Elementalist

Elementalist
Chapter 55 - Kelabang Ungu Raksasa


__ADS_3

Arya menatap kobaran api unggun yang dirinya buat bersama Lexa dalam diam, ia sedang berpikir keras tentang pesan terakhir M untuk mereka berdua. Sementara itu, tidak jauh darinya Lexa dan Rake menyantap makan malam mereka dengan lahap.


Arya sudah menyerah untuk meminta tuan dan hewan peliharaan itu untuk membantunya mencari jawaban, hanya membuang-buang tenaga saja pikirnya.


KLIK!


Seketika ia merasa seolah-olah gembok raksasa yang ada didalam kepalanya terbuka begitu saja, membuang-buang tenaga? Jangan percaya pada Si Penipu? Kesalahan kerudung merah? Ketiga kalimat itu berputar-putar dikepalanya dan akhirnya memunculkan sebuah kesimpulan yang paling masuk akal.


"Lexa? Aku tidak tau bagaimana denganmu, tapi....apa kau pernah mendengar kisah Gadis Kecil Berkerudung Merah waktu kanak-kanak?" Arya bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari kobaran api.


"Dasar tidak sopan, tentu saja aku pernah mendengarnya. Kau pikir aku anak Broken Home atau apa?" Lexa mengembungkan pipi kesal.


"Eee....secara teori sih seharusnya kita semua Broken Home, apa kau lupa kalau kita bersepuluh yatim piatu?"


"Tapikan orang tua angkatku ba—"


"Baiklah-baiklah terserah, kalau kita membahas hal ini maka tidak akan pernah selesai" potong Arya cepat.


"Padahalkan dirinya sendiri yang memulainya" ujar Lexa ketus.


Arya menghela napas untuk menenangkan diri, "Pada kisah Gadis Kecil Berkerudung Merah apa kau ingat siapa yang menjadi Si Penipu?"


"Si Serigala bukan?"


"Betul, menurutmu apa kesalahan yang dilakukan Gadis Kecil Berkerudung Merah dalam cerita itu?"


"Percaya pada Si Serigala?" jawab Lexa ragu.


"Tepat sekali, jadi....?"


"Jadi....?"


"Ugh....kau masih tidak mengerti apa yang harus kita lakukan?"


"Bagaimana mungkin aku bisa mengerti jika kau memberikan penjelasan seabstrak itu!"


Arya menepuk jidatnya lelah, dia hampir kehabisan kesabaran menghadapi gadis lambat yang satu ini.


"Hah...., kau sudah pernah melihat wujud Guide Vision milikku saat bertarung melawan Hollow sebelumnya bukan?"


"Humm" Lexa mengangguk tegas lalu memiringkan kepalanya menandakan dirinya masih belum mengerti.


"Wujud binatang apakah itu?" tanya Arya sekali lagi dengan nada suara guru Taman Kanak-kanak.


"Bukannya Seri—Oh....!? Aku mengerti sekarang! Jadi yang harus kita lakukan adalah tidak usah mengikuti Guide Vision milikmu, ya kan? Tapi tunggu sebentar, lalu bagaimana cara kita menemukan Ice Temple kalau begitu? Dengan berjalan kearah sebaliknya?"


"Binggo!" jawab Arya sambil menjentikkan jarinya puas.


------<<>>------


Keesokan harinya Arya dan Lexa mulai melanjutkan pencarian mereka, diawal perjalanan Arya memilih jalan secara acak karena tidak memiliki petunjuk sedikitpun. Berselang beberapa waktu sejak mulai berjalan dia akhirnya melihat makhluk itu lagi.


Serigala putih itu duduk diam sambil balik menatap Arya, posisinya saat ini berada pada persimpangan jalan yang hendak dilewati oleh Arya dan Lexa. Setelah diam untuk beberapa saat, ia segera bangkit dan berjalan semakin menjauh kemudian hilang disalah satu arah persimpangan jalan tersebut.


Melihat hal itu, Arya langsung menarik Lexa ke arah sebaliknya tanpa berkata apa-apa. Lexa yang terkejut karena perubahan arah yang tiba-tiba hanya bisa merengut kesal.


"Kita belok ke kanan" perintah Arya.


"Eh?! Beritahu lebih awal dong!" Lexa mulai protes.


"Mau bagaimana lagi? Kemunculan Guide Vision itukan acak"


"Setidaknya kau bisa memberitahuku kalau sedang melihatnya bukan?"


"Itu....merepotkan" ujar Arya tidak peduli.


"Hah?! Kau bilang mere—"


"Bagaimana kalau kita bergandengan tangan saja" Arya memberi saran sambil menjulurkan tangan kanannya.


"Eh!?"


Langkah Lexa terhenti, ia melihat tangan Arya dalam-dalam seakan baru pertama kali melihat dan mendengar apa itu bergandengan tangan. Secara perlahan dia mulai berusaha untuk menggapai tangan kanan Arya.


Namun tepat sebelum kedua tangan mereka bersentuhan, Lexa segera menariknya kembali dengan wajah memerah sambil berteriak.


"Aku tidak bisa!"


"Hah? Kenapa?" Arya menoleh dengan wajah heran.


"Pokoknya tidak bisa! Lagi pula untuk apa kita bergandengan tangan? Dasar modus!" seru Lexa sambil menunjuk wajah Arya.


Arya balik menatapnya dengan tatapan kosong yang membuat Lexa semakin salah tingkah.


"Bukankah dengan bergandengan tangan kita berdua bisa bergerak dengan lebih efektif? Kau tidak perlu diarahkan olehku dan aku juga tidak perlu memberitahumu kapan aku melihat serigala itu.


Dan untuk modus, kenapa kau baru mempermasalahkan bergandengan tangan? Kau pikir siapa yang memesan satu kamar untuk kita berdua di penginapan Underground Paradise hah? Sebenarnya siapa yang modus disini?"


"Lalalala aku tidak dengar, aku tidak dengar. Aku juga tidak mau bergandengan tangan denganmu" Lexa menutup kedua telingannya sambil memalingkan wajah.


"Itulah kenapa dari tadi aku bertanya kenapa?"

__ADS_1


"Eee....t....ta....tanganmu bau"


"Enak saja, sudahlah kalau begitu" Arya segera berbalik memunggungi Lexa.


"Kalau kau tidak mau bergandengan tangan ya sudah, tapi agar kita bisa bergerak lebih cepat. Setidaknya kau bisa memegang ujung jubah milikku, bagaimana? Kau keberatan Lexa?"


Tanpa berkata sepatah katapun Lexa langsung meraih ujung jubah milik Arya.


"Kalau hanya ujung jubah sih aku....tidak apa-apa" bisiknya pelan.


"Bagus, kalau begitu ayo kita jalan"


Mereka berdua terus melanjutkan perjalanan dengan cara seperti itu, beberapa kali Arya lagi-lagi melihat Guide Vision miliknya menunjukkan arah jalan. Namun ia segera melangkah ke arah yang sebaliknya.


Setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya serigala putih itu sedikit berbeda dari Guide Vision kebanyakan. Dia bisa dilihat oleh M dan Lexa, bahkan mampu bertarung melawan Hollow level 5.


"Apa jangan-jangan dia bukan penunjuk arah? Melainkan radar untuk mengetahui posisi dimana para Hollow berada"


Arya memang merasa sedikit janggal karena dirinya dan Lexa belum bertemu dengan satu Hollow pun lagi sejak mulai melakukan pencarian ini. Mungkin saja hal itu dikarenakan arah yang ditunjukan serigala tersebut memang kawasan para Hollow.


Satu hal lagi yang membuat Arya sedikit keheranan, Lexa yang biasanya cerewet entah mengapa dari mulai berjalan dengan memegang ujung jubah Arya, hanya diam dan tidak bersuara. Akhirnya mereka berdua sampai didepan tanaman belukar tinggi yang dilapisi embun beku.


"Sepertinya Ice Temple ada diba—"


JDUKK!


"Eh? Maaf Lexa aku tidak memberikan aba-aba untuk berhenti"


Lexa tidak merespon, dia masih diam sambil menempelkan kepalanya pada punggung Arya.


"Lexa?"


Secara tiba-tiba Lexa merangkul Arya dari belakang, dia memeluk tubuh Arya sambil terus menempel dipunggungnya.


"Hey Lexa?! Apa yang—'


"Kumohon...., sebentar saja. Izinkan aku terus seperti ini"


"Hah? Ada apa denganmu? Apa kau sedang sakit?" tanya Arya sekali lagi dengan kebingungan.


"Jangan menoleh!" Lexa berseru sambil memaksa pandangan Arya kembali ke arah depan.


Terpaksa Arya hanya diam menuruti keinginan gadis itu sampai akhirnya dia berbisik pelan ditelinga Arya.


"Setelah kupikir lagi....tubuhmu ternyata hangat juga"


"Tentu saja hangat, aku kan belum mati" jawab Arya datar.


"Kau ini kenapa sih?" Arya mengangkat sebelah alisnya pertanda heran.


"Hmm? Apa maksudmu? Ayo kita bergegas dasar lamban"


Selesai berkata seperti itu dia segera berjalan lebih dulu untuk menerobos belukar yang ada dihadapannya tanpa menunggu Arya. Arya melihat punggung gadis itu semakin menjauh sambil menghela napas.


"Hah....sepertinya aku....tidak akan pernah mengerti isi kepala perempuan"


"Kalau saran dariku Tuan, sebaiknya kau mulai mencoba atau setidaknya berusaha untuk mengerti dari sekarang"


"Hmm? Tumben kau berkomentar" Arya cukup terkejut karena tiba-tiba Mandalika menyeletuk begitu didalam kepalanya.


"Eee....bagaimana ya? Hanya saja aku punya firasat kalau Tuan terus begini, malah akan merepotkan diri Tuan sendiri untuk waktu-waktu mendatang" Mandalika tertawa canggung yang membuat ekspresi wajah Arya semakin kebingungan.


------<<>>------


Tepat ketika mereka baru saja keluar dari semak belukar, keduanya dihadapkan oleh pemandangan bangunan raksasa berbentuk Kastil yang terbuat dari es. Semangat Arya semakin memuncak karena hal itu.



Baru saja dia mau melakukan langkah pertama, ada sensasi aneh yang menyelubungi tubuhnya. Langsung saja mata dan sekujur tubuh Arya mengeluarkan cahaya kebiruan. Kejadian itu berlangsung serta berakhir dengan sangat cepat.


"Ada apa?" tanya Lexa yang sedikitnya mengerti kondisi Arya barusan.


"Aku bisa merasakannya. Kita sudah berada di tempat yang tepat" sahut Arya dengan senyum puas.


"Akhirnya kalian muncul juga, apa saranku berguna?"


Mereka berdua segera menoleh dan melihat M muncul dengan payung jingga miliknya. Gadis itu berjalan dengan sangat santai ke arah mereka seolah-olah tidak perduli dimana tempat mereka berada saat ini.


"Terimakasih atas sarannya, sangat berguna. Bagaimana aku harus membalasnya?" Arya mendekat dan mengelus kepala gadis kecil itu.


"Ahh itu tidak perlu, lagipula kakak pernah memberiku makan waktu itu. Eee....dan juga...." M mulai menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Hmm? Ada apa?" Lexa sedikit heran melihat gelagat M.


M kemudian menunjuk Ice Temple sambil bertanya "Kakak berdua ingin memasuki bangunan itu bukan?"


"Begitulah" jawab Arya singkat sambil mengangguk.


"Kalau aku sih memang tidak memiliki urusan apapun didalam sana tapi, aku membutuhkan sesuatu milik penjaga tempat ini"


Arya dan Lexa lalu memperhatikan Ice Temple sekali lagi. Tapi walaupun sudah dipandangi cukup lama mereka masih belum mengerti apa yang dimaksud M dengan penjaga.

__ADS_1


"Aku tidak melihat apapun menjaga bangunan itu" ujar Lexa sambil memiringkan kepalanya.


"Eh? Tidakkah kalian melihat sesuatu yang janggal pada tanah penopang bangunan itu?"


"Memang sih tanah berwarna keunguan disana tidak lazim tapi—"


"Eee....Lexa? Kupikir itu bukan tanah, karena....seingatku tanah tidak bisa menggeliat seperti itu" Arya mulai merasa tidak nyaman.


"Menggeliat? Tidak mungkin tanah it—DIA MENGGELIAT?! Tanah macam apa itu?!"


"Itu....bukan tanah, itu....lipan raksasa" pemandangan itu hanya membuat Arya semakin sulit menelan ludahnya.


------<<>>------


"Namanya adalah Colossal Violet Centipede, salah satu makhluk paling berbahaya di tempat ini"



"Nama yang keren!"


"Kenapa kau malah jadi bersemangat? Bodoh!" Arya menjitak kepala Lexa kesal.


Mereka bertiga sedang mengamati serangga raksasa itu dari kejauhan. Dengan adanya kelabang raksasa disana, akan semakin memakan waktu mereka untuk memasuki Ice Temple. Lagipula Arya sendiri tidak tau bagaimana cara menghadapi makhluk ganas tersebut.


"Jadi....sekarang bagaimana?" tanya Lexa sambil menoleh pada Arya dan M.


"Aku ada sebuah rencana, tapi aku membutuhkan bantuan dari kalian berdua" M menatap keduanya dengan serius.


Dia lalu menjelaskan pada mereka kalau dirinya mampu menghabisi Colossal Violet Centipede dengan sebuah teknik khusus. Namun yang menjadi masalahnya adalah teknik itu membutuhkan persiapan waktu cukup lama serta kemampuan membidik M juga tidak terlalu baik.


"Jadi yang harus kalian lakukan adalah menahan makhluk itu untuk beberapa saat dan sisanya akan aku selesaikan sendiri" M mengakhiri penjelasannya dengan sebuah senyuman manis.


"Berapa lama waktu yang kau butuhkan?" Arya bertanya sambil bertopang dagu.


"Sekitar lima belas menit"


"Baik, akan kami lakukan. Lexa gunakan Gnome, kita harus sedikit serius disini" perintah Arya.


"Oke!" seru Lexa bersamangat dengan Gauntlet yang sudah terpasang ditangan.


"Tunggu sebentar, kita harus menjauhkan makhluk itu terlebih dahulu dari sana. Kalian berdua tentu tidak ingin terjadi sesuatu pada bangunan itu bukan?" M buru-buru mengingatkan keduanya.


Akhirnya mereka diam berpikir sekali lagi cara untuk menjauhkan kelabang itu dari sarangnya.


"Kita membutuhkan orang yang cukup kecil, dapat bergerak cepat, dan bisa diandalkan" ujar Lexa pelan.


Langsung saja tatapan mata Arya dan M bergerak lalu berhenti tepat dipangkuan Lexa.


"Eh?! Ada apa dengan tatapan mata kalian? Hahaha....kalian tidak mungkin berpikir untuk—kalian serius?!!"


------<<>>------


"Ugh....kalau terjadi sesuatu pada Rake kaulah yang harus bertanggung jawab" rengek Lexa beberapa menit kemudian.


"Iya-iya, nanti akan aku carikan hamster lain yang lebih lucu dari tikus tanah dekil itu" sahut Arya asal.


"Bukan begitu maksudku! Arya bodoh Arya bodoh Arya bodoh...." dia mengguncang-guncang tubuh Arya sambil terus protes.


Arya memilih diam dan tidak memperdulikannya. Beberapa saat kemudian getaran pada tanah membuat tatapan mata Arya menjadi serius, dia segera menggapai gagang Mandalika dan bersiap menyerang.


"Datang!"


Dikejauhan mereka bisa melihat Rake sedang berlari sekuat tenaga untuk menghindari kejaran makhluk megerikan yang ada dibelakangnya. Lexa tanpa menunggu lagi langsung melindungi Elemental Beast miliknya.


Dia menahan terkaman Colossal Violet Centipede menggunakan kedua tangannya, kemudian secara perlahan menjepit taring-taring tajam makhluk itu lalu mematahkannya dengan satu hentakan keras. Kelabang tersebut mengeluarkan geraman kesakitan sambil membuka mulutnya ke arah Lexa.


"Frozen Wall"


Arya membuat dinding es tepat waktu untuk melindungi Lexa dari cairan asam yang ditembakkan Colossal Violet Centipede.


"Hah?! Dia bisa menembakan cairan asam?! Kenapa kalian tidak bilang dari tadi!? Kalau dia menembakannya saat aku menahan taringnya barusan bisa-bisa—"


"Kan kau tidak bertanya, Kamaitachi!"


Arya muncul dihadapan si kelabang dengan Mandalika yang sudah siap tercabut, dia menggunakan teknik Kamaitachi dengan cara memutari makhluk itu sampai membuat kaki-kaki lipan itu rontok satu persatu.


"Maaf Shu-sensei, aku menggunakan teknik ini lagi. Situasinya mendesak" batin Arya menyesal.


Dia mendarat tepat diatas Colossal Violet Centipede. Saat makhluk itu hendak menoleh ke arah Arya yang ada diatas tubuhnya, Lexa melesat dari ketinggian dan menghantam kepalanya dengan keras.


Ia lalu memunculkan dua lengan raksasa dari batu untuk menahan pergerakan bagian atas kelabang tersebut.


"Giliranmu" serunya sambil menoleh kepada Arya.


Arya sekali lagi melesat ke udara, ia berjungkir balik lalu menendang gagang pedang Mandalika dengan keras. Bilah pedang itu menancap pada bagian belakang sang lipan ungu, kemudian Arya mendarat pada Mandalika untuk membuat pedang tersebut menancap semakin dalam.


Perlahan tapi pasti butiran-butiran es mulai menyelimuti tubuh Colossal Violet Centipede, makhluk itu adalah binatang yang gigih. Dia terus berusaha melawan, tapi apa daya. Dengan luka yang dia terima dan tanpa memiliki kaki lagi, ia tidak bisa melakukan apa-apa.


"M?!" panggil Arya dan Lexa serentak.


M yang berada tidak jauh dari mereka sudah siap mengarahkan payung jingga miliknya, ujung dari payung itu mengeluarkan cahaya terang yang sangat menyilaukan.

__ADS_1


"Kyma Ekrixis!!!"


__ADS_2