
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu di sebuah ruangan, setelah menunggu beberapa waktu. Seorang wanita muda segera membuka pintu ruangan tersebut. Di dalam ruangan terlihat seorang gadis yang dengan raut wajah serius sedang membaca sebuah buku.
Pada meja dihadapannya terdapat banyak tumpukan buku-buku tebal lainnya yang seperti menuntut untuk dibaca, gadis itu bahkan tidak menyadari ada seseorang yang sudah memasuki ruangannya.
"Hmm....aku pikir terjadi sesuatu yang buruk kepadamu, sehingga kau tidak pernah mengunjungiku akhir-akhir ini"
"Ekh!? Ibu?! Sejak kapan ibu berada disini?"
Alalea akhirnya mengangkat wajahnya dari buku yang ia pegang, Azalea dengan kursi kayu miliknya segera memasuki ruangan sambil tersenyum lembut.
"Jadi....apa ada yang ingin kau katakan?" tagih Azalea.
"Maafkan aku bu" balas Alalea segera lalu kembali membaca buku yang sedang ia pegang.
Azalea mengambil salah satu buku yang ada diatas meja tersebut, ia mengangkat sebelah alisnya setelah membaca beberapa judul buku yang ada disana.
"Ini semua buku sihir yang ada di perpustakaan, akhir-akhir ini kau terlihat semakin giat berlatih. Tapi tidak ada salahnya kau mengabariku terlebih dahulu bukan? Agar ibumu yang cantik ini tidak khawatir"
"Bukankah aku sudah minta maaf? Dan apa-apaan itu mengatai dirimu sendiri cantik" timbrung Alalea sambil membalik halaman buku.
"Aku tidak pernah mengatai diriku cantik, ada seseorang yang mengatakannya beberapa waktu terakhir ini"
"Eh....siapa?" tanya Alalea cuek.
"Arya"
SRAKK
"Ahhh...!!! Tidak...! Bukunya sobek!" teriak Alalea histeris sambil berdiri dari tempat duduknya
"Apa yang sebenarnya kau lakukan?" tanya Azalea heran.
Azalea dengan lembut mengayunkan tangannya, buku yang dipegang oleh Alalea segera terangkat ke udara dan segera menyatu kembali. Buku itu terjatuh di permukaan meja seperti sedia kala tanpa cacat sedikitpun.
"Ibu...? ibu tau kan aku belajar untuk apa? Bisakah ibu tidak membuat konsentrasiku buyar?" keluh Alalea sambil meghentakkan kakinya kesal.
"Tentu saja aku tau Nona perwakilan ras Elf, baiklah kalau begitu. Selamat tinggal, jangan terlalu memaksakan dirimu" lambai Azalea sambil berjalan menuju pintu keluar.
"A..ap..apa dia benar berkata seperti itu padamu?" celetuk Alalea tiba-tiba.
Azalea menghentikan langkahnya lalu menoleh pada anak semata wayangnya itu, "Kenapa kau tidak menanyakannya saja sendiri saat kau sudah tiba di Elemental City"
"A..ak..aku hanya—"
"Oh iya ngomong-ngomong, syal itu terlihat cocok untukmu. Boleh aku pinjam?" goda Azalea.
Alalea segera menggenggam erat syal biru yang ia kenakan dan membenamkan mulut serta hidungnya disana, "Eh?! Ini kan punya—"
"Hahaha aku hanya bercanda, dah...."
"IBU?!"
Setelah ibunya akhirnya tidak terlihat lagi, Alalea memandang keluar jendela kamarnya. Tidak ada seorangpun yang mengetahui dibalik syal itu sebuah senyuman sudah merekah pada wajahnya.
"Apa yang sedang dia lakukan ya?" gumamnya pelan.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
"Pikku pikku pikku"
Arya membuka matanya perlahan lalu terduduk, dia berusaha meregangkan badanya yang pegal sambil menguap lebar. Sejujurnya dia terbangun karena suara "pikku" yang sedari tadi terdengar seperti berputar disekitarnya.
Dia memeriksa kaki kirinya sekali lagi, kelihatannya sudah lebih baik dari sebelumnya. Walaupun masih sedikit kaku saat digerakan. ia pun berdiri dan melempar pandangan keluar sarang.
Makhluk hijau kecil yang membawanya kesini sebelumnya sedang melangkah mengelilingi sarang itu dengan pandangan siaga sambil bersenandung santai.
"Pikku pikku pikku"
"Mmm....selamat pagi?" celetuk Arya.
Makhluk itu segera menoleh ke Arya dengan antusias, dia mendekat sambil memiringkan kepalanya.
"Pikku?"
"Iyap, aku sudah lebih baik. Terimakasih telah menolongku, kalau aku boleh tau....apa yang sedang kau lakukan?"
Makhluk kecil itu menempelkan tangan kananya di pelipis seperti memberi hormat pada Arya, Arya yang melihat itu hanya bisa berkata "Ahh" pelan sambil mengangguk-angguk.
"Kalau begitu....e....terimakasih juga karena kau telah menajagaku selama aku tidur"
"Pikku pikku"
KRUYUK....
"Pikku!?" makhluk kecil itu tersentak kaget setelah mendengar suara yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Ahahaha maaf, itu suara perutku. Tidak perlu khawatir" jelas Arya cepat sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Makhluk itu kemudian segera masuk ke dalam sarang, ia berdiri beberapa saat disebelah Arya dalam diam. Dan tanpa peringatan sedikitpun ia mengeluarkan potongan badan ikan dari mulutnya, ia lalu menyodorkan potongan itu kepada Arya.
"E....kupikir tidak perlu, aku rasa kau lebih membutuhkannya" tolak Arya sambil mengeluarkan beberapa potongan roti serta buah dari dalam tas miliknya.
Mereka berdua akhirnya sarapan dalam diam, setelah puas mengisi perut. Akhirnya Arya menyadari sesuatu.
__ADS_1
"Kau ini.....seekor Platynguins bukan? Dimana kawananmu? Kau tidak mungkin tinggal di tempat ini sendiriankan?"
Platynguins itu kemudian mengangkat kedua tangannya lalu menggeram, Arya terlihat berpikir sejenak. Ia berusaha mencerna apa yang sedang coba makhluk itu sampaikan padanya.
"Ahh....para Werewolf menangkap mereka?"
"Pikku" sahut Platynguins itu sedih.
"Hmm....hei kau tau? Sepertinya aku tau dimana mereka dikurung"
"Pikku?" mata Platynguins itu berbinar-binar karena tertarik.
"Benar, bagaimana kalau aku membantumu membebaskan mereka. Sebagai tanda terimakasih telah menolongku sebelumnya" tawar Arya.
"Pikku...—"
"Tidak apa, ini tidak akan berbahaya. Aku punya rencana" Arya berdiri sambil membersihkan pakaiannya.
Ia mengangkat si Platynguins dan meletakan makhluk itu di pundaknya, kemudian ia segera mengambil peralatan-peralatan miliknya dan keluar dari sarang itu.
"Mmm....ngomong-ngomong, apa kau punya nama?" tanya Arya setelah mereka keluar dari sarang.
"Pikku?"
"Hemm.... baiklah, aku akan memanggilmu Pikku mulai sekarang" gelak Arya sambil menghilang diantara salju yang berjatuhan dari langit
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Dikejauhan terlihat sesosok orang yang berjalan dengan tertatih-tatih, orang itu berusaha untuk menaiki tebing yang curam. Beberapa kali langhkahnya terhenti untuk menarik napas.
"Rena, kita bisa istirahat sebentar kalau perlu"
"Tidak apa, tidak apa. Aku masih bisa" gumamnya sambil melanjutkan langkah.
Sejak terpisah dari Arya, Rena terus menelesuri gunung tempat energi South Black Winter Diamond berasal dengan bantuan dari Rei. Mereka sudah mendaki gunung itu hampir seharian penuh, Rei tentu mengkhawatirkan kondisi fisik Rena.
"Kita tidak tau bagaimana permata hitam itu dilindungi, jadi berhati-hatilah" peringat Rei.
Dia tidak tau hal mengerikan apa yang akan dilakukan Arya padanya jika sampai terjadi sesuatu pada Rena. Walaupun ia sendiri tidak tau bagaiamana kondisi serta dimana Arya berada saat ini.
Sementara Rei sedang meratapi nasipnya, yang ada dikepala Rena saat ini hanya satu. Dia harus bisa mendapatkan South Black Winter Diamond bagaimanapun caranya, dia sudah terlalu merepotkan Arya.
Kalau bisa, dia ingin sekali mendapatkan benda tersebut seorang diri tanpa melibatkan Arya. Untuk membalas semua yang Arya telah lakukan untuknya selama ini, setiap dirinya memikirkan Arya entah kenapa hatinya terasa sakit.
Rena hanya bisa mendoakan semoga Arya baik-baik saja, tiba-tiba lamunan Rena buyar saat Rei akhirnya menyeletuk pelan.
"Kita hampir sampai, aku yakin tepat dibalik tebing itu"
Rena mempercepat langkahnya, dia menggunakan hampir semua sisa tenaganya untuk melewati tebing itu. Tapi warna wajahnya segera menghilang saat melihat apa yang menunggunya disana.
"Mahkluk apa it—"
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
"Baiklah, apa kau lihat sebuah kurungan besar disana?" tanya Arya sambil menunjuk sebuah kurungan raksasa dikejauhan.
"Pikku pikku"
"Kupikir disanalah tempat kawananmu dikurung" jelas Arya.
Kurungan itu adalah kurungan yang dia dan Rena pernah lihat sebelumnya, sejujurnya Arya tidak percaya dia akan kembali ke tempat ini setelah kejadian yang menimpa dirinya. Dan tentu dengan alasan yang cukup konyol menurut kebanyakan orang.
"Tapi....seperti yang kau lihat, untuk menuju kesana tidak mudah. Benteng itu penuh dengan para Werewolf" Arya menunjukan gigi taringnya pada Pikku.
"Pikku...." Platynguins itu mengangguk-angguk sambil terlihat berpikir dengan keras.
"Tapi tenang saja, itulah mengapa kita membuat sebuah rencana. Jadi yang perlu kau lakukan hanyalah—"
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Arya sudah bersiap pada posisinya, jadi rencana yang akan mereka lakukan adalah memancing salah satu Werewolf yang sedang berpatroli untuk menangkap Pikku. Sebelum demon itu menangkapnya, Arya akan menumbangkan Werewolf tersebut.
Arya bersembunyi diatas salah satu pohon sambil memasang telinganya baik-baik, beberapa saat kemudian ia mendengar suara berisik di kejauhan. Dia bisa melihat dua sosok yang saling kejar mengejar.
Bisa dipastikan kalau sosok hijau kecil yang sedang dikejar itu adalah Pikku, ternyata Werewolf yang mengejar Pikku tidak mengubah wujudnya. Pria itu terlihat beringas dan berusahan menangkap Pikku dengan air liur menetes.
Akhirnya Werewolf itu berhasil menangkap Pikku di tempat yang sudah direncanakan, Arya cukup terkejut melihat fakta bahwa para Platynguins memiliki kecepatan gerak yang cukup cepat di es.
"Kena kau! Hahaha akhirnya aku bisa mak—"
Arya melompat dari pohon dan mendarat dengan lembut pada tanah bersalju disana, saking lembutnya Werewolf itu telat untuk menyadari kedatangan Arya. Dia baru menyadari keberadaan Arya saat ujung katana Arya sudah menembus pundak kanan miliknya.
Gerakan Arya sangat cepat dan tajam sampai-sampai pedang itu menancap pada sebuah batu raksasa, sebelum Werewolf itu bisa mengeluarkan teriakan kesakitan. Arya membekap mulutnya dengan tangan kiri dan dengan gerakan cepat menebas leher Werewolf tersebut.
"Apa kau baik-baik saja?" Arya bertanya pada Pikku sambil melepaskan perlengkapan Werewolf yang sudah tidak bernyawa itu.
"Huh...Pikku pikku" sahut Pikku sambil mengelap keringat dari dahinya.
"Hahaha ini baru permulaan, misi penyelamatan kita dimulai dari sekarang" seru Arya sambil mengenakan jubah Werewolf untuk menutupi tubuhnya.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Inti dari rencana Arya adalah memasuki benteng para Werewolf dengan menggunakan penyamaran, itulah mengapa dia membutuhkan perlengkapan Werewolf untuk menyembunyikan aroma dirinya. Karena dia yakin aromanya pasti sudah dikenali oleh semua Werewolf yang ada disana.
Dia berhasil memasuki benteng tanpa hambatan, beberapa Werewolf yang berpapasan dengannya tidak ada yang curiga. Bahkan mereka saling bertegur sapa dengan Arya, kelanjutan dari rencananya adalah membebaskan para Platynguins dan keluar dari tempat ini melalui terowongan bawah tanah.
__ADS_1
Arya cukup kagum dengan ketenangan Pikku, dia tetap diam dan tidak bersuara sejak bersembunyi dibalik jubah Arya. Arya tentu memasang tudung jubah miliknya agar tidak mudah dikenali oleh para Werewolf yang sudah melihat wajahnya dengan jelas.
Mereka akhirnya melihat kurungan itu, disaat semuanya terlihat akan berjalan dengan mulus. Seseorang memanggil dirinya.
"Hei kau!"
Arya melirik kebalik punggungnya dengan perlahan, hatinya mencelos saat menyadari yang memanggilnya adalah Werewolf Noble-Tier yang berhasil menangkapnya sebelum ini.
Pria itu mendekati Arya, Arya tidak berani menoleh dan hanya diam memunggungi pria itu. Saat Arya sudah hampir berlari karena menganggap rencananya gagal pria itu berkata.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanyanya.
Awalnya Arya kebingungan mendapati pertanyaan seperti itu, lalu ia mengumpat dalam hati karena baru menyadari jubah yang ia kenakan memiliki sedikit bercak darah akibat tusukan katana yang ia buat.
"Ehem-ehem, aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit tergelincir dari bukit saat berpatroli Tuan" jawab Arya dengan suara serak.
"Ah....begitu, lain kali kau harus lebih berhati-hati. Periksakanlah kondisimu di barak perawatan" perintahnya.
"Baik, akan aku lakukan" jawab Arya dengan keringat dingin yang sudah membasahi tubuhnya.
"Mmm....tunggu sebentar kau ini—"
"Tuan Millos? Anda mendapat panggilan dari Nona Moona" panggil salah seorang Werewolf.
Hampir saja pria itu menyentuh pundak Arya, setelah mendengar panggilan itu. Pria bernama Millos itu segera pergi. Arya mencari tempat untuk duduk sambil menghela napas lega.
"Pikku?"
"Huh....tadi itu hampir saja" gumamnya pelan.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Arya berjalan dengan santai menuju tempat kurungan besar berada, kurungan itu dijaga oleh dua orang Werewolf yang terlihat malas.
Arya lalu menawarkan diri untuk menggantikan salah satu dari mereka untuk berjaga, keduanya sama-sama ingin digantikan. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk digantikan secara bergiliran oleh Arya, walaupun Arya sudah mengatakan ia bisa mengatasi semuanya sendiri.
Saat Werewolf penjaga yang satu lagi sudah tidak kelihatan, dengan perlahan Arya mengendap ke belakang Werewolf penjaga yang tersisa dan mematahkan lehernya.
"Pikku?"
"Iyap, sudah selesai" sahut Arya sambil membuka tudung jubahnya.
Dia mengambil kunci dari si Werewolf penjaga dan segera mendekat ke arah kurungan, para Platynguins yang ada disana melihat Arya dengan ketakutan. Tapi mereka segera antusias saat melihat Pikku dipundak Arya.
"Ssst....jangan berisik, aku akan mengeluarkan kalian dari sini" bisik Arya.
Setelah semua Platynguins keluar dari kurungan, Arya membuat sebuah terowongan es pada tanah. Mereka semua segera memasuki terowongan itu untuk pergi dari benteng tersebut. Tidak lupa Arya memasukan tubuh si Penjaga ke dalam kurungan agar tidak terjadi keributan.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Arya keluar dari terowongan es yang dia buat diikuti oleh para Platynguins lainnya, ia segera menutup kembali terowongan itu lalu menoleh pada makhluk-makhlu kecil yang menatapnya dengan penasaran.
"Baiklah pergilah dari sini dan jangan sampai tertangkap lagi, Pikku? Sepertinya perjalanan kita hanya sampai disini saja karena—"
AUUU
"Cih, lebih cepat dari dugaanku. Sampai jumpa semuanya" Arya berlari menjauh sambil melambai pada para Platynguins.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
"Rena! Sudah aku bilang lebih baik kita tidak mengusik makhluk itu" teriak Rei histeris.
"Aku sudah berusaha untuk tidak mengusiknya!" balas Rena sambil berlari sekuat tenaga.
Dibelakang Rena terlihat siluet sosok makhluk raksasa yang menutupi langit yang gelap.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Arya sudah berlari tanpa arah tujuan selama hampir satu jam, setiap ia beristirahat untuk mengambil napas. Pasti suara lolongan serigala akan segera mengikutinya, dan lebih parahnya lagi saat terakhir kali ia menoleh kebelakang. Jarak antara dirinya dengan kawanan Werewolf itu semakin menipis.
Dia terus berlari tanpa memperdulikan apapun yang ada dihadapannya, saat ia menoleh sekali lagi untuk melihat para mengejar. Tiba-tiba ia menabrak atau lebih tepatnya ditabrak oleh sesuatu.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Mereka berdua berguling-guling di tanah bersalju akibat tabrakan tersebut, Arya meringis kesakitan sambil berusaha melihat apa atau siapa yang ia tabrak.
"Rena?!"
Rena yang masih menggosok-gosok kepalanya segera menoleh setelah mendengar suara itu.
"Arya?! Kau selamat?"
"Begitulah—"
"Eee....sungguh aku tidak mau mengganggu reuni yang sangat mengharukan ini, tapi....BISAKAH KITA PERGI DARI SINI!!!" teriak Rei.
"Kau benar, kita harus segera pergi dari sini. Para Werewolf ada tepat dibelakangku" Arya segera berdiri dan membantu Rena.
"Werewolf?! PERSETAN DENGAN PARA ANJING KAMPUNG ITU! Apa kau tidak lihat makhluk apa yang sedang mengikuti kami?" dengus Rei kesal.
"Memangnya mahkluk ap—"
Kata-kata Arya segera menghilang, ia terperangah melihat makhluk yang dimaksud oleh Rei. Makhluk itu memiliki ukuran seperti gajah, dia memiliki tubuh singa dan juga tiga kepala yang menempel disana. Masing-masing adalah kepala singa, kambing, dan naga.
__ADS_1
Ketiga kepala itu menatap mereka dengan tatapan ingin membunuh, makhluk itu juga memiliki dua sayap raksasa dikiri dan kanan tubuhnya. Tanpa peringatan dia segera melesat menuju ke arah Arya dan Rena berada.
"Oh sial! Menunduk!" teriak Arya sambil menggapai Rena secepat yang ia bisa.