Elementalist

Elementalist
Chapter 239 - Siap Mati


__ADS_3

“Uhuk...! Uhuk....! Debu – debu ini bisa membunuhku....apa aku harus membayar ganti rugi atas kerusakan gedung barusan?”


Ocehan terkesan malas masih terdengar dibalik kepulan dampak jatuhnya sesuatu tersebut, Madison serta Fae mengangkat tangan untuk memberi tanda supaya anak – anak mereka diam di tempat. Ada perasaan aneh yang membuat indera masing – masing mengeluarkan sinyal bahaya padahal hanya memperhatikan sekilas suara sosok misterius itu.


“Mari pergi....kita telah mendapatkan yang kita mau....” bisik Madison membalikan tubuh cepat tidak punya niatan sedikitpun berurusan dengan apapun penyebab hancurnya bangunan dihadapannya.


“Hmm...? Mengapa buru – buru begitu? Oh ya....ngomong – ngomong bisakah dua oramg nenek di sana melepaskan teman – temanku?”


‘DIA MENYADARI KEHADIRAN KAMI!?’


Perlahan siluet badan muncul melalui celah reruntuhan, hal pertama yang nampak adalah sorot mata biru tajam mengunci tepat ke arah rombongan keluarga Tepes berada. Keempat Vampir dekat Madison juga Fae dipaksa kembali mengingat kejadian perang beberapa waktu lalu.


“Elementalist Es....” ekspresi Ethel menegang penuh kebencian.


“Arya Frost....hehehehe....” Galahad menyeringai lebar.


“Ukh....amis sekali....awalnya aku kira banyak korban luka – luka ternyata Vampir, meski punya urusan dengan Callista seharusnya kalian tidak memperlakukannya separah itu bukan? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”


“Mustahil....mereka sudah sampai kemari?! Prediksi si bocah Elf Azuldria tengik meleset! Mundu—“


Belum sempat Fae menyelesaikan kalimatnya, Galahad maju menerjang sehingga tak satupun dari mereka sempat bereaksi. Aura merah pekat menyelimuti sekujur tangan kanannya, ia telah lama menunggu momen balas dendam ini.


“MATI KAU BRENG—“


BRUAKH....!!!


Dalam sekejap telapak Arya tiba – tiba muncul menutupi seluruh wajah Galahad, detik berikutnya yang ia tau kepalanya dihantamkan sangat keras hingga melesak sampai dalam tanah sekaligus menyebabkan kesadarannya menghilang.


“KAK GALAHAD!?” seru Aris dan Dexi bersamaan khawatir.


KRETAK! KRUTUK!


“Ahh...aku mulai mengingatnya sekarang, memoriku sedikit kabur akibat menggunakan Mode Servant saat bertemu terakhir kali. Tapi maaf ya aku sedang tergesa – gesa jadi....mungkin agak kurang sopan....”Arya berjalan santai sembari menggemertakan buku – buku jarinya.


WUSH....!!!


Madison dan Fae terkesiap waktu Arya sudah berdiri diantara mereka, refleks masing – masing langsung menyerang menggunakan tangan. Namun anggota badan keduanya kaku sepersekian detik karena ingatan masa lalu.


Alhasil serangan dua Vampir dewasa itu hanya menyentuh udara kosong, Arya terlihat lagi beberapa meter dari sana sambil membopong Callista maupun Kizuna pada kedua lengannya. Barulah para istri Kris Tepes tersadar sanderanya berhasil direbut.


“Huft....oke...semuanya aman terkendali”


Arya menyandarkan dua gadis tadi ke dinding bangunan yang masih berdiri meski agak compang – camping, dia sekali lagi mulai membalikan tubuhnya menuju lawan. Energi kehitaman pelan tapi pasti merembes dari dalam raganya terus membentuk semacam jubah ketika tangan kirinya menggenggam sebuah kayu berukuran sedang mirip pensil.


Ketika akhirnya menoleh sepenuhnya, bola mata Arya menunjukan tiga warna berbeda. Bayanganya membelah diri menjadi lima bagian kemudian tumbuh membentuk sosok – sosok berzirah, tekanan hebat menyebabkan anak – anak keluarga Tepes bergetar tak terkendali.


__ADS_1


“Kalian...tentu siap mati bukan sejak menginjakkan kaki di sini?” tanyanya dingin.


Tanpa menunggu Fae melepaskan masker miliknya lalu meniupkan asap pekat demi menghalau pandangan Arya, Madison langsung menjemput tubuh lunglai Galahad dan memimpin kelompoknya kabur sejauh mungkin bahkan meninggalkan Elemental City.


Ethel, Aris, serta Dexi sekilas melirik tampang pucat ibu masing – masing. Ketiganya tidak tau penyebab utama perasaan ngeri itu bukan Arya, melainkan trauma mereka yang muncul kembali dari pertemuan barusan mengingatkan Madison juga Fae dengan kekalahan melawan perempuan berjuluk Snow White Princess.


“Pergilah....aku tidak ingin membunuh kalian....”



Gambaran punggung dihiasi helai rambut panjang berwarna putih tersebut menghantui dua Vampir ini walaupun sudah bertahun – tahun lamanya. Keduanya menggertakan gigi penuh perasaan murka, “Lyan Frost....”.


------><------


“Hhhhhggh......”


“Tidak, biarkan saja. Aku tau kau sangat gatal mau memburu mereka tapi tahan dirimu Zulqar, aku membutuhkan bantuan kalian untuk menolong sebisa mungkin Manusia di Elemental City. Habisi apapun yang membahayakan, kalian mengerti?”


Kelima makhluk panggilan tersebut segera membungkuk hormat kemudian mengangguk patuh, Arya mengibaskan tanganya dan masing – masing langsung berpencar menuju berbagai arah berbeda. Jubah sihir kuno Arya ikut menghilang, ia mulai merapalkan mantra penyembuhan ras Elf.


Cahaya hangat kehijauan menyelimuti seukujur tubuh Callista maupun Kizuna, tak memerlukan waktu lama bagi Kizuna siuman. Kelopak matanya mengerjap beberapa kali masih berusaha memahami situasi.


“Ekh...berhentilah muncul di mimpiku dasar laki – laki tidak peka...”


“Hah? Kau mengigau ya?”


CTAK...!!!


“Sudah bangun?”


“Arya?! Kau pulang?! Bagaimana—“


“Ssssttt....pertama – tama pulihkan lukamu lebih dahulu....”


Arya meminta Kizuna menjulurkan tangannya, dia tak membiarkan gadis itu bertanya buat apa tapi cepat – cepat menempelkan miliknya sendiri. Ketika kulit keduanya bertemu cahaya keemasan bersinar terang, detik berikutnya seekor rubah mungil berdiri di telapak Kizuna.


“Woahh....imut sekali?! Makhluk apa ini?”


“Namanya Yeou, perwujudan Mythical Werebeast Orb yang kau titipkan padaku. Bawalah dia bersamamu maka kau akan lebih cepat pulih dan kuat dari sebelumnya” Arya menjelaskan.


“Uhhh....”


Suara lenguh bak hewan sekarat menarik perhatian mereka, badan Callista perlahan tapi pasti melakukan gerakan – gerakan kecil. Pupil merahnya nampak mengintip namun dengan tatapan kosong, terlihat jelas betapa lesunya anak perempuan tersebut bagi Arya serta Kizuna.


Arya menggores sedikit pergelangangan tanganya agar darah merembes keluar sebelum mengarahkannya ke bibir Callista. Awalnya seolah tidak ada perubahan, tetapi selesai tegukan pertama melewati kerongkongannya. Matanya melebar terus mengeluarkan cahaya terang, lalu tanpa aba – aba menyambar lengan Arya untuk segera membenamkan gigi taringnya ke sana.


HAP! SLURP....!!!

__ADS_1


“Mmmm....mhmhmhm....mhmmhmhm.....mhhmmmm.....”


“Nona? Aku tau kau kehausan juga butuh, namun bisakah kau sedikit lebih sopan?”


“Humhhhm...!? Heemmmhh...!? Hmph.....!?”


“Berhenti menghisap baru bicara!? Siapa yang bakal paham kau hendak menyampaikan apa hah!?” teriak Arya kesal.


------><------


“Ahhh....akhirnya aku merasa hidup kembali....”


“Puas?”


“Ehehehe....maaf” Callista melepaskan genggaman kuatnya terhadap bagian tubuh Arya.


“Bagaimana caramu menyelamatkan kami?”


“Iya akupun penasaran, kalau saja persediaan darahku tak habis bakal kuladeni nenek – nenek menyeramkan itu bahkan seratus ronde....”


Arya menceritakan kejadian tersebut sejujur – jujurnya tapi melewati tahap dirinya yang jatuh secara konyol karena sangat memalukan, lanjut dia memberitahu kalau Elementalist lain sudah tiba bersamanya tetapi sedang pergi menyelesaikan urusan masing – masing dahulu. Jadi bisa disimpulkan seharusnya keadaan mulai dapat terkendali.


Berikutnya giliran Arya meminta informasi, usai mendengar keduanya ekspresi Arya berubah serius. Meski masih agak bingung tentang bagaimana cara musuh menyusup, ia punya beberapa dugaan kemungkinan dari gambaran Callista dan Kizuna.


“Baiklah cukup, aku harus pergi menuju Distrik Emas demi memastikan keadaan Pak Hartoso. Kalian sebaiknya berkumpul dengan anggota Pusat Penelitian tuk membantu orang – orang yang membutuhkan”


“Siap!”


“Eh? Arya? Ngomong – ngomong di mana Reika?”


Mendengar pertanyaan Callista langkah Arya terhenti, dia berdiam diri cukup lama. Kizuna segera menyikut Callista hingga meringis kesakitan, Kizuna sebenarnya telah memprediksi hasil misi penyelematan itu berbekal penilaian sikap Arya sedari tadi.


“Gagal, Reika dibawa kabur oleh musuh....”


“Ohh...tidak....Arya aku—”


“Aku ini....kakak yang buruk ya?” ujar Arya menoleh sembari tersenyum lemah.


“Jangan bilang be—“


WUSH....!!!


Sebelum salah satu dari Kizuna atau Callista mengucapkan kata – kata penyemangat, sosok sang Elementalist es menghilang bak ditelan bumi. Meninggalkan kedua gadis barusan saling bertukar pandang penuh rasa bersalah.


Author Note :


Berhubung Author lg sibuk mencari tempat magang dan berjuang untuk segera lulus, ada kemungkinan update terganggu tp diusahain tetaplah tiap minggu. Jadi mohon doanya ya wahai teman - teman pembaca sekalian hahaha. Stay safe dan terima kasih banyak masih membaca cerita ini, see yaa....

__ADS_1


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2