
“Kadal – kadal sialan ini tidak ada habisnya!” geram Ryan kesal berusaha keras membasmi gerombolan Wyfern.
Dia ditemani beberapa Witch Pusat Penelitian terus melepaskan satu per satu mantra untuk membasmi kawanan hama tersebut namun jumlahnya seolah sama sekali tak berkurang. Perlahan tapi pasti kinerja tubuh mereka mulai melemah serta dipenuhi luka – luka goresan.
“Celaka!”
WUSHH....!!!
Memanfaatkan kelengahan pasukan Witch, lusinan Wyfern berhasil menyelinap kemudian mengarahkan gigi – gigi runcing setajam pedang ke arah Diondra yang tengah berkosentrasi menjaga bangunan – bangunan sekitar sana selama evakusasi berlangsung.
“Ugh...”
Diondra menyadari datangnya bahaya tetapi tanpa mampu melakukan apapun, Ryan melepaskan diri dari barisan pertahanan demi menolong sayangnya jarak mereka sudah terlampau jauh. Saat semua orang berpikir telah terlambat, kejadian mengejutkan terjadi.
BURNN....!!!
“KYAAAKK....”
Badan para reptil bersayap tadi menyala, kobaran api terus kian membesar. Membakar habis tiap jengkal fisik rombongan Wyfern hingga menjadi debu, bahkan kerangka makhluk – makhluk tersebut menghilang tidak berbekas.
“Fokus....” gadis bermata merah muncul dibelakang Diondra seraya berbisik serius diantara jeritan korbannya, ia melayang berbekal dorongan hawa panas melapisi kedua telapak kakinya.
“Asuna? Bagaima—kalian sudah kembali!?”
“Begitulah”
“Kapan?”
“Baru saja, aku hampir terhempas ke tanah karena tindakan konyol seseorang. Ryan? Utamakan membuat penghalang ketimbang meladeni mereka, sebaiknya aku membantu di sini sampai kau menurunkan seluruh gedung”
“Dimengerti!” sahut Ryan segera bergerak menuju posnya.
“Terima kasih....bantuanmu sangat berarti....” Diondra berucap tulus sambil menghela napas lega.
------><------
“Aku harus mencari informasi mengenai keselamatan keluarga angkatku, jadi kita berpisah sekarang. Tolong tetap lanjutkan patroli maupun evakuasi....” Asuna berbicara usai kondisi mulai dalam kendali pasukan Pusat Penelitian.
“Hei Asuna? Di mana si Uban-san?”
“Entahlah, mengapa bertanya padaku?! Kau pikir aku pengasuhnya!?”
“Santai dong, akukan hanya ingin tau...” balas Ryan bersembunyi dibelakang Diondra.
__ADS_1
“Huh!? Pokoknya yang jelas semua Elementalist telah tiba di Elemental City....”
“Intinya sekarang kalian terpisah lalu menangani urusan masing – masing bukan?”
“Tepat, baiklah aku pergi dulu. Sampai jumpa....”
“Terima kasih Asuna! Berhati – hatilah....!” Diondra berpesan sembari melambai.
“Yaa...!!! Kalian juga!”
WUSH....!!!
Asuna melaju kencang setelah membalas ucapan selamat tinggal Diondra, dia lebih memilih berlari dari pada terbang agar dapat melihat kondisi Distrik Perak lebih detail serta bisa sigap membantu jika diperlukan.
Sesekali ia menemukan musuh dan tanpa pikir panjang menghabisi tiap kepala hanya dalam hitungan detik. Bau terbakar merupakan tanda jalan yang telah dilalui olehnya, makin dekat dengan dinding Distrik Emas jumlah lawan ikut bertambah.
Nampaknya semua tertarik ke area itu akibat menjadi pusat perlindungan para penduduk, kepulan asap di kejauhan cukup bagi Asuna untuk mengambil kesimpulan kalau sebenarnya kondisi lokasi tujuannya tidak berbeda jauh dari area sekitar tempatnya berada sekarang.
“SERBU!!!”
Teriakan kencang membuyarkan lamunan Asuna, ternyata sekitar tiga puluh Goblin secara bersamaan keluar persembunyian demi menyergapnya. Baru saja tangan Asuna menyentuh gagang Amaterasu, sebuah kilatan terang menyambar para Demon barusan.
Arus listrik membentuk lingkaran besar mengelilingi semua goblin sekitar Asuna kemudian menjerat mereka menuju satu sama lain. Dengan seluruh badan kejang – kejang akibat tersetrum nyawa mereka juga ikut melayang, di ujung jurus tali petir sebelumnya Kevin berdiri santai.
“Yo....berkatmu aku sukses menangkap ikan besar dalam sekali coba”
“Ucapanmu sama saja dengan menyebutku umpan sialan....” decak Asuna kesal.
“Memang....”
“Kau baru kembali dari Distrik Emas?”
“Ya, tapi aku tak menemukan keluarga angkatku. Mungkin mereka kabur atau menemukan lokasi aman entah dimana, mengingat sikap pengecut Ayahku. Kau sendiri?”
“Ini aku hendak pergi ke sana....”
“Maaf, aku juga tidak melihat Ayahmu ketika mencari tadi” Kevin menjelaskan menyadari ekspresi khawati gadis dihadapannya.
“Tidak apa, aku akan pergi melihat sendiri....”
“Sulit bergerak disana karena banyaknya orang – orang, apalagi pertempuran pecah pada berbagai tempat. Itulah mengapa aku memilih untuk memotong gempuran luar disini....”
__ADS_1
Asuna mendengar jelas pesan Kevin namun terus melanjutkan langkahnya dengan mantap, beberapa penjaga asal Pusat Penelitian bersiaga tiap titik penting secara melingkar demi menghalau serangan menuju Distrik Emas dari luar.
Barisan manusia panjang nan padat terlihat mencoba menyelamatkan diri dengan memasuki semua pintu melewati dinding raksasa tersebut. Asuna ikut berdesak – desakan dan akhirnya sukses mencapai bagian dalam setelah lima belas menit berjuang.
Ia buru – buru melesat ke arah kediaman keluarganya sambil sesekali membantu para Hidden Suzerainity yang sedang bertarung menggunakan lemparan bola api. Sesampainya ternyata pelayan – pelayan Perdana Menteri Hiroshi berkumpul di halaman, dalam keadaan panik mereka semua segera mendekati Asuna.
Sang Elementalist Api mencoba menenangkan seluruh penghuni kediaman itu lalu menanyakan keberadaan Ayah angkatnya. Para bawahan tadi saling bertukar pandang sebentar terus menceritakan kalau beliau meminta semua berkumpul di sini sementara dia pergi melihat situasi sekitar.
Wajah Asuna langsung memucat, gadis tersebut mencengkram pundak salah satu pelayan dan memaksanya memberitahu ke arah mana Perdana Menteri pergi. Usai mendapatkan informasi Asuna bergegas berangkat, ia berpapasan dengan banyak orang yang kabur dari arah dimana kabarnya Goblin Rare-Tier muncul.
Benar saja Asuna menemukan tiga sosok berperawakan tinggi besar serta berkulit hijau menghancurkan beberapa bangunan. Asuna mengeluarkan senjata siap menyerang, tetapi matanya melihat incaran para monster barusan.
“AYAH!?”
Tanpa basa – basi Asuna menerjang ke depan, bersamaan dengan hal itu ketiga goblin mengejar Perdana Menteri Hiroshi menuju salah satu gang. Dengan napas memburu Asuna berlari sekuat tenaga tuk menyusul.
Jantungnya berdegup kencang tidak kuasa membayangkan apa yang terjadi kalau sampai dirinya terlambat, tepat selangkah hampir mencapai belokan jalan kecil tersebut. Cipratan darah segar memenuhi udara, membentuk hujan sementara berbau amis.
GLEK!
Asuna menelan ludah berat, ia menguatkan hati juga mentalnya sebelum pelan – pelan mengintip ke dalam gang. Tubuh – tubuh Goblin Rare-Tier hilang entah kemana, hanya ada tumpukan daging cincang memenuhi tanah.
Siluet enam orang lain nampak berdiri di ujung jalan, salah satunya merupakan ayah angkat Asuna yaitu Hiroshi Masamune. Sementara kelima sisanya berpenampilan sangar, badan mereka penuh otot serta dihiasi tato.
Masing – masing membawa sebilah katana berkualitas tinggi, cara Asuna mengetahuinya adalah tidak adanya sedikitpun bercak darah mengotori bilah pedangnya padahal baru saja digunakan bertarung.
Agnet padat melapisi senjata – senjata barusan bahkan mengakibatkan atmosfer sekitar lokasi bergetar tak wajar. Seorang pria berambut putih menyadari tatapan Asuna kemudian menoleh, dia tersenyum sebelum memanggil Hiroshi.
“Shushō? Sepertinya anda kedatangan tamu penting....”
“Apa yang kau bicarakan Munechika? Ini bukan waktunya bercan—Asuna?”
“Ayah...?”
“Hahahaha halo Ojou-chan, lama tidak bertemu. Mengapa anda terlihat buru – buru begitu?” sapa laki – laki tadi santai.
“Bukankah kalian....kelompok Yakuza....Tenka Goken....”
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.
__ADS_1