
Gehrig bersandar pada kursi penumpang sembari menghela napas, dia merasa bosan sekali hanya duduk saja hampir dua belas jam dikelilingi oleh teman – temannya yang sibuk akan urusan masing – masing. Mira mengemudi dalam diam sementara James entah mengurus apa dengan komputer canggih miliknya.
“Oi James?”
“Hmm...?” sahutnya tanpa memalingkan wajah dari layar, jari jemarinya bergerak gesit menekan tombol papan ketik.
“Ini sungguh membosankan, mari kita—“
“Tidak....”
“Hah!? Aku bahkan belum selesai bi—“
Tiba – tiba saat Gehrig berdiri hendak menghampiri James, kendaraan berguncang hebat. Sepersekian detik posisi mereka terbalik melawan gravitasi, Gehrig harus rela menabrak ke segala arah akibat guncangan luar biasa barusan.
“Mira!? Apa masalahmu!?” desis Gehrig meringis kesal.
“Itulah mengapa kau diminta menggunakan sabuk pengaman ketika berkendara” James menimpali santai seolah tak pernah terjadi sesuatu.
Bukannya meminta maaf, Mira malah makin menambah laju kendaraan tersebut dengan menginjak penuh pedal gas. Memaksa Gehrig mengumpat lalu buru – buru kembali menuju kursinya, ternyata beberapa menit sebelumnya muncul sebuah dinding putih landai mengalangi jalan mereka.
Mira membanting roda kemudi tanpa rasa takut untuk menaikinya, mobil itu menanjak terus terbang berputar – putar sukses meloloskan diri dari perangkap tikus raksasa barusan. Hal ini penyebab utama Gehrig memantul menabrak lantai dan atap kendaraan hingga naik pitam.
Masih mengabaikan protes kawannya Mira melirik kaca spion, dua sosok tengah bergerak gesit mengejar. Mungkin cuma hitungan menit lagi mereka dipastikan menyusul, satu bergerak bagaikan klilat menyambar. Tubuhnya dilapisi oleh petir berwarna kekuningan, sementara pemuda lain disebelahnya meluncur diatas tanah bak atlit profesional seolah lokasi sekitar adalah hamparan danau es tidak terbatas.
“Kita kedatangan tamu....” Mira akhirnya mengumumkan sambil menyeringai dibalik maskernya.
------><------
Usai meninggalkan Timothy di benteng sebelumnya bersama dua False Vanguard, Arya dan Kevin terus mengejar tanpa kenal lelah hingga perjuangan mereka terbalas satu jam berselang. Efbi mengkonfirmasi kalau lokasi musuh semakin dekat.
Sewaktu mendapati kendaraan dengan mata kepala sendiri, Arya maupun Kevin menarik kembali Elemental Beast masing – masing lalu memutuskan mengejar dengan kekuatan sendiri. Pandangan tajam Arya melekat ke kendaraan mirip tank tersebut.
‘Reika....tunggu aku sebentar lagi.....kakak pasti menyelamatkanmu.....’
“Kapten!? Kita harus memperlambatnya agar bisa memperpendek jarak....” seru Kevin bersiap – siap melepaskan satu hentakkan besar tuk melesat maju.
“Ice Funnel....”
Arya perlahan menciptakan dinding es pada kedua sisi kendaraan musuh, lama kelamaan tekniknya semakin menutup demi memerangkap mereka. Namun pengemudinya sangat cerdik menemukan celah kemudian meloloskan diri.
“Tak akan kubiarkan semudah itu.....Lightning Spectre!”
Kevin menerjang sangat cepat meninggalkan Arya dibelakang, hantaran petir nampak mengikuti jalur kepergiannya. Cukup satu tarikan napas ia melayang di udara dekat musuh siap menyerang, Kevin mengangkat satu jari terlapis penuh Agnet.
“Raging Clouds!”
Sebuah energi memancar keluar melalui tangan kevin menuju angkasa, secara misterius awan disana berubah menjadi kehitaman terus bekumpul kian besar. Detik berikutnya sambaran dahsyat turun mencari mangsa.
__ADS_1
“James?” Mira memanggil tenang.
“Dimengerti, Calamity Protection Activated....” ujar James mengotak – atik komputernya.
Pelindung kuat muncul tepat waktu sehingga jurus Kevin malah memantul ke arah pohon besar dekat sana, tanaman berusia ratusan tahun itu tumbang menciptakan gempa kecil pada tanah. Mira memanfaatka momen tersebut untuk menekan tombol turbo.
NGGGG....!!! PSYUU.....!!! WOSSH....!!!
“Apa!?—Woaaa!?”
Kevin tidak hanya dikejutkan oleh bagaimana cara mereka menahan sambaran petirnya namun juga peningkatan kecepatan luar biasa benda tadi yang menyebabkannya terdorong mundur. Hembusan api kebiruan nampak menghiasi bagian belakangnya.
“Kau baik – baik saja?” Arya bertanya saat sukses menyusul.
“Ya, maaf aku ceroboh Kapten” balas Kevin menunduk lesu.
“Tenanglah, aku sudah mengambil tindakan....”
“Apa maksud—“
Sang Elementalist Petir menganga lebar melihat diatas kendara penculik Reika terdapat sebuah kubus es raksasa siap terjatuh. Arya menggunakan pertarungan Kevin demi memperhitungan titik jatuhnya, tetapi berkat penambahan kecepatan sepertinya orang – orang itu akan berhasil melarikan diri.
“Oi oi oi!? Mira!? Diatas!?” Gehrig berteriak memperingatkan.
“Masih bisa....” jawab Mira penuh konsentrasi.
Melihat peluang keberhasilan Ice Cube menipisi, Arya langsung mencabut Mandalika terus melalukan teknik Kamaitachi yang diperkuat oleh sihir Reinforcement ras Elf. Dia sengaja tidak mengincar kendaraan melainkan bongkahan es tersebut supaya Reika tak cedera, potongan berbagai ukuran langsung bergerak menghujani kendaraan musuh.
“Ckk!? James ambil alih kemudi!?”
Usai memberi perintah Mira segera keluar, kecepatan mobil menurun drastis saat bukan Mira berperan sebagai pengemudinya. Si gadis berdiri diatas kendaraan sembari mengadahkan kepala, ia mengangkat tangan kemudian berbisik.
“Sign Plasma!”
JDUAARRRR....!!!
Cahaya kehijauan muncul menghapus seluruh bongkahan es Arya tanpa sisa, kedua Elementalist terpaku menyaksikan kejadian barusan. Kekuatannya benar – benar bukan main, perempuan itu menoleh ke arah mereka.
DEG!
Matanya dan Arya bertemu untuk sesaat, sebuah perasaan familiar menghantui Arya. Dia merasa pernah melihatnya namun entah dimana, andai saja sang wanita tidak menggunakan masker mungkin lebih mudah mengenalinya. Mira menggerakan tangan untuk memprovokasi mereka sebelum masuk kembali.
“Berapa lama waktu untuk sampai ke post berikutnya?”
“Lima belas menit....” James membalas tenang.
“Bagus....”
“Mira? Izinkan aku menyapa Elementalist Es dan Elementalist Petir....” kata Gehrig tiba – tiba.
__ADS_1
“Hmm? Terserah...”
“Hehehehe....”
Arya bersama Kevin menyadari sosok pria bermasker lain mengeluarkan setengah badannya dari kendaraan sembari membawa sebuah tongkat pemukul, masing – masing memperhatikan gerak - geriknya penuh waspada.
“Pemain Baseball?”
“Kevin jangan sampai terkena—“
BOOMM!!! BOOM!!! BOOMMM!!!
Benar saja, suara ledakan mengiringi ketika Gehrig mulai memukulkan puluhan bola kepada mereka. Setiap biji benda tersebut nampaknya semacam bom kendali, saat jaraknya dengan Arya atau Kevin dekat bolanya akan meledak hebat.
“HAHAHAHA.....” Gehrig terus melakukan kegiatannya sembari tertawa layaknya orang gila.
Kedua Elementalist tambah kesulitan mendekat akibat perbuatan Gehrig, selain menjaga kecepatan dua pemuda ini harus menghindari hujan bola baseball mematikan. Saat situasi makin genting, suara keras deru mesin menarik perhatian semuanya.
------><------
BRRRMMMMM....!!!
“Akhirnya dia kembali, dasar....” gumam Mira pelan.
“Gehrig? Bagaimana?” James bertanya.
“Ahh....itu memang dirinya, ia memberiku tanda supaya masuk dan menyerahkan sisanya. Hayha sialan....cuma menyimpan kesenangan sendirian....” gerutu Gehrig.
Dilain sisi, tepat di tengah – tengah Arya dan Kevin datang seorang perempuan menggunakan sebuah motor canggih berkecepatan tinggi. Melihat respon masuknya Gehrig masing – masing tau jika jelas sekali gadis ini memihak kemana.
Sebelum Arya maupun Kevin sempat menyerang, Hayha menambah lajunya sehingga mengambil tempat lebih depan dari mereka. Dia melepas setang kemudi lalu mengeluarkan sebuah senapan laras panjang melalui celah kendaraanya, Hayha berbalik badan mengambil posisi membidik sembari berbaring.
“Phantom Shoot...”
DORRR! DOORR!! DORRR!!!
Hayha menembakan empat buah peluru secara beriringan, dua untuk Arya juga Kevin. Jadi semisal mereka berhasil menghindari satu, sisanya bakal menembus kepala kedua Elementalist. Tetapi perkiraan Hayha meleset, Arya menarik kerah baju Kevin agar anak laki – laki tersebut berada dibelakangnya terus menebas seluruh tembakan Hayha. Menyebabkan keterkejutan luar biasa tentu saja karena si penembak yakin pelurunya tidak mampu diikuti oleh mata.
“Three-Colour Emperor Eye....” tiga warna berbeda terlihat saat Arya dan Hayha saling bertukar pandangan.
“Hehehe....hidangan utama memang yang paling lezat....” Hayha tersenyum sambil menjilati sekitar bibirnya.
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.
__ADS_1