
Tanpa aba – aba kesembilan ekor Kizuna melibas daerah sekitarnya, memaksa empat anak keluarga Tepes melindungi diri masing – masing dan menjauh. Kizuna memasuki mode Kyubi no Yoroi dengan mudah lalu siap bertempur kapan saja.
Callista masih terbaring lemah, kemampuan regenerasinya jauh berkurang akibat kehabisan cadangan darah Servant. Menyadari hal ini Kizuna tau nampaknya harus mencari jalan keluar dari situasi berbahaya dihadapannya sekarang.
“Cih apa – apaan dia?!” geram Aris kesal.
“Hati – hati, sepertinya kita menemukan salah satu target lain. Sang Mythical Werebeast rubah berekor sembilan....” Ethel memberitahu adik – adiknya penuh waspada.
“Tangkapan besar, dua burung dalam sekali lempar” tambah Galahad.
“Kau....Kizuna bukan?” Dexi bertanya pelan.
“Jika iya memang kenapa?”
Usai menyahut ekor – ekor Kizuna menerjang para musuh, mereka cepat – cepat berpencar. Sebaik apapun kendali Kizuna atas Mythical Werebeast Armor miliknya keempat kakak beradik itu yakin menang jumlah mampu mempermudah pertarungan tersebut.
Dexi melesat cepat mencari titik buta Kizuna sebelum menembakan panah merah darah mengincar kepala lawannya, tetapi Kizuna sigap menarik senar busurnya sendiri sehingga menyebabkan ledakan besar dampak benturan dua serangan.
“Sialan!? Aku tidak bisa melukai ekornya!?”
“Tentu saja adikku yang pintar, tiap bagian badannya telah dilapisi Agnet pelindung. Cara paling tepat adalah menghajar langsung tubuhnya....” balas Ethel terhadap ujaran murka Aris.
“Bicara memang mudah kak....”
“Serahkan padaku....”
WUSH....!!!
Galahad memilih mengabaikan perdebatan saudari – saudarinya terus bergerak maju, ia menghindari seluruh upaya Kizuna menghentikannya. Saat jarak mereka hanya terpisah beberapa meter dan teknik cakar merah Galahad sudah diaktifkan, Kizuna menarik sembilan ekornya membentuk perisai lingkaran besar berbulu putih halus.
TRANG...!!!
“Apa!?”
Ekspresi terkejut jelas menghiasi wajah Galahad ketika tersadar kalau jurusnya sama sekali tidak meninggalkan bekas terhadap pelindung Kizuna. Sedetik berselang mereka kembali membuka lalu memperlihatkan Kizuna yang sudah menyiapkan anak panahnya.
SYUU...!!! JLEB!!! BUAKH...!!!
Raga milik Galahad terpental jauh sampai menabrak sejumlah bangunan, kondisi balik lagi seperti semula. Jenis Kyubi no Yoroi Kizuna sedikit berbeda dibandingkan Arya, dia memaksimalkan keistimewaanya sebagai pertahanan mutlak tiga ratus enam puluh derajat. Tanpa celah serta titik buta sekalipun sebab hal ini paling cocok untuk dirinya karena merupakan seorang pemanah.
‘Aku....bisa bertahan, tunggu Callista pulih sedikit lagi lalu aku akan membawanya pergi dari si—‘
“Kalian sungguh tidak dapat diharapkan ya....”
Suara dingin barusan mennyebabkan tiap inci badan Kizuna membeku, dia mencari sumber datangnya kemudian menemukan dua sosok Vampir lain namun auranya berkali – kali lipat diatas empat musuh sebelumnya.
“Waktu kesulitan menangani benda – benda menyebalkan itu maka....”
WUSH....!!! BRUAK!!!
Hanya berjarak kedipan mata Madison dan Fae mengepung Kizuna terus menginjak masing – masing tiga ekornya sampai terjepit ke tanah juga sulit digerakan. Secara insting Kizuna memanfaatkan sisanya untuk menyerang sayangnya kedua ekornya dengan gampangnya ditangkap.
“Tinggal dibeginikan selesai bukan?”
__ADS_1
“Sudah lama sekali sejak aku terakhir kali bertarung melawan Mythical Werebeast, apa kau mengenal Shenlong gadis kecil?”
“Perset—tunggu....jangan – jangan....maksudmu Ayah Garyu dan Hebihime?”
“Huum, tepat sekali. Dia jauh lebih kuat dibandingkan anak – anaknya, naga tua itulah yang mengambil mata kananku....” Madison menunjuk mukanya.
“Sekarang mari lihat bagaimana jika salah satu dari mereka kami buat caca—“
BUAKH...!!!
Sebelum tangan Madison ataupun Fae menyambar Kizuna, Callista bangkit menundukkan kepala si rubah berekor sembilan lalu melepaskan tendangan kepada kedua ibu tirinya. Mereka terdorong mundur tanpa luka berarti sambil berdecak kesal. “Kau ini keras kepala sekali....”.
“Callista!?”
“Hah....hah....terima kasih telah melindungiku Kizuna, tapi sekarakng biarkan aku ikut membantu” balas Callista menciptakan senjata darahnya sekali lagi.
------><------
“Sam....pah....” Madison menguap santai sembari menyeret Callista.
“Kalian terlalu cepat seratus tahun jika ingin mengalahkan kami....” tambah Fae yang juga menjambak rambut Kizuna.
Tidak perlu waktu lama bagi Vampir veteran seperti mereka untuk menaklukan bocah – bocah berumur belasan. Masing – masing mengajak keempat anak keluarga Tepes supaya segera meninggalkan lokasi agar tak berurusan dengan pasukan bala bantuan, Madison serta Fae menceramahi kekurangan semuanya akibat diberikan tugas sepele saja kesulitan.
PRANK...!!!
“Hmm....?”
BUMM....!!!
Sesuatu menghantam tanah cukup keras, memunculkan tanda tanya di benak setiap orang dekat sana. Anehnya Madison maupun Fae menahan anak – anaknya supaya tak memeriksa apa gerangan sesuatu misterius tadi.
“Adududuh....pinggangku....aku memang mengusulkan tuk lompat namun tidak kusangka ternyata setinggi ini....” gerutu seseorang dari balik kepulan debu.
------><------
‘Arya? Elemental City sudah terlihat....’
“Iya, aku bukannya buta Safira....”
Walau terkesan bercanda Arya benar – benar serius, ia dapat merasakan aura gelap memancar sekitar lokasi tujuan. Akhirnya Arya meminta supaya Safira memelankan laju terbangnya kemudian menganalisis kota di bawah.
“Kita sampai....”
“Eeee....sekarang ada yang mau memberitahuku cara kita bisa masuk melewati pelindung kota?” Timothy menyeletuk penuh harap.
“Kita robek saja....” usul Kevin, Elizabeth, dan Lexa bersamaan.
“JANGAN...!!!” namun langsung ditolak mentah – mentah oleh Selena, Rena, serta Asuna.
“Bagaimana kalau makin banyak monster menyusup kesana nantinya?”
__ADS_1
“Zayn benar, apa sebaiknya masuk melalui Door Mouse seperti ketika pergi Kapten?” Ali bertanya.
“Terobos....” gumam Arya.
“HAHHH...!? KAU DENGAR ATAU TIDAK SIH!?”
Arya menjelaskan mustahil mereka ke dalam memanfaatkan pintu kecil dimaksud Ali karena pasti seluruh petugas sedang tak berada di posnya masing – masing, mengingat pesan Alalea tentang lumpuhnya Distrik Perunggu.
‘Arya?!’
Saat perdebatan makin memanas antara para Elementalist, panggilan Safira membuat Arya menoleh. Matanya melebar melihat membran tipis yang melapisi udara sekitar Elemental City agak meredup dan hilang sementara.
“Kesempatan! Sekarang atau tak sama sekali! Jump!!!” Arya berseru lalu melangkah ke udara kosong.
“Eh?”
“Safira!?”
Mengikuti panggilan tuannya, wujud naga Safira menghilang kembali pada Arya. Meninggalkan kesembilan penumpang lain dengan ekspresi membeku sebentar kemudian terjun bebas dalam hitungan detik.
“WOAAAAA....!?” jerit Selena bersama Timothy sekeras mungkin.
“Yoohooo....!!!” Elizabeth maupun Lexa tergelak senang.
“Aku paling benci waktu dia melakukan hal – hal seperti ini....hiks....” gumam Rena pasrah tersenyum berlinang air mata.
“Ikuti aku!”
Selesai berteriak Arya memutar – mutar tubuhnya di tempat menciptakan lapisan es berbentuk spiral dari telapak kakinya. Dia meluncur tenang turun diikuti teman – temannya, setidaknya berkat itu mereka tidak terlihat layaknya orang bodoh yang ingin bunuh diri. Demikian isi kepala masing – masing sebelum perkara lain terjadi.
“Syukur—“
“Eeee....Kapten?” Timothy memanggil pelan.
“Hah...?”
“Apa hanya perasaanku saja atau pelindungnya memang sedang kembali dan makin dekat kemari?”
Mendengar ucapan Timothy semuanya memperhatikan kiri kanan, ternyata lapisan transparan sebelumnya aktif lagi terus cuma berjarak sekitar semeter dari titik mereka bersepuluh berada. Arya menelan ludah berat sambil mendesis, “Oh...oh....ini nampaknya sedikit gawat....”.
PRANK...!!!
Seluncuran tersebut pecah berkeping – keping lalu mementalkan para Elementalist ke berbagai arah berbeda. Untungnya tidak ada yang tertinggal di luar sehingga masing – masing sudah memastikan diri memasuki kawasan Elemental City.
“Pergilah selesaikan urusan kalian!? Nanti kita akan berkumpul lagi!!!”
Arya tidak tau pesannya tersampaikan kepada anggota lain karena teriakan mereka saling sahut menyahut, melesat dengan kecepatan tinggi ia buru – buru memikirkan cara agar sukses mendarat aman juga nyaman. Tetapi sebelum sempat memanggil Efbi atau Safira badannya telah menubruk daratan terlebih dahulu.
“Adududuh....pinggangku....aku memang mengusulkan tuk lompat namun tidak kusangka ternyata setinggi ini....”
^^^
__ADS_1
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.