
Setelah mendengarkan seluruh cerita yang Sam ceritakan bu Fatma mengatakan,
"Sam.. maafkan Ibu ya, karena Ibu Kamu harus kehilangan orang yang Kamu cinta, Ibu merasa menjadi penghalang kebahagiaan Kamu"
"Bu.. jangan bicara seperti itu, Aku melakukan itu ikhlas untuk keselamatan Ibu, Aku sudah biasa Bu menjalani hidup bersama Tini, Ibu tidak usah memikirkan hal yang tidak perlu Ibu pikirkan, sekarang Ibu harus fokus dengan kesehatan Ibu saja"
Setalah selesai menyuapi Ibunya Sam kini pamit untuk pulang sebentar untuk mandi dan berangkat kerja
"Aku pulang dulu ya Bu.. habis pulang kerja nanti Aku akan temani Ibu lagi"
"Sam.. lalu Tini bagaimana..?"
"Dia sudah dewasa Bu.. pasti bisa menjaga Dirinya, oh ya.. hari ini Arif harus ke Jakarta Bu, Dia ada koas di Rumah Sakit Jakarta"
"Oh ya.. salam untuk Arif ya Sam"
"Iya Bu Aku pamit ya".
Sesampainya Di rumah Tini menyambut hangat kedatangan Sam
"Sam...Kamu sudah pulang, oh ya... Kamu sudah sarapan?" tanya Tini dengan tersenyum
"Aku sudah sarapan di Rumah Sakit, Aku hanya ingin mandi lalu berangkat kerja"
"Loh.. Ibu bagaimana..?"
"Ibu ada suster yang menjaganya"
Arif pun keluar dari kamar, lalu berpamitan dengan sang Kakak untuk berangkat ke Jakarta saat ini juga
"Mas.. Aku pamit sekarang ya, ini sudah hampir jam 7 takut telat sampai Rumah Sakit"
"Ya.. Kamu hati-hati ya, ini uang 1 juta Kamu bawa untuk Kos dan makan sehari-hari, nanti sisanya kalau kurang Mas transfer, Mas mau mandi mau bekerja hari ini" lalu Tini menyahuti
"Kamu mau kemana Rif..?"
"Ke Jakarta Mbak.. kegiatan koas selama 1 Minggu"
"Kamu hanya bawa uang segitu..?" Arif menganggukkan kepalanya, lalu Tini memberikan uang 5 juta kepada Arif
"Ini apa Mbak..?"
"Ya ini uang untuk Kamu di sana" namun Arif menolak pemberian dari Tini
"Tidak Mbak..uang dari Mas Sam sudah lebih dari cukup" dan segeralah Arif pergi berangakat melaksanakan tugas koas nya ke Jakarta, karena pemberiannya di tolak Tini berkata,
"Dasar sombong.. padahal butuh tapi sok tidak butuh, sifatnya tidak beda jauh dengan Sam" ungkap gerutu Tini bicara pada dirinya sendiri.
Tini di tinggal lagi oleh Sam, Dia merasa kesepian tinggal disini, lalu Ia berinsiatif untuk datang ke Rumah sakit menemani Bu Fatma.
Sesampainya disana Tini masuk langsung menyapa Bu Fatma dengan ramah
"Ibu... apa kabar..?" Bu Fatma menoleh, lalu menjawab,
"Tini...Kamu kesini sendri?"
"Iya Bu.. Aku bosan di rumah, Sam bekerja Arif sudah pergi ke Jakarta, jadi Aku kesini saja, tidak apa-apa kan Bu"
Sebenarnya Bu Fatma membenci Tini dan Herman karena telah menekan Sam hingga mengancamnya dengan menggunakan dirinya, namun itu semua sudah terjadi, kini Bu Fatma hanya harus terbiasa dengan kehadiran Tini disini.
"Tini.. Ibu hanya ingin mengatakan, ibu tidak ingin membenci Kamu jadi Ibu mohon Kamu jangan melakukan hal yang tidak Ibu suka"
__ADS_1
"Memangnya apa yang Ibu tidak suka" Bu Fatma terdiam sejenak lalu berkata,
"Jangan pernah merusak atau menyentuh barang yang di cintai oleh Sam apapun itu" mendegar kata-kata itu Tini pun teringat jika Ia sudah menghancurkan sisa kenangan Sam bersama Asri, Tini pun terdiam tak ingin berkata apapun, Ia takut salah bicara
"Untung saja Sam tidak tahu apa yang sudah Aku lakukan semalam" ucap Tini dalam hatinya
"Baik Bu.. Aku mengerti" lalu Bu Fatma beristirahat dan tertidur, melihat hal itu Tini semakin bosan
"Hem... mau di rumah atau disini sama saja, semua cuek terhadap Aku, lebih baik Aku shoping saja kali Ya, untuk menghilangkan rasa bosan ini"
Tini bergegas pergi, namun sebelum pergi Ia ingin berpamitan dengan Bu Fatma, tetapi Bu Fatma tak bangun juga dari tidurnya, akhirnya Tini pun pergi saja tanpa Bu Fatma tahu.
Setelah Tini pergi Bu Fatma membuka matanya, ternyata Dia tidak tertidur Bu Fatma hanya berpura-pura tidur saja untuk menghindari Tini.
Sam kini memasuki Ruang kerjanya baru saja duduk membuka laptop Pak Faris datang dan langsung menanyakan proyek minuman herbal itu.
"Sam.. bagaimana keadaan Kamu..?" Sam menoleh lalu menjawab,
"Pak Faris, ya ampun.. maaf ya Pak..Saya baru sampai"
"Iya.. gak masalah, Kamu tidak telat kok"
"Alhamdulillah kabar Saya baik Pak, Terimakasih sebelumnya Pak sudah memberikan izin 3 hari tidak masuk Kantor, Saya merasa jadi tidak enak"
"No problem.. oh ya Saya mau menanyakan proyek minuman herbal, sudah sampai mana proses produksinya" lalu Sam menjelaskan jika hampir sedikit lagi produksinya selesai
"Bagus..oh ya..pantau terus ya, kalau begitu Saya permisi dulu" saat hendak melangkah Fahmi datang dan masuk ke ruang kerja Sam
"Fahmi.." ucap Pak Faris merasa kaget melihat Fahmi datang dengan tiba-tiba
"Papah..minta uang dong, Aku sedang ingin beli jam tangan baru Pah" Fahmi meminta uang bagaikan sedang meminta di belikan mainan saja
"Makasih ya Pah" ucap Fahmi dengan senangnya, sedangkan Sam hanya memperhatikan Mereka saja dari belakang
"Apa Lo lihat-lihat" ucap Fahmi dengan sombongnya
Sam hanya terdiam dan tak ingin menjawab, Dia pun melanjutkan pekerjaannya, dan Fahmi keluar dengan raut wajah yang bahagia karena sebentar lagi Ia mendapatkan uang yang banyak dari Papahnya.
Setelah mengecek m-banking nya transfer tersebut sudah masuk, Fahmi pun teriak bahagia
"Yes.. good job.. wah, bisa senang-senang nih, tapi Gue ke mall dulu kali ya, beli jam tangan baru"
Fahmi berjalan dengan percaya diri sambil bernyanyi tak jelas, membuat para Karyawan memperhatikannya, seperti biasa Fahmi selalu percaya diri biarpun seluruh Kantor menggunjing dirinya.
Pertama kalinya Tini mengunjungi mall Cirebon, Dia berjalan sambil memperhatikan toko toko baju di sekitar
"Kenapa bajunya tidak sebagus di Jakarta ya, dari semua toko semuanya biasa-biasa saja" Tini berbicara pada dirinya sendiri.
Fahmi pun sampai di mall Dia langsung menuju toko jam tangan langganannya saking senangnya mendapatkan uang banyak dari Papahnya Ia berjalan terburu-buru hingga menabrak Tini yang sedang berjalan
"Aduh..." Tini merasa kesakitan karena terdorong oleh Fahmi
"Heh.. makanya kalau jalan lihat-lihat" bukanya minta maaf justru Fahmi malah marah-marah dengan Tini
"Kamu yang salah kenapa jadi Kamu yang marah, Kamu gak lihat ini... tangan Aku jadi merah, karena tersenggol Kamu" Fahmi malah tertawa kecut kepada Tini
"Hey.. itu tetap salah Kamu, karena berjalan tidak pakai mata" Tini pun muak dengan tingkah Fahmi yang seolah-olah Dia lah orang yang selalu benar
"Dasar gila..." setelah berkata, Tini langsung pergi meninggalkan Fahmi.
Kalau bukan karena mengejar jam tangan keluaran edisi terbaru, mungkin saja Fahmi akan membalas ucapan Tini.
__ADS_1
"Dasar orang aneh.. Dia yang salah kenapa Aku yang di marahi, di Cirebon ini ternyata laki-lakinya tidak punya etika sama sekali" Tini terus menggerutu sepanjang jalan
Lalu Tini menemukan sebuah toko baju yang sesuai dengan keinginannya, dengan segera Tini mengunjungi toko tersebut.
Saat jam makan siang, Andi berniat untuk mengunjungi Rumah Makmun untuk bertemu dengan Kasih, Ia merasa harus menceritakan kedatangan Papahnya dan soal penolakan hubungannya bersama Kasih.
Sementara Chandra sedangan melakukan pekerjaannya, namun hati dan perasaannya tak tenang
"Kalung ini.. Aku sangat benci kalung ini, karena kalung ini, Asri membandingkan Aku dengan Sam, karena kalung ini juga, Asri dan Ibunya bertengkar dan satu lagi, Kalung ini sudah menyakiti hati orang paling Aku cinta, Sam.. Kamu masih berhutang penjelasan dengan Aku.. suatu saat nanti kalau Aku bertemu Kamu lagi, Aku pasti akan menghajar Kamu" Chandra terlihat marah dan memukulkan tangannya di atas meja.
Laporan keuangan kantor kini terbengkalai akibat Lia yang sudah hampir 3 hari tidak bekerja karena koma, hal ini pun jadi pembicaraan bagi seluruh staf, Pak Romi HRD pun ikut pusing dengan masalah ini, pengumuman rekruitmen karyawan baru sudah terpampang jelas di depan Kantor, namun belum ada calon pelamar yang datang, akhirnya pekerjaan Lia di alihkan pada Chandra seorang.
"Apa Pak.. Saya harus mengerjakan pekerjaan Lia selama menunggu pengganti Lia"
"Iya Pak Chandra, karena Kami bingung.. disini yang berpengalaman hanya Bapak"
"Tapi Pak.. pekerjaan Saya saja sudah menumpuk di tambah Saya tidak ada Asisten, lalu Saya harus mengerjakan keuangan juga, rasanya ini sangat berat Pak" Chandra merasa tak sanggup jika harus mengerjakan pekerjaan Lia yang entah sampai kapan penggantinya akan datang
"Pak.. kenapa Bapak tidak mengambil salah suatu Karyawan dari anak cabang perusahaan Pak.."
"Justru itu Pak.. di Anak cabang perusahaan tidak ada karyawan nganggur, Pak tolong lah mungkin hanya dalam 2 Minggu ini saja, Saya yakin secepatnya Kita akan mendapatkan pengganti Ibu Lia"
Chandra terdiam sejenak, dalam hatinya sebenarnya menolak pekerjaan itu, tapi apa boleh buat, jika tidak di kerjakan belum tentu ada yang mau mengerjakan tugas Lia
"Baik.. Saya akan coba lakukan pekerjaan double, tapi keringat Saya ini harus di bayar Pak"
Chandra tak mau melakukan suka rela begitu saja, tanpa ada imbalan Karena Chandra saat ini mempunyai keinginan untuk membeli Rumah agar bisa tinggal berdua dengan Rahma
"Bapak tenang.. Saya akan gaji sesuai hari yang Pak Chandra kerjakan"
"Baik.. Saya mengerti"
"Ya sudah kalau begitu Saya kembali ke ruang kerja Saya.. sekali lagi terimakasih ya Pak Chandra"
Setalah berhasil membujuk Chandra Pak Romi kembali ke ruang kerjanya.
Chandra kini semakin runyam pikirannya, belum saja soal kalung terselesaikan, malah saat ini Chandra mendapat tugas tambahan
"Nasib... Kerja sendiri.. Asri sudah di pecat, Lia koma entah kapan Dia akan sadar" Chandra mengeluarkan uneg-uneg dalam hatinya
Tiba-tiba ide cemerlang muncul di benak Chandra, Dia berniat meminta bantuan Asri untuk membantu pekerjaannya
"Asri pasti akan membantu Aku, sekalian juga Aku ingin membantu Dia berlatih berjalan supaya kakinya dapat cepat berjalan lagi"
Setelah pulang kerja ini, Chandra berniat untuk ke rumah Asri meminta bantuan untuk mengerjakan konsep PT. Harum wangi.
Tak lama telepon Kantor berbunyi Candra segera mengangkatnya dan berkata,
"Halo.. Retro Advertising ada yang bisa di bantu"
"Halo Pak Sam" Chandra langsung melihat nomor di pesawat telepon
"Maaf Pak.. ini Saya dengan Pak Chandra, maaf memangnya Saya bicara dengan siapa ya..?"
"Oh...Pak Chandra, maaf Pak Saya pikir ini Pak Sam, karena setahu Saya kode ini kode ruangannya Pak Sam, Saya Pak Ammar Pak.."
"Oh...ya ampun..apa kabar Pak Ammar"
"Baik.. Alhamdulillah.. begini Pak Saya perlu bicara dengan Pak Sam mengenai Proyek pembangunan hotel di Bandung"
Setalah mendengar keperluan Pak Ammar Chandra langsung memberitahukan mengenai pengunduran diri Sam juga Asri dengan jelas dan singkat, lalu Chandra mengatakan jika semua Proyek yang pernah di pegang Sam akan di kerjakan olehnya.
__ADS_1