
Tembok pembatas tinggi Distrik Emas akhirnya mulai nampak di kejauhan, Arya menghentikan langkah dan berdiri pada pinggir salah satu bangunan yang masih berdiri. Mengedarkan pandangan untuk melihat – lihat siapa tau ada orang memerlukan bantuan.
KREEKKK!
Bunyi retakan samar – samar menarik perhatiannya, sekitar lima kilometer dari posisinya berada sekarang. Terdapat rombongan Taman Kanak – Kanak sedang menunggu tim evakuasi, beberapa guru tengah menenangkan para muridnya tanpa menyadari lokasi mereka berteduh mempunyai pondasi lemah lalu hampir rubuh.
Benar saja tak lama berselang gedung setinggi lima tingkat oleng kemudian bergerak cepat ke arah tanah. Semua memekik keras penuh ketakutan menyaksikan peristiwa mengerikan tersebut, orang – orang dewasa segera menggapai anak terdekat berusaha melindunginya meskipun sadar sudah terlambat.
BRUK!
“Arrghhh....!!! Eh?”
Teriakan histeris berubah dalam sekejap menjadi celetuk kebingungan, begitu mencoba mencerna situasi barulah mereka menyadari sosok berjubah putih menghentikan jatuhnya bangunan barusan hanya menggunakan sebelah tangan.
Arya langsung mengenakan kostum Elementalist miliknya sejak menginjakkan kaki di Elemental City agar dapat beraksi ketika kondisi gawat darurat layaknya sekarang. Ia menghentakkan kakinya sekali sehingga membuat permukaan sekitar sana berlapis es sebelum berucap pelan, “Menjauh....”.
“Anda?—Woaaa...!?”
Seluruh korban tergelincir dan sukses keluar dari bawah siluet gedung berkat dorongan angin lembut hasil kibasan lengan Arya. Usai merasa penduduk lain juga aman, dia meletakan perlahan reruntuhan itu ke tanah. Waktu guru – guru Taman Kanak – Kanak sebelumnya mendekat ingin berterima kasih, Arya mengilang seolah tidak pernah muncul di sana.
“Apa – apaa—“
“ELEMENTALIST!? Terima kasih Frost Knight?!” seru para murid sembari melambai ke angkasa.
Senyum tipis sekilas terlihat pada balik topeng Arya, ia sulit percaya julukan – julukan Timothy sungguh dipakai oleh warga untuk memanggil mereka. Namun perlahan wajahnya kembali menegang, sebab mengingat tanggung jawab serta keinginannya melindungi senyuman anak – anak tadi.
------><------
Setibanya di sisi bagian barat dinding Distrik Emas Arya menemukan bekas – bekas pertempuran, lokasinya sudah porak poranda sehingga dapat dipastikan hampir semua orang telah meninggalkan ataupun menjauhi tempat tersebut.
Ia berjalan melewati lokasi yang seharusnya pada hari biasa dipenuhi oleh orang – orang beraktivitas, dan sekarang cuma dipenuhi debu juga aroma kematian. Perasaan campur aduknya makin menjadi – jadi sewaktu menemukan sesuatu tertindih bongkah batu besar.
Pandangannya tertuju ke arah kaki seorang korban, seluruh badannya hampir tak dapat dikenali akibat tertimpa pecahan bangunan rusak. Namun Arya sangat mengingat sepatu merah bermerek yang dikenakannya, sebab pemuda itu terus menunjukannya tanpa lelah ketika baru memilikinya kepada Arya dulu sekali.
“John....”
__ADS_1
Dengan tatapan sendu Arya mengevakuasi jasad si laki – laki penjaga pintu gerbang lalu membuatkannya pemakanaman layak walaupun hanya seadanya saja. Seraya berdoa Arya berpikir, meski terkadang jengkel atas sikapnya. ia sama sekali tidak pernah membenci John.
Justru berkat dirinya hubungan Arya dan Reika bisa sedekat sekarang, perangai John yang suka menggoda adik angkatnya itulah penyebab keduanya bertambah akrab. Selesai membulatkan tekad untuk tak ingin ada kenalannya lagi mengalami hal serupa, Arya mencabut Mandalika dari sarungnya.
“Beristirahatlah sepuasmu kawan....” bisiknya lembut pada gundukan tanah dihadapannya sebelum berbalik kemudian menghilang menuju bagian dalam Distrik Emas.
------><------
Arya mendarat tepat di atap rumahnya, dia buru – buru masuk mencari keberadaan Hartoso tetapi hasilnya nihil. Tingkat paniknya kian meningkat karena area sekitar kediaman mereka memang sungguh kacau, kemunculan – kemunculan mendadak musuh entah dari mana memicu ketakutan penduduk terutama masyarakat Distrik Emas yang selalu merasa memiliki keamanan tertinggi.
“Ayah....!?”
“Tuan Arya?”
“Hah?”
Seorang pelayan perempuan tiba – tiba memanggilnya, wajahnya sedikit pucat menyaksikan betapa cemasnya Arya mencari. Tanpa menunggu Arya langsung menagih penjelasan, gadis itu memberitahunya sejak kerusuhan mulai pecah. Pak Hartoso memerintahkan seluruh pekerjanya berilndung ke ruang bawah tanah.
“Lalu dimana dia sekarang?”
“Beliau....berkata ingin keluar mengamati situasi, jadi Tuan Besar pergi bersama Pak Tora....” sahutnya hati – hati.
Arya hampir mengumpat mendengar pernyataan barusan, tak habis pikir isi kepala dua pria paruh baya tersebut. Ia segera meminta supaya para pelayan tetap diam di sana dan jangan pernah membukakan pintu kepada siapapun kecuali yang datang pihak Pusat Penelitian.
Dia melesat keluar demi memastikan ayah angkatnya pulang hidup – hidup, kepalanya menoleh kesana kemari untuk menemukan petunjuk. Seluruh kemampuan kelima inderanya ditekan hingga puncaknya, tapi masih belum membuahkan hal berguna.
Memanfaatkan Maximum Sense pun nampaknya percuma karena banyaknya orang dalam radius jangkauan tekniknya, apalagi aura – aura monster ikut becampur sekitar sana. Saat keputusasaan menggerogotinya perlahan namun pasti, secercah harapan bersinar terang ketika matanya mendapati postur tubuh yang sangat dikenalinya.
“Ay—!?”
Jarak beberapa meter dari posisinya sekarang, terlihat Pak Hartoso membantu penduduk – penduduk terluka. Sayangnya semangat Arya seketika merosot cepat menyadari adanya Ghoul merayap gesit mengincar kepala beliau.
Arya membatalkan niatnya memanggil dan lebih memutuskan menambah lajunya sebelum terlambat, sambil mengumpulkan Agnet siap melepaskan energi tebasan kapan saja demi mengantisipasi kemungkinan terburuk.
“Kamai—“
BUAKHH...!!! KREK! JGEERR...!!!
__ADS_1
Kejadian berikutnya berhasil membuat Arya tertegun, waktu kuku – kuku panjang si Ghoul hampir menyambar leher Hartoso. Pria berotot dengan rambut beruban melindunginya, dia mendaratkan pukulan telak pada perut musuhnya hingga menubruk dinding bagunan dekat situ.
“Akh....uhuk! Roaa—“ Ghoul tadi masih menggeliat juga mencoba menyerang, lalu satu hentakkan tangan pelan lagi sukses menghapus eksistensinya tanpa bekas.
“Tora? Kamu terlalu berlebihan, tokonya sampai ikut hancur”
“Mohon maaf Tuan, saya sedikit terbawa—“
“Ayah? Pak Tora?” panggil Arya kebingungan.
“Arya?” mereka menatap balik sama herannya.
------><------
Ada fakta – fakta yang sengaja disembunyikan oleh pihak Mantan Pemimpin Negara anggota PBB tetapi sudah menjadi rahasia umum bagi para anggotanya. Setiap orang – orang penting ini mempunyai semacam pasukan Bodyguard khusus, dimana seluruhnya adalah para pengguna Agnet atau Hidden Suzerainity kepercayaan masing – masing.
Pengawal – pengawal tersebut selalu siap sedia jikalau hal – hal tidak terduga serta diinginkan layaknya situasi sekarang terjadi. Oleh karena itu Pengawas Ujian bersikap tenang kemudian memilih memfokuskan diri menyelamatkan warga ketimbang bergerak melindungi Distrik Emas.
“Begitulah singkatnya....” Hartoso mengakhiri penjelasannya.
Mereka tengah duduk bersama untuk berdiskusi membahas kejadian sebelumnya, mata Arya masih belum mampu terlepas dari sosok Pak Tora. Pria sepuh yang selalu membantunya memenuhi kebutuhan hidup beberapa waktu lalu, ia pun sedikit merasa bersalah tidak pernah mengabarkan Arya soal perkara ini.
“Jadi....kalian bertugas mengawal Ayah?” celetuk Arya sembari mencoba mencerna informasi.
“Benar Tuan Muda, maaf selalu diam tanpa memberitahu apapun”
“Siapa kalian sebenarnya?”
“Laskar Cindaka, pendekar – pendekar terbaik negeri kita” Hartoso menjawab santai.
“Manusia Harimau sungguhan? Maksudku....aku pernah bertemu Demi-Human, Werebeast, atau terserah mau disebut apa tapi—“
WAAA....!!!
Suara kerusuhan dekat lokasi ketiganya bicara menarik perhatian, terlihat gerombolan orang tengah berdesak – desakan seperti sedang melakukan demonstrasi. Petugas – petugas asal Pusat Penelitian nampak kesulitan menanganinya, awalnya ekspresi Arya biasa saja namun tak berselang lama dia bangkit berdiri karena mengenali laki – laki yang memimpin kegiatan barusan.
__ADS_1
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.