Ketuanya sendiri berkata demiki—“


“Tunggu sebentar, jangan salah sangka. Aku tidak pernah bilang akan membiarkan orang – orang yang membela kami mati, kalau perlu nyawapun siap kupertaruhkan....”


“Maksudmu?”


“Kalian belum pernah melihat Elementalist bertarung serius bukan? Menghentikan jatuhnya Elemental City belum apa – apa, kami siap bertarung hingga titik darah penghabisan. Dan kalau semisal kita yang keluar sebagai pemenang bagaimana?” Arya menatap tajam disusul menyalanya sembilan pasang mata rekan – rekannya, kedua pupil mereka mengeluarkan cahaya terang.


Muncul ekspresi keraguan dalam kelompok Stickman usai mendengar percakapan barusan, namun ia buru – buru mengingatkan teror pengumuman Louis sebelumnya dan ikut menerangkan tenaga para Elementalist seharusnya terkuras cukup banyak akibat insiden penyelamatan sehingga mustahil meladeni Fatum.


“Keparat tengik ini....!? Dibiarkan semakin melunjak....!!!” geram Kevin hendak maju tapi pundaknya cepat digapai oleh Arya.


“Kau benar – benar orang yang memuakan ya?”


“Hah!? Kenapa tiba – tiba Elementalist terhormat sepertimu menghinaku?”


“Hehehe masih berani bertanya? Tentu karena sejak awal kau memang sudah bersekongkol dengan mereka....”


“Apa!? Dasar tukang fit—“


“Kalau begitu sekarang coba jelaskan kepadaku? Bagaimana bisa terdapat ratusan bahkan ribuan lingkaran sihir teleportasi di Elemental City dari Distrik Perunggu, Perak, sampai Emas pada masa pemerintahanmu dan kau bahkan tidak mengetahuinya sama sekali?”


“I...it....itu....” Stickman memucat sambil terbata – bata mencari jawaban.


“Sebab sejak awal kau memang bekerja sama dengan Sioul atau Louis, alasan Elemental City jatuh bukan Fatum melainkan kau sendiri Tuan Wali Kota....”


“Pembual!? Mana buktinya!?”

__ADS_1


Beberapa individu yang tercerahkan memutuskan meninggalkan barisan Stickman sementara sisanya terlihat ragu, dia terus menggerung seperti orang gila demi meyakinkan pengikutnya sampai akhirnya memimpin mereka meninggalkan lokasi.


Saat berpapasan Arya dengan cepat menarik lengannya hingga posisi keduanya sejajar, Arya mendekati telinga pria itu lalu berbisik pelan, “Wali kot—tidak, Stickman? Sebaiknya kau berdoa kami binasa karena kalau tidak di kesempatan berikutnya kita bertemu akan kubuat kau membayar semuanya menggunakan lehermu....”.


Arya memancarkan aura haus darah teramat pekat namun cuma dirinya tunjukkan ke Stickman sehingga orang lain bahkan teman – temannya tak merasakan apa – apa, warna wajah Stickman berubah layaknya susu basi.


Sambil bermandikan keringat dingin dia berjalan cepat agar tidak seorang pun mengetahui celananya basah akibat mengompol, Arya meminta orang – orang Pusat Penelitian membuat post penjagaan untuk mengawasi kepergian kelompok yang ingin bergabung bersama Fatum dan mengevakuasi warga – warga sipil yang menetap.


Dia terus menghubungi Kesepuluh Pengawas Ujian agar mereka menyiapkan rapat nanti malam demi membahas topik strategi pertempuran besok hari, sampai matahari hampir terbenam barisan panjang tercipta membelah Elemental City.


Seluruh gerbang Distrik dibuka agar siapa saja bisa leluasa pergi, mereka berangkat menuju pasukan gabungan Fatum sembari membawa harta masing – masing. Sudah tak memperdulikan nasip rumahnya yang sebentar lagi akan menjadi medan perang, Arya menyaksikan semuanya dari atas dinding Perunggu terluar.


“Pada akhirnya kita terpisah dari orang – orang munafik....” ujar Kevin datar, matanya terkunci kepada rombongan keluarga angkatnya.


“Hahahahaha....”


“Hmm? Kenapa kau tertawa Kapten?”


“Tidak....hanya saja perkataanmu tadi sedikit lucu bagiku”


“Kok begitu?”



------><------


“Hmm....? Yo? Kau datang cepat sekali?”


Arya yang tengah menuangkan sesuatu ke dalam kuali besar di hadapannya menoleh menyadari kedatangan Alalea, sudah ada dua tungku sederhana siap dengan berbagai peralatan memasak juga makan. Tapi nampaknya gadis itu tidak terlalu perduli dan hanya melintas saja menuju tepi dinding perunggu.


Arya merasa ada hal aneh pada perempuan tersebut sehingga buru – buru menutup masakannya lalu menghampiri Alalea, pandangannya masih terpaku kepada perkemahan pasukan Fatum di kejauhan.


“Ada sesuatu menjanggal pikiranmu?” tanya Arya setelah duduk disampingnya.


“Kenapa kau masih bersikap santai begitu?”


“Hah?—“


“HARUSNYA KAU MARAH!? MEMBENCIKU!? MENYANDERA!? ATAU PALING TIDAK MENGUSIRKU DARI SINI!?” Alalea tiba – tiba meledak hebat.


Dia perlahan mulai mengutarakan betapa merasa bersalahnya dirinya ketika menyaksikan barisan ras Elf dalam prajurit musuh, bagaimana ia kecewa atas dilanggarnya janji perdamaian antar mereka yang telah disepakati oleh neneknya saat Arya mendatangi Fairy Forest dulu.

__ADS_1


“Kenapa....hiks....kau masih baik kepadaku?” isaknya berurai air mata.


“Sudah puas?”


“Ugh....hiks....”


“Hah....kau ini aneh sekali....” akhirnya Arya menghela napas panjang.


“Apa!?—“


“Kau anak perempuan dan cucu mereka tidak sih? Bagaimana mungkin kau tak mempercayai ibu serta nenekmu?”


Arya menjelaskan kalau perjanjian damai Ratu Diana itu sejak awal mengalami banyak penolakan dari pihak Elf, lagi pula jumlah pendukung Pax jauh lebih sedikit ketimbang Fatum. Wajar jika kejadian layaknya sekarang dapat timbul, Arya juga memberitahu kalau dia tak merasakan hawa kehadiran Diana atau Azalaea sehingga ada kemungkinan keduannya ditawan entah di mana.


“Tapi....bukankah berarti semua perjuanganmu dulu menjadi sia – sia?”


“Entahlah, namun cukup adil menurutku sebab kita bertemu kemudian menjadi teman sampai saat ini....”


“Eh?”


“Kalau saja aku bersama Rena tak pergi ke Fairy Forest mungkin momen pertama kali kita bertatap muka adalah medan perang....” kata Arya santai sembari menatap langit berbintang diatas kepala mereka.


Alalea terdiam beberapa saat memikirkan segala percakapan barusan, ketika ia hendak menyentuh pakaian Arya suara berisik dari belakang mengakibatkan dia mengurungkan niatnya dengan wajah dihiasi urat saraf menegang.


“Uban-san!?” Ryan memanggil penuh semangat.


“Wahh....!? Baunya enak sekali!!!” ujar Lexa ditemani Pinka mendekati dua kuali diatas tungku sambil meneteskan air liur.


“Ahh...semua sudah datang ya?”


Arya bangkit berdiri menyambut yang lain kemudian meninggalkan Alalea sendiri, si Putri Elf memijat – mijat keningnya sedikit menyesali betapa lambatnya ia bereaksi dan mengambil tindakan. Namun tanpa dia sadari ternyata Asuna, Selena, Elizabeth, Callista, Kizuna, serta Nashumi telah mengelilinginya.



“Kau tidak mungkin berharap dibiarkan lebih dari itu bukan?”


“Dasar para penguntit dan perusak suasana sialan....” umpatnya jengkel.


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.

__ADS_1


__ADS_2