
Disebuah tempatyang dipenuhi dengan cahaya kemerahan dan aura panas diudara, seorang laki-laki berambut perak sedang asik menyiapkan tenda miliknya. Dengan santai ia mengikat tali-tali tenda itu sambil bersenandung pelan.
Saat pekerjaannya hampir selesai, dia tiba-tiba tersentak kaget sampai hampir membuat tenda itu robek menjadi dua bagian ketika mendengar teriakan kesal dari orang yang sangat dia kenal.
"Timothy! Jauhkan landak menyebalkan milikmu ini dari wilayahku atau aku akan—"
Tanpa menunggu lagi, ia segera bangkit dan melesat menuju arah suara itu berasal. Timothy mengangkat makhluk kecil dengan bulu-bulu runcing dibadannya sambil tergesa-gesa menjauh, pandangan tajam seorang gadis bermata merah mengikuti pergerakannya.
"Bukankah sudah kubilang untuk menjauh dari sana Spike!!!" desis Timothy gelisah.
Landak berduri perak itu hanya menatap tuannya bingung sambil memiringkan kepala, Timothy tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau dia sampai telat menjemput makhluk itu. Langkahnya langsung berhenti ketika suara deham pelan terdengar.
"Apa ada yang ingin kau katakan?"
Timtohy menoleh pelan dengan wajah pucat "M...ma...maafkan aku Asuna, dia hanya penasaran. Kau taukan mereka itu baru memiliki tubuh fisik jadi....ya begitulah hahaha"
"Lalu?" rambut hitam milik Asuna sudah mulai terangkat ke udara seolah-olah terlihat seperti api yang berkobar.
"MAAF! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANNYA TERULANG LAGI NONA!" Timothy menyahut tegas padahal keringat sudah mengguyur deras diseluruh tubuhnya.
"Bagus, karena kalau sampai terulang. Persiapkan mentalmu untuk memakan landak panggang sebagai makan malam, itupun kalau tidak terlalu hangus" bisik Asuna sinis sambil mendelikan mata padanya.
Timothy menelan ludah sambil menjawab dengan suara tercekat "Siap laksanakan!" dan langsung menghilang dari pandangan Asuna.
-------------<<>>-------------
Pada jam makan malam, dengan patuh Timothy membawakan makanan ke tempat Asuna yang sedang duduk menatap sebuah bangunan tinggi dikejauhan. Bangunan itu berdiri diatas lereng yang sangat terjal dengan sungai lava disekitarnya.
"Ini makan malam untukmu" Timothy meletakan salah satu mangkuk yang ada ditangannya dekat situ.
"Tidak perlu, aku sudah makan" jawab Asuna tanpa menoleh sedikitpun.
Mendengar hal itu Timothy hanya mengangkat kedua bahunya lalu menuangkan isi mangkuk milik Asuna ke mangkuk miliknya. Setiap Asuna menolak, dia bisa mendapat tambahan porsi untuk menambah berat badan.
Ini adalah hari ketiga yang mereka lewati setelah menemukan lokasi Fire Temple. Keduanya sampai ditempat itu beberapa hari yang lalu setelah Timothy berhasil membuat kontrak dengan Spike, kemudian secara tiba-tiba alat teleportasi keduanya aktif dan membawa mereka ke tempat asing ini.
Hanya dalam kurun waktu sehari, Asuna berhasil menemukan Fire Temple dan memutuskan agar keduanya bermalam disekitar situ.
"Kapan?" tanya Timothy sambil mengunyah sup jamur miliknya.
"Besok pagi, jangan sampai aku yang harus membangunkanmu" Asuna memperingatkan dengan nada suara dingin.
"Ngomong-ngomong apa kau sudah tau wujud Elemental Beast milikmu? Dari Guide Vision yang kau lihat"
"Entahlah....kucing....mungkin"
"Pfft! ku—meong...."
Timothy kemudian hanya mengeong pelan setelah menyadari lirikan tajam Asuna padanya. Dia menelan ludah dengan susah payah lalu berusaha mengubah topik pembicaraan.
"Err....Asuna? Apakah kau memang harus membatasi wilayah kamp kita seperti ini?"
"Tentu saja, aku tidak ingin kau berkeliaran disekitarku saat istirahat" balas Asuna sambil memasang wajah jijik.
"Tapi....sampai membuat garis seperti ini? Bukankah itu sedikit berlebi—"
"Mundur" perintah Asuna dengan mata menyala.
Timothy yang sudah hendak menunjuk garis pada tanah dihadapanya, langsung menarik kedua lengannya dengan cepat. Api mulai membumbung tinggi dari garis tersebut.
"Waa...panas panas! Apa kau selalu mekakukan hal seperti ini? Bahkan pada Kapten?" Timothy menjauh sambil meniup telapak tangannya.
"Tidak, ini hanya berlaku untukmu" sahut Asuna singkat.
"Hah?! Ketidakadilan macam apa lagi itu?!" teriak Timothy tidak terima.
Asuna menggelengkan kepala lelah "Arya itu berbeda, dia hampir tidak pernah tidur saat kami pergi bersama. Untuk apa aku membuat pembatas untuknya?"
"Bukannya itu lebih berbahaya?! Kau membiarkan seorang pria sadar disekitarmu saat kau tertidur?"
Asuna menghela napas sebelum menjawab "Dengar Tuan Besi Karatan Tidak Beguna Sok Tau, ada tiga alasan kenapa aku melakukan hal itu"
"Kau tadi memanggilku ap—"
"Pertama, jarak yang memisahkanku dengan Arya saat berada di kamp minimal 5 meter. Percaya atau tidak pasti segitu, entah dia melakukannya secara sengaja atau tidak segaja. Kedua, Arya bukan orang sepertimu, dan yang terakhir. Ayahku percaya pada—eh?! Tunggu dulu! Lupakan bagian yang ketiga!" ralat Asuna buru-buru.
"Jadi intinya....aku adalah orang yang tidak bisa dipercaya?" tanya Timothy hampa.
"Apa aku harus menjawabnya?"
Timothy seperti menerima tamparan keras diwajahnya, apakah selama ini semua Elementalist wanita melihatnya seperti itu? Apakah seburuk itu dirinya dimata mereka? Dia bangkit berdiri dan berjalan menjauh dengan lesu.
"Kenapa kau terlihat sangat terburu-buru sih?" celetuk Timothy dari jauh.
"Tidak ada alasan khusus" Asuna menyibak pintu masuk tendanya.
"Ehm...., kalau kau ingin cepat bertemu Kapten lebih baik jangan terlalu tergesa-gesa. Kita juga tidak tau dia sudah kembali atau belum"
__ADS_1
"Mmm? Kau ada benarnya ju—tunggu dulu, aku tidak ingin bertemu dengannya!" teriak Asuna sambil menjulurkan kepala keluar tenda.
"Hah? Bukanya tadi kau bilang ayahmu sudah mempercayakanmu pada Kapten?"
"Timothy? Apa kau pernah melihat proses pelelehan baja sebelumnya?" Asuna keluar dari tenda dengan Amaterasu Range Mode siap ditangan.
"Pelelehan baja? Tidak pernah, untuk ap—tunggu dulu. Untuk apa kau menyiapkan Ama—OAA....TOLONG....!!!"
-------------<<>>-------------
Kelopak mata Arya bergerak perlahan, tidurnya nyenyak sekali. Sudah lama dia tidak merasakan tidur senikmat itu. Ia tidak punya niatan untuk membuka matanya dan ingin meneruskan tidur tersebut.
Kemudian tanpa sengaja ingatan sebelum dia kehilangan kesadaran terlintas dipikiranya. Arya langsung membuka mata dan bangkit dari posisi berbaring tanpa memperhatikan sekitar.
JDUKK!
"Aw....?!"
Terdengar dua suara saling tumpang tindih, Arya meringis pelan sambil berusaha melihat apa yang dia sundul.
Ternyata tepat disebelahnya, Lexa juga dengan mata berair mengelus dahi miliknya, Arya tidak habis pikir apa yang dipikirkan gadis itu sampai menempatkan wajahnya dihadapan orang yang sedang tertidur.
"Kenapa kau bangun tanpa aba-aba seperti itu sih?!"
"Harusnya aku yang bertanya kau itu sedang apa sebenarnya?"
Saat kondisi kepalanya sudah membaik, Arya menyadari ternyata mereka masih berada di tanah lapang tempat dirinya kehilangan kesadaran semalam. Lexa mengatakan padanya kalau dia dan Rake sudah mencari Arya selama beberapa jam, karena Arya menghilang tanpa meninggalkan pesan sedikitpun untuk mereka.
"Begitulah ceritanya, jadi....apa yang kau lakukan disini?" tanya Lexa sambil melihat sekitar.
Arya lalu menceritakan pertemuannya dengan M, Lexa mendengarkan dengan seksama namun semakin lama mendengar cerita Arya ekspresinya berubah semakin memburuk.
"Kau...tidak sedang sakitkan?" Lexa menempelkan tangan didahi Arya.
"Tentu saja tidak"
"Sudah kuduga! Suhu tubuhmu rendah sekali! Kau pasti sa—"
"Aku ini Elementalist Es Lexa, suhu normal tubuhku memang segini" ujar Arya lelah.
"Tapi—"
"Tidak ada tapi-tapian, ngomong-ngomong dimana Rake?"
Lexa menunjuk sebuh tonjolan kecil pada jubahnya, tonjolan itu sedikit gemetar seperti makhluk yang sedang kedinginan.
"Aku juga tidak tau mengapa, tapi sejak bangun tidur dia seperti tidak mau terkena udara dingin lagi. Kupikir dia flu" jelas Lexa.
"Hah? Kok bagus?" ulang Lexa.
"Iya bagus, apa kau pernah mendengar ungkapan kalau orang bodoh tidak pernah terkena flu?"
"Pernah sih, tapi....apa hubungannya dengan hal ini?"
"Apa kau sekarang sedang terkena flu?"
Lexa menggeleng dengan ekspresi wajah polos "Tidak"
"Kapan terakhir kali kau terkena flu?"
"Mmm....aku tidak ingat"
"Pfft! Jadi....?"
"Tunggu sebentar! Kenapa aku merasa kesal ya?" timbrung Lexa sambil mengerutkan dahi.
"Sudahlah, lebih baik kau lupakan saja" Arya tersenyum berusaha menahan tawa yang hampir membuat peutnya meledak.
-------------<<>>-------------
Mereka melakukan perjalanan menyelusuri Winter Hollow untuk menemukan Ice Temple¸tapi belum membuahkan hasil. Arya juga bertanya-tanya pada dirinya sendiri dimana M berada? Tidak mungkin gadis kecil kelaparan itu bisa bertahan ditempat seperti ini bukan?.
Arya juga masih tidak mengerti siapa dan apa sebenarnya gadis bernama Aurantiaco itu, apa maksudnya dengan yang pertama? Hal itu terus memenuhi isi kepala Arya sampai jam makan siang akhirnya telah tiba.
Lexa yang menyadari sikap Arya yang berubah seolah-olah pikiranya tidak ada bersamanya sejak tadi pagi mulai berusaha menyadarkannya.
"Hei Arya? Apa kau tau kenapa tempat ini diberi nama Winter Hollow?"
Arya tersadar dari lamunanya lalu menoleh ke arah Lexa yang menatapnya penasaran "Kata Winter diambil dari musim yang ada disini, dan Hollow diambil dari nama makhluk yang menghuni tempat ini. Kalau aku tidak salah ingat"
"Apa itu Hollow?"
"Hollow adalah sejenis roh yang misterius, tidak ada yang tau dengan pasti mereka itu apa sebenarnya"
"Hah? Aneh sekali" komentar Lexa sambil menyuap makanan ke mulutnya.
"Kau tau lima jenis tipe Witch yang ada bukan?" Arya balik bertanya.
Lexa menelan makanan yang ada dimulutnya sambil mengangguk-angguk perlahan "Universal, Exorcist, Warlock, Shaman, dan Necromancer bukan?"
"Benar sekali...."
__ADS_1
Ada lima tipe Witch yang ada di dunia saat ini, kelimanya memiliki kemampuan yang berbeda-beda dan fungsi masing-masing. Pertama Exorcist, penyihir tipe ini memfokuskan dirinya dalam sihir pembasmi iblis. Mereka adalah musuh abadi ras Demon.
Sihirnya saat efektif untuk membasmi makhluk-makhluk kegelapan seperti mereka, selanjutnya adalah Warlock. Penyihir ini memiliki kemampuan bertarung jarak dekat yang sangat baik, mungkin itu terdengar konyol untuk sebagian orang.
Untuk apa seorang penyihir bertarung jarak dekat? Tapi memang begitulah adanya para Warlock, mereka memliki kemampuan fisik yang dikombinasikan dengan sihir. Biasanya mereka bertarung dengan alat-alat sihir penunjang fisik lainnya.
Mereka selalu ada dibaris depan untuk membentengi teman-teman mereka, lawan paling tepat untuk para Werebeast. Kemudian Shaman, tipe ini lebih fokus untuk memberikan bantuan kepada penyihir tipe lainnya.
Kemampuannya seperti memulihkan, memberi tambahan kekuatan, merapalkan kutukan pada musuh, dan lain-lain. Semuanya dilakukan dengan ritual-ritual tertentu, tipe yang paling diincar oleh musuh saat berperang itulah mereka.
Lalu keempat adalah Necromancer, mereka adalah penyihir yang menggunakan arwah dan mayat-mayat sebagai alat. Kemampuan membuat pasukan mayat hidup yang sulit dibasmi menjadi salah satu kelebihannya.
Hal itu juga yang membuat mereka menjadi incaran nomer dua setelah para Shaman saat perang. Dan yang terakhir adalah Universal, tipe ini memiliki tingkat kelangkaan yang sangat tinggi. Bahkan dikatakan hanya sekitar 5% dari keseluruhan Witch yang menjadi tipe Universal.
Seorang yang menjadi tipe Universal dikatakan dapat menggunakan semua tipe sihir yang ada, dan secara otomatis menjadi pemuncak rantai makanan diantara para penyihir lainnya. Sampai sekarang belum ada yang mengetahui batas kemampuan sihir para tipe Universal.
"Para Hollow ini dikatakan salah satu makhluk untuk melatih para Necromancer, itu sebabnya Winter Hollow biasa menjadi tempat para Necromancer untuk mendidik muridnya" jelas Arya pada Lexa.
Pandangan Lexa terpaku ke sesuatu yang ada dibelakang Arya, matanya melebar lalu dengan terbata-bata mulai bertanya "A..ap..apa kau tau bagaimana wujud mereka?"
"Mmm entahlah, dibuku tidak terlalu dijelaskan. Mungkin makhluk hitam mengerikan dengan lubang menganga pada tubuhnya. Memangnya kenapa?" Arya menatap Lexa dengan alis terangkat.
Wajah Lexa semakin pucat, ia mengarahkan telunjuknya ke belakang kepala Arya. Tepat saat ia menoleh, wajahnya sudah berhadapan dengan sosok hitam mengerikan. Dari mata makhluk itu keluar sebuah cahaya remang-remang yang membuat orang terhipnotis.
"Lexa!" teriak Arya dan langsung berbalik arah untuk lari.
Lexa yang mengerti sudah melesat terlebih dahulu sebelum ada perintah dari Arya, makhluk hitam itu mengeluarkan raungan yang memekakkan telinga. Arya dan Lexa tidak memperdulikanya, yang paling penting sekarang mereka harus berlari sejauh mungkin dari makhluk itu.
"Arya! Dia mengejar" peringat Lexa dengan napas terengah.
"Aku tau" seru Arya lalu menarik Mandalika dari sarungnya.
Dia menebas beberapa pohon yang mereka lewati demi menghambat makhluk itu, tapi sialnya semua itu percuma. Batang-batang pohon tumbang itu tidak ada yang mengenai makluk hitam tersebut, seolah-olah mereka hanya melewati bayangan saja.
"Percuma, mereka tidak memiliki tubuh fisik" gumam Arya kesal.
Napas Lexa semakin berat dan membuat Arya khawatir, mereka harus segera keluar dari situasi gawat ini. Tepat saat mereka berbelok diujung jalan. Ternyata disana ada seorang gadis kecil dengan payung berwarna jingga ditangannya.
"M?!" ucap Arya terkesiap.
"Hai kaka—"
Belum sempat dia menjawab, Arya sudah menarik gadis tersebut ke pelukannya. Lalu dengan sigap melompat menghindari terjangan makhluk hitam itu bersama Lexa. Tidak diberi jeda untuk bernapas, Hollow itu kembali menuju ke arah mereka.
Arya yang sudah siap pasang badan untuk menahan makhluk itu terkejut ketika bayangan hitam tersebut terpental jauh saat bersentuhan dengan payung milik M. M sudah membuka payungnya untuk melindungi mereka semua.
"Hollow level 5?" kata M dengan wajah ketakutan.
Arya tidak mengerti apa yang dikatakan gadis itu, tapi sepertinya dia tau menahu mengenai Hollow. Jadi Arya segera bangkit untuk bersiap menerima gempuran berikutnya.
"M? Apa kau bisa mengatasinya"
M terlihat ragu "Ini pertama kalinya aku bertemu level 5 jadi...."
"Sudah kuduga, kalau begitu Lexa. Pergilah sejauh mungkin dari tempat ini bersama M"
"Bagaimana denganmu?" tanya keduanya bersamaan.
"Tidak apa, aku akan segera menyusul kalian" jawab Arya sambil menoleh ke arah keduanya dengan senyum menenangkan.
Makhluk hitam itu bangkit dan mengamuk ke arah mereka. Arya bersiap dengan Mandalika ditangannya.
"Pergi!"
"Tapi—"
Lexa dan M tiba-tiba terangkat dan diseret oleh es yang ada disekitar sana untuk menjauh. Hollow itu meraung kencang sambil mengangkat tangan yang dipenuhi cakar-cakar tajam. Arya sudah pasrah dan menutup mata bersiap untuk menerima serangan.
Tapi ternyata serangan itu tidak pernah mendarat, saat dia membuka matanya ternyata Hollow tersebut menoleh ke arah pepohonan rindang yang tumbuh disana. Terdengar sayup-sayup suara geraman dari sekitar sana.
Sesosok Rubah putih menatap Hollow tersebut dengan geram, Arya langsung mengenali binatang tersebut.
"Kau....Rubah yang waktu itu....?"
AUUU....!!!
Suara lolongan itu menggema ke seluruh penjuru dan membuat bulu roma siapapun berdiri dibuatnya. Disaat itulah Arya mulai tersadar.
"Ternyata kau....kau bukan Rubah!? Kau seekor Serigala!"
__ADS_1