Elementalist

Elementalist
Chapter 141 - Psychiatric Hospital


__ADS_3

“KAPAN?!” Reika hampir menyebabkan meja mereka terjungkir balik akibat reaksi menggebu – gebunya.


“Hahaha e....dua tahun lalu, tepat sebelum kak Arya lulus dan masuk Sekolah Menengah Atas” jawab Kemala ragu sembari menjaga jarak.


“Hasilnya?!!” tanya para gadis lain penasaran.


“Aku....ditolak, ahahaha.....”


Kejadian tersebut masih sangat jelas tergambar pada benak Kemala, ia meminta Arya datang ke belakang gedung olahraga setelah acara pengumuman kelulusan selesai. Sesudah mengucapkan selamat dan berbagai basa basi. Dia menyatakan perasaan.


Mata Arya melebar, ekspresinya waktu itu sulit dijelaskan. Seperti campuran antara keraguan, sedih, juga bersyukur. Namun akhirnya si anak berambut putih menolak sesopan mungkin keinginan Kemala kemudian memohon maaf sebesar – sebesarnya.


‘Seperti sosok Kak Amira tak akan bisa tergantikan oleh siapapun baginya.....’ Kemala dalam hati tau, bahwa pasti mengalami penolakan. Tetapi entah mengapa tetap melakukannya.


“Aku tidak percaya kau tidak pernah memberitahuku apapun soal ini? Padahalkan ketika kelas satu kita masih sering bersama” protes Reika keras.


“Justru karena telah menduga responmu akan begini makanya aku tidak bilang apa – apa hahaha”


Jam seakan berjalan berkali – kali lebih cepat saat mereka bicara, waktu ternyata sudah menunjukan saat tutup. Reika bersama rombongan membantu keluarga tersebut membersihkan kedai, membuat pekerjaan selesai dalam sekejap.


Ayah Kemala berterima kasih dan mengundang semuanya mampir ke rumah, mereka tinggal tepat dibelakang rumah makan. Sebuah bangunan sederhana dua tingkat, beberapa bahkan sempat berpikir tidak akan muat bagi orang – orang itu untuk masuk.


Melakukan perombakan sedikit, ruang makan akhirnya dapat menampung seluruh tamu. Pria baruh baya yang merupakan kepala keluarga di sana menyapa dengan sangat ramah, Ayah Kemala memang sejak dulu dikenal jenaka dan murah senyum.


“Wah wah wah kalian semua cantik – cantik serta tampan ya? Sesuai yang diharapkan dari teman Arya, Reika juga semakin dewasa saja. Bagaimana kabar Pak Presiden? Sudah lama sekali kamu tidak berkunjung”


“Terima kasih Paman, Ayah sehat – sehat saja kok”


“Hehehe syukurlah, waduh! Tuan rumah macam apa aku ini tak menyediakan apapun pada tamu” Ayah Kemala hendak berdiri.


“Paman tidak us—“


“Biar aku saja, boleh kupinjam dapurnya?” potong Arya sambil menggulung kedua lengan pakaian.


“Ahh....kau baik sekali, andai kelak aku mendapat menantu sepertimu—aw!?”


“Ayah!?” Kemala mencubit laki – laki itu cukup keras.


Cuma beberapa menit berselang, bau harum memenuhi penjuru rumah. Selain membuat minuman tuk semua, Arya juga menyiapkan cemilan bersama hidangan – hidangan ringan lain. Ayah Kemala tersenyum lembut sebelum melirik tamu – tamunya.


“Kalian pasti kemari karena khawatir kepadanya kan?” tebaknya tepat sasaran.


“Eh?”

__ADS_1


“Dia adalah seorang jenius, kemampuan menyerab ilmunya sangat tinggi. Jika kau mengajarkan A, maka ia akan mencari tau sampai Z. Begitulah Arya....”


Kata – kata tersebut memang benar, hampir semua orang disana pernah merasakannya. Selesai berbicara pada Arya, dalam waktu singkat bocah itu seolah mampu menebak arah pikiran mereka, yang berarti dia mempelajari hal tersebut.


“Kuharap dia dapat bergerak maju dan melupakan putriku....”


Suasana berubah sunyi, tak satupun bersedia memecahkan kondisi sepi ini. Sampai akhirnya Ayah Kemala tertawa cukup keras dan mengakibatkan mereka terlonjak kaget.


“Wahahaha kenapa malah jadi sedih begini, sudah – sudah lupakan kata – kataku tadi”


Ayah Kemala kemudian meminta anak perempuannya mengambil sebuah album foto dari lemari, menunjukan bagaimana keluarga kecilnya bersenang – senang bersama beberapa tahun lalu. Ditengah – tengah asyiknya pria itu bicara, terlihat sebuah gambar hasil jepretan yang mencuri perhatian mereka.


Isinya adalah dua anak berusia sekitar tujuh sampai sepuluh tahun sedang bermain, bocah laki – laki pada foto tersebut melirik gadis yang menggelantung dipunggungnya gusar sembari berusaha melepaskan diri, sementara rekannya cuma tertawa lepas tak perduli.



“Ini—“”


“Makanan datang”


WUSH! BRAK!


“Hmm?”


Ayah Kemala bergerak cepat menyembunyikan album tersebut begitu sadar kalau Arya sudah kembali. Malampun berlalu, mau tak mau mereka akhirnya berpamitan pulang. Pasangan ayah dan anak itu mengantar kelima belas pemuda – pemudi tadi hingga keluar rumah.


“Arya? Kau besok ada rencana?” celetuk Asuna.


“Mmm? Begitulah, aku ingin menjenguk bibi bersama paman dan Kemala di RSJ”


“Aku mau ikut! Aku mau ikut! Aku mau ikut!” Reika memaksa.


“Selama paman tidak keberatan, silahkan saja. Kupikir dia malah akan senang jika semua juga datang, dan satu hal lagi nona muda. Ini sudah lewat waktu tidurmu, ayo cepat kembali. Dah....semua”


Arya berpisah dengan kelompok sambil menyeret adik angkatnya yang bandel, sewaktu kedua bocah itu sudah tidak terlihat. Barulah teman – temannya melanjutkan perjalanan dalam diam, terdapat dua orang sedang berpikir keras disana karena suatu masalah sama.


‘Foto tadi....bukankah mereka yang menyelamatkanku saat masih kecil?’ batin Selena.


‘Perempuan dalam foto....mirip sekali dengan yang kulihat di kamar Kapten dulu!’ Timothy berpikir kebingungan.


------><------


Keesokan harinya, ternyata semua sudah berkumpul lagi di depan restoran milik keluarga Nasution. Seperti dugaan, Ayah Kemala senang bukan main begitu mendengar kalau mereka ingin ikut serta menjenguk istrinya.

__ADS_1


Rombongan mampir sebentar ke beberapa toko untuk membeli bunga dan bingkisan. Pemandangan itu cukup mencuri banyak perhatian, terutama karena penampilan Alalea, Callista, Kizuna, dan Eridan yang sangat jarang terlihat bagi orang – orang sekitar.


Tak melewatkan kesempatan, beberapa sempat mengambil foto menggunakan telepon seluler masing – masing. Berusaha sebaik mungkin tidak menyebabkan keriuhan yang sama di Rumah Sakit Jiwa, mereka memutuskan masuk secara bergiliran.


Satu per satu tiba di ruang perawatan Ibu Kemala, wanita tersebut terlihat jauh lebih tua dari umur seharusnya. Rambutnya kusut berantakan, pandangannya tetap kosong walaupun diajak bicara oleh suami dan anaknya.


Reika bersama orang – orang Pusat Penelitian hanya saling pandang selesai memberikan bingkisan mereka. Nyonya Nasution sesekali melirik pria juga gadis yang memegang tangannya lembut.


“Dimana? Amira....”


“Sayang? Dia....”


Arya duduk diluar ruangan seorang diri, menggigit bibirnya sampai berdarah. Menengadah ke langit – langit sembari mengutuk pelan.


“Ya....Tuhanku? Kenapa bukan aku saja?”


Reika menyadari ketidakberadaan Arya, ketika akhirnya memutuskan mencari. Kakaknya tiba – tiba muncul di muka pintu, kejadian berikutnya terjadi begitu cepat. Sampai tidak ada yang sempat merespon.


Ibu Kemala meraih vas bunga diatas meja lalu melemparkannya ke wajah Arya, benda itu pecah berkeping – keping diikuti aliran darah segar. Arya tersenyum hangat seakan luka tersebut tak pernah ada.


“Senang melihat bibi baik – baik saja”


“Arya!? Wajahmu!?” teman – temannya segera mengerubungi.


“DASAR IBLIS....!!! KEMBALIKAN PUTRIKU.....!!! ARGHHH.....!!!” wanita paruh baya tadi mulai berteriak dan memberontak dipelukan suaminya.


“Bintang? Kumohon....hiks....”


“Ibu....hiks....”


Tangisan sendu, ayah anak itu membuat yang lain memutuskan tuk keluar. Arya dibawa kemudian didudukan kembali, Reika bergegas mencari Dokter sementara Alalea berusaha mengobati namun segera ditolak. Dia cuma membersihkan lukanya menggunakan kain bersih hangat.


“Dulu lebih buruk, sebuah pisau pernah menancap pada telapak tanganku” gumamnya.


“Kenapa kau tidak menghindar?” Zayn bertanya heran.


“Tubuhku tak mampu untuk bergerak”


“Alasannya?”


“Karena....hiks.....aku.....tidak berhak.....bukankah.....kasih Ibu itu sepanjang masa?” Arya membenamkan wajah pada lutunya penuh penyesalan.


__ADS_1


__ADS_2