
Usai mengumpulkan tenaga pada tumpuan kakinya, tanpa basa – basi lagi Timothy menerjang kedepan dengan tubuh telah bertransformasi menjadi besi seutuhnya. Blokhin dan Caesar sukses menghindari tepat waktu sehingga pukulan Timohthy hanya mengenai tebing tinggi berujung runcing dibelakang mereka.
Namun ternyata sebelum menabrak Timothy melemparkan Ladon, perisainya untuk menyerang. Blokhin memanfaatkan senjatanya sendiri demi membalikan benda tersebut. Dalam sepersekian detik Timothy mengubah kedua tangannya seperti pedang terus memotong batu dihadapannya sampai roboh.
Dia menangkap Ladon lalu membelah dua runtuhan tebing semudah merobek kertas dan menghempaskan tiap sisinya menuju anggota False Vanguard. Caesar cukup menjentikkan jari supaya mengakibatkan bongkahan batu kearahnya menghilang bagai debu, sementara Blokhin menepikkannya cuma menggunakan tangan kosong.
BDUM!!!
“Awal yang baik eh?” celetuk Timothy terengah – engah.
“Anak muda? Kau sadar betul menghabiskan terlalu banyak energi tanpa memproleh hasil apapun bukan?” Caesar menggeleng heran.
“Hehehe....setidaknya kalian tak berusaha mengejar teman – temanku.....”
“Jujur saja kalau atasan kami turun tangan, entah itu Kaptenmu atau siapapun tidak akan mempunyai kesempatan menang dengan kemampuan mereka sekarang” ujar Blokhin santai.
Ekspresi wajah Timothy menegang, meski agak terkejut mendengar ucapan barusan ia berusaha menutupinya. Dari pertemuannya selama ini menghadapi para False Vanguard, Timothy tau kemampuan kelompok ini tak berbeda jauh dibanding Elementalist. Bahkan beberapa terbilang melampauinya.
“Jangan membu—“
“Blokhin mengatakan hal sebenarnya, kau boleh memegang kata – kataku. Kau pasti berpikir jika bawahannya saja seperti kami, bagaimana pemimpinnya? Percayalah kalian belum melihat apa - apa” Caesar menjelaskan.
“Hi....hihihi.....lucu sekali, karena aku belum pernah melihat Kapten kalah menghadapi ras lain....”
“Justru oleh sebab itu, dia tak mampu melawan Manusia....”
“Kau....Julius Caesar?” ucap Timohty ragu – ragu memperhatikan pria itu dari ujung rambut hingga kaki.
“Hmm? Kau mengenalku?”
“Kau Julius Caesar sungguhan?! Aku salah satu penggemarmu kau tau? Walau entah mengapa dibayanganku harusnya dia sedikit lebih muda....”
------><------
“Mengapa?”
“Aku membaca hampir semua buku – buku tentangmu dan berpikir kau merupakan salah satu contoh pemimpin paling Manusiawi....”
“Maksudnya?”
“Laki – laki mana yang bisa menolak godaan wanita seperti Cleopatra?” Timothy tersenyum penuh makna.
__ADS_1
“Hehehehe....HUAHAHAHAHA.....”
Caesar tertawa terbahak – bahak mendengar perkataan Timothy setelah terdiam lumayan lama kemudian mengambil posisi duduk, menolak melanjutkan pertarungan melawan anak menarik tersebut. Tentu hal ini bukan kabar menyenangkan bagi Blokhin, dia pun melayangkan protes.
“Aku ingin melihat kemampuann bertarungnya jadi tak berniat melawan secara frontal, namun kupastikan membantumu menggunakan sihir jarak jauh....”
“Caesar? Kita bisa cepat menghabisinya bersama tetapi kau malah memilih—“
“Kenapa? Apa kau takut Blokhin?” tanya Caesar dengan nada mengejek sembari mengangkat sebelah alisnya.
“Ugh....”
Blokhin hanya mampu menelan sumpah serapahnya dan merengut gusar, pria itu menyadari kenyataan kalau posisinya berada dibawah Caesar. Terbukti dari nomer urutan mereka, memang peta kekuatan False Vanguard dapat dinilai pada angka jabatan mereka. Semakin kecil maka tinggi pula kemampuan pemiliknya.
Timothy seolah memperoleh angin segar mendengar percakapan keduanya, jika menghadapi Blokhin saja mungkin dia masih punya kesempatan menang diatas lima puluh persen. Timothy langsung menyerang ke arah musuhnya, perlahan telapak tangan kanannya membuka kemudian tiap jarinya berubah tajam layaknya jajaran pisau pemotong daging.
GRAB! WOOOSHHH....!!!
Hembusan kencang terjadi saat Blokhin menangkap pergelangan Timothy yang sudah berwarna keperakan. Serangan pemuda itu mengincar tepat ke arah jantungnya sehingga menyebabkan Blokhin kesal, urat sekitar pelipisnya menegang. Disisi lain Timothy kaget atas betapa gesitnya Blokhin mengantisipasi gerakan tiba – tiba barusan.
“Hohoho....kau nampak bersemangat sekali....tapi kumohon jangan lupa kalau aku tidak pernah berkata cuma diam menonton.....”
“Dasar bocah tengik....!!!” Blokhin menggeram.
BUAKH!!!
Hantaman lutut kuat sukses mengenai perut Timothy sampai dirinya terpental beberapa meter, organ dalam badanya seperti dibenturkan palu godam. Matanya tidak kuasa mengikuti kecepatan Blokhin jadi telat mengeraskan tubuh sebagai tindakan perlindungan.
“Oek....!? Uhuk....! Uhuk!!!” erang Timothy kesakitan sambil kesulitan bernapas.
“Romanus Exercitus....”
Timothy mencoa bangkit berdiri, ditengah pandangannya yang kabur secara mengejutkan muncul lautan prajurit siap tempur. Masing – masing membawa panji berwarna merah juga emas khas kekaisaran Romawi, semua dengan peralatan lengkap. Bahkan Blokhin sendiri tak nampak batang hidungnya ditelan pasukan ciptaan sihir Caesar.
“Ohh....kau pasti bercanda....” Timothy berbisik terus menyeka darah sekitar bibirnya.
------><------
Diiringi suara tiupan sangkakala seluruh pasukan menyerbu, sekali lagi Timothy melapisi setiap inci kulitnya menggunakan kekuatan pengendalian elemen. Tangan kananya perlahan membentuk sebuah palu untuk menyerang, perisai miliknya pun ikut dilemparkan.
TRANG! TRING! TRENG!
__ADS_1
Timothy menghabisi siapa saja dihadapanya, ayunan mematikan lengannya disertai kemampuan menghempaskan dan memanggil kembali Ladon membuatnya tidak terhentikan. Sayang meski ia sudah berusaha keras jumlah musuh seolah tak berkurang, mereka seperti butiran air yang berjatuhan dari langit ketika hujan.
“Hah....hah....hah....”
Dengan napas berat Timothy mencari celah kosong agar bisa mundur, pengejaran tentara – tentara tersebut terpaksa berhenti akibat kemunculan seekor landak berukuran jumbo melindungi tuannya. Spike menatap tajam barisan manusia disana penuh kebencian.
“Kawan? Kau siap? Tuan – tuan boleh aku pinjam peralatan kalain sebentar? Raccolta di Ferro!”
NGGGG....!!! TRRRR.....!!!
“WOAAA!?”
Para prajurit terperangah karena tiba – tiba semua perlengkapan mereka yang berbahan dasar metal terhisap menuju arah Timothy, entah itu pedang, tombak, perisai, maupun baju zirah. Benda – benda barusan melayang diatas kepala Timothy dan berubah bentuk menjadi cairan keperakan.
Perlahan Timothy mengarahkannya dihadapan Spike, sang landak memungginnya sembari mengambil ancang – ancang. Timothy menarik napas panjang lalu berteriak lantang, “Produzione di Massa di Aghi!”.
Langsung saja duri pada punggung Spike memanjang melewati benda cair tadi, seketika ratusan besi berujung runcing menyebar. Saling mengait satu sama lain layaknya rajutan dan berikutnya menghujani pasukan sihir Caesar.
“Akhhh.....!?”
Sorakan menyedihkan menghiasi udara, dalam waktu singkat teknik barusan berhasil menghabisi gerombolan musuh. Badan lunglai mereka berserakan dengan lubang – lubang berdiameter kecil, Timothy jatuh bertumpu pada lututnya kelelahan.
Penggunaan Agnet jurusnya terlalu besar, Spike mendekatinya khawatir. Namun Timothy hanya mengelus kepala Elemental Beast itu terus memintanya kembali, mata Timothy melebar saat baru bangkit disebabkan pemandangan janggal.
“Mare Nigrum.....”
Debit air kehitaman luar bisa menabrak Timothy, dia terseret arus tidak habis pikir dari mana sumber ombak tersebut datang. Akhirnya entah bagaimana tanganya yang sudah berubah tajam menancap di salah satu tebing batu.
“Phwah!? Uhuk!? Uhuk!? Apa – apaa—mustahil....“
Timothy memanjat naik secepat mungkin, ia menelan ludah ketika kepalanya keluar permukaan. Seluruh daratan sebelumnya telah digenangi air, bahkan kalau sebelumnya dia tidak pernah melihat benteng tempat mereka berada Timothy pasti percaya ini sejenis danau raksasa atau bahkan laut.
Baru memijakkan kaki di puncak, rasa dingin membuat tubuhnya bergidik. Timothy buru – buru menoleh dan menemukan Blokhin berdiri dibelakangnya mengangkat kapak tinggi – tinggi, padahal Timothy yakin sekali beberapa detik lalu pria itu tak pernah ada disana. Timothy mengarahkan telapak tangan kehadapannya berusaha mengendalikan senjata tajam milik Blokhon namun terlambat.
SRATTT!
^^^
__ADS_1
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.