Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
RENCANA HERMAN


__ADS_3

Kini semua pandangan tertuju pada Andi juga Kasih, Andi terdiam tak bergeming melihat Istri yang tak pernah Ia sentuh kini kembali sekian lamanya terpisah.


"Kasih.. ini Kamu..?" wajah Kasih memelas, Ia tak bisa menahan rasa sedih di hatinya, akhirnya harapan itu nyata, kini suaminya berada di hadapannya.


"Andi... Aku merindukan Kamu.. Kenapa Kamu meninggalkan Aku tanpa alasan" kini wajah Andi bersedih, dosa 2 tahun lalu tak akan pernah bisa Andi lupakan begitu saja.


"Maafkan Aku, Aku tidak berniat meninggalkan Kamu, semua demi Mamah, Mamah pada saat itu kritis dan beliau ingin Aku ada di sampingnya sampai ajal menjemput"


"Tapi kenapa Kamu tidak mengabari Aku Andi, kenapa kontak Kamu mati dan tak dapat Aku hubungi.. mengapa Andi .!!" tak terasa air mata Andi menetes


"Aku minta maaf, Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat Papah sita ponsel Aku, Aku bahkan tidak di berikan waktu untuk menghubungi Kamu, Aku minta maaf Kasih" Andi berbicara begitu Pilu, Dia pun menggenggam tangan Kasih degan erat.


Pemandangan yang begitu menyayat hati membuat Pak Herman terusik benaknya, lalu Ia mendekati Andi seraya bertanya dengan siapa gerangan Andi berbicara.


"Andi..." Andi terkejut melihat Pak Herman ada di belakang Kasih.


Mendengar suara itu Kasih pun membalikan badannya, ketika melihat wajah Kasih mata Pak Herman terbelalak lebar.


"Kasih.. Kamu ada disini"


"Pak Herman, apa kabar Pak..?" Kasih masih menghargai mantan majikannya, namun sayang Pak Herman merespon dengan sangat tidak baik.


"Kasih.. disini semua orang memperhatikan Kalian, kalau Kalian ingin membicarakan masalah jangan di ruang ini, Kalian mengerti"


"Baik Pak.. Saya mengerti" tanpa berucap lagi, Kasih pun pergi dari ruangan itu dengan berjalan cepat.


Andi berusaha untuk mengejar Kasih namun.. Pak Herman mencegahnya


"Andi.. Kamu jangan pergi dulu dari sini, Kamu CEO disini, Kamu harus temui para klien, dan perhatikan iklan Kita, lagi pula Kamu berhutang penjelasan mengenai Tini Anak Saya" Chandra Mendengar percakapan Pak Herman juga Andi yang menyebut-nyebut kasus Tini.


"Sepertinya Tini sudah di tangkap polisi, bagus.. itu akan lebih baik supaya Asri tidak lagi dalam bahaya" ucap Chandra dalam hatinya.


Mau tak mau Andi menuruti perintah Pak Herman untuk tetap standby di ruang ini.


Sedangkan Kasih semakin bersedih biarpun Dia pernah bekerja di kediaman rumah Herman Sanjaya, namun sikap Pak Herman selalu memandang kasta terhadap dirinya. Karena keluarga Tini pun sesungguhnya tidak pernah merestui hubungan Andi dengannya.


Lia pun menghampiri Kasih yang tengah bersedih, Dia mencoba untuk menghibur hati Kasih


"Kasih.. Kamu yang sabar ya, setiap manusia itu pasti punya masalah hati yang berbeda-beda, contohnya Aku.. Aku saat ini merasa sedang bersedih karena Ibu mertua Aku memperlakukan Aku tidak sebaik saat Dia memperlakukan kamu" Kasih terdiam menatap Lia bertanya apa yang di maksud dengan ucapannya


"Aku tidak mengerti Lia, Apa Kamu menyalahkan Aku atas sikap Bu Alya"


"Tentu tidak Kasih..maksud Aku masalah hati seseorang itu berbeda-beda, Kamu menginginkan alasan mengapa suami Kamu meninggalkan Kamu, Aku bertanya mengapa Ibu mertua Aku tidak menyayangi Aku, contoh lain sahabat Aku Asri, Dia sangat mencintai seseorang yang sudah beristri, itu juga kan masalah hati, tinggal bagaimana Kita menghadapinya, Kamu mengerti kan maksud Aku" Kasih mengerti dnegan perkataan Lia, Dia pun menggenggam tangan Lia seperti sahabatnya sendiri.


Kasih merasa Lia adalah sosok wanita yang baik hatinya, dan perduli terhadap sesama wanita,


"Lia.. apakah Kamu ingin bersahabat dengan Aku" Lia tersenyum.. tentu saja Lia menerima permintaan itu

__ADS_1


"Iya Kasih.. Kita sekarang bersahabat" lalu Mereka pun berpelukan.


Setelah selesai acara launching Pak Herman langsung menanyakan mengenai kasus Tini kepada Andi.


"Jadi begitu om.. Tini sudah mengakui semuanya, Dia memang melakukan kejahatan itu" Pak Herman tak mengerti apa yang ada di pikiran Tini, sehingga Dia melakukan sesuatu yang merugikan diri sendiri.


"Baik.. silahkan sekarang Kamu selesaikan urusan Kamu dengan Kasih, Om harus mengurus masalah Tini sampai selesai" Andi pun bertanya apa rencana Pak Herman selanjutnya, namun Pak Herman tak mengatakan apapun, Andi terdiam memikirkan jangan-jangan Pak Herman akan melakukan hal yang lebih gila dari Tini.


Namun masalah Dia dengan Kasih saat ini adalah prioritas baginya, yang harus di luruskan agar Kasih tak salah paham lagi dengannya. Chandra pun menghampiri Andi yang tengah mencari-cari seseorang.


"Kamu pasti sedang mencari Kasih, Dia ada di depan kantor bersama Lia" Andi tak menjawab apapun kepada Chandra, Dia langsung beranjak ingin menemui Kasih.


Namun saat tengah melangkah Chandra mengatakan sesuatu terhadap Andi


"Tidak Ku sangka, ternyata Kamu laki-laki yang tidak bertanggung jawab, Istri Kamu saja Kamu tinggalkanlah sekian lamanya" Andi kini angkat bicara, Dia tak ingin namanya jelek di mata orang-orang. Andi mengatakan,


"Kalau Anda tidak tahu cerita yang sebenarnya, tolong lebih baik, jaga lisan Anda, karena satu kata saja anda mengatakan hal tidak benar, itu jatuhnya akan jadi fitnah" Chandra terdiam dengan perkataan Andi, lalu Chandra mengatakan sesuatu lagi


"Dan Kamu pasti tahu soal rencana Tini yang ingin membunuh Asri bukan..?" Andi mulai emosi dengan Chandra yang selalu menuduhnya sebagai orang jahat


"kalau Aku tahu.. Aku pasti orang pertama yang akan menghalangi Tini melakukan hal itu, sudahlah Chan.. Saya tidak punya banyak waktu meladeni ucapan Kamu" Andi pun langsung pergi meninggalkan Chandra begitu saja.


Setelah itu Pak Herman Menyuruh seseorang untuk memantau pergerakan Sam


"Saya ada tugas untuk Kamu.. Kamu awasi Sam, Saya dengar saat ini Sam sedang di rawat di Rumah Sakit Kasih Bunda, Kamu awasi pergerakannya, setiap apa yang Dia lakukan Kamu laporkan sama Saya"


Setelah selesai berbicara dengan si Mata-mata, Pak Herman berkata pada dirinya sendiri


"Sam.. Saya akan lakukan apapun untuk membebaskan Anak Saya".


Sang Mata-mata mulai melakukan tugasnya, Dia mendatangi Sam ke Rumah Sakit sesuai petunjuk Herman.


Saat ini Sam tengah melihat Asri dari kejauhan, Ia terus memantau keadaan, jika ada kesempatan, Dia akan menemui Asri secara diam-diam.


Bu Anita tengah menyuapi Asri makan, Asri masih lemah tak bertenaga, setelah selesai Bu Anita pun harus pergi pamit, untuk datang ke toko, mengawasi proses produksi walau hanya setengah jam.


"Mamah mau pergi, terus Aku sama siapa..?" tanya Asri dengan wajah melasnya


"Sayang.. Mamah pergi sebentar kok, atau mau Mamah telepon Lia untuk temani Kamu" Asri menganggukkan kepalanya berharap ingin di temani seseorang.


"Ya sudah.. nanti Mamah kirim pesan untuk Lia, Kamu tunggu ya sampai Lia datang, Mamah hanya 1 jam sayang pergi ke toko, paling lama ya 2 jam, Mamah harus awasi proses produksi, supaya gak ada kesalahan" Asri pun mengerti karena Ibunya harus bekerja untuk biaya Rumah sakitnya serta kehidupan sehari-harinya yang terus berjalan.


"Mamah hati-hati ya.."


"Iya Sayang.. cepat sembuh ya Nak... eh, ingat.. Mamah gak mau ya, Kamu bertemu Sam walaupun diam-diam, kalau Mamah sampai tahu, Mamah gak akan pernah memaafkan Kamu apalagi Sam" Asri terdiam tak menjawab ketika Ibunya memberi peringatan, setelah itu Bu Anita keluar.


Kini kesempatan untuk Sam menemui Asri

__ADS_1


"Aman.. Tante Anita sepertinya sedang sibuk, Aku harus cepat menemui Asri" lalu Sam berjalan dengan perlahan.


menunggu memang tak menyenangkan, Asri hanya bisa melihat ke samping dan ke atas langit-langit hingga tiba-tiba ia mendengar suara Sam memanggil namanya.


"Asri..." Asri terdiam seketika, Ia sedang merasakan suara itu nyata atau hanya ilusinya.


"Sayang..." panggil Sam kedua kalinya, lalu Sam meraih tangan Asri membuat Asri kaget berteriak


"Aaa.... Sam..." Asri pun tersenyum sedih melihat Sam ada di hadapannya dengan kondisi wajah yang masih memprihatikan.


"Sam.. Kamu sama siapa disini?"


"Aku sendiri.. Aku rindu Kamu, kemarin Kita bertemu sebentar, namum Mamah Kamu sudah memisahkan Kita lagi" Asri berusaha bangun untuk duduk menyender di ranjang


"Hati-hati Sayang..."


"Aku senang sekali bisa melihat Kamu.. tapi.. kalau Mamah tahu, Mamah pasti akan marah"


"Aku sebentar kok...Aku juga tahu hal itu, Aku dari tadi pantau Kamu, keadaan Kamu bagaimana, luka Kamu sudah membaik..?"


"Belum.. Aku masih lemas Sam, semua tubuh Aku sakit, Aku benar-benar syok jika Aku ingat kejadian semalam" Sam kini menunjukan wajah sedihnya


"Maafkan Aku ya, setelah ini Kita akan bersama, Minggu depan hakim akan ketuk palu, dan mengesahkan perpisahan Aku dan Tini" mendengar ucapan itu Asri kini tersenyum bahagia


"Aku akan tunggu Kamu sampai kapanpun, Kamu janji ya, Minggu depan Kamu benar-benar sudah berpisah dari Tini" Sam menganggukkan kepalanya, lalu Ia mencium kening Asri, membuat Asri merasa nyaman berada di dekat Sam.


"Aku akan pulang sore ini, karena Ibu besok akan melakukan operasi cangkok jantung, Kamu doakan ya, semoga Ibu Aku cepat sembuh" Asri tersenyum dan mengatakan,


"Iya Sayang.. Aku pasti doakan Ibu Kamu sehat selalu, tolong sampaikan salam Aku untuk Ibu Kamu sayang" Sam tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Tanpa Mereka sadari percakapan Mereka telah di dengar oleh Mata-mata suruhan Herman.


Tentu saja Dia langsung melaporkan jika Sam akan pulang ke kampung sore ini, dan menceritakan kepada Herman jika Ibunya besok akan melakukan operasi cangkok jantung.


Saat mendegar berita itu, Herman merasakan keanehan Dia berkata dalam hatinya,


"Aneh.. Sam mampu membiayai operasi Ibunya, operasi cangkok jantung bukanlah operasi kecil, pasti akan memakan biaya paling tidak 40 juta, Dia mendapatkan uang dari mana" ujar dalam hatinya.


Lalu Herman mencari tahu dengan melihat data keuangan Sam sewaktu masih bekerja di Retro, dan benar saja Herman mendapatkan informasi dari Kantor jika Sam satu tahun ini telah banyak menyimpan deposit dalam buku tabungan miliknya.


Tentu hal ini membuat Pak Herman tak terima jika Sam nanti hidup bahagia dengan wanita itu, sedangkan Anaknya mendekam di penjara, kini Herman memiliki rencana jahat, yang akan menguntungkan dirinya dengan membebaskan Tini dari penjara sebelum sidang kasus Tini terdaftar di pengadilan.


Lalu Herman menyuruh Mata-mata itu untuk mengikuti Sam sampai ke kampungnya, dan saat Sam telah mengambil uang deposit itu, Herman menyuruh untuk merampok uang tersebut lalu di kirimkan ke tabungan pribadi milik Herman.


Sungguh sangat kejam sekali Herman merencanakan ini kepada Sam, dan saat itulah Herman akan memulai dramanya dengan menawarkan pinjaman kepada Sam tentu dengan syarat membebaskan Tini dari tuntutan kasus terhadap Asri.


Herman pun tertawa senang, Ia menunjukkan wajah Aslinya yang jahat, arogan sombong serta licik seperti ular berbisa.

__ADS_1


"Kamu lupa Sam, Kamu sedang berhadapan dengan siapa..?? Kamu tunggu Saya akan buat Kamu mati kutu, Ibu Kamu memang selalu menjadi kunci kebahagiaan Anak Saya" Herman pun tertawa sinis dan bahagia.


__ADS_2