Elementalist

Elementalist
Chapter 264 - Target


__ADS_3

“Conqueror Charge!”


Bersamaan dengan meneriakan nama jurusnya Grenhook pun mengayunkan senjata miliknya, dalam sekejap aura berwarna jingga yang ternyata berasal dari para Goblin di berbagai penjuru terserap menuju tubuhnya. Belakangan diketahui teknik ini menghisap energi mereka kemudian meningkatkan kemampuan dasar Grenhook secara drastis, bahkan beberapa anggota lemah terserap hingga kering dan akhirnya tewas.


Perubahan tiba – tiba membuat Arya terkejut namun sudah tidak bisa menghindar, ia menggeser sedikit tumpuannya berdiri sebelum menerima hantaman gada berduri tersebut. Suara gesekan besi memenuhi udara sewaktu benda itu meluncur mulus pada bilah Mandalika sampai menggebrak bumi terus menghamburkan tanah kemana – mana.


BUMM! BRUAKH!


Arya menyelinap cepat tuk mencapai tengkuk lawannya, cukup satu sentuhan dia dapat menyadari ada hal tidak wajar mengenai fisik Greengook. Meskipun otot – ototnya teramat kekar, kondisi organ dalamnya sangat berbanding terbalik layaknya makhluk sekarat. Semuanya diakibatkan luka fatal pemberian Arya dahulu jadi Greenhook kurang bisa memaksimalkan keahliannya sebagai Raja Goblin lagi.


“Kemari kau tikus kecil!”


Tangan hijau bertelapak lebar sukses menangkap ujung jubah Arya, tarikan kuat menyebabkan keseimbangannya hilang. Sepersekian detik berselang posisi Arya hendak terbanting kemudian dipentung sampai hancur lebur bagaikan bubur, tapi si Elementalist Es buru – buru bereaksi membekukan jari – jari musuhnya dan mendaratkan lima tebasan.


Merasakan pegangan mengendur ia melepaskan diri sebelum melompat mundur demi menjaga jarak, Grenhook menggeram kesal sebelum menghancurkan lapisan dingin yang menyelimuti bagian tubuhnya. Keduanya menarik napas panjang menunggu momentum tepat lalu menerjang berbarengan, adegan saling bertukar serangan sulit diikuti mata pun terjadi.


TRANG! TRING! TRENG! BAK! BRUAKH!!!


Kebanyakan orang sekitar lokasi hanya mendengar denting besi memekakan telinga seperti barusan, individu – individu bijak segera memutuskan menjauh dari sana tak mau mengambil resiko. Saking gesit gerakan Arya juga Grenhook badan mereka seolah menghilang, namun bagi kawan atau musuh berkemampuan tinggi itu menjadi totonan sangat menarik hingga beberapa menghentikan pertarungan mereka sendiri sejenak.


“Kau yakin akan membiarkan saja muridmu mati? Sedikit kuingatkan walau kelihatan lemah Goblin tua tersebut tetap merupakan salah satu Tujuh Dosa Besar” celetuk Fae dengan nada mengejek.


Memang benar seiring berjalannya pertarungan hasilnya perlahan mulai terlihat, Lee sebenarnya berusaha mengabaikan komentar Fae Tepes namun semakin lama kecepatan Arya makin menurun secara bertahap. Aura jingga aneh sekeliling Greenhook seperti menyedot keluar tenaganya tanpa jeda sedikitpun.


Akhirnya saat senjata masing – masing beradu entah ke berapa kali, kaki Arya terglincir lalu mengakibatkan pertahanannya terbuka lebar. Greenhook tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk mencekik leher anak laki – laki dihadapannya dan siap menghantamkan gada jumbo miliknya memanfaatkan tangan satunya lagi.


“ARYA!?”


“SELESAI SUDAH!” Greenhook berteriak buas.


“KAPTEN!?”


Pada momen krusial yang dalam hitungan detik bisa berakibat fatal itu tiba – tiba Arya menggunakan lengannya sebagai pondasi berdiri sebelum melepaskan tendangan menuju mata haus darah Greenhook. Sayangnya beribu pengalaman membuat sang Raja Goblin sukses mengelak mudah sembari terkekeh pelan, “Kau pikir tipuan murahan dapat—“.


Mulut Greenhok berhenti bicara karena menyadari sesuatu menyentuh tengkuknya, hatinya mencelos begitu tersadar kalau tujuan Arya sedari tadi memang bukan merusak pengelihatannya melainkan mengaitkan bagian punggung kakinya.

__ADS_1


“Wajahmu seolah berkata aku terlalu cepat berkomentar....” ujar Arya pelan sambil tersenyum tipis.


BUAKH!!!


------><------


Arya berhasil mulus membalikan keadaan ketika dia malah membuat muka Greenhook menghujam tanah sangat keras, tanpa berpikir lama Arya meraih gagang Mandalika berniat menggorok kulit kehijauan tidak terlindung itu tetapi bunyi deru membelah udara memaksanya mengubah haluan.


JDUAKKH....!!!


Benar saja serangan kejutan membuatnya terpental menjauh, Arya mengenali penampilan si pendatang baru namun ia belum sempat berpikir saat dua terjangan maut mengincar sisi tubuhnya. Masing – masing Werbeast mengincar bagian tubuh atas serta bawahnya secara bersamaan.


KRAKK....!!! SYU...!


Kali ini Arya terlempar ke udara akibat himpitan barusan, sembari menggertakan gigi demi menahan rasa sakit pemuda berambut putih tersebut mencoba memperhatikan para pelaku yang ternyata adalah anggota Dua Belas Shio. Bunny dan Baekho.


‘Buruk...beberapa tulangku patah terkena—‘


SYUU!!! BUMM....!!!


Kenyataannya bala bantuan lawan masih berdatangan, muncul orang lain berbekal senjata tongkat kehijauan mendorongnya kembali ke darat. Di antara hamburan debu – debu keduanya saling menatap wajah satu sama lain.


Arya menelan ludah berat, meskipun warna mata juga rambutnya berbeda gadis dihadapannya mempunyai kesan sangat berarti baginya. Tak perduli akan tatapan dingin darinya Arya berusaha menyentuh pipi sang Vanguard tetapi dia lebih dulu menghilang sebab sesuatu berwujud bola hitam raksasa sedang mengarah tepat menuju lokasi Arya terbaring.



“Novissimus Entomb....” bisikan lirih Friska terdengar.


BUMMM....!!!


------><------


Sewaktu badan Arya masih melayang sebenarnya ada satu sosok lagi mengincarnya, perempuan ini bersembunyi di antara reruntuhan sembari mengamati jalannya pertarungan menggunakan semacam teropong.


Sebuah senapan laras panjang tergeletak tepat disampingnya, ketika hendak bersiap menembak kendaraan berbentuk tank mini lebih dulu menghujani lokasinya dengan peluru. Nashumi tanpa kenal takut terus memaksa Hayha menjauh agar tak menyerang Arya.

__ADS_1


Namun gangguan demikian bukanlah suatu hal besar bagi seorang Vanguard seperti Hayha, ia masih berfokus kepada targetnya kemudian bergerak cekatan mencari sudut berpotensi lain. Tepat saat penyangga senjatanya dipasang muncul pemuda berpakaian hitam entah dari mana.


“Kerja bagus Nashumi....” Zayn bersiap melakukan penyergapan.


TRANG!!!


“Oh....kau masih hidup rupanya?”


Hayha mengeluarkan pisau lipat yang tersembunyi dekat sepatunya untuk menahan dual shuriken Zayn, fakta bahwa betapa mudahnya wanita itu menghentikannya membuat Zayn terkejut bukan main. Padahal pertempuran telah berjalan kurang lebih dua jam namun tidak ada setetespun keringat nampak menghiasi tubuhnya.


Seharusnya minimal orang ini sudah melalui lima hingga sepuluh duel melawan anggota – anggota Pax baru bisa tiba pada lokasi sekarang. Mana boleh ia membiarkan musuh seberbahaya perempuan dihadapannya mengincar Arya.


“Pengecut! Akan kubalas perbuatanmu sebelumnya!”


“Pengecut? Aku? Hahaha....spesialisku adalah penembak jitu....memang seperti itulah caraku bertarung....”


SYUUU....!!!


Zayn terkesiap karena Hayha tiba – tiba memisahkan diri sembari menggigit benda hitam panjang, dia membawa senapan miliknya melompat santai menuju udara kosong padahal mereka tengah berada di puncak gedung berlantai dua belas.


Tak habis pikir Zayn mencoba menggapai jubah Hayha tetapi barang hitam dengan permukaan berantakan mencuri perhatiannya, bola misterius tersebut berada dekat wajahnya lalu terus bergerak jatuh tertarik gravitasi bumi.


‘GRANAT!?’


Begitu menyadarinya Zayn langsung mengaktifkan kekuatan elemennya supaya terlindung dari ledakan, perlahan bayang hitam mulai menyelimuti sekujur tubuhnya. Dalam selang sepersekian detik tatapan matanya dan Hayha bertemu.


“Kau tau? Ada beberapa orang yang beperndapat kalau seni itu adalah....ledakan!”



BUMM.....!!!


“Hasta la vista!!!” ujar Hayha tersenyum lebar sambil memberi hormat.


Ledakan bom tadi bersamaan dengan jatuhnya sihir milik Friska sehingga bunyinya teredam, perhatian semua orang sekarang tertuju ke satu tempat. Yaitu letak Arya menerima telak serangan bergiliran bala bantuan Fatum secara terus menerus.

__ADS_1


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2