Elementalist

Elementalist
Chapter 139 - You Know I Can't


__ADS_3

Seekor makhluk hijau membuka mata lalu terduduk dengan napas berat, sensasi kaku menyelimuti sekujur tubuhnya yang ternyata telah dipenuhi perban. Perasaaanya campur aduk saat ini, antara kesal, murka, dan takut.


Begitu memperhatikan sekitar, barulah ia sadar tidak sendirian. Lokasi tempatnya berada sekarang adalah sebuah gua lembab berukuran sedang, nampak sesosok orang berjubah berdiri memunggunginya dari mulut gua.


“Keparat.....!!!”


“Hm? Kau sudah bangun?”


“Brengsek! Berani juga dirimu menunjukan diri setelah menjebakku bocah!”


“Dan kenapa aku harus takut?”


Pria tersebut menoleh, tatapan dingin pupil biru miliknya menusuk Greenhook. Sehingga mengakibatkan bangkitnya rasa dendam sang Raja Goblin, tak memperdulikan cedera dia bangkit berusaha mencari sesuatu sebagai senjata.


“Sebaiknya kau urungkan niatmu, walau dalam kondisi fit sekalipun aku yakin bisa mengalahkanmu. Bersyukurlah atas kebaikanku membawamu keluar Elemental City” peringatnya lagi.


“Pasukanku....Anak – anakku.....”


“Habis tak bersisa.....”


“Kau!? Sengaja membiarkan kami menyelinap agar membangkitkan kekuatan anak itu!?” geram Greenhook semari menunjuk si pria.


“Benar, aku ingin memastikan kalau dia benar – benar anaknya atau tidak. Terima kasih atas kerja kerasmu”


Laki – laki tadi melangkah mantap kemudian meletakkan beberapa tanaman obat disamping tempat berbaring Greenhook. Pandangan mereka bertemu, meskipun samar. Terlihat sekilas senyuman dari balik tudung jubahnya.


“Istirahatlah dan pulang, mengingat kondisimu saat ini. Mempertahankan posisi sebagai anggota Tujuh Dosa Besar pasti sulit, atau mungkin bahkan sebagai Raja para Goblin sekalipun. Hehehe” bisiknya sebelum melenggang pergi.


“DASAR BRENGSEK!!! TERKUTUK KAU!!! LOUIS!!!”


------><------


“Saat itu Arya benar – benar hancur, bisakah kalian membayangkan betapa sakit perasaanya? Begitu mendengar kabar kematian putri mereka, orang tua Amira mengalami syok berat. Aku termasuk orang yang menjadi pemberi bantuan untuk keduanya.


Sayang Ibu Amira depresi berat, tak percaya kalau anak gadis kesayangannya meninggal dengan begitu mengenaskan. Sampai akhirnya mentalnya terganggu dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa”


Cerita Pak Hartoso seakan menampar wajah mereka semua, masa lalu Arya ternyata seberat itu. memulai kehidupan dari Panti Asuhan, mengalami bullying di sekolah, hingga harus menyaksikan kematian orang paling berarti dalam hidupnya bukanlah suatu hal mudah untuk anak berusia tujuh tahun.


Bahkan Timothy yang selama ini selalu merasa iri melihat keberuntungan sang Kapten mengutuk dirinya sendiri karena perbuatan bodoh tersebut. Lalu secara bersamaan muncul sebuah pertanyaan pada benak mereka.


‘Bagaimana caranya dia masih bisa tersenyum.....?'


“Penyesalan Arya masih terus berlanjut sampai hari ini, itulah mengapa ia selalu bekerja paruh waktu di rumah makan milik keluarga Amira setiap satu tahun sekali. Yaitu tepat pada tanggal kematian Amira.


Mungkin kalian bertanya, bagaimana cara Arya bertahan. Pada ulang tahunnya yang kedelapan, satu tahun setelah Hari Insiden Penyusupan Goblin. Sebuah surat datang dengan atas nama Amira, isinya adalah sebuah pesan pendek dan piringan kaset hitam”



Mendengar kelanjutannya membuat gadis – gadis tidak mampu menahan air mata lagi, bahkan para pria juga saling berpandangan penuh arti. Waktu baru saja selesai, pintu terbuka. Reika masuk sambil terengah – engah seakan berlari sekuat tenaga.

__ADS_1


“Penjaga....hah....pemakaman bilang.....hah....kalau dia melihat kakak berkunjung tadi pagi”


“Baiklah, sepertinya sudah cukup. Kalau begitu aku pamit semuanya, terima kasih telah mau berteman dan mencintai anak itu. Aku sangat menghargainya, juga mohon maaf jika ceritaku membosankan hahaha” Hartoso bangkit dari kursi diikuti salam hormat pemuda – pemudi disana.


Waktu ayahnya sudah tak kelihatan lagi, Reika menatap yang lain kemudian memberi usulan. “Aku tidak tau Ayah bercerita mengenai apa pada kalian, tapi jika masih penasaran. Besok datanglah lagi kemari, kita ikuti ke mana perginya kakakku”


Saat meninggalkan kediaman Presiden, suasana sepi menghiasi mereka. Semuannya enggan tuk berbicara serta berkomentar. Masalahnya sekarang adalah apa Arya ingin teman – temannya mengetahui semua itu?. Jika tidak, maka perasaan mereka semakin campur aduk.


“Kalian menyadarinya?” tanya Asuna tiba – tiba.


“Huum....” jawab Elementalist lain sementara Alalea, Callista, dan Kizuna cuma mengangkat bahu.


“Respon Arya ketika mendengar alasan Penelitian Artificial Elementalist.....mungkin dipicu akibat Insiden Penyelundupan Goblin sepuluh tahun yang lalu”


------><------


‘AMIRA....!!! PUTRIKU....!!! KENAPA....?!!’


‘DASAR IBLIS!’


‘Hei Arya? Semoga suratnya benar – benar sampai, aku memohon dengan keras pada petugas pos agar bisa mengirimnya sesuai tanggal. Selamat ulang tahun, kau ingat janji kita bukan? aku merekam lagu buatanku di piringan ini.


Jika kau lupa, bisa dimainkan supaya teringat. Aku ingin kau terus hidup....tersenyum....bahkan bila aku tidak ada disisimu. Salam hangat, Amira’


‘Ketika ada seseorang yang me...manggilmu pembohong.....kata – kata itu mungkin saja menyakiti hatimu....dan seluruh dunia percaya itulah kenyataannya.....’


“Hah?!....hiks....hah....hah....mimpi ya....?”


Arya terbangun lalu mengusap air matanya, menatap pantulan dirinya dicermin. Ia tertawa mengejek, seorang remaja berumur tujuh belas tahun bermata bengkak akibat menangisi mimpi buruk. Benar – benar konyol.


Setelah mandi dan membersihkan tubuh, Arya mengenakan setelan berwarna gelap juga memasukan beberapa pakaian ganti diranselnya. Memakan sarapan buatan Pak Tora, kemudian berpamitan pergi kepada Ayahnya.


Udara segar pagi hari membuatnya lebih nyaman, dia menjadi orang pertama yang membuka pintu besi hitam pemakaman hari itu. Berjalan mantap seolah tau seluk beluk lokasi tersebut diluar kepala. Arya berhenti tepat dihadapan salah satu nisan.


Ia berjongkok meletakkan bunga yang dibawa sebelum berdoa, kurang lebih selama setengah jam tidak beranjak sedikitpun dari posisinya. Begitu selesai, Arya menatap ke depan dan mendapati sosok gadis berambut cokelat duduk diatas makamnya sendiri.



“Yo? Tahun ini....datang lagi?”


“Huum”


“Kau semakin populer saja ya? Banyak sekali perempuan yang mengikutimu” Amira terkikik geli.


Arya hanya diam, mendengar setiap ocehan Amira tanpa menyela sedikitpun. Terus tersenyum menikmati detik demi detik yang terlewat. Sehabis nampak puas bicara, si perempuan menghela napas.


“Hei? Bukankah sudah waktunya melupakan aku?”


“Tidak bisa, mungkin selamanya” Arya menggelengkan kepala.

__ADS_1


“Ayolah! Pasti ada salah satu diantara mereka mampu mencairkan hatimu, kau tau sendiri kalau aku cuma khayalan ciptaanmu bukan?” ujar Amira sambil mendekat dan menyentuh pipi Arya.


“Kalau begitu, kau juga pasti tau bahwa aku tidak bisa”


“Ahh....dasar keras kepala! Diriku yang asli pasti tak ingin melihatmu begini terus”


“Berisik”


“Arya? Kamu datang pagi sekali”


Panggilan lembut itu membuatnya menoleh, seorang pria paruh baya bersama gadis cantik menghampirinya. Amira bersiul takjub.


“Kemala sekarang cantik sekali, memang pantas jadi adikku”


Tanpa memperdulikan komentar Amira, Arya berdiri menyapa sopan pasangan ayah dan anak tersebut. “Selamat pagi paman, Mala. Silahkan”.


Dia menyingkir untuk membiarkan dua anggota keluarga berdoa, saat semua sudah selesai. Ayah Amira mengajaknya bicara panjang lebar bak teman lama. Sementara Kemala sesekali menanggapi.


“Ngomong – ngomong topi jerami pilihanmu cantik sekali, Mala terus menerus menggunakannya selama di rumah”


“Ayah!?”


“Hehehe syukurlah kamu menyukainya”


“Moo.....terima kasih....kak”


Arya melambaikan tangan ke arah nisan sebelum ketiganya meninggalkan pemakaman, beberapa menit kemudian keluarlah orang – orang yang mengawasi pria tersebut. Dengan tambahan Reika dan Eridan, jumlah mereka genap empat belas kepala.


“Sepertinya aku pernah melihat anak perempuan tadi....tapi dimana ya....?” gumam si adik sementara mata rekan - rekannya tertuju pada nama yang tertera pada nisan.


“Amira Putri Bintang Nasution” baca mereka serempak.


Author Note :


Gimana? Sudah gw peringatin ya Arc ini akan agak drama, ya walaupun gak tau sih kalian sebagai pembaca menganggapnya sedih atau gak. Kalau menurut gw pribadi sih sebagai orang yg nulis yaa udh cukup nyeseklah, Arc Sepuluh Tahun Lalu ini sebenarnya bertujuan untuk nyindir pembaca - pembaca cerita yg bilang kalau MC overpower itu sampah.


Kalian gk tau aja masa lalunya kayak gimana gtu, semua keburuntungan Arya dalam cerita ya karena kehilangan Amira. Dia bisa jadi kuat juga mendapat hal - hal baik gk terlepas dari itu, mungkin muncul juga pertanyaan kok pas perang di Dark Side respon Arya biasa aja ketemu Greenhook?


Coba dibaca sekali lagi, dibagian itu gk ada penjelasan kalau mereka saling bertatapan muka secara langsung. Kalau sampai saling berhadapan mungkin Tepes War akan jauh lebih berdarah dari yang seharusnya. Karena masing - masing punya dendam tersendiri.


Dan kalau diperhatikan dengan seksama, kalian akan bisa menebak atau tau Jurusan Mata Kuliah Author dari inisial nama lengkap Amira :v Oh iya, kalau semisal Amira masih hidup. Bisa dipastikan kalau dia yang bakal menang, semua tim cewek lain silahkan bubar wkwkwk.





__ADS_1


__ADS_2