Elementalist

Elementalist
Chapter 77 - Safira


__ADS_3

Ujian Keempat telah berakhir, semua Elementalist berhasil lulus. Walau yah....tidak bisa disebut tanpa goresan sedikitpun sih, luka – luka yang mereka dapatkan cukup menjadi pengingat bagaimana tingkat kesulitan Ujian terakhir ini.


Walaupun para Elemental Dragon sudah menetas, kontrak belum bisa dibuat. Saat ini mereka sedang menunggu kemampuan berkomunikasi anak – anak naga ini untuk muncul terlebih dahulu, sederhananya menanti penyesuaian.


Vilhelm menjelaskan pada Arya walau memiliki mental berusia ribuan tahun saat didalam telur, semua naga tetap membutuhkan adaptasi ketika akhirnya mendapatkan tubuh mereka. Dan tentu saja dalam pembuatan kontrak tidak bisa dilakukan tanpa saling mengerti satu sama lain.


Safira termasuk yang memiliki kecepatan tertinggi jika menyangkut hal ini, dalam waktu tiga hari. Dia sudah tidak hanya mendengkur saja, walaupun dengan suara pelan. Arya berani bersumpah mendengar makhluk mungil tersebut memanggil namanya.


Kesepuluh Pengawas Ujian undur diri terlebih dahulu dua hari setelah hari penetasan, alasanya karena mereka tidak bisa meninggalkan Elemental City lebih lama tanpa penjagaan.


Mereka menegaskan pembuatan kontrak harus diutamakan. Itulah sebabnya para Elementalist setuju menetap selama seminggu lagi di Dragon Island. Tepat dihari keenam, Arya dibangunkan oleh suara kesakitan dari Safira.


Panik dia langsung menghampiri sang naga, menyelimutinya dengan kain serta menyodorkan berbagai makanan dan minuman. Tapi karena kondisinya tidak kunjung membaik, ia memutuskan memanggil Vilhelm kesana.


Baru saja Arya hendak keluar pintu, sebuah sinar terang memancar disusul suara ledakan dari kamar tempat Safira berada. Begitu Arya mengecek kembali ke ruangan itu, anak naga miliknya sudah tidak terlihat lagi.


Digantikan sesosok gadis kecil manis berambut putih, mata birunya berbinar – binar menatap Arya. Ia langsung berlari kemudian bergelantungan dileher pria tersebut.



“Arya....? Arya....? Kenapa lama sekali, aku sudah hampir mati bosan menunnggumu kau tau?”


“Eh? Safira?!”


“Iya? Aku suka sekali dengan nama pemberianmu” jawabnya tersenyum senang.


Dua cahaya biru tiba – tiba menerangi tubuh Arya, dalam sekejap mata. Mandalika dan Efbi muncul menggunakan wujud manusia mereka.


“Halo, senang bertemu denganmu” sapa Mandalika ramah.


“Bocah menyebalkan pembuat repot Ayah” Efbi menggerutu pelan.


“Bocah?! Kau kira sedang berbicara dengan siapa hah? Umurmu bahkan tidak sampai seperseratus dari milikku” balas Safira mengernyitkan dahi kesal.


“APA?!”


Perseteruan keduanya terpaksa dilerai oleh Mandalika, mereka kemudian berdiri membentuk segitiga. Sementara Arya duduk ditengah – tengahnya, kontrakpun dimulai. Cahaya terang mulai menyelimuti keempat orang ini.


KLIK!

__ADS_1


Arya akhirnya merasakan gembok terakhir dikepalanya terbuka, menandakan Safira sudah menjadi bagian dari kekuatan miliknya. Dengan ini Arya menjadi orang pertama yang berhasil membuat kontrak diantara teman – temannya yang lain.


------><------


Arya berjalan ditemani Safira berkeliling Dragon Island, semua naga langsung berhenti lalu memberi salam kepada mereka saat berpapasan dengan keduanya. Di Dragon Sanctuary, sepuluh Tetua Klan sudah bersiap bertekuk lutut demi menyambut mereka.


“Yang Mulia” ucapan tersebut muncul secara serempak.


“Jangan panggil aku begitu! Bukankah aku hanya telur kosong yang sudah mati?” balas Safira ketus.


Wajah para Tetua langsung memucat, Arya bisa melihat tubuh mereka menggigil setelah mendengar perkataan Safira.


“Safira cukup”


Arya sudah mendengar semuanya dari Vilhelm, tentang perlakukan mereka semua kepada Safira waktu masih menjadi telur. Menurutnya wajar saja Safira merasa kesal, disimpan disuatu tempat gelap bertahun – tahun serta menerima keraguan kalau dirinya akan menetas cukup menjadi alasan.


“Hmph!”


“Nona Safira, perbaiki sikapmu”


Tidak ada yang percaya telah mendengar kata – kata gila itu, sewaktu mencari sumber suara. Mereka menemukan Vilhelm berjalan santai mendekati Arya dan Safira. Keringat dingin mengguyur deras tubuh para naga.


“Kubilang perbaiki sikapmu, jika terus begitu. Kau tidak pantas berada disisi Tuan Arya”


BUAKH!!!


“Safi—“


Arya terkejut melihat serangan tiba – tiba Safira, ekspresi wajahnya menjadi seram saat melayangkan tendangan keras ke arah wajah Vilhelm. Dilain sisi pria itu hanya menggunakan sebelah tangan untuk menahan kaki Safira.


Cepat – cepat Arya berusaha menghentikannya namun gagal, amukan si gadis naga semakin menjadi – jadi. Tapi secara tidak terduga Vilhelm dapat melumpuhkannya. Bahkan terbilang mudah.


“Walau kau lebih tua dan kuat sekalipun dariku, pengalaman milikmu masih nol” Vilhelm menghela napas panjang.


Akhirnya Vilhelm meminta izin kepada Arya untuk membawa Safira, dia ingin mengajarkan gadis ini sedkit tata krama. Arya mengiyakan permintaan Vilhelm sambil berpesan jangan terlalu keras padanya, walau sudah berumur entah berapa tahun. Safira tetaplah seekor naga baru menetas dimata Arya.


------><------


“Ahh....udara ini begitu familiar” ujar Timothy lega.

__ADS_1


“Syukurlah kau sudah tidak apa – apa, padahal beberapa saat lalu wajahmu masih sepucat nasi basi” Arya berkomentar pedas.


Akhirnya mereka semua kembali ke Elemental City, dan lagi – lagi. Ketahanan perut harus diuji dikarenakan perjalanan pulang yang persis sama seperti saat keberangkatan. Novis masih menjadi naga sarana transportasi mereka.


Setelah mengucapkan selamat tinggal pada si naga hitam, para Elementalist langsung pergi menuju Pusat Penelitian dari Babel Tower. Sambutanpun tidak lupa diberikan oleh orang – orang disana, sepertinya rekaman – rekaman Ujian telah dipertotonkan.


Sebulan waktu liburan pun diberikan, Arya menghabiskan waktunya dengan berlatih bersama yang lain. Safira jadi sedikit lebih tenang setelah menerima arahan dari Vilhelm, ia juga terlihat merasa bersalah dan bertekad tidak membuat Arya sebagai tuannya kerepotan.


Waktu berjalan begitu cepat sampai – sampai ketika tersadar, satu bulan sudah terlewati. Arya masih berusaha berbicara dengan Selena, namun setiap mencoba wajah gadis itu malah semakin memerah seakan demam.


Jadi Arya pun tidak berani melakukannya lagi, sebuah pengumuman mengejutkan sampai kepada mereka beberapa hari berikutnya. Berupa surat yang berisi ucapan selamat telah menjadi Elementalist sempurna dan permintaan khusus dari Pemerintahan.


Setelah membacanya sekilas, Arya menolak permintaan tersebut. Sebaliknya Timothy malah terlihat antusias dan mulai memohon – mohon.


“Ayolah Kapten! Tidak ada salahnya memiliki kostum keren”


“Bukan itu bodoh, aku tidak keberatan dengan kostum dan lain – lain. Malah lebih baik bisa menyembunyikan identitas sehingga tidak mengganggu kehidupan pribadi kita masing – masing.


Yang aku permasalahkan adalah permintaan mereka, apa untungnya coba. Bukannya hanya akan membeberkan lokasi kita pada musuh?”


“Tenang saja, Elemental City sudah bertahan lebih dari seratus tahun. Musuh tidak akan semudah itu menjatuhkan kota ini” Timothy masih berusaha.


‘Kau hanya tidak tau bagaimana rasanya berhadapan dengan salah satu Tujuh Dosa Besar ataupun Pasukan Elite ras lainnya’ batin Arya kesal.



“Lagi pula ini hanya sebentar, kurang dari setengah jam. Setelah itu pelindungnya akan dipasang kembali”


“Ini—“


“Kapten, memperlihatkan kemampuan kita kepada musuh juga dapat menjatuhkan mental mereka. Inilah kesempatan untuk melakukannya” tekad Timothy tergambar jelas dimatanya.


“Hah....baiklah – baiklah, tapi hanya jika diizinkan oleh para Pengawas dan disetujui oleh semua Elementalist. Jika ada satu saja yang keberatan, berarti dibatalkan. Tugasmulah untuk meyakinkan mereka”


“Tentu saja Kapten! Terima kasih! Wohoo!” tak butuh waktu lama, Timothy sudah menghilang dari pandangan.


‘Dasar tukang pamer!’


Arya membaca surat permintaan sekali lagi, untuk pertama kali setelah sekian tahun lamanya. Perlindungan mutlak Elemental City akan dikurangi untuk sesaat, dan itu berarti. Umat Manusia akan unjuk gigi mengenai keberadaan mereka di dunia dan membuat semua ras tau, kalau mereka masih bertahan hidup sampai sekarang.

__ADS_1


__ADS_2