
“Bagaimana cara anda bisa kemari? Uhuk! Uhuk!” tanya Kinichi sebelum mengeluarkan batuk berdarah.
“Siapa lagi kalau bukan dia?”
Shu menunjukan secarik kertas dari balik jubahnya, para Nyanko Kyōdai mengenali tulisan di sana yang berisi lokasi serta jam tepat saat ini. Shu memberitahu kalau si penulis pesan memberikan barang tadi kepadanya beberapa waktu lalu ketika pertempuran masih belum pecah.
“Tuan Arya?”
“Yaa....aku pun tidak mengerti mengapa bocah itu mampu memprediksi hal – hal begini....” Shu menghela napas heran sembari menggaruk – garuk kepalanya.
Merasakan napsu membunuh pekat menyoroti punggungnya ia meminta kelima Werebeast kucing tersebut untuk segera masuk terus mengunci pintu rapat – rapat hingga keadaan aman. Tanpa mendebat Shirone memerintahkah dua adik perempuannya membantu menyeret kedua saudara laki – laki mereka ke dalam bersama pecahan tubuh Deera.
KLIK!
Begitu bunyi kunci terdengar Shu berbalik sambil memasang senyum tipis, sikap tenangnya mengakibatkan tingkat kewaspadaan Inuki dan Falxus meningkat tajam. Perlahan si pria misterius menarik sebuah pedang kayu seraya berkata, “Maaf – maaf membuat kalian menunggu hahaha....terima kasih loh sudah mau membiarkan kami bicara terlebih dahulu”.
“Siapa kau....?”
“Bukankah tadi kau telah menanyakannya? Identitasku tidak terlalu penting layaknya Sepuluh Elementalist atau Pengawas Ujian....”
KRAK!!!
“Kalau demikian....matilah. Crazy Hound Temple Special Techniques; Ningen no Shuryō!”
Inuki memposisikan badannya seperti binatang berkaki empat, tangannya menggebrak keras lantai hingga cakar panjangnya membekas. Tatapan mata Dog Shio menajam tuk mengunci targetnya, dalam satu hentakkan dirinya melesat.
TANG! TANG! TANG!
Suara denting besi memenuhi udara karena gerakan Inuki yang melompat ke sana kemari mengelilingi mangsanya, dia menjadikan segala sesuatu sebagai pijakan tanpa terkecuali. Shu bersiul kagum menyaksikan jurus lawannya terus mengangkat senjatanya sedikit.
TRANG!!!
“Kau suka menghabis – habiskan tenaga ya?”
“Mustahil....”
Inuki tertegun sewaktu ayunan tangannya dihentikan oleh pedang kayu lusuh, sedikitpun tak terbersit di benaknya jika teknik barusan akan semudah itu dipatahkan. Raut wajahnya berubah menyeramkan pertanda kesal, namun Shu masih cukup santai membelokkan kuku – kuku tajam sang Werebeast dari mengincar lehernya.
TRING!
Kali ini bukan cuma Inuki, bola mata Falxus melebar sebab sergapannya gagal dan bahkan Shu memanfaatkan anggota Dua Belas Shio tersebut sebagai tamengnya. Alhasil serangan merekalah yang saling bertemu satu sama lain.
“Kudengar para Elf bersifat ksatria, ternyata tidak semuanya rupanya? Hehehe....”
“Anjing kampung! Kau mengincar siapa sebenarnya?!” gertak Falxus usai mundur menjaga jarak.
“Apa katamu!? Kemampuan mengendap – endap mirip nenek tuamulah masalahnya!”
__ADS_1
“Cakarmu bahkan gagal membelah batang bekas gigitan rayap begitu? Malu sedikit brengsek....”
“Ahahaha....kalian akrab sekali, terima kasih atas atraksi luar biasanya. Sekarang biarkan aku memperkenalkan sahabatku....bangunlah....Muramasa” Shu memutar – mutar lihai benda di tangannya.
Seketika atmosfer sekitar lokasi menjadi berat, pedang kayu sebelumnya sudah berubah menjadi bilah besi hitam pekat berlapis Agnet merah darah. Langsung saja kedua orang bagian dari kelompok aliansi Fatum tadi melupakan perdebatan mereka, insting masing – masing dapat merasakan jelas bahaya mendekat.
“Oi dengarkan baik – baik, dia bukan orang biasa....”
Falxus mengabari rekan di sampingnya kalau laki – laki dihadapan mereka merupakan salah satu murid Lyan Frost berjuluk Muramasa no Shu berdasarkan informasi para petinggi maupun Orion. Namanya cukup populer saat Great War sebelumnya karena pedang miliknya dikenal terkutuk dan merengut banyak sekali nyawa berbagai ras.
“Waaahh....mereka sungguh bilang begitu? Aku merasa tersanjung kalian mengenaliku tetapi....”
ZING!
“Celaka!—”
Inuki juga Falxus melompat bersamaan demi menjauh disebabkan kemunculan tiba – tiba Shu, jarak ketiganya hanya terpisah dua meter saja. Shu memasang kuda – kuda tidak biasa hendak menebas yang membuat musuhnya menggertakan gigi panik.
“Reliquia D’Negdria; Djevelens Oyne!—“
“Ultra Instinc!—“
“Shu Original Skill....Kamikaze Kamaitachi”
Waktu Muramasa selesai diayunkan, keluar ledakan energi berwujud pusaran angin teramat kencang nan besar. Saking dahsyatnya kekuatan teknik asli Kamaitachi dari penciptanya ini, hembusanya mengoyak seluruh terowongan pipa besi di hadapan Shu sampai keluar menuju permukaan tanah dan mengejutkan semua saksi mata dekat sana. Udara hasil efek tebasan tersebut bagaikan badai ratusan sayatan pedang.
“Apa aku agak berlebihan?” gumam Shu menatap lubang menganga lebar akibat perbuatannya.
------><------
Saat tiga buah anak panahnya sukses melumpuhkan sekumpulan Fatum telinga rubah Kizuna berdiri tegak mendengar ledakan sekaligus tiupan angin dari arah ruang kendali, ia buru – buru mencoba melakukan panggilan menggunakan alat komunikasi namun tak ada jawaban.
“Aku harus—“
SRAT! BRUAKH!!!
Kizuna cukup cepat bereaksi atas serangan kejutan sosok mungil yang datang entah dari mana, ekor – ekornya berhasil menahan bilah besi tajam di tangan si pendatang baru. Namun daya hancurnya terlampau besar sampai meremukkan tanah tempatnya berpijak.
“AKHIRNYA KETEMU! KIZU-NEE..!” teriaknya antusias.
“Yami? Kamu....dibebaskan?”
“Ahahaha....terkejut? Berani sekali kau meninggalkanku dan Ami-Nee, kami sangat sedih tau?”
“Maaf, aku ingin berpamitan tapi—“
__ADS_1
“Huh!? Lupakan, sekarang mari kita pulang”
“Tidak mau” Kizuna menjawab tegas, ekspresi bersalahnya segera tergantikan tekad kuat.
“Sayangnya aku tak menerima penolakan, akan kubawa kau kembali meski harus memotong sembilan ekormu....”
Yami menyeringai kemudian melesat maju, pertarungan antara kedua murid Rat Shio mustahil terhindarkan. Sementara itu Lexa yang baru saja berpindah dari satu lokasi pertempuran dikejutkan oleh sergapan seseroang, dia berhasil berputar di udara lalu melindungi kepalanya menggunakan tangan berlapis Gnome.
BANG! BRUAKH!!!
Sang Elementalist tanah terjatuh dari ketinggian sebelum menghantam keras permukaan bumi, gadis tersebut melompat mundur sambil memicingkan mata. Ketika debu akhirnya sirna nampaklah satu Werebeast bersenjatakan tongkat besi.
“Akhirnya kita bertemu lagi, sudah cukup lama ya sejak di Underground Paradise” sapa Gokong.
“Eee....aku tau ini sedikit kurang sopan, namun memoriku cukup buruk jadi—“
“Kupastikan kau mengingatnya....”
Monkey Shio mengarahkan ujung senjatanya kepada Lexa yang dengan cepat memanjang, ia menghentakkan kakinya untuk menciptakan dinding batu sebagai pelindung tetapi hancur begitu saja. Badannya pun terpental mundur sampai menubruk dinding bangunan, mau tidak mau Lexa menangkap serangan tadi berbekal tangan gemetar hebat.
Di atas kepalanya terlihat duel antara Callista melawan Aris, kedua putri Kris Tepes mengeluarkan senjata darah masing – masing dan mengayunkannya ke satu sama lain. Sedangkan saudara kembarnya yaitu Dexi disibukkan adu panah menghadapi Asuna.
Kevin serta Timothy bekerja sama menangani Galahad bersama Ethel, mereka cukup kerepotan karena pertama kali bertemu Vampire. Fae maupun Madison tidak bisa bergerak leluasa membantu putra – putrinya akibat hadangan pria berkepala pelontos yang ternyata adalah Lee, Instruktur Taekwondonya si kapten Elementalist.
“Kau sama menyebalkannya dengan gurumu! Beongae Bal!”
“Aku anggap itu sebagai pujian....” Lee tersenyum ramah.
BUAKH!!!
Tendangan ketiganya saling bertubrukan hingga menyebabkan udara bergetar hebat, tanpa hambatan berarti Greenhook sang Goblin King menghabisi Hidden Suzerainty penghadang tuk kesekian kalinya. Ketika mencoba melangkah lebih jauh, sebuah tebasan cepat mengincar lehernya.
TRANG!!!
“Kau masih hidup rupanya makhluk hina....”
“BOCAH TENGIK! SEKARANG WAKTUNYA KUBALAS PERBUATANMU DULU!!!” geram Greed Sins memegang kuat gada miliknya, ia menatap penuh dendam mata biru yang terus menghantuinya beberapa tahun terakhir.
Author Note :
Beongae Bal : Kaki Kilat
Djevelens Oyne : Mata Iblis
^^^
__ADS_1
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.