Elementalist

Elementalist
Chapter 34 - Dungeon


__ADS_3

Beruang kutub raksasa tersebut turun dari singgasananya, ia berjalan mengitari Arya dan Rena dengan mata tak berkedip sedikitpun. Napasnya yang memburu membuat Rena merasa tidak nyaman, setelah beberapa kali berputar mengitari mereka dia berhenti di hadapan Arya dan Rena.


Dengan perlahan beruang itu menekuk kedua kaki depannya untuk memberi hormat kepada mereka berdua.


"Sejak kabar kalian mulai muncul kembali, aku sudah menunggu kalian datang ke tempat ini. Tuanku perkenalkan, aku adalah pemimpin ke 555 kaum Polarian, anda bisa memanggilku Ragna"


"Terimakasih atas sambutannya, Ragna" jawab Arya sambil mengelus kepala si beruang kutub.


Tepat saat tangan Arya bersentuhan untuk pertama kalinya dengan rambut putih Ragna, sebuah cahaya gemerlap muncul dan menyebar ke seluruh wilayah. Membentuk sebuah cincin raksasa yang terus melebar entah sampai kemana, Rena yang melihat hal itu tentu hanya bisa menatap dengan heran.


"E....ada yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" celetuknya.


"Kaum Polarian memiliki sumpah setia selamanya kepada para Elementalist Es dari generasi ke generasi" jawab Arya pelan.


"Hutang budi tepatnya, selama kaum kami masih berjalan di permukaan bumi. Kami akan selalu berpihak pada kalian" tambah Ragna sambil mengangkat kepalanya.


"Dan....dari mana kau bisa mengetahui hal ini? Arya?" tanya Rena lagi dengan penasaran.


"Astral" sahut Arya singkat sambil mengikuti Ragna yang berjalan keluar.


Melihat pemimpin mereka berjalan dengan santai bersama para orang asing membuat para pejuang Polarian lainnya lebih tenang. Mereka mulai kembali ke pos mereka masing-masing meninggalkan Stella yang masih terlihat ketakutan karena ditinggal oleh Arya sebentar. Kuda itu meringkik pelan dan dengan segera mendekat ke arah mereka.


"Jadi mengapa kau menyerang kami?" tanya Arya akhirnya sambil menenangkan Stella.


Ragna segera meminta maaf dan menjelaskan alasan mereka menyerang Arya dan Rena, dia tidak tau kalau Arya dan Rena mengendarai sang Pegasus. Dia hanya menerima laporan mengenai seekor makhluk asing yang terbang di atas wilayah mereka, untuk menghindari masalah. Diapun akhirnya memerintahkan pasukannya untuk menyerang.


"Anda tentu mengerti kenapa aku sampai melakukan hal itu" tutup Ragna sambil melihat Stella dengan tatapan misterius.


"Jika aku berada diposisimu, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Sebab, terakhir kali para Pegasus terlihat mungkin hampir sama lamanya dengan awal menghilangnya para Alchemist dari muka Bumi ini"


-----------------------------<<>>-----------------------------


Ragna membawa mereka melihat pemukiman para Polarian, kaum Polarian sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kaum-kaum lainnya. Mereka berburu, membuat pemukiman, dan menjaga anak-anak mereka seperti kaum lain pada umumnya. Anak-anak Polarian akan dijaga oleh para betina hingga mereka bisa mencari makan sendiri.


Hal itu biasa ditandai dengan tumbuhnya zirah mereka. Benar, zirah para Polarian akan tumbuh secara ajaib dari tubuh mereka. Itu adalah salah satu kemampuan unik dari makhluk-makhluk ini, dan pada tingkat tertentu mereka dapat menghilangkan dan membentuk zirah sesuai dengan keinginannya masing-masing.


Saat melewati pemukiman, Arya dan Rena melihat anak-anak beruang kutub yang saling mengejar satu sama lainnya. Mereka terlihat bersenang-senang, menyadari kedatangan kelompok Arya. Para beruang kutub kecil itu segera berlari mencari perlindungan kepada induk mereka. Arya bisa melihat mereka mengintip dari balik punggung induknya.



Arya tersenyum lalu menghampiri mereka, mereka memekik pelan dengan tubuh gemetar. Sepertinya itu pertama kalinya mereka bertemu makhluk selain dari jenis mereka, salah satu anak Polarian terlihat memberanikan diri mendekati Arya. Anak itu melemparkan pandangan bertanya ke arah Ragna.


Tepat setelah menerima anggukan dari Ragna, tanpa menunggu lagi anak itu segera memanjat dan naik ke pundak Arya. Arya hanya tertawa geli akibat injakan dari telapak-telapak kaki mungil itu, melihat temanya sepertinya bersenang-senang. Anak-anak Polarian lain ikut mendekat, dan pada akhirnya Arya dan Rena berakhir bermain bersama dengan mereka.


Waktupun berlalu dengan cepat, Arya dan Rena tidak menyadari hal itu saking asyiknya bermain dengan anak-anak Polarian. Arya baru tersadar saat mendengar dengusan kesal Stella, Arya menoleh kepadanya dengan ramah. Tapi kuda itu segera melemparkan pandangannya ke arah lain.


"Ada apa Stella?" tanya Arya santai.


"Hihik-hihik"


"Apa-apaan dengan sikapmu itu? Kau tidak mungkin cemburukan? Hanya karena kami berdua bermain dengan anak-anak beruang kutub ini" komentar Arya sambil memutar kedua bola matanya.


Stella tidak menanggapinya dan hanya menatap ke arah lain seolah-olah berkata "Pikirkan saja sendiri"


"Pfft---?!"


Arya langsung menoleh ke arah Rena, tapi dengan cepat Rena juga segera membuang mukanya dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Dia sudah jera menyindir kebiasaan Arya berbicara dengan Stella.


Saat langit sudah mulai gelap, akhirnya mereka berpisah dengan anak-anak Polarian itu. Mereka berjalan ke tempat berlindung yang sudah disediakan oleh Ragna untuk mereka.


"Jadi? Ada urusan apa anda datang ke tanah para leluhur ini Tuanku?" tanya Ragna akhirnya.


Arya mulai menceritakan tentang Ujian Elementalist dan juga benda apa yang sedang mereka cari di tempat itu.


"Mmm....sejujurnya aku tidak pernah menganggap benda yang anda cari itu benar-benar ada Tuanku, aku bahkan menganggap kisah tentang benda itu hanya sebuah dongeng belaka" celetuk Ragna setelah mendengar penjelasan Arya.

__ADS_1


"Sebenarnya aku juga sempat berpikiran sama denganmu" balas Arya.


"Lalu? Kenapa anda masih berpikir bisa menemukan benda itu?" sahut Ragna dengan heran.


"Entahlah, firasat mungkin" ujar Arya sambil terkikik pelan.


Ragna terlihat berpikir keras untuk sejenak, setelah diam cukup lama akhirnya dia berkata "Ada satu tempat yang memiliki kemungkinan besar letak benda yang kalian cari berada, kami biasa menyebut tempat itu dengan nama Dungeon"


-----------------------------<<>>-----------------------------


Keesokan harinya pagi-pagi sekali Arya dan Rena sudah bersiap untuk berangkat ke Dungeon, Ragna akan menjadi pemandu jalan bagi mereka. Pagi itu kepergian mereka diantarkan oleh kawanan Polarian, Ragna mengumumkan tentang kemana mereka akan pergi dan juga menyerahkan pimpinan kepada putranya selama dia tidak ada.


Ragna mendekati putra sulungnya itu lalu mencium keningnya, kemudian mereka berpelukan seolah-olah mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Akhirnya keberangkatan mereka menuju Dungeon diiringi oleh raungan para beruang kutub yang memenuhi udara Kutub Utara di pagi hari itu.


Arya berjalan bersebelahan dengan Ragna, sementara Rena menunggangi Stella dengan hati-hati. Arya sengaja memilih untuk berjalan agar lebih mengetahui daerah disekitar tempat itu.


"Ragna? Kenapa kau melakukan perpisahan dengan cara sepert itu?" tanya Arya akhirnya setelah mereka berjalan cukup jauh.


"Memangnya kenapa Tuanku? Apa ada yang salah dengan apa yang aku lakukan?" Ragna balik bertanya.


"Tidak juga, kau tidak bisa menyebutnya salah. Hanya saja....kau bersikap seakan---"


"Tidak akan pernah bertemu dengannya lagi?" sambung Ragna sambil menoleh ke arah Arya.


"Benar, aku tidak mengerti alasan kenapa kau melakukan hal seperti itu" timpal Arya pelan.


Ragna kemudian tertawa keras, membuat bukan hanya Arya yang sedang berjalan disebelahnya terkejut. Tapi juga Rena dan Stella yang tersentak kaget mendengar tawa sang beruang kutub raksasa.


"Anda kelak akan mengerti, saat anda sudah hidup cukup lama di dunia ini" balas Ragna santai.


"Eh....kata-kata yang cukup bijak dari seekor beruang yang bisa berbicara bahasa manusia" komentar Arya sambil tersenyum.


Ragna hanya terkekeh pelan mendengar hal itu. Arya tidak menyadari bahwa kalimat yang dia dengar saat itu akan memiliki dampak yang besar bagi hidupnya di masa yang akan datang.


-----------------------------<<>>-----------------------------


"Mmm....aku tidak menduga bahwa danau ini akan mencair, bagaimana kalau anda dan Nona Rena terbang saja bersama kuda itu Tuanku? Aku akan menyusul kalian setelah berenang melewati danau ini" saran Ragna.


"Itu tidak perlu" sahut Arya.


Arya kemudian mengibaskan tangannya dengan santai, danau itu segera membeku dari ujung ke ujung. Hal itu tentu membuat Rena dan Ragna terkejut, mengingat kalau Arya masih belum menjadi Elementalist yang sempurna tapi dia sudah bisa membekukan sebuah danau dengan mudahnya.



Arya sendiri cukup terkejut dengan kemampuannya sendiri, dia bisa merasakan kekuatan elemen miliknya bertambah beberapa kali lipat saat ia tiba di tempat ini. Akhirnya mereka menyeberangi danau yang sudah membeku itu dengan santai, Ragna memberitahukan tempat yang mereka tuju berada tepat di seberang danau ini.


Ragna lalu mulai menceritakan tentang tempat yang mereka sebut sebagai Dungeon, sebenarnya yang mereka sebut sebagai Dungeon ini hanyalah sebuah gerbang besar yang terlihat seperti mulut monster raksasa. Tidak ada yang mengetahui seperti apa kelihatannya isi dari Dungeon tersebut.


Ragna juga memberitahukan tidak ada makhluk hidup yang berkeliaran disekitar tempat itu, bahkan danau yang baru saja mereka lewati tidak dihuni oleh ikan dan makhluk-makhluk air lainnya. Tidak ada satupun makhluk di Kutub Utara yang berani mendekati tempat itu, tapi menurut Ragna bisa saja itu dikarenakan wiayah ini adalah daerah kekuasaan para Polarian.


Saat Ragna selesai bercerita, Arya dan Rena bisa melihat dikejauhan sebuah pemandangan yang cukup mengerikan. Dan sepertinya itulah tempat yang mereka tuju.



----------------------------<<>>-----------------------------


Arya mengarahkan tangannya ke arah pintu gerbang Dungeon, membuat hawa dingin dengan jumlah besar bertiup ke arah sana. Hawa dingin itu menerpa mereka saat lewat, hal ini mengakibatkan tubuh Rena, Stella, dan juga Ragna menggigil untuk beberapa saat.


Arya memejamkan matanya sambil tidak mengatakan apapun, beberapa menit kemudian ia akhirnya membuka matanya lalu menghela napas panjang.


"Ruangan di dalam tempat ini sangat rumit dan membingungkan, aku ragu kalau kita sudah masuk. Kita tidak bisa keluar dengan mudah" keluhnya sambil mengacak-ngacak rambut.


"Apa cuma itu informasi yang kau dapatkan?" tanya Rena sambil mendekat ke arahnya.


"Sayangnya bukan hanya itu, diseluruh penjuru tempat ini aku merasakan banyak sekali pemicu jebakan. Sehingga kita harus lebih berhati-hati dalam melangkah"

__ADS_1


Arya juga memberitahu mereka tentang sebuah ruangan yang berada di tengah-tengah Dungeon, ruangan itu tertutup seakan-akan memperkuat dugaan mereka bahwa North Blue Frozen Crystal memang tersimpan di tempat ini.


Arya dan Rena terlihat berpikir sejenak untuk merencanakan bagaimana caranya mereka bisa masuk dan keluar dengan selamat. Setelah cukup lama berpikir, Arya bangun dari duduknya dan menoleh ke arah Ragna dan juga Stella.


"Ragna aku ingin kau diam disini, keluarkan raungan terbaikmu setiap 1 jam sekali sejak kami masuk ke dalam Dungeon. Kami berdua akan menggunakan itu sebagai petunjuk dimana letak jalan keluar, apa kau mengerti?" perintah Arya cepat.


Awalnya Ragna terlihat tidak setuju, ia lebih memilih ikut bersama Arya dan Rena untuk masuk ke dalam Dungeon. Tapi akhirnya setelah Arya menjelaskan betapa pentingnya peran ini untuk dilakukan dia menerimanya dengan lapang dada. Selanjutnya Arya menghadap ke arah Stella yang sudah menggoyang-goyangkan ekornya dengan penuh semangat.


"Stella, datang dan jemput kami. Dimanapun kami berada saat kau mendengar suara ini" ucap Arya sambil mengelus kepala Stella.


Kemudian ia bersiul keras dengan menempelkan kedua jari tangannya di bibir. Stella mengerjapkan mata beberapa kali menandakan dia mengerti apa yang Arya perintahkan, walaupun dia sebenarnya lebih berharap bisa pergi menemani Arya dan Rena di dalam sana.


"Anak pintar" puji Arya dengan senyuman hangat.


Kemudian dia segera mendekat ke arah Rena dan meraih tangan kanannya, membuat Rena memekik pelan dengan wajah memerah.


"Mmm? Ada apa Rena?" tanya Arya bingung.


"T..tt.ti..tidak apa-apa! Ha..ha..hanya saja, apa kita memang harus berpegangan tangan seperti ini?" timpal Rena pelan.


"Tidak juga sih, tapi seperti yang aku bilang sebelumnya. Di dalam penuh dengan jebakan dan yakinlah penerangan disana juga tidak kalah buruknya, jadi....bukankah lebih baik jika kita seperti ini?" jawab Arya sambil mengangkat tanganya yang menggengam tangan Rena.


"A..a..ah...begitu ya....sepertinya aku terlalu berlebihan memikirnya. Maafkan aku, hehehe" ujar Rena sambil mengeluarkan suara tawa canggung.


Akhirnya setelah melambai pada Ragna dan Stella, keduanya memasuki gerbang yang terlihat seperti mulut monster raksasa tersebut. Dan sesuai dengan perkataan Arya, penerangan disana sangat buruk. Hal ini menyebabkan Arya harus rela beberapa kali kakinya diinjak oleh Rena.


Arya juga harus menghentikan langkah Rena beberapa kali untuk menghindari pemicu-pemicu aktifnya jebakan. Dia meniupkan udara dingin dari mulutnya sehingga pemicu-pemicu itu terlihat jelas dihadapan mereka.


Setelah beberapa waktu terlewati yang dipenuhi dengan suara raungan beruang serta usaha menghindari jebakan, akhirnya mereka tiba di depan ruangan yang berada ditengah-tengah Dungeon. Arya mengetuk pintu itu tiga kali, dan secara ajaib pintu tersebut terbuka dengan sendirinya.


"Bagaimana mungkin kau tau pintunya akan terbuka hanya dengan cara sederhana seperti itu?!" tanya Rena keheranan.


"Apa?! Jangan menatapku seperti itu, semua orang selalu mengutamakan sopan santun bukan?" jawab Arya santai dengan wajah tidak bersalah.


Ruangan yang mereka masuki sangat besar dan mengeluarkan cahaya kebiruan, tapi langkah keduanya langsung terhenti saat melihat sosok yang berada ditengah ruangan. Makhluk itu terlihat terbuat dari es, dia membawa pedang dengan sikap siap menariknya kapan saja.



"Apa makhluk itu....hidup?" tanya Rena dengan suara tercekat.


"Tentu dia hidup, jangan memasuki radius 10 meter disekitarnya. Atau dia akan bereaksi, aku tidak menyangka sihir setingkat Protector Knight menjaga tempat ini" jawab Arya sambil mendekati sesuatu yang terlihat seperti sebuah monumen batu.


Rena segera menyusulnya dan melihat apa yang ada di monumen tersebut, dia mengernyitkan dahinya tidak percaya.


"Aku tidak bisa membaca apa yang tertulis disitu" celetuknya pelan.


"Ini....Rune, seperti yang digunakan para Elf" ujar Arya sambil mengangkat sebelah alisnya,"Coba kita lihat apa yang tertulis disini, mmm....sepertinya ini sebuah....teka-teki"


"E...Arya? Bisakah kau membacakannya untukku?" pinta Rena dengan wajah bersalah.


"If he eats, he lives. But if he drinks, he died" baca Arya pelan.


"Jika dia makan, maka dia akan hidup. Tetapi jika dia minum, dia akan mati? Makhluk macam apa itu?!" protes Rena.


Keduanya terdiam cukup lama memikirkan teka-teki itu, disaat yang bersamaan mereka terlihat menyadari sesuatu kemudian menatap satu sama lain.


"Apa kau memikirkan hal yang sama denganku?" tanya Arya.


"Mungkin iya, mungkin tidak. Yang menjadi masalahnya adalah bagaimana reaksi makhluk itu kalau kita salah menjawab" sahut Rena sambil melirik Protector Knight.


"Mari kita cari tau" celetuk Arya sambil melemparkan senyuman jahil pada Rena.


Mereka berdua mendekat ke arah monumen batu, keduanya meletakkan tangan kananya diatas monumen batu tersebut. Mereka menarik napas panjang lalu menatap satu sama lain sambil mengangguk menandakan diri mereka siap.


"Fire!" teriak mereka bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2