
Suasana yang mulai kondusif kembali menjadi kacau dan dipenuhi kepanikan ketika pengumuman berkumandang ke penjuru kota. Pengawas Astral sebagai perwakilan Pusat Penelitian mengabarkan situasi berbahaya mereka sebelum meminta para penduduk berkumpul menuju Distrik Emas.
“Bagaimana mungkin kau memaksa kami tenang jika sebentar lagi mati!?”
“Aku masih ingin hidup!? Hua....!?”
“Tidakkk...!? Aku bahkan belum menikah!?”
Teriakan – teriakan panik tadi perlahan menghilang akibat kemunculan layar sihir di segala tempat, Ryan melakukan sesuai permintaan Arya namun dia bukan hanya menciptakan proyeksi tersebut bagi sosok berkepentingan melainkan seluruh penghuni pulau melayang itu.
Mulai dari gambaran segala sudut Elemental City ditambah perjuangan kesepuluh Elementalist, beberapa penduduk mengenali wajah – wajah yang mengenakan jubah khas disana merupakan kenalan mereka. Diondra serta Zapius pada puncak menara tertinggi juga menemukan sebuah persegi tuk menonton dalam radius pengelihatan keduanya.
“Mustahil....”
“Tidak mungkin!”
“Mereka hanya anak – anak!?”
“KITA AKAN BINASA!? TERNYATA KUMPULAN PELINDUNG UMAT MANUSIA HANYA SEKELOMPOK BOCAH INGUSAN!?”
Alalea, Callista, Kizuna, beserta kawan – kawan naik pitam mendengar kalimat barusan. Saat hendak mencari siapa dibalik ucapan menyebalkan tersebut, cahaya menyilaukan menyinari dinding teluar Elemental City menandakan dimulainya operasi penyelamatan.
Satu per satu orang membisu, mata semuanya melebar menyaksikan tindakan gila dua remaja yang baru saja mereka remehkan berlari mengitari kota dengan kecepatan menakjubkan. Laju masing – masing kian bertambah kencang hingga tanah ikut bergetar hebat.
“Asuna....” Hiroshi Masamune menatap khawatir putri angkatnya sedang terbang menopang pulau raksasa itu sembari mengeluarkan hembusan panas melalui telapak kakinya.
------><------
“ARYA!?”
“Masih belum.....”
Walaupun panggilan Lexa membuyarkan sedikit konsentrasinya mata Arya tetap berfokus kepada objek di udara, sinar berlapiskan energi kinetik kekuningan yang mengelilinginya nampaknya sukses mengurangi kecepatan jatuh meteor jadi – jadian tersebut tetapi tidak signifikan.
“APAKAH SEGINI SUDAH CUKUP!?”
“Ckk....”
“HEY!? JAWAB—“
“LAKUKAN SAJA SAMPAI AKU BILANG BERHENTI DAN JANGAN BANYAK BERTANYA!” bentak Arya gusar.
Arya merasa bersalah meneriaki Lexa karena ia tau pasti stamina gadis itu paling terkuras habis akibat terus menerus memakai kekuatannya, bisa dibilang dua orang paling kepayahan saat ini adalah dia dan Asuna. Namun dari pada menghabiskan napasnya untuk bertanya lebih baik Lexa fokus terhadap tugasnya.
Waktu mereka kian menyempit ditambah ada jutaan nyawa berada dipundak kesepuluhnya, para Elementalist lain yang masih berdiam diri berusaha mengatur napas juga menyiapkan mental demi momen mendatang.
__ADS_1
Tepat ketika ukuran keseluruhan pulau akhirnya disampaikan oleh Eridan maupun Kinichi, Arya menatap kawah dibawahnya mencocokan data dengan hasil kerja Lexa sebelum terjun dari atas pohon sambil beteriak kencang, “SEKARANGGGG....!!!”.
Saat kakinya menginjak bumi sebuah pilar es perlahan menjulang tinggi menerjang cepat menuju Elemental City, bukan cuma itu nyatanya Timothy, Ali, dan Selena ikut menyusulnya menciptakan hal serupa. Tiang beku, besi, pasir, serta air menubruk keras daratan di atas mereka.
Lexa menghentikan kegiatannya kemudian menghentakkan kakinya kuat – kuat, pijakannya naik tinggi hingga ia tiba disebelah Asuna terus membantunya menyokong pulau tersebut. Ali ditemani Selena bersamaan mengisi lubang ciptaan Lexa dengan cairan serta pasir demi mengurangi dampak tabrakan sementara Arya membekukan pilar milik si Elementalist air.
“Huummm....hah....!!!”
BAMM....!!!
Berpindah kepada dua anak lainnya di atas Elemental City, Rena memukulkan keras tonngkatnya ke tanah usai menarik napas panjang. Perlahan akar – akar tua, kuat, nan besar bermunculan menembus bayangan Zayn.
Semuanya saling menyatu membentuk sulur terus bergerak menghindari lokasi Asuna dan Lexa, empat diantaranya menggapai semua pilar yang pangkalnya berada pada tepi kawah sedangkan sisanya bergerak cepat memasuki tanah di bawah. Jurus Zayn menyusul tindakan Rena untuk meraih keempat tiang hingga seolah membentuk trampolin raksasa berwarna hitam yang dipenuhi lubang.
Elemental City masih bergerak turun melumatkan tiap pondasi ciptaan Arya, Timothy, Ali, serta Selena. Untungnya pelan – pelan kecepatannya melambat sedikit demi sedikit, dua anak perempuan keras kepala masih berjuang sekuat tenaga sayangnya api milik Asuna mengecil seiring berjalannya waktu sementara piijakkan Lexa remuk.
Kevin bersama Elizabeth tanpa perduli akan apapun terus berlari hingga lelah, keduanya tersandung bersamaan kemudian terlempar menuju pepopohan rindang sekitar situ. Arya menyadari kalau tak segera mengambil tindakan dapat gawat langsung mengeluarkan benang untuk mengikat pinggang Asuna maupun Lexa sebelum menarik keduanya keluar dari posisi hampir tergencet.
BUAKH....!!! BRUK!!! BUMMM...!!!
“Hah....hah....hah kita....berhasil? Aha....ha....ha....” ujarnya lelah sembari berbaring menatap langit memeluk dua perempuan tersebut pada masing – masing tangannya, tujuh Elementalist lainnya ikut menghela napas lega.
------><------
“Oii!? Kapten?”
Selena, Ali, bersama Timothy yang menggendong Kevin dipunggungnya bergegas mendekat, nampak sekali kondisi berantakan sang Elementalist petir. Rambutnya berdiri tegak serta dipenuhi dedaunan akibat terpental barusan, aliran listrik sesekali masih terlihat sekitar kepalanya.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Selena buru – buru karena memang dialah penanggung jawab medis bagi tim ini.
“Baik, kalian sendiri?”
“Sehat tentu saja, tapi sepertinya kawan kita yang satu ini sedikit korsleting” Timothy berusaha menhan tawa.
“Tututp mulutmu brengsek, jika dunia masih tidak berputar – putar dalam pengelihatanku akan ku hajar kau....” ujar Kevin menggeram pelan.
“Aku tidak menyalahkanmu sih kalau sampai merasa demikian, oh iya Selena mereka cuma kelelahan jadi biarkan saja istirahat sebentar....”
Gerakan Selena yang baru hendak memeriksa Asuna juga Lexa terhenti, dia mengangguk paham maksud Arya. Kelimanya lalu menatap Elemental City dari sana, tak percaya dengan pemandangan janggal tersebut.
“Sulit dipercaya ya? Kota itu seperti memang aslinya berasal dari sini, ukurannya pas sekali....” Ali menyeletuk.
“Berkat usaha seseorang....”
__ADS_1
“Hmmm....Arya....pasta....” gumam Lexa mengigau saat Arya mengelus rambutnya.
“Hah....iya – iya aku ingat, dasar kau bahkan menagihnya di mimpi? Kasihannya diriku....”
“Eh...teman – teman? Apa kalian merasa kita melupakan sesuatu?” Selena berusaha mengingat – ingat.
“Hmm............ELIZABETH!?”
------><------
Arya memutuskan pergi menjemput Elizabeth sendiri dan memerintahkan teman – temanya istirahat dahulu, menurut pendapat linglung Kevin gadis itu terlempar ke arah selatan. Namun sebab tau kondsi pemuda tadi masih kacau Arya memutuskan memanfaatkan Maximum Sense.
Tidak lama berselang akhirnya ia menemukan si Elementalist Cahaya kehilangan kesadaran dalam posisi terbalik serta tersangkut pada ranting – ranting pepohonan. Arya menurunkannya terus berusaha membangunnya menggunakan cipratan air.
“Ugh....tujuh kak Arya....ini pasti surga....”
“Hei jangan tidur lagi nanti kau malah tak bisa bangun selama – lamannya.....” tegur Arya setengah bercanda.
“Ukh....aku mau muntah....”
Arya memberikannya sebuah minuman agar perutnya lebih tenang, selanjutnya ia memetikan beberapa tanaman berbau harum untuk menghilangkan pusing kepala seperti mint dan lain – lain.
“Oek!? Apa ini!? Pahit!?” Elizabeth menjulurkan lidah jijik.
“Jamu, jangan banyak tanya. Itu akan membuat kondisimu mendingan”
“Jamu? Benda terkutuk apa itu?!”
“Sejenis minuman herbal, sudah telan saja”
“Rasanya tidak enak!? Baunya juga!”
“Apa yang kau harapkan dari obat bocah dungu....” timpal Arya bingung.
Setelah urusan Elizabeth selesai tiba – tiba Arya mendapat panggilan dari Zayn, dia meminta semuanya berkumpul di atas dinding perunggu. Arya bersama Elizabeth bertukar pandang sebentar, ada yang aneh dari nada suara pemuda tersebut.
Lima menit berselang Arya sampai sambil membawa Elizabeth di punggungnya, Zayn dan Rena menoleh kepada keduanya dengan wajah pucat. Arya menatap ke arah tangan mereka menunjuk lalu akhirnya paham alasannya.
Sebuah pasukan berjumlah besar telah mengepung Elemental City, bukan hanya itu saja. Rombongan dihadapannya terdiri dari seluruh ras, bahkan klan raksasa ikut serta dalam barisan. Kumpulan aura kuat perlahan merembes tinggi membelah langit, masing – masing Arya kenali sebagai Lima Ksatria Pentagram, Tujuh Dosa Besar, Dua Belas Shio, Penyihir Agung, True Vanguard, dan masih banyak lagi musuh kuat lainnya.
“Oh....sial....ini benar – benar gawat....” umpatnya pelan.
^^^
__ADS_1
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.