
“Kau yakin ingin melepaskannya? Nezumi berkata anak ini sulit dikendalikan, bahkan kebanyakan para gadis Kuil Rodentia pun takut kepadanya....” Ushiro bicara pelan sembari melirik pria disampingnya.
“Ya....tenang saja, aku pikir ia hanya butuh teman bermain dan tempat yang akan kita tuju nantinya adalah jawaban atas rasa haus tersebut...” balas Garyu tenang.
Kedua anggota Dua Belas Shio itu melanjutkan perjalanan dalam diam menyusuri lorong Kuil Rodentia, sejak penangkapan Nezumi yaitu sang pemiliki sah bangunan. Suasana disana tak pernah lagi sama, hanya nampak ekspresi suram tergambar pada wajah – wajah penghuninya.
Perempuan – perempuan tadi segera memilih menjauh begitu melihat Garyu serta Ushiro melintas, mereka terus melangkah hingga area terdalam Kuil kemudian memasuki salah satu ruangan rahasia di bawah tanah.
Saat hampir mencapai ujung jalan dengan penerangan obor tersebut, masing – masing mengangkat sebelah alis keheranan sebab menemukan seorang wanita bertelinga rubah baru saja keluar dari dalam sel tahanan yang sepertinya memang sengaja diletakan disana.
“Kyaaa!?” pekiknya sama terkejutnya menyaksikan kemunculan dua laki – laki beraura mengerikan.
Menyadari tindakannya kurang sopan diapun buru – buru minta maaf, Ushiro bertanya mengapa ia berada disitu. Si gadis lalu memperkenalkan diri sebagai Ami sambil sedikit terbata – bata, salah satu sosok kepercayaan Nezumi. Ami mempunyai banyak tugas mengurus Kuil Rodentia termasuk memberika makan tahanan ruang rahasia ini, karena dia cuma berkenan menuruti ucapan segelintir penghuni Kuil saja.
Puas atas penjelasan Ami, Garyu memberinya tanda untuk meninggalkan lokasi. Sembari memberi hormat dengan badan gemetaran Ami bergegas menuju pintu keluar, namun sebelum semuanya benar – benar menghilang dari pandangannya ia menoleh penuh perasaan khawatir.
Garyu memasuki ruangan dibalik jeruji besi disusul oleh Ushiro, terdapat siluet mungil tengah terantai pada bagian masing – masing leher, pergelangan tangan, juga pangkal kakinya. Mendengar bunyi pintu terbuka kedua kalinya menyebabkan dirinya terbangun, mata biru gelap menyorot kedepan.
Bergerak perlahan memperhatikan pengunjung barunya, entah bagaimana cukup dengan sorot tatapan tersebut Garyu maupun Ushiro tau mereka tidak boleh sembarangan mendekat. Pupilnya menjadi garis lurus layaknya hewan buas yang sedang waspada.
“Siapa? Kalian bukan Pak Tua Nezumi, Kizuna, atau Ami. Pergi....” berbanding terbalik akan betapa mencekam suasana penjara, suaranya terdengar seperti anak perempuan manis.
“Kami—“
KRANGG...!!!
Ketika Ushiro hendak mencoba menjelaskan, kekangan rantai tahanan itu tanpa aba – aba menegang. Pertanda kalau sang tahanan mencoba lepas dan menyerang sebab tidak menghiraukan juga perduli kepada ucapan lawan bicarannya, Garyu menghentikan Ushiro sebelum berjongkok dihadapannya.
Tiba – tiba seluruh jeratan besi sekujur tubuhnya terputus sehingga membuatnya terjerembab ke lantai, Ushiro bersiap dibelakang jika sampai ia menyerang secara membabi buta. Nyatanya anak perempuan tersebut hanya merenggangkan anggota badan, bunyi gemertak tulang memenuhi udara.
KRTAK...! KRTEK..! KRTAKK...!!!
“Mengapa kau melepasku?”
“Aku membutuhkan kekuatanmu untuk menghadiri pesta besar sebentar lagi...” jawab Garyu penuh wibawa.
“Kenapa aku harus menurutimu?”
“Karena aku akan memberikan apa yang Nezumi tak mampu penuhi....”
“Ooohh...sungguh? Kalau demikian beri aku pedang....” dia menjulurkan tangan sambil tersenyum.
“Tentu, sebanyak apapun keinginanmu....Yami....The Night Cougar....”
------><------
__ADS_1
“Ugh....”
“Akhirnya kau sadar juga, mau sampai kapan kau berbaring pemalas!?”
Zayn terduduk dengan pandangan sedikit kabur, suara familiar tadi memaksanya menyipitikan mata. Saat pengelihatannya kembali normal dia memiringkan kepala kebingungan. “Elizabeth?”.
Elizabeth mengangguk lalu menghela napas lelah, merespon tatapan bertanya Zayn ia tau harus menejelaskan semuanya dari awal. Usai Elizabeth bercerita, Zayn memeriksa kondisinya secara menyeluruh. Benar saja luka tembakan fatal yang dideritanya telah menghilang berkat kemampuan penyembuhan Rena ditambah Selena sesuai penjelasan Elizabeth sebelumnya.
“Kau puas? Sekarang waktunya kita menyusul Kak Arya. Cepat! Kau seharusnya bisa berjalan sendiri bukan?”
“Yaa sabar, aku tau dirimu cemas tapi badanku kehilangan cukup banyak darah sehingga agak kaku”
“Hah....dasar payah! Andai aku—“
“Wah wah wah maaf mengganggu....”
SRAK....!!!
Zayn dan Elizabeth menoleh berbarengan sembari mengeluarkan senjata masing – masing, ada pria berpakaian serba merah menggunakan penutup wajah berwarna serasi berhiaskan duri tajam bersandar santai tak jauh dari mereka.
Wajah keduanya menegang karena sama sekali tidak menyadari kehadirannya sampai dia membuka suara barusan. Apalagi aura pekat memancar deras sehingga mengakibatkan dua Elementalist dihadapannya menelan ludah.
“Hati – hati, orang ini berbahaya....”
“Tanpa kau katakanpun aku juga tau....” desis Elizabeth.
“Apa maksudmu keparat gila...!” Zayn menguatkan genggaman terhadap senjatanya.
“Lupakan, aku....Sandayu disini akan menemani kalian bermain. Para pengganggu sebaiknya enyah kalau tidak diundang....” jelas Sandayu mengangkat kedua bahu.
Di lain tempat Selena yang berjalan menuntun Ali ikut dihalangi orang yang sama tetapi sedang berdiri terbalik diatas sebuah dahan pohon besar, sementara Lexa nampak beradu serangan fisik menghadapi pria berpenampilan mirip dekat tepi jurang lokasi pertarungan Timothy. Terakhir, naga tanaman Rena mengelilinginya bersama Kevin seolah perisai hidup begitu kemunculan mendadak Sandayu keempat.
------><------
“Hmm? Kau ini bicara apa Onii-chan? Aku Reiko dayo....” ucapnya ceria, seketika seluruh helai rambutnya berubah warna menjadi merah muda.
“Louis....keparat ini!? Apa yang kau perbuat pada Reika....!?”
Tubuh Arya bergetar hebat saking marahnya, dalam hitungan detik bongkahan – bongkahan es tumbuh dari lantai mengincar tempat Louis berada. Tepat sebelum pecahan air beku berujung runcing itu mengenainya, sebuah pelindung berkilauan tercipta dan menghancurkan jurus Arya berkeping – keping.
“Kristal....?”
“Tidak boleh lho Onii-chan, kamu dilarang menyerang penyelamat Reiko....”
“Huahahaha....! Bagaimana menurutmu? Kode nama Reiko Spinel....Perfect Artificial Elementalist Crystal. Kemampuanya sangat jomplang dibanding pangeran pasir bisu kalian bukan?” Louis tersenyum puas.
“Louis? Apa kau sudah memenuhi permintaanku?”
__ADS_1
“Hmm? Heh?! Kau hanya perlu memanggil mereka....”
“Sungguh? Druzy, Phyrope, Kunzite....” seru Reiko sembari mengangkat tangan.
Tiga cahaya terang mendatanginya, satu berubah bentuk menjadi senjata mirip pedang namun bilahnya dipenuhi serpihan – serpinan aneh. Sementara dua sisanya muncul berupa burung merak dan seekor naga.
‘Manusia sialan....!!! Beraninya ia menyentuh bangsaku!!!’ Safira menggeram murka.
“Dia memiliki atribut lengkap....” gumam Asuna tak percaya.
“Reiko?” Arya memanggil akhirnya setelah diam cukup lama.
“Iya Onii-chan?”
“Dimana Reika? Aku ingin berbicara dengannya....”
“Apa maksudmu? Tentu saja sudah mati, aku berhasil keluar ke permukaan sebab melahap kepribadian Reika. Kami bertarung sengit, itulah mengapa aku terkurung cukup lama dalam alat buatan Louis”
Seluruh kekuatan pada kaki Arya segera menguap, jawaban barusan layaknya belati tajam yang merobek jantungnya. Dia ingin menangis tetapi air matanya seakan mengering, Asuna berusaha mendekatinya sayang hantaman keras memaksanya melompat mundur.
“Aku tengah bicara bersama kakakku, siapa yang mengizinkanmu ikut campur?” Reiko mendelik kearahnya.
Asuna melebarkan mata melihat lantai dihadapannya terkoyak hancur, Louis tertawa puas menyaksikan keputusasaan menghiasi wajah Arya. Perasaan senang luar biasa yang telah lama tidak ia rasakan, Louis menjentikan jari penuh kemenangan.
“Kejutan belum berakhir....”
Lubang cukup besar tiba – tiba terbuka pada langit – langit ruangan, suara sesuatu terjun bebas menuju lokasi mereka mencuri perhatian semua orang. Detik berikutnya sesosok pemuda keluar dengan kecepatan tinggi, anehnya tepat saat hampir menabrak tanah gerakannya berhenti dalam posisi seperti dirinya duduk melayang di udara.
“Ck!? Louis?! Mengapa kau mengganggu waktu minum tehku?!”
“Rekanmu sudah tiba....Xavier”
“Hah? Jangan bilang Pinky Girl ini?”
“Iya, dan aku menemukan lawan tanding tepat untuk kalian....”
“Mmm...? Frost dan Blaze....kah? Aku jadi merasa sedikit nostalgia....” katanya pelan terus mendarat lembut.
“Bohong...diakan?!” Asuna menganga lebar.
“Xavier Vortex....” tambah Arya sama kagetnya.
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.
__ADS_1