Elementalist

Elementalist
Chapter 170 - Madam of Corpses and Box Prince


__ADS_3

“Good job”


PLAK!


Arya dan Ryan melakukan tos ketika seluruh anggota tim Figment Squadron sudah berkumpul kembali di podium. Murid – murid Divina Academy mengelu – elukan nama mereka, semua penonton berharap siapapun pemenangnya harus berasal dari sekolah masing – masing.


“Ahahaha....walau ya....kupikir serangan terakhir tadi agak berlebihan” Ryan tertawa sambil menggaruk tengkuknya.


“Sungguh? Menurutku masih untung kau tidak membunuh mereka” sahut Arya melirik arena yang sedang cepat – cepat diperbaiki karena gosong.


Petugas berjumlah sekitar dua puluh orang sigap merekonstruksi lagi menggunakan sihir supaya dapat segera digunakan tuk pertandingan berikutnya. Waktupun berlalu menyajikan pertarungan – pertarungan seru.


Candidate of Destiny A maupun B tanpa ampun membantai lawan – lawan mereka, terutama kelompok Friska dan Morgiana. Bahkan kedua wanita tersebut belum unjuk gigi secara terang – terangan dalam turnamen.


Lebih cocok dibilang hanya diam mengamati, sedangkan tim yang satunya pimpinan dari Edruvior nampak jauh lebih superior sebab bergerak dalam satu kesatuan. Kerja samanya sangat solid juga kokoh. Tak memberi celah sedikitpun bagi musuh menyerang balik.


“Ugh....sudah kuduga bukan pilihan bijak menonton mereka, semangat juangku langsung turun drastis” Ikey mengernyitkan dahi seakan merasakan penderitaan murid Evil Destoyer yang baru saja digilas oleh Candidate of Destiny A.


“Jangan berkata seperti itu, kalau berjalan lancar babak selanjutnya kalian akan berhadapan lho” komentar Arya santai.


“Biarkan semuanya mengalir layaknya air, kau mau bilang begitukan?” Ryan menggeleng – gelengkan kepala.


“Iyap, baiklah. Giliran kita, ayo berangkat Bella, Sierra, Laura, Kyra”


“Siap!”


“Selamat jalan” seru Fibetha mengantar kepergian mereka.


“Lawannya lumayan lho!” Ryan memperingatkan.


“Iya – iya” Arya melambaikan tangan sambil lalu.


Figment Squadron A dijadwalkan berhadapan dengan salah satu wakil Death Gates yaitu Nocturn. Langkah kelima penyihir muda ini berhenti saat menyadari ada sesosok orang menunggu di ujung jalan keluar lorong menuju arena.


Aura pekat disekitarnya membuat para gadis merasa kurang nyaman, Arya mengambil inisiatif untuk tetap maju. Dia memimpin sampai akhirnya berdiri tepat di depan wanita misterius tadi, setelah memberikan isyarat agar teman – temannya keluar lebih dulu. Arya pun menyapa penuh hormat.


“Sebuah kehormatan bagi Necromancer seperti saya dapat bertemu anda, Madam of The Corpses. Vrivana Payne”


“Tak perlu begitu sungkan”


“Ahaha....ada keperluan apa ya?” tanya Arya sopan.


“Undead milikmu waktu itu, lebih mirip seperti Hollow dari pada mayat. Aku ingin tau....apa mereka dapat berubah wujud?”


“Mmm...aku sih mau saja menjawabnya, tapi karena tengah mengikuti turnamen kupikir bukanlah keputusan tepat tuk memberitahu anda”


“Hmm....kau benar, ternyata aku salah menilai. Kau bukanlah orang cerdik, kau selicik Iruphior” Vrivana Payn berdeham geli.


“Aku lebih suka menyebutnya bijak”


“Ya....cepat atau lambat kau pasti menggunakan kemampuanmu”


“Nampaknya anda harus menunggu lama, karena aku hanya akan memberi komando”

__ADS_1


“Apa?”


“Ketika melawan Merlin, barulah kukerahkan semuanya. Kalau begitu saya permisi” ujar Arya berpamitan kemudian keluar diikuti sorak – sorai penonton.


------><------


Ketua Figment Squadron dan Nocturn maju untuk memberi salam satu sama lain, Arya menjabat tangan anak kecil itu. Keduanya tersenyum sambil mendoakan yang terbaik bagi masing – masing pihak.


Peter Hendrickson memang memiliki usia dibawah Arya, mungkin terpaut sekitar tujuh tahun. Arya menyimpulkan dari postur tubuh bocah laki – laki ini. Tetapi jangan salah, namanya dikenal luas oleh banyak orang.


Karena dia memiliki bakat Necromancer mengerikan disertai pusaka berbentuk kotak harta, tidak ada yang tau horor mengerikan seperti apa menanti di dalam sana. Itulah mengapa Peter mendapat julukan Box Prince.


“Mari tunjukan kemampuan terbaik kita Tuan White” Peter membungkukan badan.


Tanpa sepengetahuan Arya, sebenarnya anak tersebut sangat mengaguminya akibat insiden taruhan melawan Rhilore Lefay beberapa waktu lalu. Peter terkesan Arya mampu mengalahkan Warlock begitu mudah dan menghilangkan kesan fisik lemah para Necromancer.


“Tentu, kami tidak akan kalah”


Wasit memberi tanda agar kedua pemimpin kembali sebelum memulai pertandingan, Arya menatap wajah – wajah pucat anggota timnya kemudian tertawa pelan.


“Kenapa? Kalian demam panggung?”


“Ini bukan waktunya tertawa” hardik Laura.


“Ahh....aku mengerti, kalian khawatir tentang pembicaraanku dengan Vrivana Payne tadi?”


“Humm....” empat gadis itu mengangguk.


“Tapi—“


“Ssstt....santai saja, ayo kita menangkan pertandingan ini” potong Arya mengusap lembut kepala masing – masing dari mereka.


“Baik!”


Setelah anggotanya kembali bersemangat, Arya melemparkan pandangan ke sisi seberang lalu tersenyum lebar. “Sebenarnya aku sudah gatal ingin menggunakannya, tetapi sudahlah. Pangeran kubus ya....bakal seru nih, hehehe”.


------><------


“Ackbu!”


SYU!!! SYU!!! SYU!!!


Tepat sewaktu tanda pertandingan dimulai terlihat, Shaman Nocturne memberikan sihir bantuan demi menambah daya tempur timnya. Berikutnya Peter langsung menyerang, kotak dibalik punggungnya membuka lalu mengeluarkan tangan – tangan hitam berkuku tajam.



Serangan barusan melesat menuju formasi Figment Squadron, Arya berdiri di bagian belakang bersama Laura sembari memberikan perintah antisipasi secara akurat.


“Laura?”


“Oke, Ugal!”


“Sekarang Bella”

__ADS_1


“Dimengerti, Hanat! Ria! Nigna! Ipa! Vitca!!!”


Selesai Laura mengaktifkan Boosters Hymp, Bella mengambil posisi kemudian melemparkan empat kertas persegi panjang. Cahaya terang memancar dari keempatnya dan saling mengait membentuk tembok penghalang besar.



JDUAR!!!


“Hebat....”


“WOW....!!!” teriak Ryan, Ikey, dan Shaqihr bersamaan.


“Gadis itu....baru saja menggunakan Talisman of Four Elements” Auxium Ulzegrus, Kepala Sekolah Evil Destoyer melebarkan mata.


Ilzaxar Iruphior mulai bertepuk tangan, seluruh hadirin mengikuti lalu semakin berteriak histeris juga menggila. Serangan Peter bertemu dengan pertahanan Bella, menyebabkan udara bergetar hebat. Ketika berakhir debu menutupi arena, melihat kesempatan Arya langsung memberi komando lanjutan.


“Sierra sibukan mereka, kalau bisa singkirkan Shaman juga Warlock musuh”


“Laksanakan!”


SYUU!!!


Bak kilat, dia melesat kencang membelah awan debu arena menjadi dua. Menyadari anggotanya dalam bahaya, Peter menarik kembali tangan – tangan hitam miliknya untuk membentuk kubah perisai raksasa.


DUAK!


Tendangan Sierra menghantam telak benda tersebut tapi tidak memberikan efek berarti, langsung saja Warlock tim musuh maju. Tanpa disangka, Arya muncul begitu saja dari celah yang ditinggalkannya. Membuat hati semua orang mencelos.


“CELAKA!!!”


Kelima anggota Nocturne memfokuskan diri ke pria barusan, sebelum serangan masing – masing mengenainya. Arya berbisik.


“Boom!”


SYUU!


“HAH!?”


Tubuhnya menghilang seolah ditelan bumi, bukan hanya dia. Sierra juga tak terlihat batang hidungnya, ternyata Arya menyiapkan sehelai benang untuk ditarik gadis tersebut supaya mereka berhasil mundur sebelum jurus kejutan dilepaskan.


Saat itu juga semua penonton tersadar kalau gerakan tadi merupakan jebakan, Kyra telah menghimpun tenaga. Sepuluh titik cahaya dengan energi sihir besar tersebar di atas kepalanya, siap menembak kapan saja.


“Berpencar!—Apa!?”


Satupun tim Norcturn gagal menggerakan tubuh mereka, sebuah lingkaran sihir nampak jelas mengunci pada permukaan tanah tempat kelimanya berpijak. Bella dan Laura ternyata sudah berdiri pada dua sisi berlawanan arena sambil mengarahkan tangan.


“Sihir Pengekang Area?!”


“Gila....Figment Squadron sungguh – sungguh meminta Shaman untuk maju menyerang jua!?” seru Gexar yang berperan sebagai komentator.


“Iaceles!” Kyra mengayunkan tangan, titik – titik sebelumnya mengeluarkan cahaya terang. Kemudian menyatu seperti tombak putih runcing menerjang buruan.


DUARRR!!!

__ADS_1


__ADS_2