Elementalist

Elementalist
Chapter 42 - Panggilan Konyol


__ADS_3

"Aku merasa useless"


Itu adalah kata-kata yang keluar dari mulut Shu sambil terus menatap kosong ke pojok ruangan, Arya berusaha untuk mengerti bagaimana perasaan gurunya itu. Mungkin jika muridnya kelak melakukan hal yang sama padanya, bisa saja dia akan merasa lebih frustrasi lagi.


Shu menghela nafas kemudian memerintahkan Astral untuk mengeluarkan sebuah manusia kayu yang biasa mereka gunakan sebagai target saat latihan. Shu memasang kuda-kudanya sambil menatap manusia kayu itu tanpa berkedip.


"Teknik Pedang Aliran Perguruan Shu, Kamaitachi!"


Arya tidak tau bagaimana dengan yang lainnya, tapi yang bisa dia katakan dengan pasti hanyalah ia mampu melihat separuh gerakan awal dan separuh gerakan akhir dari teknik tersebut. Arya memperhatikan mata Elementalist lainnya melebar ketika manusia kayu itu seakan menghilang dari tempatnya yang seharusnya.


Dia punya firasat bahwa pengelihatan mereka tidak bisa melihat sedikitpun gerakan yang dilakukan Shu barusan.


"Manusia kayunya....hilang?" kata Timothy dengan mulut ternganga.


"Bukan...., hanya saja...." Arya segera mendekati tempat seharusnya manusia kayu itu berada. Ia menempelkan tangannya ke lantai kemudian meniup telapak tangannya.


"Dia melakukan tebasan entah berapa kali pada satu titik target. Sampai-sampai targetnya hancur menjadi debu, ini adalah tenknik Kamaitachi yang sebenarnya" sambung Arya.


Benar saja, dari telapak tangan Arya mereka bisa melihat debu-debu berterbangan setelah ditiup. Seketika itu juga mereka semua menelan ludah.


"Aku tidak akan pernah mengganggu Kapten lagi, aku tidak akan pernah mengganggu Kapten lagi" gumam Timothy pelan sambil terus mengulangi kata-katanya.


"Tapi....bukannya dia hanya menggunakan pedang kayu?" ujar Asuna bingung.


"Iyap, begitulah. Bayangkan saja jika dia menggunakan pedang sunngguhan hasilnya akan seperti apa" balas Arya mengingatkan.


"Aku tidak percaya pernah bertahan dari teknik itu" celetuk Zayn menggelengkan kepalanya.


"Hahaha sudah kubilangkan teknik itu belum sempurna, jadi dampak tekniknya masih melebar kemana-mana" jelas Arya sambil tertawa canggung.


"Arya?" panggil Shu.


Arya langsung berdiri dan menghadap sambil menjawab "Iya, Master"


"Jika kau benar-benar ingin menguasai Kamaitachi, aku akan mengajarimu"


"Sungguh?"


"Iya, tapi setelah kau memiliki ketiga atribut Elementalist. Jadi sampai saat itu tiba, jangan pernah menggunakan teknik asal-asalan seperti itu"


Arya hanya bisa menyetujui hal itu sambil memberi hormat padanya.


"Baiklah kalau begitu—"


"Shu....?!"


"A...ad..ada apa lagi Bianchi?!" jawab Shu terbata-bata.


"Sekarang kita semua taukan dalang dibalik semua ini? Seorang guru yang hanya ingin terlihat keren di depan muridnya dengan menunjukan teknik rahasia. DAN UNTUK APA KAU MENUNJUKAN TEKNIK ITU LAGI DI TEMPAT INI JIKA KAU INGIN MELARANGNYAA HAH?! DASAR—"


"TOLONGG....!!! BIANCHI MENGGILA! OI?! GIO! JERRY! JANGAN HANYA DIAM SAJA DISITU!!!" teriak Shu sambil melesat dengan kecepatan tinggi keluar ruangan.


Dia segera disusul oleh Pengawas Bianchi yang sedang menggemertakan buku-buku jarinya. Arya merasa wibawa yang berusaha ditunjukan oleh Shu telah hancur saat itu juga.


"Bagaimana latihanmu?" tanya Lee padanya tanpa terlihat memperdulikan kalau nyawa kawan lamanya sedang terancam.


"Eee...itu....akhir-akhir ini aku lebih banyak menggunakan pedang, jadi aku jarang berlatih" jawab Arya hati-hati.


"Mmm....jarang berlatih ya?"


Tanpa diduga Lee dengan cepat melayangkan sebuah tendangan yang mengarah tepat ke kepala Arya. Arya menggunakan kedua tangannya untuk menahan tendangan keras itu, sampai-sampai kedua tangannya terasa kebas.


"Refleksmu masih bagus seperti biasanya walaupun jarang berlatih, kau tau konsekuensinya jika kau jarang berlatih bukan?"


Tidak ada satupun dari mereka yang ada di tempat itu melihatnya, tapi Arya bisa memastikan beberapa saat kemudian ia merasakan tiga tendangan bertubi-tubi mendarat diperutnya. Ia terpental jauh sampai menabrak dinding ruang latihan.


Belum sempat Arya pulih dari serangan tersebut, hanya dengan satu langkah. Lee berhasil menyusul kemudian melayangkan tendangan berikutnya.


Arya berhasil menghindari tendangan itu tepat waktu, tendangan itu membuat dinding yang terkena melesak ke dalam dan menyebabkan ruangan itu bergetar cukup hebat.


"Oi...oi....kami baru saja ditegur karena terlalu berlebihan" seru Arya sambil tersenyum lemah.


Lee hanya diam dan membalas senyum itu dengan santai.


"Aku sudah menyadarinya dari dulu, walaupun Master Shu itu berisik dan menyebalkan. Master Lee jauh lebih menyeramkan" ujar Arya bersiap.


"Terimakasih atas pujiannya"


-----------------------------<<>>-----------------------------


Keesokan harinya Arya meringis pelan di kamarnya saat berusaha mengenakan pakaian. Tubuhnya dipenuhi memar akibat dihajar habis-habisan oleh Lee kemarin, untungnya hal itu sedikit terobati saat Allucia menegur Lee karena membuat Arya terluka dan akan menyebabkan dirinya repot untuk mengobati Arya.


Berlin juga memberi teguran pada Lee karena membuat beberapa bagian ruang latihan rusak yang menyebabkan Berlin harus memperbaikinya. Lee hanya diam dan menerima teguran mereka tapi dengan ekspresi tidak menyesal sedikitpun.

__ADS_1


Setelah berpakaian dan membawa beberapa barang yang penting, dia segera meninggalkan asrama laki-laki. Tanpa diduga ia bertemu dengan Asuna yang sedang duduk sendiri pada tangga yang menjadi jalan masuk asrama perempuan.


"Mau kemana kau?" tanya Asuna curiga.


"Permukaan" jawab Arya sambil menunjuk ke atas.


"Untuk apa?"


"Aku ada janji untuk bertemu seseo—"


"Siapa?!" potong Asuna cepat.


"Seseorang dipermukaan bersama Pengawas Astral, kau puas?!" seru Arya kesal.


"Ohh...."


Asuna kemudian tidak mengatakan apa-apa lagi dan membiarkan Arya pergi dari tempat itu setelah interogasi tidak penting yang baru saja dia lakukan.


"Ada apa sih dengannya?! Untuk apa dia curiga seperti itu?" batin Arya.


Akhirnya dia bertemu dengan Astral di ruangannya, Astral sedikit heran dan menanyakan kenapa Arya memasang wajah masam. Arya hanya menjelaskan kalau dia baru saja diinterogasi sebelum sampai ditempat ini dengan selamat.


Mereka berdua akhirnya berangkat menuju tempat tujuan, dalam perjalanan Astral mulai memberitahukan kemana mereka akan pergi dan siapa yang akan mereka temui.


Arya akhirnya mengetahui kalau mereka sedang menuju Gedung Pusat Pemerintahan di Distrik Emas untuk menemui Wali Kota Elemental City. Wali Kota Elemental City adalah orang yang bertugas mengatur dan mengambil kebijakan keputusan di tempat ini.


Bisa dibilang Wali Kota itu seperti pemimpin umat manusia. Saat ini Wali Kota Elemental City dijabat oleh pria bernama Richard Stickman, dia adalah orang ketujuh yang menjabat sebagai Wali Kota. Arya beberapa kali melihatnya di surat kabar maupun televisi.


Sejujurnya Arya tidak terlalu menyukai pria itu, menurutnya orang itu hanyalah laki-laki bodoh yang tamak atas kekuasaan. Dia hanya sibuk melakukan kampanye agar bisa terpilih lagi menjadi Wali Kota dari pada mengurus rakyat.


Kalau bukan karena ajakan Astral, ia tidak akan sudi bertemu dengannya. Dan itu benar adanya karena beberapa kali Pak Hartoso selalu mengajaknya untuk bertemu sang Wali Kota tapi ia selalu menolak.


Akhirnya mereka tiba di Gedung Pusat Pemerintahan, keduanya melapor pada resepsionis kemudian diantarkan ke sebuah ruangan tempat menunggu kedatangan Stickman. Mereka berdiam disana sekitar dua setengah jam, saat kesabaran Arya mulai habis. Akhirnya seseorang memasuki ruangan.


Seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih tersenyum kepada mereka, Arya memalingkan wajah sesaat karena merasa muak dengan orang itu.


"Maaf membuat kalian menunggu, banyak urusan yang harus aku lakukan" ucap Stickman sambil menjabat tangan Astral.


"Tidak apa Pak, kami bisa memakluminya" jawab Astral lembut.


"Aku tidak" celetuk Arya pelan sehingga hanya Astral yang bisa mendengarnya.


Astral dan Stickman kemudian berbicara, inti dari pembicaraan mereka adalah sudah sampai mana persiapan dari para Elementalist saat ini. Tapi hal yang Arya bisa tangkap dari perkataan Stickman hanyalah, dia ingin para Elementalist ditunjukan pada dunia saat dia masih menjabat sebagai Wali Kota.


Saat mereka asik berbicara tiba-tiba seseorang memasuki ruangan, seorang pria dengan rambut putih sepinggang terkejut melihat ada orang di ruangan itu. Dia mengenakan kacamata dan jas penelitian berwarna putih.



"Ahh maaf, aku tidak tau anda sedang ada tamu Pak" katanya cepat sambil bersiap pergi.


"Tak apa, kemarilah. Kenalkan mereka berdua ini adalah orang-orang dari Pusat Penelitian"


Pria itu kemudian mendekat dan berjabat tangan dengan Astral, dia memperkenalkan dirinya sebagai ilmuan bernama Sioul van Laag. Saat giliran Arya berjabat tangan dengannya, Arya menjulurkan tangan dengan cuek.


Tepat saat kulit mereka bersentuhan, mata Arya melebar. Dia merasakan seluruh bulu kuduknya berdiri. Dengan terburu-buru ia menarik tangannya, Sioul hanya tersenyum dan segera pamit dari ruangan itu.


Setelah urusan mereka akhirnya selesai dan mereka meninggalkan tempat itu, Astral akhirnya menanyakan kondisi Arya. Karena sejak berjabat tangan dengan Sioul, dia terus melihat telapak tangan kanannya yang terus bergetar tanpa henti.


-----------------------------<<>>-----------------------------


"Aku tidak percaya kau mengatakan hal itu!" bentak Selena kesal sambil mendekat ke arah Asuna.


"Ini bukan urusanmu!" hardik Asuna sama kesalnya.


"Bisakah kau setidaknya memikirkan perasaan Rena sebelum kau berbicara?!"


"Sudah kubilang ini bukan urusanmu! Aku hanya tidak ingin berbohong pada Rena, menyingkir!" jawab Asuna sinis lalu segera keluar ruangan.


"Tidak apa-apa Selena, aku mengerti perasaan Asuna" seru Rena menenangkan kemudian segera menyusul Asuna keluar ruangan.


"Ukhh....aku tidak mengerti apa yang ada dipikiran mereka" keluh Selena dengan kepala berdenyut.


"Aku sih mengerti bagaimana perasaan mereka" celetuk Elizabeth cuek dan dengan santai melangkah keluar ruangan.


"Bagaimana denganmu Lexa?" tanya Selena melirik orang terakhir yang belum keluar ruangan.


"Mmm....percayalah aku sama tidak mengertinya denganmu Sel, tapi....."


"Tapi?"


"Aku punya firasat kalau aku akan segera mengerti hehehe" ujar Lexa yang akhirnya juga melangkah meninggkalkan ruangan.


"Hah....aku tidak pernah mengerti isi kepala para gadis di tempat ini" bisik Selena lelah.

__ADS_1


-----------------------------<<>>-----------------------------


Sepulang dari berpergian dengan Astral, Arya segera kembali menuju asrama laki-laki. Ia menguap serasa ingin sekali untuk beristirahat, tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara dari ruang latihan. Diapun mengintip dari celah pintu yang terbuka.


Dia melihat Lexa berdiri disana sendirian dengan menggunakan sebuah penutup mata, Ia mulai menggerakan badanya secara perlahan. Lexa melakukan beberapa gerakan tinjuan dan tendangan dengan sangat cepat.


Hal itu membuat Arya terpana dan diapun akhirnya memasuki ruang latihan tanpa ia sadari, Arya baru tau kalau Lexa mempelajari ilmu bela diri seperti itu. Saat dia sedang asik menonton, tiba-tiba Lexa menghentakan kakinya.


Sebuah bongkahan batu cukup besar terangkat dari tanah, kemudian dia menendang batu itu ke arah Arya. Dengan sigap Arya membekukan batu itu sampai hancur berkeping-keping.


"Siapa disana?" tanya Lexa sambil mengintip dari balik penutup matanya.


"Maaf, apa aku....mengganggu latihanmu?" jawab Arya cepat.


"Ahh....Aru? Kau harusnya berbicara lebih cepat sehingga aku tidak perlu menyerangmu" kata Lexa tersenyum manis.


"Lexa....? Berapa kali aku bilang namaku Arya" ujar Arya lelah.


"Mmm...tapi lebih enak dipanggil Aru" balas Lexa cemberut.


"Hah.....sudahlah lupakan, apa kau mempelajari bela diri tangan kosong?"


"Begitulah, aku jadi gatal ingin berlatih saat melihatmu dihajar Mastermu waktu itu hahaha"


"Ugh....tolong jangan ingatkan aku, mendengarmu mengatakan itu saja tubuhku sudah terasa pegal"


"Tapi enak ya? Memiliki teman berlatih tanding" Lexa tertunduk lesu.


Arya sedikit merasa iba melihat ekspresi gadis itu.


"Hey, bagaimana kalau kita berlatih tanding?" tawar Arya.


"Sungguh?! Aku baru saja mau menanyakan hal itu" jawab Lexa antusias.


Mereka berdua akhirnya memasang kuda-kuda, Arya menggerakan tubuhnya yang masih agak kaku akibat terluka kemarin.


"Baiklah ayo kita mu—"


Belum selesai Arya berbicara, pukulan Lexa sudah tepat berada didepan hidungnya. Dengan kecepatan maksimal Arya segera menendang lengan Lexa sehingga pukulan itu terhempas ke arah atas. Arya kemudian membuat jarak lagi dengan wajah waspada.


"Aww....aww....tendanganmu itu keras sekali Aru" komentar Lexa sambil menggoyang-goyangkan tanganya yang baru saja ditendang oleh Arya.


Arya hanya diam, dia yakin lengah sedikit saja. Pukulan tadi sudah mendarat tepat diwajahnya, keduanya mulai maju menyerang. Mereka bertukar serangan berupa pukulan dan tendangan, setiap kali bagian tubuh mereka bertemu akan menyebabkan suara benturan keras terdengar di udara.


Keduanya kemudian saling mengunci satu sama lain.


"Lexa....teknik bela diri ini....jangan-jangan....Jeet Kune Do?!" tanya Arya dengan mata melebar sambil menahan pukulan Lexa.


"Wah....kau hebat Aru, bisa menyadarinya hanya dengan beberapa kali bertukar serangan denganku" jawab Lexa yang juga sedang menahan tendangan Arya.


Mereka berdua melanjutkan latih tanding itu sampai mereka sama-sama tidak bisa bergerak, keduanya akhirnya terkapar di lantai ruang latihan karena kelelahan.


"Ahahaha kau benar-benar hebat Aru" puji Lexa dengan napas terengah-engah.


"Hah...hah....harusnya aku yang bilang begitu, dengan kemampuan bertarung jarak dekat seperti itu aku tidak menyangka kau tidak bisa memenangi Ujian Pertama" balas Arya.


"Hmm....habisnya aku melawan Zee sih di pertandingan pertama"


"Zee?!"


"Iya Zee, Zee sang Elementalist Kegelapan" kata Lexa sambil terkekeh pelan.


"Namanya Zayn!" sahut Arya kesal.


Sekarang dia mengerti kenapa Lexa bisa kalah, cara bertarung Zayn adalah kebalikan dari cara bertarung Lexa. Padahal dengan berlatih tanding dengannya baru saja ini, Arya bisa bilang kalau Lexa adalah Elementalist dengan kemampuan bertarung jarak dekat paling hebat diantara mereka semua.


Terutama dalam pertarungan tangan kosong seperti tadi, saat Arya sedang asyik hanyut dalam pikirannya Lexa sudah berdiri kembali.


"Hey Aru? Bagaimana kalau kita lanjut ke ronde kedua?"


"Lagi? Ugh...kau bersemangat sekali" ujar Arya lelah.


"Hahaha tentu saja! Bagaimana kalau selanjutnya kita menggunakan Elemental Weapon?"


"Tidak masalah sih, Mandalika!" panggil Arya.


Pedang itu muncul entah dari mana dan langsung berada digenggaman Arya, Lexa kemudian memasang kuda-kuda sambil memejamkan matanya.


"Bangunlah, Gnome!"


Sebuah Gauntlet berwarna kecoklatan segera muncul dan melapisi kedua tangan Lexa, cahaya yang dihasilkan senjata itu membuat Arya merasakan sebuah kehangatan yang asing baginya.


"Baiklah! Ayo kita mulai!" seru Lexa.

__ADS_1


Tanpa Arya pernah duga, sejak hari itu keduanya mulai sering berlatih tanding bersama saat jam-jam tertentu. Mereka memutuskan hal itu agar bisa bergerak lebih bebas. Saking asyiknya berlatih, mereka berdua lupa kalau Ujian Elementalist Ketiga sudah ada didepan mata.


__ADS_2