
Pada pinggiran sebuah pulau melayang terlihat sekumpulan orang berdiri disana berbincang satu sama lain, selang beberapa waktu sebagian memisahkan diri sementara sisanya seperti tengah mengiringi kepergian mereka.
“Kalian yakin tidak apa – apa?”
“Tenang saja, serahkan keamanan Elemental City kepada kami. Benarkan Diondra?”
“Huum, persis seperti yang dikatakan Callista!”
“Aku bersama Nyanko Kyōdai juga Werebeast lainnya pun ikut siaga disini....”
Kelima gadis dengan corak jubah berbeda – beda itu saling bertukar pandang sebelum memberikan anggukan mengerti. Semua melambai dan melompat meninggalkan lokasi satu per satu, tepat ketika sosok terakhir hendak menyusul panggilan lirih menyebabkan ia menoleh.
“Asuna?”
“Hmm?”
“Jangan berani – berani membuatku kecewa untuk kedua kalinya” nada suaranya lebih terdengar layaknya ancaman.
“Berisik, dia mampu menjaga diri. Kau terlalu khawatir Tuan Putri....”
WUSH....!!!
Usai mengucapkan kalimat barusan, si perempuan berambut hitam menghilang dari pandangan. Tubuhnya melesat ke tanah dibawah dengan kecepatan tinggi, deru angin memenuhi kedua gendang telinganya. Sensasi tersebut membuatnya merasa cukup nyaman, akhirnya pada saat yang tepat ia membuka mata lalu berbisik.
“Atsui...”
JDUARRR...!!!
Seekor naga bersisik kemerahan muncul begitu saja memberikan tumpangan kepadanya, dalam hitungan detik sang kadal bernapas api sukses menjemput empat Elementalist lain tepat sebelum mereka terjatuh menabrak bumi. Berbekal kepakan sayap lebarnya, siluet Atsui menghilang menembus cakrawala.
------><------
“Eh? Teman – teman? Cuma perasaanku saja atau di depan memang ada sebuah reruntuhan kota?” celetuk Lexa sambil memicingkan mata.
Para anak perempuan sisanya langsung bersiaga, mereka mengikuti arah yang ditunjuk oleh Lexa dan ternyata memang benar terdapat kumpulan gedung – gedung tidak terawat. Bahkan tanaman merambat serta lumut memenuhi tiap inci wilayah itu.
“Aneh....banyak jejak – jejak pertempuran disini....” Rena mengedarkan pandangan.
“Asuna?! Minta Atsui turun!”
“Kenapa?”
“Aku melihat seseorang! Jangan banyak tanya!” hardik Selena tidak sabaran.
Sewaktu mendarat betapa kagetnya gadis – gadis ini menemukan Zayn terluka parah bahkan sekarat akibat luka tembak yang meleset sedikit dari bagian vitalnya, buru – buru Rena serta Selena menggabungkan kemampuan penyembuhan untuk menyelamatkan nyawanya.
“Kondisinya sangat lemah kita tak bisa membawanya, Elizabeth kau temanilah dia hingga siuman baru pergi menyusul”
“Apa?! Kenapa harus aku?! Aku ingin segera menolong Kak Arya! Enak saja!”
“Rena maupun Selena tidak mungkin ditinggalkan, kita membutuhkan kekuatan mereka jika keadaan begini terjadi di tempat lain”
“Bodoh amat! Suruh Lexa!” Elizabeth membuang muka.
“Kau sungguh berpikir dia bisa menemukan jalan?”
__ADS_1
“Ugh....kalau demikian kau saja!”
“Aku adalah pemandu kalian untuk menemukannya ingat?” ujar Asuna menghela napas lelah.
Elizabeth menggeram kesal namun pada akhirnya menyerah karena tak menemukan alasan lain supaya ikut melanjutkan perjalanan, ia menyaksikan kepergian keempat kawannya sembari mengumpat dalam hati agar Zayn cepat sadar.
------><------
Di bawah sebuah pohon besar yang memiliki semacam celah tempat berteduh antara batangnya, nampak sesosok anak perempuan kecil sedang memeras sapu tangan ke dalam sebuah batok kelapa sambil bersiul santai. Tetapi tiba – tiba wajahnya menegang, secara perlahan dia mengangkat tangan pertanda menyerah.
“Jangan bergerak” perintah gadis dibelakangnya sambil menodongkan tombak.
“Kemari...”
“Ali....”
Setelah Lexa ditemani Asuna menarik serta mengawasi Annabelle, kedua Elementalist spesialis medis melakukan tugas mereka. Asuna memanfaatkan kesempatan tersebut demi mengorek informasi dari Annabelle, dia menjawab tanpa beban seolah tidak berniat menyembunyikan apapun.
“Keadaanya tak separah Zayn, namun staminanya hampir tidak bersisa. Aku harus merawatnya disini” Selena mengumumkan dengan wajah bimbang.
“Tenang, masih ada Rena. Keputusanmu sudah benar” balas Asuna menenangkan.
“Baiklah, aku tidak diperlukan lagi bukan? Sebaiknya aku pergi....”
“Tunggu, jangan bilang kau berencana kembali menuju mark—“
“Untuk apa? Itu sama saja tindakan bunuh diri, aku akan dihabisi akibat gagal menjalankan misi. Satu – satunya alasanku masih diam disini karena sebelumnya tidak ada yang menjaganya” Annabelle menunjuk Ali.
“Terima kasih” kata Selena tulus.
------><------
“Ketemu...”
SRRR.....!!!
Asuna dan Rena mendengar suara Lexa kemudian cepat – cepat mendekat, sang Elementalist Tanah baru saja menggeser daratan tepi jurang. Tubuh lemas Timothy nampak terkulai lemas bergelantungan pada sebuah dahan tanaman cukup rapuh, mereka mengeluarkannya dari sana lalu membiarkan Rena melakukan tugasnya.
“Lexa? Aku membutuhkan kemampuan Rena untuk menolong Arya juga Kevin, kau yakin bisa menemukan petunjuk jalan yang aku tinggalkan untuk mengejar?”
“Una percayalah padaku, keahlian tersembunyiku muncul saat situasi – situasi genting” Lexa mengacungkan jembol penuh keyakinan.
“Sungguh?”
“Yap, lagi pula semisal aku tidak bisa. Oty pasti mampu menemukannya ketika dia siuman....”
“Heh....sudah kuduga....” bisik Asuna menepuk jidatnya sendiri.
------><------
“Atsui!”
ROARR!!! WUSH...!!!
“Dapat!”
Rena berseru setelah sukses menangkap badan lemah Kevin yang hendak jatuh menabrak tanah, Asuna mengarahkan Elemental Dragon miliknya mendarat agar Rena bisa memberikan pertolongan lebih lanjut.
__ADS_1
Kondisi pemuda tersebut sempat membuat keduanya khawatir, Kevin mengalami luka dalam cukup darah bahkan terus mengucurkan darah segar melalui bagian hidung, mata, juga telinganya. Untungnya berkat kecakapan Rena dia berhasil keluar dari situasi membahayakan nyawa.
“Ugh...kalian....”
“Jangan banyak bicara, kau akan memperparah cederamu sendiri....”
GRAB!!!
“Apa maumu?” tanya Asuna mengangkat sebelah alisnya.
“Asuna....Kapten....kau harus....segera....menolongnya....mereka terlalu....uhuk....berbahaya....” Kevin merintih sembari menggenggam erat pergelangan gadis itu.
Suara Kevin sangat kecil sehingga memaksa Asuna mendekatkan telinganya, tetapi usai mendengar kalimat tadi dia langsung melesat pergi serta meminta Rena menunggu kabar teman – teman mereka yang lain. Rena berusaha menanahannya, sayang bayangan Asuna diatas punggung Atsui telah menghilang dari pandangan.
------><------
“Demikianlah caranya aku bisa berdiri disini dan menyelamatkan hidupmu beberapa detik lalu, sekarang giliranmu untuk menjelaskan juga berbagi informasi” tagih Asuna dingin.
Nyatanya respon Arya tak sesuai dugaan Asuna, bukannya senang wajahnya malah menjadi gusar. Ia bangkit kemudian membentak perempuan berambut hitam dihadapannya dengan nada kesal. “Kenapa kau malah membawa mereka semua kemari? Kau punya otak tidak sih!?”.
“HAH!? Dengar ya Tuan tak tau terima kasih! Kau pikir para Elementalist laki – laki lain masih hidup jika kami tidak datang menjemput kalian!?”
“Makanya aku sama sekali tidak pernah meminta tolong untuk dibantu! Sebab aku tau kalau misi ini berbahaya! Menurutmu orang gila macam apa yang menculik salah satu putri mantan pemimpin negara di dalam Elemental City!? Dalangnya pasti mengetahui aku dan Reika adalah saudara angkat!”
Perdebatan sengit pasangan itu bahkan mengakibatkan musuh mereka saling bertukar pandang bingung harus berbuat apa, keduanya terus melemparkan argumen – argumen kuat supaya mematikan pendapat masing – masing lalu pada akhirnya sama – sama membuang muka.
“Apa komentar Pengawas Ujian begitu kalian memutuskan pergi?”
“Tidak setuju tentu saja, tapi akulah ketuanya. Keputusan tetap ditanganku, lagi pula Alalea, Callista, Kizuna, dan Diondra memberi tekanan kepada mereka”
“Ck!? Dasar menyebalkan....”
Perlahan Arya maupun Asuna bergerak menghadap ke arah dua False Vanguard, posisi keduanya saling memunggungi satu sama lain dengan senjata sudah siap. Arya memberikan tuturan cepat mengenai inti permasalahan yang dirinya ketahui sampai sekarang secara singkat, padat, nan jelas.
“Bertarunglah melawan wanita bernama Aragon disana sementara aku mengurus rekannya”
“Bukankah ia agak mirip seseorang?” Asuna menyeletuk pelan.
“Benar, keparat Sioul itu sepertinya pelaku dibalik penculikan Reika”
“Maksudmu ilmuwan aneh bawahan Stickman dulu?”
“Yap, kau mampu melakukannya?”
“Tidak masalah....”
“Satu hal lagi, jangan pernah memanggilku bodoh....BAKASUNA....” tutup Arya sebelum maju menyerang.
WUSHH...!!!
“Hah!? Oi tungg—berisik!? Berhenti menyebutku begitu sialan!”
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.
__ADS_1