
“Yang Mulia!? Yang Mulia!? Berita besar!”
“HEI!? DIMANA SOPAN SANTUNMU!?” tegur salah seorang pengawal.
“Izinkan dia lewat”
Pembawa pesan tersebut pucat kehabisan napas serta terpukul akibat teguran keras pengawal kerajaan. Ia berusaha menenangkan diri dan kembali membangun tata krama miliknya dari awal.
“Maaf atas kelancanganku Yang Mulia” ucapnya sambil membungkuk memintan ampun.
“Ada masalah?”
“E...E...El...Elemental City telah menampakkan diri”
“APA?!” Diana langsung bangun dari singgasananya.
Para bangsawan disekitar sana mulai saling memandang satu sama lain kemudian berbisik, Diana duduk kembali sambil menggigit ibu jarinya. Azalea menatap cemas dari kursi dekat sang Ratu.
“Bibi....ini agak—“
“Tidak, sepertinya para Elementalist telah berhasil menyelesaikan ujian mereka. Suruh panggilkan sepuluh orang terbaik Azuldria kemari”
“Akan kulakukan” Azalea menyanggupi sebelum menggunakan sihir miliknya.
“Dimana lokasi mereka?” tanya Diana kembali memusatkan perhatian pada si pembawa pesan.
“Tanah Tak Bertuan”
“Wilayah Netral? Hmm....tarik semua Elf yang berkeliaran disana. Katakan pada mereka untuk tidak mendekati tempat itu jika tidak ingin mati”
“Laksanakan!” seru si pembawa pesan sebelum tergopoh – gopoh pergi.
Diana melirik gadis disampingnya, terlihat jelas kalau dirinya sudah tidak mampu menahan diri lagi saking semangatnya.
“Apa yang kau tunggu? Segera persiapkan dirimu dan berangkatlah secepat mungkin kesana, bukankah kau sudah tidak sabar bertemu dengannya lagi?”
“Bahkan bila nenek tak memberi izin sekalipun aku akan tetap pergi, tunggu aku Arya” Alalea melihat keluar jendela sambil menggenggam erat syal dilehernya.
Tanpa disadari, telah terjadi pertemuan rahasia beberapa Elf tanpa sepengetahuan Ratu. Bersamaan dengan diadakannya rapat darurat Penyihir Agung, Tujuh Dosa Besar, dan Dua Belas Shio.
------><------
“Berhenti Moona! Kau mau apa?” Lorem berusaha menyusul gadis berambut hitam tersebut.
“Menyingkir, aku akan pergi menuju Tanah Tak Bertuan dan tidak akan ada yang bisa menghentikanku” kata Moona berapi – api.
“Aku tau perasaanmu tapi—“
“KAU TIDAK TAU PERASAANKU!”
“Cukup, jika kau pergi sekarang. Semua rencana kita sia – sia” seorang Vampir berwajah angkuh muncul.
“Apa maumu Kris? Menghentikanku?”
“Aku??? Oh....tentu saja tidak, silahkan pergi. Tapi kalau kau pikir mampu melawan kami berenam seorang diri” senyum memuakan terlihat diwajah Kris, sisa anggota Tujuh Dosa Besar mulai mengelilingi Moona.
“Lucu sekali, kalian pikir aku takut?!” Agnet kemerahan memancar dari tubuh si Werewolf wanita.
__ADS_1
“Sadari posisimu serigala bodoh” Avarum berkomentar pedas.
“Nona Moona, jika lebih dari ini. Saya akan mengambil tindakan tegas”
“Skullcrow?! Bahkan kau juga—“
“Percayalah Moona, setelah semuanya berjalan dengan baik. Kupastikan anak itu jadi milikmu” kekeh Kris puas.
“Argh....!!! Sialan....!!!” Moona berteriak sekencang yang dia bisa.
------><------
“Jadi begitu ceritanya”
Arya berhasil menyelesaikan ceritanya dibantu oleh beberapa kesaksian dari Rena. Mereka sekarang duduk pada sofa yang telah disediakan, Alalea tidak mau jauh sehingga mengambil tempat persis disamping Arya. Mengahadap langsung ke arah Elementalist lainnya.
‘Sulit dipercaya! Dia Half – Elf! Kapten kau benar – benar menyadarkanku betapa tidak adilnya dunia. Dan siapa pula gadis super cantik ini?! Mengapa dia menempel padamu?! Rasa iri sudah menggerogoti sekujur tubuhku dasar sial!!!’ batin Timothy kesal.
“Sekarang aku mulai paham kenapa suara langkah kakimu berbeda” Zayn menganggukan kepala.
“Aku minta maaf sekali teman – teman, baru memberitahukannya sekarang. Sudah lama ingin kulakukan tapi....terlewat begitu saja dari pikiranku. Kalian sendiri taukan banyak hal yang harus kita lakukan akhir – akhir ini” Arya menundukan kepala menyesal.
“Kalian pergi mencari bahan Elemental Weapon di Fairy Forest? Aku bahkan tidak pernah berpikir sampai sana. Rena sendiri tidak mengatakan apa pun soal ini sebelumnya” ujar Selena melempar tatapan bertanya pada Rena.
“I..i..itu karena bahannya cuma ada disana, setelah menerima izin Pengawas. Kami berdua berangkat, aku juga lupa untuk memberitahu. Maaf” Rena menunduk lesu.
“Tolong jangan salahkan Rena, ini semua salahku”
“Mmm setelah kuingat – ingat lagi, waktu itu bukankah tanganmu mengeluarkan cahaya Arya? Sihir?” kali ini Lexalah yang bicara.
“Kau bisa menggunakan sihir?!” Elizabeth terbelalak.
“Ehem – ehem, aku minta maaf atas ketidaksopananku belum memperkenalkan diri secara langsung kepada kalian” Alalea berbicara dengan senyum cerah.
“Ohh ohh tidak apa – apa, bukankah Kapten tadi bilang kalau anda adalah seorang putri? Apa itu benar?” Timothy terlihat begitu antusias.
“Iya, Namaku adalah Alalea D’Azuldria. Pewaris tahta Kerajaan Elf....”
“Wow...keren seka—“
“Dan juga tunangan dari Arya”
“Eh?”
“Eh?”
“Eh?”
KRAK!!!
‘BODOH....!!! Padahal aku sudah dengan sengaja menghapuskan bagian itu dari ceritaku, kenapa malah diungkit – ungkit kembali?! ALALEA?!!! Lihat! Ekspresi mereka bahkan lebih buruk dari sebelumnya, tunggu dulu! Mengapa Rena juga?! Apa dia melupakan soal ini!?’ Arya menggenggam lengan tempat duduknya sampai remuk.
“T..t..tu..tunangan?” ulang mereka pelan.
“B...b...biar kujelaskan, Nenek kami. Alias Ratu, ingin menjodohkan kami berdua. Aku belum menyanggupi hal ini, jadi dia menganjurkan Alalea untuk ikut ke Elemental City. Intinya kami belum resmi bertunangan” jelas Arya cepat.
__ADS_1
“Ohh....begi—“
“Tapi....bukannya kita sudah saling bertukar ciuman pertama?” bisik Alalea pelan dengan wajah polos sambil menyentuh bibirnya sendiri.
BWUH!!!
‘TIIDAAKKK....!!!!!’
Walau volume suaranya kecil, itu sudah cukup untuk membuat semua orang disana mendengarnya. Arya menelan ludah ketika sesaat melihat mata para gadis dihadapannya menyala ngeri. Timothy ikut memandangi Arya dengan urat saraf menghiasi wajahnya.
Arya segera menggapai tangan gadis disampingnya “Eee....Alalea? Kau tau? Pembahasan ini agak sedikit sensitif jadi....kenapa kita tidak—“
“Oh iya!? Siapa diantara kalian yang pergi bersama Arya ke Underground Paradise?” tanya Alalea tiba – tiba.
“Mmm? Oh! Oh! Itu aku! Apa ada masalah?” Lexa bertanya santai.
“Ahh...jadi kau yang berbulan madu bersamanya disana?”
“Hmm, benar sekali”
“BULAN MA—“
Belum sempat siapapun untuk merespon, Alalea dan Lexa melakukan tendangan berputar disaat bersamaan. Tanpa ragu Arya bergerak cepat memukul ujung meja didepannya untuk menjadi pemisah bagi kedua orang itu.
DUARR!!!
Dua tendangan tadi menghancurkan meja menjadi berkeping – keping, mereka terhempas mundur akibat gelombang kejut akibat pertemuan serangan kuat Alalea dan Lexa. Ternyata keduanya masih belum berhenti.
Ditengah ruangan dua gadis tersebut saling bertukar serangan cukup intens. Walau hanya pertarungan tangan kosong, tapi mampu menggetarkan seluruh ruangan.
“Kapten lakukan sesuatu!? Atau ruangan Pengawas Astral akan runtuh” desak Kevin.
“Oi!? Ini bukan tempat untuk berlatih tanding! Sebaiknya kalian membantuku!” Arya melirik tajam ke para Elementalist laki – laki.
Arya langsung bergerak kebelakang Alalea, menunggu waktu yang tepat sebelum berkata serius.
“Alalea berhenti, kalau tidak. Jangan harap aku akan mau berbicara denganmu lagi”
DEG!
Tubuh Alalea mematung seketika, tak berani bergerak sedikitpun. Lexa juga berhenti sambil menatap gadis Elf itu tidak jauh dari tempatnya berdiri.
“Bisakah kau menjaduh darinya” peringat Alalea tersenyum lembut.
“Kalau aku tidak mau?”
Untuk pertama kalinya, Arya melihat sikap keras kepala Lexa dikombinasikan ekspresi wajah jahil serta pandangan serius tajam nan menusuk.
Author Note :
Pembaca yang budiman tolong, sadari kondisi gtu lho.
(Yang error) : Hah...lagi - lagi, gini mulu thor, error nih
(Yang gk pernah error dan selalu bisa baca kayak gw) : Kok update chapternya dua kali thor?
__ADS_1
Lu kira gw mau error hah? Mana gw tau, salahin Mangatoonya lah. Report kek apa kek, ngapain protes ke gw? Saya hanya penulis disni. Dikira gk capai edit sama upload dua kali, lama - lama males gw update tiap hari. Sekali seminggu aja cukup biar gk error.