Elementalist

Elementalist
Chapter 132 - Sepuluh Tahun Lalu


__ADS_3

Arya bersama gadis misterius tersebut berkeliling mengunjungi banyak tempat di Distrik Perunggu, sambil terus membuntuti. Para makhluk pensaran ini mengamati baik – baik semua kegiatan dua sejoli tadi dari jarak aman.


Karena mengetahui kemampuan pendeteksi Arya sangat peka, tak ada yang berani mengambil resiko terlalu dekat. Namun tetap saja rasa pensaran menggerogoti hati mereka semua, melihat senyuman tulus serta perangai lemah lembut Arya menambah rasa ingin tau tentang identitas sebenarnya wanita itu.


“Hey? Apa kalian pernah melihatnya memasang ekspresi wajah begitu?” Alalea bertanya kurang semangat waktu orang yang dia inginkan menjadi tunangannya memasangkan sebuah topi jerami di kepala perempuan lain.



Kelima gadis Elementalist cuma bisa diam, walau menyandang status sebagai individu – indivu paling lama mengenal Arya. Informasi milik mereka sendiri tak banyak, tentu laki – laki dalam gerombolan juga ikut tertarik kepada gadis manis di sana.


“Sepertinya sudah sangat jelas bukan hubungan milik mereka?” celetuk Kevin.


Setelah menimang – nimang beberapa saat, Timothy berhenti mengelus dagu dan menyuarakan pendapat. “Gadis ini lebih muda sedikit dari kita”


“Hmm? Bagaimana kau bisa tau?” tanya Lexa penasaran.


“Insting priaku mengatakan kalau komposisi tubuhn—“


BUAKH!


“HAGYU! M...ma...maksudku....” dia mengurungkan niatnya bicara ketika menyadari pandangan sinis dari sekelilingnya.


“Hei!? Jangan berisik, Midori nanti tidak dapat menguping pembicaraan mereka!” Kizuna mendesis kesal.


Perhatian kembali ke pasangan bahagia target pembuntutan, Arya memuji penampilan gadis tersebut sewaktu mengenakan topi jerami pilihanya. Dan membuat api cemburu membara juga situasi makin panas bagi kelompok pengintai.


‘Dia bahkan tak memuji pakaian renang kami!’ batin mereka disertai urat pelipis menonjol di kepala masing – masing.


“Kak? Aku tidak bisa menerima ini” si gadis menggeleng sembari menolak.


‘Kak!?’


Elizabeth yang sudah hendak keluar persembunyian tuk berteriak segera ditahan oleh teman – temannya. Ia memberontak sekuat tenaga berusaha melepaskan diri.


“Mhmm! Mhhm! Mhuumm!!!”


“Tenangkan diriimu! Kita bisa ketahuan!” desak Selena.


WUSH!!!


“Akh....!!!”


Tiba – tiba angin sangat kencang bertiup tanpa peringatan, mengharuskan kedua puluh pemuda – pemudi ini merendahkan tubuh agar tidak terhempas. Lexa bergerak cekatan membentuk pelindung tanah seperti bola mengelilingi mereka.



“Uhuk! Uhuk! Apa – apaan?!”


Hampir seluruh semak dan pohon rindang lokasi bersembunyi sudah hilang terbawa angin, sementara pemukiman penduduk nampak aman tentram karena memiliki pelindung khusus yang akan aktif bila terjadi hal – hal seperti tadi.

__ADS_1


Sedikit linglung, mereka semua menoleh ke sekitar berusaha menenangkan diri pasca terjangan ****** beliung tersebut. Tak lama kemudian semuanya saling pandang sebelum berteriak.


“Kita kehilangan jejak!”


Berpencar dengan terburu – buru, Asuna dan kawan – kawan bertanya kepada para penduduk terutama pemilik toko persinggahan Arya. Melihat wajah kesulitan mereka, orang – orang tentu berbaik hati menolong.


“Mmm? Apa yang kalian maksud laki – laki berambut putih tampan bersama teman wanitanya itu?”


“Benar! Paman tau kemana perginya?”


Pria paruh baya bertampang ramah tersebut berusaha mengingat – ingat sebentar, karena sepertinya beliau bisa membantu. Callista memangil yang lain untuk berkumpul.


“Kalau tak salah ingat, begitu membeli beberapa sayuran dan bahan makanan dalam jumlah banyak keduanya langsung pamit. Oh iya mereka juga mampir sebentar ke sana membeli topi, masa muda indah ya? Pasangan yang sangat serasi, aku harap bisa seperti itu ketika seumur mereka hahaha”


‘M....me....mereka tinggal bersama!’


Cuma kesimpulan tersebut paling masuk akal bagi semuanya akibat fakta kalau keduanya datang kemari memborong keperluan pangan rumah tangga. Disaat kepanikan melanda, hanya Asuna yang masih terlihat tenang.


“Lebih muda? Kakak? Menghilang?” gumamnya pelan sembari berpikir.


“Asuna kau sedang apa? Ayo kembali” ajak Rena.


“Tunggu sebentar, sepertinya aku tau harus bertanya pada siapa mengenai hal ini”


“Hmm?”


------><------


Walau terkejut dan heran Asuna bisa mendapatkan kontaknya, Reika tidak keberatan membantu. Oleh sebab itu disinilah mereka berakhir. Duduk manis berhadapan dengan adik angkat Ketua Elementalist pada ruang tamu kediaman besar Presiden Indonesia.


Begitu selesai menghirup tehnya, Reika meletakan gelas lalu memasang gestur melipat tangan dan kaki. “Kakak memang pernah menceritakan tentang kalian kepadaku, tapi....tak kusangka semuanya akan mampir”.


“Maaf, apa kami datang diwaktu yang kurang tepat?” Asuna bertanya penuh kesabaran.


“Ahh ahh, lagi pula libur sekolahku baru saja mulai”


‘Kapten punya adik angkat secantik ini?’ Kevin, Zayn, Ali, dan Timothy menelan ludah.


“Apa lihat – lihat?” seru Reika mendelik ketus.


“Ekh?!”


“Nampaknya jumlah lawan jenis lebih banyak ya....?”


Asuna memang hanya membawa teman – temannya, ditambah tiga gadis lain yaitu Alalea, Callista, dan Kizuna. Itupun karena ketiganya memaksa, jika sampai ia mengajak para Nyanko juga mungkin bisa – bisa Reika langsung meminta Arya keluar dari Pusat Penelitian.


“Eeee....ngomong – ngomong apa kita pernah bertemu sebelumnya?” pertanyaan Reika tertuju ke Alalea.


“Eh? Sepertinya tidak” jawab Alalea jujur.

__ADS_1


Keduanya sama – sama tidak tau hampir bertemu ketika diadakan pameran sihir beberapa waktu lalu akibat tindakan cepat Arya. Di lain tempat punggung si Elementalist Es bergidik pelan tanpa alasan jelas, membuat dirinya bertanya – tanya sendiri apa gerangan yang sedang terjadi.


“Hmm....baiklah lupakan, oke sekarang kembali ke masalah utama kenapa kalian datang kemari. Silahkan dimulai kak Asuna”


Selesai diceritakan detail – detail kejadian, Reika memiringkan kepala sebentar sambil menyentuh bibir. “Jadi....kalian melihat kakakku pergi bersama seorang gadis lain? Dan penasaran mengenai identitasnya?”.


Semua mengangguk mengiyakan kata – kata nona muda itu. Berharap akan mendapat sebuah petunjuk.


“Setauku kakak tidak pernah menjalin hubungan spesial dengan wanita lain, kecuali diantara kalian ada yang merencanakan sesuatu” sindir Reika melirik wanita – wanita di ruangan itu.


“Kenapa kau bisa begitu yakin?”


“Hah....kalaupun dia berbohong aku pasti tau, karena aku meminta beberapa orang untuk memata - matainya”


‘Gadis ini....Brocon tingkat akut!?’


Tak mendapat kemajuan, semua terdiam. Namun tiba – tiba Reika berdiri, dia mengaku jadi penasaran juga mengenai perempuan misterius tersebut. Dari pada berdiam lebih baik melakukan pencarian sekali lagi.


Lalu akhirnya dengan tambahan Reika, mereka berangkat kembali ke Distrik Perunggu. Namun tetap menemukan hasil nihil, ketika pulang Reika mengacak – acak rambut sambil menggerutu.


“Aku tidak menemukan apapun hal khusus di tempat Kak Arya biasa berkunjung!”


“Mau bagaimana lagi? Diakan maniak perpustakaan” timpal Timothy.


Saat semua berpikir keras, pintu ruang tamu terbuka. Seorang pria paruh baya berkopiah masuk dan menyapa mereka semua, langsung saja tak tanggung – tanggung. Sembilan Elementalist memberi salam kepada beliau.


“Wah wah wah ramai sekali”


“Siapa dia?” Alalea, Callista, dan Kizuna berdiam diri karena tak mengenalinya.


“Siapa lagi?! Kita sedang berada di rumahnya”


Ketiganya terkesiap kemudian menyusul memberi hormat, berarti kalau tidak salah. Orang ini akan mereka panggil Ayah suatu hari nanti jika berhasil mendapatkan hati pujaan hati masing - masing. Setelah duduk lalu berbincang sebentar, nampaknya pak Hartoso mendapat gambaran besar masalahnya.


“Reika? Kamu ingat bulan dan tanggal sekarang?”


“Hmm? Tentu saja, kenapa ayah bertan—!? Aku pergi dulu mencarinya di sana!”


Begitu anak perempuannya meninggalkan ruangan, Pak Hartoso memanggil beberapa pelayan yang menyuguhkan makan beserta minuman untuk mereka.


“Aku sudah mendengar semuanya, tak kusangka bisa menjamu kalian bertiga. Tuan Putri Alalea, Tuan Putri Callista, dan Tuan Putri Kizuna”


“A...an...anda terlalu....sungkan Tuan” ketiganya terbata – bata karena karisma milik pria sepuh dihadapan mereka.


“Pak Presiden, apa anda tau alasan Arya menghilang?”


Hartoso tersenyum lembut, setelah meminta semua pelayan keluar. Beliau mulai bicara “Aku tidak tau apa bisa menjadi orang yang tepat untuk menceritakannya, tetapi sepertinya dia benar – benar sudah membuat kalian khawatir ya? Terima kasih telah mau berteman dengannya”


Mereka semua saling berpandangan, bisa terasa hal yang ingin disampaikan sepertinya sedikit berat dan bukan masalah kecil semata.

__ADS_1


“Baiklah, kalau begitu kuharap kalian tidak akan bosan mendengarkan pria tua ini bercerita. Semuanya berawal mula sepuluh tahun lalu, kisah ini mengenai gadis cinta pertama Arya dan.... orang yang telah mengubah hidupnya sampai sekarang”


__ADS_2