
Seiring berjalannya waktu, sinar matahari semakin jarang. Disaat seperti itulah Elizabeth memanfaatkan kemampuan elemennya agar mereka berlima dapat melihat setidaknya di dalam perahu.
Ketika sedang asyik mengamati sekeliling, tiba – tiba Rena memekik dan menyebabkan anggota yang lain terkejut. Dia memeluk lengan Arya kuat – kuat sambil memasang wajah memelas.
“A...Ar...Arya!?Hiks....aku melihat bayangan hitam besar gelap mengerling tajam ke arahku”
“Eh? Ahh....mungkin salah satu Penghuni Laut Dalam, jangan takut Rena. Mereka tak akan menyerang kalau kita tidak mengusik terlebih dahulu” Arya mengelus kepalanya menenangkan.
“Kau dengar sendiri? Mengapa dirimu tidak kemari saja dan biarkan kami yang membantumu!?” seru Elizabeth bersama Selena menyeret sang Elementalist Alam menjauh.
“Tapi sungguh....ukuran makhluk – makhluk tersebut bukan main” Kevin menyeletuk.
“Tenanglah, kurasa Jagoon cukup saling mengenali satu sama lain dengan mereka”
Sekitar satu jam kemudian, kilauan terang mencuri perhatian para Elementalist. Masing – masing langsung berpindah ke bagian perahu asal cahaya barusan. Wajah kelimanya berubah takjub saat pemandangan sebuah kota indah nan terang nampak sudah dekat.
Terdapat banyak sekali bangunan – bangunan berbagai bentuk berdiri megah, namun satu hal lebih membuat terkesan. Yaitu lampu – lampu penerangan tempat itu yang tidak kalah dengan Elemental City maupun Underground Paradise.
“Kita sampai!!!” jerit Elizabeth gembira.
“Kota Hilang....Kerajaan Bawah Air Para Duyung....Atlantos” Arya berbisik kagum
“Wohoo! Tapi tunggu sebentar, Arya? Bagaimanca cara kita bernafas di sana? Kau tidak mungkin mengharapkan gelembung udara terbatas ini sajakan?” tanya Selena sedikit cemas.
“Hah? Eee....”
“KAU BELUM MEMIKIRKANNYA!?”
“Hehehe....aku lupa, maaf”
“APA!?”
GERUDAK! GERUDUK!
Terjadi pergulatan yang hebat dalam kapal selam kayu tersebut, guncangan serta suara berisik tadi menyebabkan Jagoon melirik sebentar. Begitu selesai mencari jalan masuk memutar, si kurir menembus sesuatu lapisan membran tipis sebelum mendarat.
“Semuanya silahkan keluar” katanya sembari mengetuk.
Kaca es buatan Arya mencair, memperlihatkan posisi dirinya tengah dituntut untuk bertanggung jawab oleh Selena. Kevin, Elizabeth, dan Rena memilih tak ikut campur.
“Kau gila ya!? Harusnya kau membuat kapsul seperti dulu ketika melaksanakan Ujian di Dragon Island!”
“Hah!? Kaulah yang gila, kalau seperti itu bisa – bisa seluruh barang bawaan kita isinya kapsul semua” Arya membela diri mengingat batas waktu dari benda tersebut.
“Aku bisa bernapas....” gumam Kevin tak percaya.
“Wahahah hebat sekali! Keren!” Elizabeth mulai berlari mengitari kapal
“Bagaimana mungkin....?” ujar Rena sama herannya.
“Heh???”
__ADS_1
------><------
Air yang ada dalam wilayah Atlantos memiliki kandungan oksigen terlarut maksimal, sehingga bahkan makhluk berparu – paru sekalipun mampu bernapas di dalamnya. Akibat hal tersebut juga wujud cairan di sana hampir tak terlihat atau trasnparan.
Bahkan sekilas, tidak nampak sedikitpun perbedaan antara kondisi daratan dan perairan pada Kerajaan Duyung ini. Untuk membuktikannya, Selena menciptakan pusaran air berukuran kecil sekitar telapak tangannya.
“Mustahil.....” bisiknya takjub.
“Asyik!!!” Elizabeth meluncur ke mana – mana dan telrihat seperti melayang di udara.
“Kau benar, mungkinkah begini perasaan para Astronot ketika menjelajah luar angkasa” ujar Arya sembari melakukan jungkir balik setinggi mungkin lalu mendarat dengan lembut.
“Menurutku gravitasinya masih jauh lebih lemah lagi” Rena membalas.
Walaupun sudah mempersiapkan perlengkapan khusus demi menjelajah Atlantos, fakta mengejutkan itu cukup membuat Arya dan kawan – kawan sadar kalau ternyata dunia teramat luas. Masih banyak hal yang tidak dapat dijelaskan menggunakan akal sehat serta logika.
“Jadi selama kami berada dalam area Kerajaan kami tidak perlu mengkhawatirkan masalah udara?”
“Benar sekali” jawab Jagoon.
“Menarik, tapi—“
WUSH!!! TRING!!!
Tepat sewaktu Arya menoleh ke arah kota, sebuah trisula melesat tepat menuju lehernya. Tetapi dalam sekejap Selena muncul dari belakang kemudian melakukan tusukan balik. Gadis tersebut menghentikan serangan tadi dengan ujung tombaknya.
Kevin, Rena, maupun Elizabeth segera merapat penuh siaga. Puluhan prajurit berzirah lengkap mengelilingi mereka, masing – masing tak memiliki kaki. Hanya ada ekor, sisik, dan sirip pada bagian bawah tubuhnya.
“Selena? Aku tau kau bermaksud baik, namun bisakah lebih diarahkan sedikit? Aku bisa merasakan pipiku tergores” Arya melirik.
“Manusia....Penyusup.....” tatapan tajam Mermaid terpaku kepada sang Elementalist Es.
“Mohon maaf Kepala Penjaga, sayalah yang membawa mereka”
“Kau....Kurir? Mengapa?”
“Untuk menjalankan tugas....”
Si penyu mengeluarkan sesuatu, kertas ajaib tak bisa basah bertanda stempel logo Kerajaan Atlantos. Mata duyung tadi melebar, ia menurunkan senjata sambil mengarahkan anak buahnya. Tapi masih memperhatikan kelompok Arya penuh kewaspadaan.
“Perintah anggota keluarga Kerajaan? Aku tidak bisa percaya begitu saja. Kalian keberatan jika dibawa menghadap paduka Raja?”
“Hei!? Kami sudah bilang—“
“Tunggu sebentar, mari kita ikut. Aku juga ingin bertemu dengan beliau, lagi pula tujuan utama kita memang ingin membantu bukan?” potong Arya agar Kevin mengurungkan niat tuk mendebat.
Akhirnya mereka setuju berangkat menemui Raja Atlantos dikawal puluhan prajurit, penduduk melihat pemandangan tersebut penuh tanda tanya. Lalu langsung berbisik – berbisik saat menyadari identitas Arya dan kawan – kawan.
“Jagoon? Boleh aku bertanya?”
“Tentu, silahkan”
“Apa Mermaid mampu mengubah kaki serta ekor mereka sesuka hati?” Arya mengangkat sebelah alis penasaran.
__ADS_1
“Begitulah, waktu mau berpergian jauh juga cepat. Mermaid condong menggunakan ekor, sementara jika hanya berada di wilayah Atlantos maka—“
“Ehem!” para pengawal mengerling penuh rasa tidak suka.
“Ahahaha....kalian ramah sekali”
Beberapa menit kemudian, kastil besar nan megah menjulang dihadapan. Mereka digiring melewati lorong – lorong dengan pualam biru indah, selanjutnya semua berhenti di depan pintu emas raksasa. Kepala Penjaga masuk terlebih dahulu untuk mengabarkan kedatangan.
Tak lama berselang, masuklah rombongan ke dalam ruangan. Kelima Elementalist terperanjat bukan main karena mendapati sesosok raksasa mengerikan meduduki singgasana. Janggut dan matanya berwarna putih total bak mutiara kerang.
“Tetap tenang....” desis Arya memperingati yang lain.
“JAGOON!!!”
BRRR!!!
Semua terhentak kaget akibat suara gemuruh serta mengintimidasi barusan meledak, Arya memang bukan pertama kalinya bertemu makhluk berukuran jumbo. Namun Mermaid ini hampir sebesar paus biru dewasa menurut analisisnya.
“Hamba menghadap paduka” sang kurir maju sembari menundukan kepala.
“BERANI SEKALI DIRIMU! KAU PIKIR APA YANG KAU LAKUKAN! SEKARANG PILIH! DIASINGKAN ATAU HUKUMAN MATI!!!”
“S...sa...saya....”
“Tunggu sebentar, bisakah kita bicara dulu Yang Mulia”
DEG!!!
Jantung seluruh isi aula seakan berhenti sesaat sewaktu Arya bicara, Jagoon meliriknya ngeri masih dengan tubuh gemetar hebat. Meski nampak tenang dari luar, Arya sebenarnya sekuat tenaga menggigit lidahnya sendiri supaya tubuhnya tetap dapat terkontrol.
“LANCANG—“
“Kau....” mata putih Raja menyipit.
“Setidaknya bagaimana kalau kita masing – masing memperkenalkan diri?”
“Manusia keparat! Jaga—“
“Tidak perlu, aku tau pasti siapa kalian” kata – kata barusan memaksa Kepala Penjaga terdiam.
“Sungguh? Lalu? Apa engkau tidak penasaran alasan kami jauh –jauh kemari?” Arya tersenyum penuh arti.
“Apa perduliku?”
“Tentu kau harus, karena kalianlah yang memintanya”
“Bualan menyedihkan macam apa—“
KRIETT!!!
“Tunggu Ayahanda!? Akulah yang memanggil mereka” terdengar suara teriakan seseorang memasuki lokasi.
^^^
__ADS_1
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.