Elementalist

Elementalist
Chapter 282 - Karma


__ADS_3

“Tunggu sebentar....kau....cih! Hanya sisa rupanya, sejak kapan?”


“Aku menanamkan energi kehidupan dalam dirimu? Cukup lama, salahkan kelengahanmu tidak menyadarinya sampai sekarang....” pria berpakaian hitam itu tersenyum lalu menjentikan jarinya, sebuah kursi kayu jati muncul entah dari mana siap ia duduki.


“Terus mengapa kau tiba – tiba muncul lagi di hadapanku Pak Tua?”


“Bocah ini....”


“Hah?”


“Kau ingin mengambil alih tubuhnya yang dapat dipastikan menyebabkan kematian jika hal tersebut terjadi, sekarang coba jelaskan kepadaku kalau inangmu tewas.....kemana kau akan pergi Glacius?”


Seluruh tempat bergetar akibat suara gelak tawa menggelegar makhluk terantai itu, dia membuka lebar mulutnya sampai mengeluarkan air mata. Sedangkan laki – laki barusan diam memperhatikan untuk memberinya waktu menikmati, nampak rasa iba pada pandangan pupil putihnya.


“Hahaha....persetan! Di mana pun asal bebas, mati bahkan lebih baik menurutku. Kau tau seberapa lama aku menghabiskan hidupku sejak kehilanganmu? Dan kau masih bertanya? Ha! Lucu sekali!” Glacius mengakhirinya dengan nada penuh kebencian.


“Maaf....seandainya bisa....aku mau mewakilkan diriku untuk—“


“Simpan kata – katamu, kau tak punya salah apa – apa kepadaku Pak Tua....”


“Hemm....begitu rupanya”


Si pria bangkit kemudian mengacak – acak rambut Glacius sembari memasang wajah berseri - seri, sosok menakutkan tersebut gagal menahan air matanya mengingat kenangan saat dirinya mendongak menatap orang yang sama dulu. Salah satu momen paling ia rindukan.


“Baiklah selanjutnya biar kuperjelas pemicu aktifnya sisa energi kehidupanku, alasannya anak ini. Itulah mengapa kau dilarang membunuhnya....”


“Apa maksudmu?”


“Dialah....sang Karma”


><


“Bohong” ujar Glacius tanpa keraguan.


“Lalu mengapa aku harus repot – repot muncul di hadapanmu sekarang?”


“Mustahil....ia hanya....bocah ingusan berpikiran naif yang berusaha menanggung semua beban sendirian layaknya orang bodoh....”


“Hahaha....dan itu persis kata – kataku kepadamu dulu ingat? Hihihi....” si pria tertawa puas namun tidak mendapat respon serupa dari lawan bicaranya.


“Kakek dan ibunya jauh lebih pantas menjadi Karma....”


“Sungguh? Tetapi apakah mereka memiliki ini?”


PROK! PROK!

__ADS_1


Laki – laki tersebut bertepuk tangan dua kali terus dalam sekejap pemandangan sekeliling berganti, muncul empat sosok lain berdiri mengitari Arya. Setelah diperhatikan lebih seksama muka semuanya sangat mirip, masing – masing mempunyai warna mata serta ciri fisik berbeda.


Seperti bertelinga panjang, memiliki dua taring tajam mencuat keluar pada celah bibirnya, ada tambahan kuping maupun ekor binatang, dan seorang pemegang tongkat sihir berisikan lima cahaya terang. Dekat pijakan mereka muncul sebuah garis bening mengarah lalu menyatu di titik badan Arya terduduk tak sadarkan diri.


“Bagaimana? Masih menyangkal? Kelima ras besar telah berkumpul di hadapanmu lho”


“Kejadian – kejadian itu cuma kebetulan, dia beruntung mendapat pertolongan banyak orang....”


“Hadehhh....kau keras kepala sekali, lalu coba jelaskan kepadaku mengenai putri Datou?”


“Hah? Kenapa tiba – tiba kau membawa si naga tua dalam pembicaraan—eh....”


“Bagaimana telur yang isinya telah lama dianggap mati menetas? Sudah paham?” sosok tersebut menunjuk Arya sekali lagi seolah dia menemukan biang keroknya.


“Ugh....”


“Hehehe sekarang baru kau terdiam, oke aku tidak punya banyak waktu. Saatnya berpisah....”


“Hah?”


“Ahahaha....maaf, seharusnya tak mengingatkanmu kepada orang mati. Ingat baik – baik pesanku karena ia adalah Karma yang kita berdua tunggu. Selamat tinggal Glacius....bye – bye”


“HEY TUNGG—“ belum sempat Glacius bicara lebih jauh atau menyebut namanya, altar segel tersebut melesat pergi menjauh usai sang pria menjentikkan jarinya.


CTAK! BRRRR....!!!


><


“Ekh....”


Arya perlahan membuka matanya karena suara menyebalkan tadi, dia menemukan pria berambut putih melambai – lambaikan tangan tepat depan mukanya. Ada selang beberapa menit Arya terdiam sebelum buru – buru menjaga jarak begitu ingatannya mulai jelas kembali.


“Ahh akhirnya kau bangun juga, aku baru saja hendak mencari air untuk menyirammu agar segera terjaga”


“Apa.... hubunganmu dengan monster tersebut? Kemana perginya makhluk itu?” Arya bertanya hati – hati.


“Glacius? Tenang saja aku telah memperbaharui segelnya sampai nanti kau dapat membukannya sendiri, tetapi tidakkah kau merasa kurang sopan menyebutnya demikian? Ia punya nama lho?”


“Hah? Apa—maksudku—siapa kau sebenarnya!? Dan di mana kita?”


Arya memiringkan kepalanya sambil memasang ekspresi kebingungan, si laki – laki cuma tertawa dan memintanya mendekat. Dia menjelaskan kalau mereka sedang berada di alam bawah sadar milik Arya, berbekal pertemuan dengan Jack Frost dahulu Arya kurang lebih bisa memahami perkataanya.


“Kau tak perlu memusingkan identitasku. Kita berdua sama, kau mengerti bukan? Namun kalau masih berkeras silahkan panggil aku Ten. Teman – temanku sering memanggilku begitu”


“Baiklah terserah....sekarang balik ke topik sebelumnya, bagaimana caramu....mengetahui kau tau....monster tadi.....”

__ADS_1


“Hehehe....karena akulah yang memberinya nama, kami dulu menyebutnya sebagai Elementum” sahut Ten melipat tangannya santai.


Ten menjabarkan secara rinci entitas makhluk tersebut kepada Arya, Elementum merupakan perwujudan kekuatan elemen itu sendiri sehingga mereka dan para Elementalist tidak dapat dipisahkan. Sederhananya sumber kekuatan unsur dunia pada Elementalist berasal dari Elementum, Arya memijat – mijat keningnya pusing mendengar pernyataan barusan.



“Jadi....maksudmu Elementum ini....bukan hanya satu?”


“Benar, jumlahnya ada sepuluh. Masing – masing bersemayam dan terhubung generasi ke generasi Elementalist sejak zaman dahulu”


“Berarti rekan – rekanku....” Arya langsung bangkit tertegun.


“Yap, semua Elementalist pasti terikat dengan Elementum mereka. Tapi karena suatu alasan segel milikmu lebih longgar....”


“Tunggu sebentar....jika demikian....mengapa harus dikekang?”


“Nah....kau mesti menemukan jawabannya sendiri, cukup. Walaupun perbincangan ini menyenangkan kita tidak punya banyak waktu” jawab Ten mengetuk kepala bocah di hadapannya kemudian mengibaskan tangan.


Arya terkesiap saat ruangan putih sekitarnya tiba – tiba memperlihatkan keadaan kacau Elemental City, kehancuran serta jasad korban menghantui sejauh mata memandang. Arya yang menemukan teman – temannya dalam keadaan sulit cuma mampu menggertakan gigi terus menunduk, Ten melihat respon pemuda itu terus menghela napas.


“Sejak awal....kau tau mustahil memenangkan perang ini bukan? Makanya kau menyiapkan berbagai rencana cadangan dari A sampai Z”


“Ugh....”


“Kau mencoba melindungi hal berharga bagimu namun malah kehilangan, tetapi memang begitulah proses menuju kedewasaan. Jadi sekarang mari fokus memperbaiki semuanya”


“Percuma....setelah pertempuran berakhir meski selamat sekalipun pasti akan terjadi perburuan besar – besaran untuk menangkap kami....” Arya berbisik ketir.


“Oleh karenanya kau bersama teman – temanmu harus pergi ke tempat di mana musuh tidak mungkin bisa menggapai kalian. Sampai kelak kau kembali dan telah siap....”


Ten menyentuhkan jempolnya kepada dahi Arya lalu mata keduanya menyala terang, rentetan informasi maupun ilmu menghujani otaknya dalam hitungan detik bahkan menyebabkan nyeri. Ketika selesai ia sampai terhuyung mundur.


“Apa – apaan—“


“Itulah langkahmu selanjutnya, aku peringatkan tuk terakhir kali. Ada bahaya lebih besar menanti dan sebaiknya persiapkan dirimu baik – baik”


“Sebentar! Meski yang kau ajarkan padaku tadi mempunyai probabilitas keberhasilan teramat tinggi....bagaimana cara kami melakukannya dalam situasi di kepung musuh seperti sekarang?”


“Santai....nak, kau kira aku tidak memikirkannya? Energiku memang tersisa sedikit, mungkin bertahan paling lama sepuluh menit tapi menurutku sudah lebih dari cukup. Agak mustahil menghabisi mereka semua dalam waktu sesingkat barusan, namun memberikan cedera parah bukan suatu hal sulit....” kata Ten menguap sembari melemaskan otot lehernya.


“Eh? Maksudmu?”



“Saatnya bertukar tempat....”

__ADS_1


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2