
Sesaat setelah keluar dari portal Ruang Kepala Sekolah, Arya berdiri bingung menghadap ke kota Magihavoc. Dalam hitungan detik, Ryan, Turin, dan Qibo datang untuk menjemput. Setibanya di kediaman dua penyihir muda itu. Mereka bertiga langsung membombardir Arya dengan banyak pertanyaan.
Arya berusaha menjelaskan kondisinya sebaik mungkin, juga mengenai tawaran pekerjaan pemberian Iruphior. Tetapi memotong bagian mengenai Essence of Memory karena menurutnya agak riskan jika harus dibeberkan, terlebih ia sedang membawa benda tersebut.
“Kau apa?!” Ryan menggebrak meja.
“Hebat....bahkan Marylin Merlin sekalipun tidak mendapat pengakuan setinggi itu” ujar Qibo kagum.
“Masalahnya adalah bocah ini bahkan hanya baru menghapal satu lembar buku akademi sihir tingkat rendah”
“Makannya aku menolak” Arya menjawab enteng.
Akhirnya semua memutuskan beristirahat, hari panjang nan melelahkan sudah berhasil dilewati. Tetapi sesungguhnya ini merupakan awal kejadian – kejadian besar yang akan mengguncang Magihavoc dalam enam bulan ke depan.
------><------
Dua hari kemudian, Arya bersama Ryan datang kembali begitu resmi lulus menjadi murid Divina Academy. Dia membelalakan mata juga bersiul takjub melihat Sekolah sihir itu, bangunannya melayang tinggi serta megah di langit biru.
Ada sebuah batu berukuran besar menjadi pijakan mereka tuk menggapai tempat tersebut. Di sana para murid baru telah ditunggu oleh beberapa senior, tugas orang – orang ini mengantar junior menuju lokasi Penentuan Minat.
Pertama – tama Arya tidak mengerti maksud dari kata itu sehingga bertanya pada Ryan, si Wibu Sialan cuma bilang ikuti saja kata hatimu. Tanpa alasan jelas, lagi – lagi dia menjadi peserta terakhir. Ryan yang sudah lebih dulu dipanggil tak kunjung kembali.
Di dalam ruangan, menunggu lima orang pengajar Witch dengan tipe berbeda. Mereka masing – masing memeintahkan Arya melakukan sesuatu. Ketertarikan jelas nampak pada wajah kelimanya sebab melihat sendiri bocah itu menghancurkan alat pengukur energi sihir.
“Kepekaan Spiritualmu sangat tinggi, bagaimana kalau kau menjadi seorang Exorcist?”
“Ah ah ah, tunggu sebentar. Dia memiliki kemampuan fisik luar biasa, kupikir lebih cocok sebagai Warlock di garis depan”
“Mungkin benar, tetapi jika kau lebih suka memberi bantuan berarti, secara aman tanpa tergores. Ikut saja bersamaku dan Shaman lainnya”
“Necromancer sendiri akan senang menerima bakat sepertimu, cuma itu yang bisa kukatakan”
“Sudah – sudah, kupikir memilih Class Universal adalah jawaban tepat. Sebab kau bisa mempelajari semuanya sekaligus, bagaimana?”
Profesor – profesor dihadapannya begitu jelas berusaha merekrut ia ke naungan milik pribadi, Arya meminta waktu sebentar untuk berpikir. Lima menit berlalu, sebuah senyuman yakin menghiasi wajah tampan anak tersebut.
“Telah kuputuskan.....”
“Oh....? Mari kita dengar kalau begitu” sambut sang Pengajar Witch tipe Universal percaya diri.
“Aku ingin masuk ke Class Necromancer”
“HAH?!”
Pengumuman itu mengejutkan semuanya, bahkan Profesor perempuan yang berperan sebagai pembimbing Necromancer tak yakin pedengarannya berfungsi baik. Kelima Witch saling berpandangan, bingung harus berkata apa.
__ADS_1
“Kau yakin?”
“Huum, tanpa keraguan sedikitpun”
“Jika keputusanmu sudah bulat, mau bagaimana lagi. Arietta?”
“Eh?! Iya, terimalah”
Wicth Class Necromancer itu memberikan Arya sebuah pin berbentuk tengkorak, dia langsung menyematkan benda tersebut di dada.
“Terima kasih, kalau begitu saya pamit. Mohon bimbingannya Profesor Brevil”
“I...iy...iya, dadah”
Ketika si anak laki – laki berambut putih keluar ruangan, suara bising mulai terdengar. Empat Witch lainnya menggeram gusar karena tidak terpilih. Mereka kesal sekali akibat kejadian tadi tak sesuai keinginan masing- masing, sebab terdapat spekulasi kalau bocah White tersebut punya potensi melampaui Merlin. Dan mungkin tidak akan ada kesempatan lagi memiliki murid sehebat dia.
“Akhh.....!!! Kenapa?! Kalau ia memilih Universal aku masih dapat menerimannya tapi.....Necromancer? di Divina Academy?!”
“Kau ingin memancing perkelahian denganku Ward?” kata Arietta Brevil sinis.
“Bagaimana ya? Sejujurnya akupun berpendapat sama dengan Profesor Mock”
“Maescia?!”
“Kalau White masuk ke Death Gate aku tidak akan protes, tapi Necromancer Divina Academy bisa dibilang biasa saja bukan?” Maescia Thorton mengangkat bahu.
“Huh! Kita lihat saja nanti”
------><------
Arya dikumpulkan bersama murid – murid Necromancer lainnya, setelah mendengar kata sambutan Kepala Sekolah Iruphior. Mereka semua dipulangkan, dalam perjalanan keluar Divina Academy. Ryan menghampirinya dari barisan lain, pin berbentuk tongkat sihir berunjung bintang tersemat gagah pada seragamnya.
“Aku mencarimu ke mana – mana”
Ryan, Turin, juga Qibo melongo sebelum menepuk jidat keras – keras. Arya menatap ketiganya heran.
“Kalian kenapa?”
“Kau tidak masuk Class Universal?!”
“Bukannya kau sendiri yang bilang untuk mengikuti kata hatiku?”
“B...be...benar sih tapi....ahh....!!!”
“Tuan Arya? Saya hargai keputusan anda, namun mempelajari Necromancer di Divina Academy mungkin akan sulit karena....”
Turin lalu menjelaskan kalau kelima Sekolah Sihir terkuat partisipan Turnamen Five Heavenly Stars punya keistimewaannya sendiri – sendiri. Divina Academy terkenal sebab Class Universal mereka merupakan unggulan nomer satu.
__ADS_1
Buktinya Witch hebat seperti Ilzaxar Iruphior dan Marylin Merlin adalah produk hasil didikan tempat ini, kedua ada Evil Destroyer. Sekolah tersebut berfokus pada kemampuan pembasmian iblis massal, Kepala Sekolah mereka memiliki dendam kesumat kepada ras Demon.
Para Exorcist luar biasa lahir dari sana, lalu berikutnya Wonder Invocation. Tempat perkumpulan Witch yang lebih mirip seperti sekte, pembentukan Shaman tingkat tinggi adalah alasan kuat Sekolah Sihir itu masuk dalam jajaran terbaik.
Keempat, Sekolah Sihir dengan Class Warlock berkekuatan super mengerikan. Holy Fist, banyak desas – desus mengatakan jika ingin lulus dari sana. Kau harus ikut dalam perang antar ras dan membawa kepala pemimpin pasukan musuh sebagai bukti.
Terakhir, Death Gates. Walau nampak lemah, kekuatan mereka begitu disegani oleh sekolah – sekolah lain. Pasukan Undead tak terbatas merupakan pertimbangan utama, hal ini mengakibatkan sering terjadi perseteruan antara Evil Destroyer dengan mereka.
Pembangkitan Undead dianggap sebagai bentuk kerja sama Necromancer menambah jumlah Demon di muka bumi. Tetapi nyatanya kontrol milik Death Gates sangat kuat, bahkan jika mau. Mungkin cuma Sekolah ini yang mampu melawan ras lain hanya berbekal murid sendiri.
“Jadi maksud kalian, aku harusnya mengambil Class Universal karena itu merupakan unggulan Divina Academy?” ujar Arya mengangkat alis.
“IYA!!!”
“Tidakkah terlalu mencurigakan nantinya?”
“Eh?”
“Sebisa mungkin lebih baik aku berusaha menjauhi Iruphior maupun Merlin”
“Hah? Alasannya?”
“Aku punya firasat buruk, kalau banyak mencuri perhatian. Identitas kita akan terbongkar, menurutku pilihanmu ke Universal sudah tepat, tingkatkan kemampuan setinggi – tingginya. Sementara aku mendaki secara perlahan tapi pasti” dia mengakhiri dengan memperlihatkan senyuman misterius di wajahnya.
Sekolah dimulai keesokan harinya, para murid baru mendalami pelajaran – pelajaran umum seperti mantra, latihan fisik, penggunaan alat sihir, dan masih banyak lagi. Arya bersyukur bisa melalui semua itu cukup baik.
Sesuai dugaan, Profesor Brevil benar – benar melakukan pengawasan ketat padanya ketika pelatihan Necromancer. Sepertinya wanita tersebut memiliki tekad kuat membentuk Arya sebagai jebolan terbaik Class mereka.
Waktu berlalu begitu saja, namun muncul beberapa masalah ketika dilaksanakannya pelajaran mantra suatu hari. Arya berpasangan dengan Hanna Vonsekal, keduanya beradu kecepatan melepaskan sihir peledak.
Dalam sekejap mata, Arya menghancurkan vas bunga milik gadis itu bahkan sebelum dia sempat mengucapkan mantra. Hal ini memicu tepuk tangan kagum dari murid – murid Necromancer lain, tetapi tidak untuk Hanna.
“Kau pikir keberuntunganmu akan terus bertahan? Pembangkit mayat hidup sampah”
“Hmm....? Aku tidak—“
“Aku benci sekali orang rendahan tidak tau diri macam dirimu!”
“Nona Vonsekal mundur” Profesor yang bertugas mengajar berusaha melerai.
“Cukup, aku muak! Kenapa bisa sekolah sekaliber Divina Academy menerima murid seperti ini!? Ayo kita duel”
“Hah?”
“Jika aku menang keluar dari akademi kemudian mulailah memungut sampah, tapi kalau kau menang. Kuturuti apapun keinginanmu, walau itu tidak mungkin sih” bisik Hanna Vonsekal tersenyum mengejek.
__ADS_1
‘Ohh....tidak, kau pasti bercanda’ Arya mengeluh dalam hati.