
TRANG! TRING! TRENG!
“Eridan!?”
“Jangan menoleh Tuan Putri!? Terus bergerak!”
Alalea yang khawatir berdecak kesal sebelum melanjutkan langkahnya, ia tengah berlari dikawal oleh Eridan bersama prajurit – prajurit klan Azuldria lain. Mereka saling bahu membahu untuk menahan gempuran Lima Ksatria Pentagram generasi selanjutnya agar Alalea dapat menuju panggung utama pertempuran.
“Kalian pikir bakal dibiarkan pergi semudah itu?” seru Daemord mengalirkan Agnet ke senjatanya, bilah pedangnya segera berubah warna menjadi hitam pekat.
“Aku akan melindungi Putri dengan nyawaku!”
Eridan berteriak lantang dan beradu tebasan melawan Elf bermata gelap tersebut, Daemord tertegun sesaat namun ekspresinya langsung memburuk. Harga dirinya benar – benar terluka ketika Eridan sebagai anak paling lemah di antara calon penerus pasukan elit rasnya mampu menghentikan serangan miliknya.
“Keparat tengik ini....!”
Sewaktu Audax, Cessa, serta Rexy melewati duel barusan ketiganya juga buru – buru dicegat pengawal yang dikirim Diana menemani cucunya dulu ke Elemental City. Alalea mendengar kegaduhan di belakangnya penuh rasa bersalah tetapi terus maju tidak ingin menyia – nyiakan perjuangan bawahannya.
“Hah....hah....hah. Apa – apaan....”
Wajah Alalea memucat melihat kehancuran pada area peperangan itu, sembari mengatur napas dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Banyak jasad bergelimpangan dari kedua pihak terutama akibat bongkahan kristal tajam misterius yang seolah tumbuh dari dalam tanah.
Saat Alalea masih mencoba mecerna situasi matanya menemukan sebuah benda familiar, tanpa menunggu lama si putri bergegas mendekatinya dan menyingkirkan tumpukan material berat sekitarnya. Dengan hati – hati Alalea akhirnya sukses menarik keluar seseorang yang tengah pingsan kemudian merapalkan mantra penyembuhan.
“Uhuk! Uhuk! Ugh....Kepalaku....” erangnya lemah.
“Tenang aku di sini untuk membantumu, tolong jelaskan mengapa bisa sekacau ini?”
“Alalea?”
Nashumi menyentuh pelipisnya dan merasakan cairan kental merah mengalir membasahi tangannya, ia memperbaiki posisi duduk lalu mulai bercerita tentang kemunculan aura mengerikan secara tiba – tiba yang menyebabkan kebanyakan orang merasa seperti mendapat pukulan keras ke perut masing – masing.
“Hal paling jelas kuingat adalah mendaratnya sesuatu sehingga tanah bergetar hebat kemudian munculnya sekelabatan warna merah muda di mana – mana. Kendaraan tempurku terpelanting sampai aku tak sadarkan diri terus....kau lebih mengetahui bagaimana kelanjutannya”
“Aku....harus pergi membantunya....”
“Alalea berhenti!” Nashumi menangkap tangannya sebelum Elf tersebut terlalu jauh.
“Lepaskan! Jangan halangi aku!”
“Hey!? Dengarkan aku! Mereka itu monster percayalah, jika kau kesana hanya akan menyulitkan Arya saja! Lagi pula dia pasti memerintahkanmu menjauh dengan Sumpah Hidup-Mati....”
__ADS_1
“Tapi—“
PLAK!
Mendengar betapa keras kepalanya gadis itu Nashumi melayangkan sebuah tamparan cukup kuat ke pipinya hingga memerah. Alalea berhenti berontak namun sekarang dia mengepalkan tangan sambil menggigit bibir bagian bawahnya sampai berdarah, ia tidak sanggup mengangkat muka untuk menatap Nashumi.
“Kau pikir cuma dirimu yang ingin menolong? Kita semua juga....maaf aku seharusnya tak menampar penolongku”
Keduanya terdiam cukup lama, Nashumi sedikit menyesal atas perbuatannya tapi kalau dibiarkan Alalea pasti memaksa dan kemungkinan menambah beban bagi Arya. Alalea perlahan berbalik kemudian menengadah ke satu arah di mana percikan api akibat persinggungan senjata terus bermunculan.
“Lalu....apa aku cuma bisa tinggal diam saja melihatnya mati?” bisiknya ketir.
------><------
“Uhuk! Uhuk! Apa sebenarnya yang terjadi barusan....” Kizuna bersusah payah bangkit dengan penampilan lusuh.
“Syukurlah....anda....baik – baik saja oek!? No....na”
Raut senang Kizuna mendengar suara familiar langsung dipenuhi horor seketika melihat arah datangnya ucapan tadi, seorang Werebeast berwujud burung berdiri tidak jauh darinya dalam kondisi sekarat. Tiga buah kristal menembus masing – masing dada serta kedua sayap miliknya.
“Letnan Macow!?”
“Ah....ekh...anda tak perlu mengkhawatirkanku....” balas Macow yang napasnya kian melemah.
“Mana bisa!? Bertahanlah aku akan carikan Rena, Selena, atau Alalea secepatnya....”
Usai berkata demikian sambil tersenyum pandangan Macow perlahan berubah kosong kemudian dia berhenti bernapas, Kizuna jatuh berlutut hampa masih sukar mempercayai matanya. Ia mulai menangis terus memukul – mukul tanah, kehilangan Macow begitu besar dampaknya karena selama ini sang Letnan merupakan salah satu pondasi paling kuat ras Werebeast yang berada di Elemental City selain Harpyja dan Kizuna.
“Apanya yang Mythical...hiks....aku hanya merepotkan orang saja....”
“Ketimbang menangis lebih baik kau berjuang supaya usahanya melindungimu terbalas. Kizu-Nee”
Yami keluar melalui balik reruntuhan masih menggenggam erat pedang andalannya, tangan kirinya mengalami cedera serius akibat tertusuk kristal serupa dengan yang menewaskan Macow. Yami memberitahu saat serangan tiba – tiba terjadi Macow bergerak cepat mendorong Kizuna menjauh meskipun harus membahayakan nyawanya.
“Kau terluka, biarkan aku membalutnya untukmu....”
“Tidak usah, aku bisa melakukannya sendiri....” Yami menghindar lalu merobek beberapa potong kain pakaian mayat – mayat sekitar sana sebagai perban.
“Yami....? Haruskah kita berhadapan seperti ini?”
“Entahlah, menurutmu sendiri bagaimana Kizu-Nee? Aku sih cuma mau menyempurnakan teknik berpedangku....”
“Kalau memang hanya itu keinginanmu bergabunglah bersama kami....” ajak Kizuna serius.
__ADS_1
“Tet! Tet! Ditolak! Demi melakukannya aku harus punya tujuan serta kesempatan melawan orang – orang kuat dan sekarang aku yakin berada di tempat yang tepat”
“Bukankah seharusnya dengan ikut ke pihak Pax kau bisa menghadapi sosok – sosok kuat Fatum seperti contohnya dua monster di sana?”
“Mungkin memang benar, namun kau pasti jug taukan kalau potensi teman – temanmu jauh lebih menggiurkan untuk menjadi targetku kelak Kizu-Nee....” Yami menyeringai lebar penuh arti.
------><------
Arya memanfaatkan kecepatannya mencari celah di antara ayunan gesit cambuk tajam Reiko, ia berhasil mencapai hadapan gadis tersebut dan melepaskan tendangan. Reaksi luar biasa Reiko membuatnya sukses menahannya menggunakan tangan walaupun tetap terpental.
“Jangan ikut campur pria tua!?” teriaknya sebelum menghilang dari pandangan.
“Kau pikir aku sudi mendengarmu?”
Xavier mencibir terus mengeluarkan dua chakram miliknya, berbekal satu pergerakan elegan keduanya dilepaskan menuju Arya. Putaran masing – masing makin kencang nan besar, ketajamannya pun ikut meningkat akibat terlapisi oleh angin.
Arya berjungkir balik tepat waktu sehingga teknik berbahaya barusan hanya melewati dirinya namun sayangnya langsung berbalik arah layaknya peluru kendali sampai si Elementalist Es terpaksa mengusir senjata ini jauh menggunakan tebasan pedangnya.
‘Sekarang!’
SYUU...!!!
“Ohh?”
Pada momen itulah Arya segera mengincar Xavier yang pertahanannya terbuka lebar, cukup beberapa tarikan napas bilah Mandalika hanya terpisah sekian senti dari wajah Xavier. Tapi kemunculan pelindung angin menghentikan lajunya tanpa kesulitan berarti.
“Aku mulai mengerti, kau....punya bakat Accurate Improvisation ya?” Xavier menyeletuk penasaran.
Arya mengabaikan ucapannya kemudian menyerang dengan hujan jarum es dan memaksa Xavier mundur sembari menangkap kembali kedua chakramnya santai. Mereka saling bertukar pandang seolah saling menganalisis satu sama lain.
“Hentikan kebodohanmu, kau memang dapat bertambah kuat dalam waktu singkat dari tiap pertarungan yang kau lalui namun tidak sesederhana pikiranmu. Pasti ada efek sampingnya”
“Hmm....? Apa perdulimu?” tanya Arya sambil menyandangkan pedangnya.
“Nak....kau hebat, sampai jika kau terlahir pada eraku kau dapat dengan mudah melebihi kakekmu terlihat dari kemampuanmu menguasai Lord di usia teramat muda. Tapi kekuatan Jack konsistes sedangkan kau? Sangat tak stabil....”
“Apa kau hendak memulai pelajaran sejarah? Kau sungguh berpikir aku bakal mendengarkanmu?”
“Bakatmu menyebabkan kau mampu beradaptasi sangat cepat, sayangnya fisikmu tidak demikian. Kalau kau meneruskannya maka....prang! Pasti hancur layaknya cangkang kelebihan muatan....kau hanya mengikis umurmu sendiri”
“Hehehe konyol sekali rasanya mendengar saran barusan dari orang yang dikirim untuk membunuhmu, bahkan meskipun semua ucapanmu sebelumnya benar. Kau melupakan satu hal penting, keahlian ini hanya dapat terpicu saat pemiliknya berada dalam situasi hidup dan mati....” Arya tersenyum tipis lalu mengubah kuda – kudanya yang menyebabkan sikap Xavier menjadi waspada.
__ADS_1
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.