
Alerts : (Sebenarnya gw pengen masukin bagian ini mengandung konten dewasa, tapi setelah dipikir - pikir lagi. Bahasa yang digunakan tergolong aman, jadi ya gk usahlah. Untuk itu dimohon kebijaknasaan kalian sebagai pembaca, kalau bisa sih udh 17 tahun ke atas ya karena emang target pasar ******** ini umur segitu)
Arya bersama Amira menghabiskan waktu berkeliling menikmati tempat – tempat wisata indah di Distrik Perunggu, salah satunya adalah taman bunga dandelion yang menjadi alasan utama Amira ingin sekali datang kesitu.
Gadis itu berlari penuh rasa bahagia sementara Arya memperhatikannya sambil tersenyum, sudah lama mereka tak melakukan hal – hal menyenangkan seperti ini. Yah...walaupun ia cuma menenteng perbekalan, namun melihat wajah sumeringah Amira sudah cukup baginya.
Distrik Perunggu sebenarnya memiliki banyak sekali obyek wisata, terutama untuk orang – orang yang sudah penat dengan keriuhan kota seperti Distrik Perak maupun Emas. Ada suatu tempat bernama Circular Steppe sedang naik dauh akhir – akhir ini.
Berupa sebuah padang rumput cekung menakjubkan dan hampir terlihat seperti sebuah lembah dangkal. Arya berencana mengajak Amira mampir ke sana, sewaktu keduanya makan siang di salah satu desa dekat lokasi tersebut.
Terdengar suara terompet bergaung memekakkan selama kurang lebih sepuluh menit, mengakibatkan semua orang menutup kedua gendang telinga masing – masing tak terkecuali Arya dan Amira.
Setelah tidak terdengar lagi, para penduduk saling pandang satu sama lain karena baru pertama kali mendengar suara sebelumnya. Hanya ada seorang bocah yang nampak tertegun, seluruh bulu kuduknya berdiri saat itu juga.
“Arya? Kau kenapa?” tanya Amira khawatir.
“Amira....dengar, bagaimanapun caranya kita harus meninggalkan tempat ini”
“Hah? Alasannya? Bukankah kita mau ke—“
“Firasatku buruk! Ayo ce—“
WAAA!!!
Baru saja Arya menarik bangun Amira dari posisi duduk, sosok pria dengan luka mengenaskan memasuki gerbang desa. Tiga buah anak panah beserta kapak menancap pada punggungnya, memanfaatkan sisa napas terakhir dia memberi peringatan.
“Monster.....para monster menyerang.....selamatkan diri kalian....”
KRAK!
Muncul sekitar sepuluh sosok berkulit hijau mengerikan, yang bertubuh paling besar mencabut kapak miliknya dari tubuh korban tadi. Sebelum berteriak memperlihatkan gigi – gigi kuning tak rata mereka.
“LARI!!!”
Suasana langsung kacau balau, orang – orang berpencar tanpa arah untuk menyelamatkan diri. Akibat liburan, jumlah pengunjung lebih banyak dari biasannya. Hal ini menyebabkan kondisi berdesak – desakan parah.
Arya sekuat tenaga menyeret Amira menuju stasiun kereta, tak mau melepaskan genggaman tangannya bahkan jika harus putus sekalipun. Goblin – goblin penyerang bergerak cepat membunuh serta menangkap beberapa orang kurang beruntung.
__ADS_1
“Arya....hiks....aku takut....” isak Amira.
“Tenang saja, kita pasti—“
Tepat sebelum keluar gerbang desa, datang gerombolan Goblin lain yang mengakibatkan rombongan mereka terbagi dua. Karenanya tangan Arya gagal mempertahankan Amira, dia terseret kelompok orang yang berhasil kabur, sedangkan Amira terperangkap dikerumunan hasil ringkus para makhluk hijau tersebut.
“AMIRA?!”
------><------
“Lepaskan aku!” bentak Arya.
Dua pria dewasa berusaha memeganginya, biar terlihat masih bocah. Namun anak itu mampu membuat kedua orang itu kewalahan, rombongan mereka berhasil sampai dengan selamat ke stasiun kereta.
Ternyata bukan hanya desa mereka yang diserang, hampir semua pemukiman sekitar situ juga mengalami hal sama. Orang – orang menonton pergumulan Arya penuh rasa simpati, tapi tak tau bagaimana harus menolongnya.
“Nak! Tolong tenanglah, mari bersabar dan tunggu bantuan pusat”
“Temanku! Temanku masih tertinggal di sana! Bagaimana mungkin aku bisa bersabar!”
“Apa kau adalah teman gadis kecil berambut cokelat?” seorang pria tua yang merupakan kepala desa sebelumnya bertanya.
Si pria tua mengangguk kemudian menjawab pelan, matanya sudah terlihat seperti ikan mati “Iya, dia dibawa bersama ketiga putriku”.
“Lalu apalagi yang anda tunggu!? Ayo selamatkan—“
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat pada pipi Arya, cairan bening mengalir perlahan dipipi kepala desa. Tak kuasa menahan kesedihannya lagi.
“Mustahil, mereka adalah Goblin. Temanmu dan putri – putriku mungkin sudah—“
“AKU JUGA TAU KALAU MEREKA GOBLIN! KAU PIKIR AKU BODOH?!.
Bukan cuma kepala desa yang terkesiap mendengar teriakan Arya, tak ada lagi orang lain berbicara selain dirinya.
ITULAH KENAPA RAS MANUSIA MASIH TERKURUNG DI SINI! KALIAN TERLALU PENGECUT! SAMPAI KAPAN KALIAN SELALU BERLINDUNG DIBALIK PUNGGUNG ORANG LAIN! MANUSIA HARUS MEMPERJUANGKAN KEBEBASANYA SENDIRI!”
Arya menggigit tangan kedua pria pemegangnya, sebelum berlari secepat mungkin pergi meninggalkan stasiun. Dia terus melaju tanpa memperdulikan panggilan dari semua pengungsi di sana.
Setelah melakukannya selama dua puluh menit, ia berhasil sampai ke desa. Menyelinap hati – hati Arya mencari keberadaan Amira, tetapi hasilnya nihil. Ketika hendak pergi, dia mendapati sebuah pemandangan tak manusiawi nan kejam.
__ADS_1
Dalam sebuah rumah, terlihat satu goblin melakukan hal tidak senonoh terhadap mayat seorang wanita. Seketika darah Arya mendidih, dia masuk dan megambil pisau dapur. Waktu si goblin sedang asyik menggerakan pinggangnya.
Arya menjambak rambutnya kemudian menggorok leher makhluk keji tersebut, tak menduga akan mendapat serangan. Goblin tadi meregang nyawa di tempat, Arya muntah hebat setelah berhasil menghabisinya.
Itu menjadi kali pertama dirinya membunuh makhluk hidup lain dan terus menjadi mimpi buruk bagi Arya selama satu tahun kedepan. Aroma menjijikan darah goblin terus menghantuinya, selesai menenangkan hati. Ia menutupi tubuh wanita malang tadi.
Berbekal pisau dapur, Arya mulai melacak keberadaan korban – korban. Membunuh satu demi satu Goblin secara diam – diam sampai akhirnya sudah terbiasa dengan perasaan mencabut nyawa makhluk hidup lain.
Ketika Arya tiba di markas utama Goblin, yang ternyata adalah Circular Steppe. Lokasi tempat wisata itu sudah benar – benar kacau, banyak mayat bergelimpangan. Tubuh Manusia dijadikan mainan oleh para iblis hijau.
Puluhan kepala ditusuk jadi satu bak sate pada sebuah tombak, lebih parahnya lagi semua wanita dipaksa memuaskan napsu pasukan Goblin. Arya tiarap lalu merangkak perlahan dan tanpa sengaja mendengar obrolan.
“Ayah ini benar – benar luar biasa!”
“Huahaha apa kubilang, di mana kakakmu Pravado?”
“Dia sedang menikmati hidangan tepat di tengah padang, Ayah taukan selera anehnya”
“Heh....aku tak pernah mengerti apa nikmatnya memainkan tubuh kecil”
Arya mengikuti arah pandangan dua goblin tersebut, hatinya mencelos. Seluruh darah hilang dari wajahnya yang berubah pucat pasi, tubuh tak berdaya Amira ditindih oleh Goblin setinggi enam koma lima kaki.
Darahnya berdesir murka, ia melesat ke sana dalam hitungan detik. Itu pertama kalinya Arya berlari secepat tadi. Melompat tinggi lalu mendarat pada pundak sang monster kemudian membenamkan seratus tusukan pisau ke pelipisnya tanpa jeda.
Terakhir, Arya mencabut kepala makhluk tersebut dan melemparkannya sejauh mungkin, tak memperdulikan tatapan terkejut seluruh Goblin. Dia jatuh bertekuk lutut, menggapai badan Amira dan memeluknya erat dengan tangan gemetar.
Suara napas lemah Amira bagaikan nyala api unggun yang bisa padam kapan saja, anehnya. Gadis itu tersenyum, bibirnya melebar penuh arti. Seakan bersyukur ditengah isakan Arya, bahkan senang melihat si bocah kesulitan bernapas saking sedihnya.
“Arya....aku tau kau pasti datang.....terima kasih sudah mau kembali demi diriku....kau berusaha untuk menjadi pahlawan bagiku....selamat tinggal....aku selalu....”
“AARKGHH.....!!!”
Selesai mengatakan kalimat terakhir, Amira pergi tuk selamanya. Teriakan Arya seperti binatang yang tengah disembelih. Dia berteriak seakan berharap pita suara miliknya robek dan menunjukan luka menganga, layaknya goresan dihatinya saat ini.
Suhu udara turun drastis, merasakan bahaya. Greenhook memerintahkan semua pasukan menyerbu anak laki – laki misterius itu, baru saja menyentuh kulitnya. Tubuh para goblin berubah biru kemudian hancur.
Tidak berhenti sampai di sana, seluruh padang rumput langsung diselimuti es. Sang Raja Goblin tau persis sensasi tersebut dan mengumpat dalam hati. Menyadari nyawanya dalam bahaya, diapun berusaha kabur.
Arya menoleh, rambutnya sudah berdiri tegak. Aura gelap nan dingin menjalar ke seluruh penjuru dari dalam tubuhnya. Tak terlihat saking bergerak terlalu cepat, ia menghadang jalan Greenhook kemudian melepaskan pukulan keras juga telak hingga membuat remuk seluruh daratan pada Circular Steppe.
“Kubunuh....kalian semua....” gumamnya parau.
__ADS_1