
BUAKH!
“Uhuk....uhuk...ugh.....Cih!” Selena bangkit setelah mengusap darah segar dekat bibirnya.
Dia saat ini sedang melawan salah seorang Jenderal Petarung berwujud gajah, Werebeast tersebut menggunakan zirah emas serta tombak dan perisai bersanding di kedua tangannya. Perbedaan fisik mereka begitu signifikan, sampai – sampai mungkin hanya sedikit dorongan Selena bisa gepeng dibuatnya.
“Gadis kecil, berterima kasihlah karena kau akan segera mati oleh Kokkili si perkasa”
“Bukankah seharusnya aku mengutukmu tuan gajah?” kata Selena lemah merasakan tanah bergetar tiap musuhnya berjalan.
“Dasar keras kepala, kalau menyerah padahal kau bisa mati tanpa rasa sakit. Tapi ternyata lebih memilih untuk hancur”
“Persetan!”
Selena maju memainkan tombak miliknya, adu serangan terjadi. Namun sayang sekeras apapun ia berusaha, Leviathan tetap tak dapat melukai Kokkili. Pelindung dan kulit keras itu benar – benar kombinasi terburuk yang pernah ada bagi lawan – lawannya.
Tidak membutuhkan waktu lama, posisi Selena makin terpojok. Hingga akhirnya sang Elementalist Air terjatuh demi menahan hantaman dari gajah raksasa tersebut, dengan gigi gemertak Selena menahan injakan ratusan ton Kokkili sepenuh tenaga.
“Hahaha hanya segini kemampuan kalian? Ternyata Elementalist tidak sehebat kedengarannya ya! Remuklah gadis kecil! Hyaa!!!”
ZHUU!!! SRRT! SRTT! BUM!
“Hampir saja, untung sempat”
Kokkili melihat arus listrik kekuningan menyelimuti kakinya, Kevin berhasil menarik Selena tepat waktu sebelum jurus Kokkili menghancurkannya. Keduanya mundur beberapa meter tuk menjaga jarak dari makhluk bongsor tersebut.
“Terima—uhuk! Uhuk! Kasih Kevin...uhuk!”
“Pulihkan dirimu dulu sebelum bicara”
Selena mengangguk kemudian mengendalikan air pengobatan yang dia bawa, fungsinya sebagai penyembuh dan penambah stamina. Sementara Kevin mendekati Kokkili sembari memutar – mutar mace di tangan.
“Kau punya badan besar, tapi beraninya melawan perempuan. Dasar pengecut”
“Apa?! Berani sekali bocah sepertimu memanggil Kokkili pengecut!” teriak si gajah murka.
“Lalu? Bagaimana caramu menjelaskan semua ini bodoh!”
“Jaga mulutmu Manusia sampah! Oraa!!!”
“Electric Stream” Kevin berbisik sebelum melesat bak sambaran kilat.
Kecepat Kevin tidak dapat diiukuti oleh Kokkili, walau serangannya berdampak ringan. Namun lama kelamaan semakin terasa. Membuat Jenderal Petarung satu ini tambah kesal.
“KEPARAT!”
“Huhuhu kau melihat ke mana belalai konyol?”
“Rasakan teknik pamungkasku, Elephant Rage!!!”
Kokkili menerjang dengan segala yang dimilikinya untuk menubruk Kevin, pria pirang tersebut terus begerak mundur sambil sesekali melemparkan ejekan – ejekan pembuat panas musuhnya. Begitu jarak mereka tinggal beberapa senti dia pun berteriak.
“Sekarang Selena!”
__ADS_1
“Puddle Slammer!”
Tiba – tiba tanah pijakan Kokkili berubah gembur dan membuat ia terperosok ke dalam genangan air. Tak mampu menggerakan tubuhnya sedikit pun akibat cairan lengket di sana.
“Ugh....sialan! Lepaskan aku!” gertaknya.
“Kau pikir gerakanku tadi tanpa tujuan ya? Tuan perkasa” Kevin menunjukan senyum kemenangan.
Dia memang senagaja menyerang Kokkili terus menerus bersamaan dengan melunakan tanah sekitar lokasi agar bisa memerangkap si Jenderal Petarung. Nampaknya rencana Kevin sukses besar.
“Dasar pengecut! Lawan aku secara langsung kalau berani!!!”
“Pengecut? Kau ini bodoh ya? Ini perang, mana ada yang seperti itu”
“Teknik sinkronisasi....” ucap Selena melompat tinggi mengangkat tombaknya.
“Poseidon Shockwave!!!” Kevin menambahkan pengendalian listrik ke dalam Leviathan.
“OAAA!!!”
SHU! JLEB! SRTSRTSRT!!!
Tombak tersebut melaju bagai peluru menancap tepat ke leher Kokkili, membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat akibat tersetrum. Bertepatan dengan itu, Kevin dan Selena langsung jatuh terbaring. Napas keduanya terengah – engah.
“Kita....hah....menang....” Selena masih tidak percaya.
“Energiku....hah...sudah...hah...habis..., untung....saja dia....masuk perangkap....hah....Kapten....cepatlah kemabali, situasi makin tak terkendali di sini” gumam Kevin lelah.
------><------
Arya tak pernah menduga kalau tingkat pertama Kuil Rodentia benar – benar rumit dan luas seperti peringatan Rattus. Setelah melewati dua tingkatan sebelumnya nampaknya dia jadi sedikit besar kepala.
Hampir seluruh penghuni tempat itu mencarinya, sehingga bergerakpun jadi sulit. Sampai akhirnya dia memasuki salah satu pintu yang sepertinya mengarah ke dapur, di sana ada seorang gadis pirang bertelinga rubah sendirian.
Si gadis menatap Arya ngeri, karena takut akan membocorkan posisinya. Arya bergerak cepat meringkus dan memintanya untuk diam.
“Maafkan aku, nanti akan kulepas. Jangan berteriak ya?” Arya menutup mulutnya dengan tangan.
Namun secara tak terduga dia menggigit tangan Arya dan membuat si Elementalist meringis pelan sembari menggoyang – goyangkan tangannya.
“Tuan penyusup....? Apa anda benar – benar ingin membawa Kizuna pergi?”
“Eh?”
Dia lalu memperkenalkan diri sebagai Ami, salah satu kakak seperguruan Kizuna. Ami juga mengatakan kepada Arya kalau ia juga merasakan kebiasaan Kizuna menatap langit dengan tatapan kosong. Berharap bisa menghapuskan kegundahan adiknya itu.
Kalau Arya sungguh – sungguh berniat baik ingin menolong Kizuna, Ami menawarkan akan mengantarnya ke lokasi Kizuna berada, yang tentu saja langsung disetujui oleh Arya tanpa berpikir dua kali.
Mereka pun berangkat menuju tempat Kizuna dikabarkan dikurung, sebelum terlalu dekat Arya meminta Ami untuk tidak ikut lebih jauh karena dapat membuatnya terkena masalah.
“Terima kasih, aku melanjutkan sendiri mulai dari sini. Sampai jumpa”
“Semoga anda berhasil Tuan” Ami menyatukan tangan sambil berdoa.
__ADS_1
Arya berangkat seorang diri ke salah satu bangunan yang terpisah dari Kuil utama, tempat Kizuna kemungkinan besar berada. Dia menyelinap masuk sampai ke lantai paling tinggi, begitu membuka salah satu ruangan matanya melebar senang.
“Kizu—“
“Arya jangan kemari! Ini jebakan!”
JDUAR!!!
Terlambat, sebuah tinju berlapis api dilancarkan melalui langit – langit. Garyu yakin sekali serangan tadi mengenai telak target, begitu asap sudah mulai menghilang. Semua terkejut melihat sosok Arya menahan kepalan tangan Garyu dengan sebelah tangan.
“Berani sekali kau menyerang Tuanku, dasar makhluk jadi – jadian sampah!” Arya menggeram aneh, pupil matanya telah berubah.
‘Safira kembali, simpan kekuatanmu’
“Tekanan yang hebat” puji Nezumi, pria sepuh itu duduk bersila dekat Kizuna. Gadis tersebut berusaha melepaskan ikatan dirinya namun sia – sia.
“Tetua kumohon....”
“Kau ternyata cukup aneh ya wahai Elementalist Es” Garyu menaikan sebelah alis.
“Ahaha maaf, nagaku sedikit lepas kendali. Tapi sebelumnya, apa kau tidak mau melihat tangan kananmu” sahut Arya tenang menggeleng – gelengkan kepala.
“Hmm?”
Bai si ular putih menggigit tangan sang Shio Naga, sepertinya dia juga kesal karena orang itu tiba – tiba menyerang Arya. Dalam sekejap mata, ia kembali melingkat di leher Tuannya.
“Sora White Viper? Walau berbahaya namun tetap hanya seekor bayi, lagi pula tubuhku kebal terhadap—ugh!? Apa?”
Garyu menatap tangan kanannya yang berubah kaku. Tak bisa digerakan seakan telah membeku seutuhnya.
“Sayangnya Bai bukan cuma memiliki racun, makhluk ini juga terkadang menghisap Agnet milikku hihihi”
“Sial!” Garyu cepat mengalirkan Agnet untuk memulihkan lengannya.
Melihat kesempatan besar tersebut, Arya langsung bergerak cepat ke arah Kizuna. Begitu berusaha menyingkirkan Nezumi, perasaan seakan diinjak oleh batu raksasa menimpa Arya. Dia terjatuh sambil memeganggi dadanya yang sesak kesulitan bernapas.
“Tolong sadari batasanmu nak” bisik Nezumi baru menggapai gagang pedang miiliknya.
“ARYA!”
“Bagus sekali Tetua, biar aku selesaikan”
Garyu telah selesai mengembalikan kondisinya, dia memulai jurusnya dengan mata berbinar – binar penuh gairah. Kedua telapak tangannya mengeluarkan kobaran api besar sudah siap menyerang.
“Twin Head Temple Special Techniques; Tsuinfaia”
“TIDAK!!! HENTIKANNN....!!!”
JDAR! BRUAK!
Seluruh bagian atas bangunan hancur berkeping – keping, tak menyisakan atap sama sekali. Arya akhirnya bisa bernapas kembali. Dia terbatuk – batuk sambil menatap sekelilingnya, Kizuna berdiri menghadang teknik Garyu demi dirinya. Aura keemasan menyelimuti mereka berdua.
“Kizuna....kau....” Arya memperhatikan pelindung keemasan di sekeliling tubuhnya.
“Mythical Beast Armor?!” seru Garyu tidak percaya melihat wujud baru Kizuna.
__ADS_1
“Sembilan....ekor?” Nezumi melebarkan mata tak kalah terkejut.
Itulah kali pertama kesembilan ekor Kizuna muncul, tubuhnya dilapisi oleh baju pelindung indah bak dewi perang. Ekor – ekornya mengelilingi Arya seakan menginginkan pria itu di sana tuk selamanya.